Big Life chap 7, 8, 9, 10 B. Indonesia

Chapter 7, 8, 9, 10 There is a Reaction
Diterjemahkan oleh I-Fun Novel



Pagi selanjutnya.

Jaegun menghela napas lega saat ia memeriksa rekening banknya. 2.100.000 Won telah diendapkan ke dalamnya.

'Aku hidup.…'

Meskipun itu hanya uang dari membuat buku 1 dan 2, ia masih merasa senang karena memperolehnya.

'Benar-benar hadiah dari langit'

Hari ini adalah hari ulang tahun ayahnya.

Jaegun baru saja akan pergi ke sana dengan tangan kosong, tapi sekarang, bersama hal baru yang dirinya terima, ia bisa benar-benar mempersiapkan hadiah.

"Rika, aku benar-benar minta maaf, tapi tinggallah di rumah hari ini. Orang tuaku benar-benar tidak suka binatang. Jadi, akan sulit untuk membawamu. Aku akan pulang lebih awal"

"Meong~!"

Rika mengguncang kepalanya, seolah-olah mengerti lalu melompat ke tempat tidur. Jaegun cepat mengenakan pakaian dan pergi.

Akan menghabiskan satu jam perjalanan dengan kereta bawah tanah untuk sampai ke rumah orang tuanya.

'Mungkin lebih baik memberikan uang ini langsung'

Jaegun berubah pikiran tentang hadiah yang akan dia berikan. Akan menjadi canggung jika ayahnya tidak menyukainya.

Ia tidak mendengar sesuatu yang baik datang dari mulut ayahnya sejak dirinya masih kecil. Tidak seperti ibu dan kakaknya, orang itu selalu dingin pada anaknya.

Bersamaan dengan Jaegun yang meninggalkan stasiun, ia menempatkan 300.000 Won ke dalam amplop. Dia membeli kue krim juga.

Ayah Jaegun tidak akan memakannya, tapi makanan mengandung gula seperti ini selalu disukai oleh ibu dan saudaranya.

(Ding Dong ~)

Jaegun tiba di rumahnya dan menekan bel pintu.

Di saat pintunya terbuka.

"Aku kira kau tidak akan datang sesegera ini. Kenapa pagi-pagi?"

Jaeyn melihat jam yang menunjukkan pukul 2 dan bertanya seolah-olah dirinya terkejut.

Jaegun membalas dengan senyuman sambil melepas sepatunya.

"Ada kegiatan apa?"

"Tidak ada. Hanya saja, karena ini adalah hari libur, aku hanya mengambil istirahat"

Jaegun tahu itu kebohongan saat ia melihat ke arah dapur.

Di atas meja, ada banyak bahan makanan dengan piringnya dan sup yang dalam keadaan mendidih. Sangat jelas bahwa kakaknya telah sibuk mempersiapkan hal ini sejak pagi.

"Apa kau belum makan siang? Jangan keberatan, tidak mungkin kalau kau sudah"

"....Dimana ibu?"

"Dia pergi hiking dengan ayah. Harusnya sekarang adalah waktu bagi mereka untuk kembali. Makanlah dulu"

"Baiklah"

Jaegun menarik kursi dan duduk di depan meja.

Jaeyn membuat banyak piring untuk adiknya. Dia menyajikan ham, telur, daging sapi, kimchi* dan juga beras. Segala sesuatu yang pria ini sukai.
[makanan tradisional Korea, salah satu jenis asinan sayur hasil fermentasi yang diberi bumbu pedas. Setelah digarami dan dicuci, sayuran dicampur dengan bumbu yang dibuat dari udang krill, kecap ikan, bawang putih, jahe dan bubuk cabai merah. Wikipedia]

"Terima kasih atas makanannya"

"Makan saja. Beritahu aku jika kau ingin tambah"

Makanan itu masih seenak yang Jaegun bisa ingat.

Rasa mendalam adalah sesuatu yang belum pernah dinikmati sebelumnya pada setiap restoran. Jaegun terkadang menyuruh kakaknya untuk membuka bisnis kuliner.

Itu bukanlah lelucon, dia serius. keterampilan memasak saudaranya itu sangat bagus.

"Enak?"

"Kenapa meminta sesuatu yang sudah jelas?"

"Meskipun kau hidup sendiri, makanlah dengan baik"

"Ya, aku mengerti"

"Akan lebih baik jika kau sering datang untuk kembali ke rumah...."

"Kau tahu, ayah kita tidak menyukaiku"

"Itu sebabnya aku tidak bisa mengatakan itu, idiot"

"Hei"

"Hmm?"

Jaegun meletakkan sendok. Dia menelan segala sesuatu kedalam mulutnya lalu berbicara.

"Aku pikir, tidak akan lama semuanya akan lancar untukku"

"Ya? Apa yang sudah terjadi?"

Jaegun menunduk dan tersenyum malu-malu.

Jaeyn menampar pahanya dan mendesaknya untuk melanjutkan.

"Ayo, jangan membuatku tetap penasaran. Katakan dengan cepat. Katakan padaku ~"

"....Editor mengatakan bahwa buku yang kuciptakan itu bagus"

"Benarkah? Editor yang kau jelaskan padaku di telepon? Seseorang yang dikatakan sangat ketat? "

"Iya, dia bilang itu bagus. Bahkan, dia memberiku banyak uang. Karena itulah.... "

Jaegun mengeluarkan amplop yang berisi 300.000 Won dan menyerahkannya kepada Jaeyn.

"....Disini, hadiahnya. Ayah tak akan mengambilnya dariku. Aku pikir akan jadi yang terbaik jika kakak yang memberikannya"

"Ya...."

Jaeyn mengambil amplop itu. Saat ia merasa kertas pembungkus yang tebal dan melihat ke dalam, dirinya kaget.

"Berapa banyak ini? Wow, 300.000?! "

"Kau terkejut dengan jumlah segitu"

"Hei, potong sebagian. Kau hanya harus memberikan ayah 100.000 Won"

"Jangan lakukan itu"

"Pertama, kau harus mengurusi hidupmu. Jangan berlebihan, tidak perlu menjadi sombong di hadapanku"

Jaegun meraih lengan kakaknya dan menekan apa yang ingin dikembalikan sambil menggelengkan kepala.

"Aku tidak menjadi sombong. Hanya berpikir tentang bagaimana aku hidup seperti seorang pecundang selama bertahun-tahun. Apakah diriku ini memiliki hak untuk menjadi kikir sekarang?"

"Jaegun...."

"300.000 Won? Itu bukan apa-apa. Dalam beberapa saat, 3.000.000, tidak, 30.000.000 Won yang akan datang. Cukup ambilah dan jangan katakan apapun. Aku sama sekali tidak terbebani. Setidaknya, aku bisa memberikan sebanyak itu sebagai hadiah untuk ayah"

Jaeyn menurunkan kepalanya.

Jaegun yang terkejut dan memegangi bahunya dan dengan ringan mengguncang. Pria ini lalu berbicara.

"Kau akan menangis lagi? Jangan menangis. Jika kau menangis, aku akan pergi"

"Aku tidak menangis. Ini hanya debu kecil memasuki mataku"

"Bohong. Apanya yang debu"

Kakaknya mengangkat kepala dan tersenyum pahit dengan hidung agak memerah.

"Kau baik, adik kecilku"

"Jangan bicara seperti aku masih anak kecil. Kau hanya tiga tahun lebih tua"

"Hanya tiga tahun? Hei, itu berarti aku makan 3000 makanan lebih darimu. Apa-apaan yang kau bicarakan?"

"Jadi itu sebabnya kau begitu gemuk hari ini"

"Kau mengejekku? Aku persis di angka 50 kg. Datang ke sini, kau adik nakal!"

"Hei, hei! Aku hanya bercanda! Aku tidak bisa bernapas!!"

Dia menempatkan dua lengannya pada leher Jaegun dan mengapitnya.

Pada saat itu, bel pintu berbunyi lagi (Ding Dong).

"....Kau diselamatkan oleh bel"

Jaeyn pergi ke pintu dan membukanya.

Pria itu juga berdiri dan menyaksikan pintu yang dibuka. Ayah dan ibunya melangkah ke dalam dengan pakaian hiking mereka.

"Kalian sudah pulang"

"Ooooohhh, kau di sini lebih awal, Jaegun"

Ibunya melepas alas kaki dan langsung datang memeluk Jaegun.

Ayahnya berdiri di belakang sambil perlahan-lahan melepas sepatu.

"Kenapa kau begitu ramping. Hanya makan ramen sampai sekarang, ya? "

"Tidak, aku makan dengan baik. Lalu kenapa ibu sendiri begitu ramping? "

"Anak ini menggoda ibunya? Aku sudah mengurangi banyak berat badan hari ini. Sayang, kau tidak berpikir Jaegun menggodaku? Benarkan?"

Ayahnya tidak menanggapi.

Ia hanya melepas sepatu dan melangkahkan kaki ke ruang tamu dengan wajah tanpa ekspresi, melewati Jaegun dan masuk ke kamarnya.

"Hoooh, pria tua itu....Jaegun, kau cobalah mengerti. Dia hanya kebanyakan minum"

"Aku baik-baik saja"

"Kalau begitu, aku akan pergi dan melihat keadaannya. Berbicaralah dengan kakakmu, nak"

Ibu Jaegun menepuk punggungnya. Dia lalu mengikuti ayahnya ke dalam ruangan.

Jaegun bisa mendengar suara mereka berasal dari dalam kamar. Volume yang awalnya kecil perlahan-lahan menjadi semakin keras dan akhirnya berubah menjadi teriakan.

"Kenapa kau bersikap seperti ini, Sayang! Apakah kau tidak berpikir tentang perasaan Jaegun? Ayolah untuk hari ini saja, ya?! "

"Apa yang bahkan akan keluar dari perasaan bajingan itu?! Siapa yang memperbolehkannya datang ke sini?! Aku tidak tahan wajahnya!! Apa-apaan! Penulis?! Ha!! Dia bahkan tidak bisa merawat dirinya sendiri dan ia ingin menulis novel seperti orang lain?! Tidak perlu untuk memberi makan bajingan menyedihkan sepertinya!! Bawa dia keluar dengan cepat! Singkirkan!! Pergi beritahu dirinya untuk menulis apa yang disebut puisi dan roleplay* sebagai seorang sarjana!!!"
[Maksudnya bukan game RPG, tapi bermain peran]

"Kau benar-benar!!"

Jaegun perlahan memindahkan jejaknya ke pintu depan. Sementara sedang memakai sepatu, Jaeyn di belakangnya tampak seperti siap untuk menangis.

"....Jaegun"

Dia tidak punya kata-kata untuk diberikan pada kakaknya.

Jaegun tidak tahu orang yang bersangkutan akan sampai seperti ini di hari ulang tahunnya. Mengambil pekerjaan menjadi penulis memiliki konsekuensi tersendiri. Dari saat dirinya memilih jalan ini, pria itu menolak dengan keras.

Kemarahan ayahnya masih berlangsung sampai sekarang. Hari ini adalah realitas.

"Berikan ibu kata-kata yang bisa menenangkannya. Aku akan pergi"

"....Maaf. Aku akan berkunjung segera ketika mendapatkan hari libur"

"Tidak perlu. Aku akan menelepon"

Jaegun berbalik dan berjalan menjauh dari rumah sambil Jaeyn dengan mata berkaca-kaca memandangi punggungnya.

Saat dia berjalan menuju stasiun kereta bawah tanah, hatinya tidak hanya diisi dengan kesedihan, bahkan sekarang itu dipenuhi dengan tekad.

Caranya berjalan tumbuh lebih tegap dan terisi dengan kekuatan.

'Tunggu saja, ayah. Aku akan kembali'

Jaegun mengumpulkan kekuatan dalam kehendaknya dan menggigit bibir.

Di masa lalu, ketika Jaegun dimarahi habis-habisan oleh pria itu, dia akan meninggalkan kegiatan menulis dan mencari botol Soju*. Sebanyak itulah dampak mental penghinaan terhadap dirinya.
[Minuman beralkohol asal korea]

Namun, hari ini bukanlah hari itu lagi.

Dia mulai melihat sekilas masa depan yang telah berganti sekarang.

Jaegun mempercepat langkahnya. Dia harus menulis novel seni bela diri berikutnya untuk kontrak.

☆☆☆☆

(Tepuk!)

"Aarrgghh, brengsek! Omong kosong ini lagi!!"

"Meong~"

Rika yang sedang makan, mengeong terkejut saat mendengar kata-kata kasarnya.

Di depan komputer, Jaegun membenamkan wajah ke dalam dua tangannya. Layar monitor sekarang  berwarna biru, penuh dengan pesan yang memberitahukan error.

"Belum lama sejak aku memperbaikinya. Dan sekarang muncul lagi!!"

Jaegun mengeluh, tapi komputer itu telah digunakan untuk waktu yang lama. Dia memilikinya sejak kuliah, sehingga telah digunakan selama sekitar 7 tahun.

"Sialan. Setidaknya biarkan aku mengirim proyekku sebelum rusak"

Jaegun telah mengirim novel seni bela diri ketiga dari seri-nya ke penerbit. Ia akan menulis yang keempat sebelum mengalami kerusakan. Itu memang bukan situasi terburuk, tapi dirinya harus berusaha untuk menulis dari awal sekarang.

"Apakah sudah waktunya membeli PC baru?"

Pikiran itu bukanlah ide yang buruk untuk membeli komputer baru sekarang.

Dia memiliki sekitar 1.500.000 Won tersisa dari pembayaran kontrak. Memberi 300.000 Won untuk ayahnya, membeli makanan kucing Rika, dan bahkan digunakan dalam kebutuhan hidup masih tertinggal sebanyak ini.

'Tidak. Belum. Aku belum bisa santai'

Jaegun mengguncang pikiran itu.

Dia tahu uang yang selalu tampak banyak sekali, tetapi selalu memiliki kecenderungan untuk mengalir keluar dengan lancar.

Sewa dan tagihan listrik akan menjatuhkannya di bawah 1.000.000 Won. Tanpa berpikir tentang bulan berikutnya, dia akan membeli komputer mahal? Itu adalah pola pikir seseorang yang ingin hidup selama satu hari lalu mati.

"Aku hanya harus pergi ke PC Bang*. Aku bisa memotong sewa-ku selama satu bulan dan menggunakannya di sana"
[Sejenis Warnet di korea selatan. Paling sering dibuat main game online. Karena itulah disebut Game Center LAN]

Kepala Jaegun dipenuhi dengan ide-ide untuk novelnya. Dia harus menulis hal-hal baru ini atau dia bisa-bisa berpikir pikirannya akan meledak.

Jaegun tiba-tiba menendang kursi lalu bangun.

Pada saat itu.

"Benar! Aku masih punya itu!!"

Dia melirik ke arah sudut ruangan.

Laptop tua dan bobrok itu terlihat. Seharusnya tidak akan ada masalah besar jika ia hanya menggunakannya untuk menulis.

"Ini bahkan memiliki 'Word'. Kerjanya masih baik, jadi kenapa aku tidak menggunakannya?"

Dia menempatkan komputer rusaknya di bawah meja dan menggantinya dengan laptop peninggalan Seo Gunwoo. Saat ia menghubungkan kabel listrik ke laptop dan menyalakannya, itu membuat suara (BIP) dan mulai menyala

"Kau memang lebih tua dari komputer-ku yang berusia 7 tahun"

(Winnnnnggg!)

Sebuah panggilan telepon dari kepala editor lalu datang.

Jaegun melakukan klik ganda pada ikon Word dari desktop saat ia mengangkat panggilan itu.

"Iya?"

-Ya, halo. Bagaimana anda bisa menulis buku ketiga hanya dalam sekejap? Apakah anda sebelumnya sudah menulis ini?

"Haha tidak. Bukan itu. Ceritanya datang begitu saja"

Itu tidaklah bohong. Setelah Jaegun memperoleh kenangan baru, penulisannya telah berubah.

Memang bukan pilihannya, tapi semua telah berubah. Ini memberinya motivasi dan pengalaman baru. Dia bisa mengetahui dari tulisan yang dirinya buat.

-....Hebat. Kalau begitu, ini sungguh tidak ditulis sebelumnya dan hanya diciptakan dalam seminggu?

Editornya benar-benar terkejut.

Kecepatan normal Jaegun untuk 1 buku adalah sekitar satu bulan.

-Aku telah memeriksanya dan buku ketiga juga bagus. Juga, tidak ada banyak hal yang harus di ubah. Pekerjaan yang baik, tuan Ha

"Tidak. Pujian itu harusnya pergi ke diri anda karena memeriksa pekerjaanku"

-Hahaha, tidak tidak....Tapi ada sepotong berita yang mengejutkan

"Mengejutkan?"

-Anda lebih baik terus menggenggam ponsel

Dengan kata-katanya, Jaegun memperketat cengkeramannya pada telepon.

"Apa itu? Apakah sesuatu yang buruk?"

-Ini harusnya hal baik. Setelah semua, tidak ada penulis yang tidak suka buku-buku mereka mendapatkan salinan

"....?"

Jaegun tidak bisa mempercayai telinganya.

Tulisanku? Akan diperbanyak dalam salinan?.

Jaegun tidak bisa mempercayai telinganya. Di telepon, si editor hanya tertawa.

-Apakah anda mendengarkan? Tuan Ha? Tuan Ha?

Kepala editor bertanya meskipun ia tahu bahwa Jaegun sedang mendengarkan.

Jaegun berdiri dan berjalan ke sekitar sampai akhirnya menempatkan pantatnya kembali ke kursi.

"....I-Iya. Iya! Aku disini! Aku mendengarkannya!"

-Buku-buku anda diterima karena sangat mengagumkan. Tempat-tempat penjualan menyukainya. Oleh karena itu, kami memutuskan untuk mencetak 1.000 eksemplar dari mereka

"Apa? Se-Seberapa banyak?! 1.000?!"

Kakinya bergetar saat mendengarkan sang editor, benar-benar terperangah.

Dengan perkembangan internet dan e-book, buku-buku biasa mengalami kesulitan. Akan menakjubkan bahwa karyanya bahkan memiliki salinan. Jika tidak begitu, mustahil untuk dijadikan ribuan.

-Apakah, anda bercanda entah bagaimana? Atau apakah anda membuat lelucon jelek tentangku?

Jaegun tahu bahwa dia tidak akan melakukan itu, tapi bagaimanapun ia harus bertanya.

Kedua matanya masih tidak fokus.

-Anda benar-benar berpikir aku akan bercanda dengan sesuatu seperti ini? Selamat, tuan Ha. Itu adalah hasil ketekunan diri sendiri. Anda akan segera membuat uang dan hidup menjadi jauh lebih baik

Jaegun menandatangani kontrak dengan setiap buku mengambil 8%.

Sebuah buku di banderol 8 dolar, jadi dia punya sekitar 640 Won. Untuk 1000 buku, itu akan menjadi 640.000 Won. Ada pajak 3,3% yang menghawatirkan, tapi ia masih bisa membuat keuntungan datar.

Bertentangan dengan Jaegun yang tertegun tanpa mampu untuk merespon, si editor terus berbicara ceria.

-Kemudian, teruslah bekerja. Aku akan menunggu untuk episode berikutnya. Jangan berlebihan dengan diri sendiri juga. Ah, dan ayo kita makan siang bersama di lain waktu

"....Iya. Iya. Tentu saja! Terima kasih! Terima kasih!! Terima kasih banyak!!!"

Dia langsung menuju kulkas. Mengambil air dingin dan mulai meneguknya kencang.

Dadanya serasa akan meledak. Dia ingin melampiaskan perasaan ini kepada seseorang, tapi Jaeyn dan Jungjin bekerja sekarang.

Jadinya, Jaegun mengangkat Rika dan berteriak.

"Kau dengar itu? Buku-ku di perbanyak! Dan jumlahnya juga 1000 dari mereka!!"

"Meong!"

"Sekarang menjadi 3000 rilisan pada masing-masing buku! Itu sekitar 1.900.000 Won untuk satunya. Ini gila! Sangat gila!! Aku kira bisa mendapatkan sekitar 2.000.000 Won untuk satu buku! Apakah kau pikir ini masuk akal?!"

"Meong~ Meong~"

Mungkin memang belum menjadi penulis sukses. Namun untuk Jaegun, yang hampir tidak menerima apapun selama 5 tahun terakhir, ini bagaikan kesuksesan yang tidak pernah terjadi sebelumnya.

"Yaaaa!!! Untuk melanjutkan perasaan ini, aku ingin menulis buku keempat! Aku akan menulis buku ini dalam seminggu juga! Tunggu saja ya! Bulan depan, aku akan menjadi kaya dan membelikanmu sebuah menara kucing atau apa pun itu!!"

Dengan kebahagiaan besar, Jaegun mulai mengatur tulisannya pada laptop peninggalan Seo Gunwoo. Dia tahu garis besarnya dari buku keempat.

Dia hanya perlu tenang untuk menuliskannya.

(Tap! Tap! Tap! TapTap!)

Pada layar monitor, huruf-huruf terbang pada halaman.

"Sekarang di sini, kebutuhan utama adalah untuk mendapatkan pukulan. Dan kemudian dia perlu mundur diam-diam....Hmm? "

Sementara ia mengetik, Jaegun merasakan perasaan misterius.

'Sesuatu terasa aneh'

Biasanya ketika ia mengetik, pikirannya akan pergi lebih cepat dari ketikannya, menyebabkan inspirasinya juga menghilang lebih dulu. Namun, saat ini, adalah sebaliknya. Seakan-akan cara mengetiknya lebih cepat dari pikirannya.

'Tunggu tunggu tunggu, apa? Apa ini?'

Dia melihat jam. Baru satu jam telah berlalu sejak ia mulai. Namun, dokumen yang ditulis sudah tertera lebih dari 20 halaman.

'Apa? Apakah file-nya salah? Seberapa banyak aku telah menulis?'

Jaegun di kejutkan saat melihat tab informasi dokumen. Kemudian, ia menarik napas berat, pikirannya mati rasa. Dia kehilangan rasa di sekitar, seolah-olah sedang jatuh bebas.

(Kata: 10798)

'Apaaaa? Aku menulis sekitar 10 ribu kata dalam satu jam?"

Kecepatan mengetik Jaegun itu tidaklah lambat, hampir sama dengan penulis rata-rata. Namun, bahkan dalam kondisi yang baik, paling cepat adalah sekitar 3500.

Untuk menulis sampai ke tingkat ini, ia harus menghabiskan sekitar minimal 2 setengah jam.

"....Ini bukan hanya tentang kondisi prima, ya?"

Bukan menulis atau merevisi sebuah buku lama. Melainkan membuat yang baru dari awal. Dan dengan 10 ribu karakter dalam satu jam, dia tidak bisa mempercayainya.

Itu di luar jangkauan manusia. Pikirannya merasakan mati rasa dan kejutan lagi.

"Jika aku mampu menulis seperti ini, aku akan bisa menulis sebuah buku per hari"

Buku yang sedang ditulisnya sekitar 140.000 kata. Oleh karena itu, jika dirinya bisa menulis pada kecepatan yang sama dengan yang barusan, ia bisa menyelesaikannya dalam durasi 14 jam.

'....Ayo lakukan'

Jaegun menggoncang tangan yang lelah dan mengakhiri pemikirannya.

'Aku akan mencoba untuk membuat rekor dengan menyelesaikan sebuah buku dalam satu hari'

"Rika, kau adalah saksinya. Lihatlah seberapa cepat aku mengetik"

"Meong. Meong~"

Jaegun mendorong kepalanya ke hadapan layar monitor dan melanjutkan penulisan novel. Rika diam-diam menyelinap keluar dari tempatnya dan berpindah ke kasur. Dalam posisi itu, ia memandang Jaegun yang sedang mengetik penuh keseriusan.


☆☆☆☆


"Aku sangat lelah"

06:30 di sore hari.

Jungjin, yang baru saja selesai lembur, mengenakan sandal. Proyek dungeonnya terlihat seperti takkan berakhir. Tes pribadi berada tepat di depan. Sampai deadline, lembur akan menjadi teman terdekatnya.

"Manajer Lee, ingin secangkir kopi?"

Jungjin bertanya saat melewatinya. Manajer Lee adalah salah satu dari orang-orang di kantor kerasnya ini yang masih terlihat segar bugar dengan dirinya.

"Maaf Asisten Manajer Park. Aku ingin menyelesaikan membaca buku ini sebelum lembur dimulai. Silahkan dan minumlah dulu"

Manajer Lee menanggapi dengan kepala tertunduk. Di tangannya, ia memegang sebuah buku.

JungJin melangkah maju dan bertanya.

"Buku apa yang kau baca sampai seserius itu?"

"Semua yang kubaca adalah seni bela diri. Tapi sungguh, yang ini cukup menghibur"

"Seni bela diri?"

Dua mata Jungjin bersinar terang. Jelas, itu karena pekerjaan sahabatnya mendadak naik ke pikiran.

Manajer Lee meneruskan.

"Karya-karya sebelumnya penulis ini adalah....Apa yang harus aku katakan? Sintax* dan urutan katanya memiliki dasar-dasar, tapi cerita itu sendiri sangatlah membosankan. Ada informasi yang tidak berguna di mana-mana. Jadi aku membaca 2 atau 3 buku dan hanya membuangnya. Kemudian dia belum merilis apa pun untuk sementara tapi sepertinya ia belajar banyak. Aku tidak bisa berhenti membaca yang satu ini"
[Cabang ilmu linguistik yang mempelajari kaidah dalam menentukan bagaimana kata membentuk frasa, dan frasa membentuk kalimat]

Jungjin tidak bisa menghentikan rasa ingin tahunya dan melihat sampul buku itu.

Matanya lalu melebar. Judul buku itu adalah Martial Ranking. Nama penulisnya, Pyung Cheon Yu.

"Apa? A-Apa? "

"Hmm? Apa kau pernah membaca ini sebelumnya? Kau tahu penulis ini? "

"Ti-Tidak. Hanya saja....Yah, aku hanya berpikir itu tampak seperti sesuatu yang aku pernah baca. Namanya tampak serupa"

Jungjin menjawab cepat.

Manajer Lee hanya menggeleng dan kembali membaca.

"Begitu ya. Semua buku seni bela diri memiliki judul yang sama dan memiliki perasaan semacam itu"

"Haha, itu benar. Pokoknya, Manager Lee, aku hanya akan pergi mendapatkan secangkir kopi dan kembali"

"Lanjutkan saja"

Jungjin meninggalkan kantor terburu-buru.

Begitu ia menekan tombol lift, dia mengeluarkan telepon dan memanggil Jaegun. Satu-satunya orang sekaligus sahabatnya yang menggunakan Pyung Cheon Yu sebagai nama pena.

-Halo?

Jaegun cepat mengangkat telepon.

Dalam lift seorang diri, Jungjin bertanya.

"Hei, kau tahu siapa saja yang menggunakan nama pena sama sepertimu?"

-Pertanyaan acak macam apa itu?

"Katakan saja, teman. Apakah ada orang lain yang menggunakan Pyung Cheon Yu?"

-Jangan berpikir begitu. Tidak. Tidak ada. Setidaknya, itu setahuku

"Kalau begitu, buku barumu disebut Martial Ranking?"

-Hei bung, kau begitu sibuk sampai-sampai bahkan tidak bisa membaca karyaku?

"Maaf, tapi waktuku begitu penuh, jadi aku belum memeriksanya. Aku menelepon karena manajerku di kantor baru saja menjelaskan omong kosong yang keluar dari bukumu"

-Benarkah?

Balasan Jaegun penuh kebahagiaan.

Jungjin, sebagai teman, merasakan perasaannya itu dan cepat menyambung kata-katanya.

"Hei, ini bukan untuk membuat dirimu merasa baik. Manajer itu membaca genre-nya dengan lengkap. Dia membaca banyak dan juga sangat keras kepala. Katakan saja karena dia hanya memeriksanya sebagian. Seseorang semacam itu mengatakan bukumu menyenangkan. Dia bilang tidak bisa berhenti membacanya. Bahkan membantah tawaranku untuk minum kopi"

-Ya ampun. Itu hebat

"Bagaimana keadaan bukumu? Apa tercetak dengan lancar?"

-Jangan heran ya. Aku mendapatkannya  untuk dicetak. Sebanyak 1000 eksemplar

Jungjin sangat terkejut sampai-sampai ia membungkukkan pinggangnya dan memukul bagian belakang lift

Dia mengerang.

"Ooaahhhh....? Sungguh?! Di waktu sesingkat ini, kau sudah mendapat 1.000 eksemplar?! Bukankah ini pertanda kesuksesan?! Hari-hari penderitaanmu akan segera berakhir!! Apa kau akan membeli rumah dan hal-hal semacam itu?! "

-Jangan terlalu bersemangat. Membeli rumah tidak bisa hanya dengan beberapa koin

"Iya baiklah. Terlalu bersemangat dan selanjutnya akan menjadi aneh. Hei, aku hanya merasa bahagia dan ingin menyemburkan kata-kata sekarang. Pekerjaan yang mengagumkan, Jaegun. Perasaanku sekarang sangat bagus"

-Tunggu saja. Aku akan menyelesaikan seri lalu membuat perayaan bersamamu

"Akan kuhabiskan makanan yang ada sampai piringnya bersih. Selesaikann seri dan hubungi aku"

-Terima kasih. Kau juga bersenang-senanglah

(Beep!)

Panggilan dimatikan.

☆☆☆☆

Jaegun, yang sedang sibuk mengetik sebelum ia mengangkat panggilan, meletakkan telepon sambil tersenyum lalu duduk.

Jungjin mengubunginya untuk memberikan selamat. Kata-katanya membantu dan itu merujuk sebagai tujuan bagi Jaegun untuk berhenti dan mengambil istirahat.

'....Sebenarnya, ada orang yang mengatakan karyaku menyenangkan'

Jaegun lah yang merasa aneh.

Di waktu dulu, Jaegun membuang kebiasaan untuk memeriksa bukunya sendiri secara online. Itu karena semua kritik yang dia terima.

Apakah ini sebuah buku, dll, Kau tidak menyesal menciptakan ini, dll.

Semua komentar membuatnya begitu tertekan sehingga dirinya menjadi lebih sulit untuk menulis buku. Lebih baik untuk tidak melihat semua ocehan mereka.

'Aku akan menahannya'

Dia ingin melihat komentar pada buku barunya, tapi Jaegun menekan perasaan itu. Bahkan jika tidak sekarang, ia akan memeriksa setelah menyelesaikan seri karena iseng.

(Beep!)

"....Halo"

-Halo, tuan. Benarkah ini penulis Ha Jaegun?

"….Siapa ini?"

-Oh maaf. Anda tidak tahu diriku? Ini adalah Hetae Media Ma Jonggu. Hahaha, aku tidak yakin bagaimana anda telah hidup.

Tangan Jaegun yang memegang telepon bergetar. Tanpa disadari, ia menggigit terlalu keras dan membuat bibirnya berdarah. Itu reaksi tak terkendali.

Hetae Media.

Ini adalah perusahaan yang merilis karya debutnya 5 tahun yang lalu.

Perusahaan yang memberinya begitu banyak penderitaan dan kesedihan.

Itu adalah memori yang ia ingin lupakan. Karena alasan semacam inilah ia menghapus nomor telepon mereka.

Suara tenang orang lain di balik telepon berlanjut.

-Aku tidak bisa meminta bagaimana Anda selama beberapa tahun. Ada banyak hal yang terjadi. Masalah pasar saat ini, aku melakukan pekerjaan dimaksudkan untuk orang-orang di atas....

"Langsung saja"

Jaegun memotongnya.

"Aku sedang sibuk menulis buku. Jika anda memiliki sesuatu untuk dikatakan, katakanlah dengan cepat"

-Ah iya. Anda menulis, kan? Aku senang membacanya

Orang itu menyebutkan proyek baru Jaegun.

Dari bibir Jaegun, tawa kecil keluar. Reaksi Jungjin sebelumnya tidak terlalu berlebihan, pikirnya.

Bukunya semakin di atas. Tidak ada pesan selama beberapa tahun dan sekarang hyena ini datang mengendus aroma yang sedap dan memanggilnya.

-Itu benar-benar bagus. Ceritanya jelas dan lugas. Sebuah karya yang luar biasa. Aku selalu tahu kau akan membuat ledakan dalam beberapa hari. Ha ha ha

'Jalang ini'. Ekspresi buruk tercipta pada wajahnya

Ini adalah orang yang bahkan tidak menganggap dirinya sebagai seorang penulis. Mempermalukan ketika peringkatnya rendah. Sekarang orang yang sama sedang menyemburkan pujian.

-Seperti yang aku katakan terakhir kali, aku ingin mengatakan selamat. Apakah anda masih tinggal di Suwon? Aku bisa datang dan mentraktirmu makan malam....

"Tidak. Aku baik-baik saja"

Jaegun benar-benar memotong dan menolaknya.

Itu jelas. Dia akan membeli makanan mahal dan mendorong slip kontrak dalam pembicaraan. Jaegun tidak bahkan jauh berpikir untuk berhubungan lagi dengan Hetae Media.

"Aku makan dengan baik tanpa kehilangan nutrisi apapun. Aku tidak berpikir anda memiliki hal-hal lain untuk dibicarakan jadi akan ku akhiri disini"

-Penulis Ha? Tu-Tunggu! Jangan Penulis Ha, jangan dipotong dan dengarkan aku untuk sebentar saja....!

(Beep!)

Jaegun mengabaikan omongannya dan hanya menutup telepon. Panggilan datang kembali hanya 10 detik kemudian.

Penulis ini memblokir nomornya.

Dunia menjadi benar-benar tenang.


☆☆☆☆


"Hoooo"

Sebuah desahan keluar dari bibirnya.
Jaegun meletakkan kepalanya ke belakang dan memandangi langit-langit. Rika datang dan melompat ke atas lutut pria ini.

"Manusia tampaknya mudah berubah tergantung pada situasi"

Jaegun bergumam sambil menyentuh leher Rika.

Panggilan manajer umum Hetae Media masih dalam pikirannya dan itu hanya membuat perut sakit.

Debutnya di sana tidak memiliki hasil yang baik. Meskipun itu tidak benar-benar pada tingkat bagus. Bisa dikatakan hanya seperti rata-rata.

Jaegun lega dan ingin menulis sampai 7 buku seperti yang direncanakan. Namun, mimpi kecil itu tersegel ketika ia menulis buku ketiga. Jaegun masih bisa mengingat malam menyedihkan beberapa tahun yang lalu, ketika pesan dari manajemen datang.

'Penulis Ha, Karena hasilnya tidak baik, mari kita akhiri di buku 4'

Sebuah penghakiman layaknya eksekusi mati bagi seorang penulis.

Itu adalah akhir dari seri yang terlalu awal.

Salinan kertas tidak seperti e-book, membutuhkan biaya uang. Dengan demikian, buku-buku yang kurang populer dipaksa untuk tamat lebih dahulu. Bagian percetakan tidak akan peduli apakah endingnya bagus atau tidak. Karena mereka hanya memilah 'Proyek yang menjadi bom'.

Pada saat itu, Jaegun lupa harga dirinya. Dia mencoba untuk bertahan dan meminta pada manajer umum.

'Saya harus menulis sampai buku kelima untuk menyelesaikan cerita. Tolong ijinkan saya melanjutkannya!!'.

Tapi respon dari si manajer umum sedingin es.

'Kau tahu kenapa pasar penjualan untukmu jadi seperti ini? Orang yang ingin membacanya sedikit. Kita perlu untuk menghasilkan karya yang lebih populer untuk makan dan hidup. Jika menghasilkan sampai buku kelima, kami tidak akan mampu membayar karyawan bulan depan. Aku mengerti perasaanmu, tapi ayo kita coba lagi lain kali. Ada rapat sekarang jadi aku akan menyudahinya disini'

Tampak seolah-olah percakapan pada telpon itu kembali ke telinganya.

Tangan yang menggaruk Rika menjadi kaku. Kucing kecil ini kemudian mendekat ke dada Jaegun dan menggosok wajahnya disana. Seiring waktu berlalu, si penulis menjadi tenang.

"Terima kasih, Rika. Aku lebih baik sekarang, tidak apa-apa"

"Meong~"

"Aku sudah bertemu editor hebat. Sekarang aku mulai menulis sebuah buku yang bisa di jual. Masa lalu buruk itu telah selesai. Orang yang sedih dihari-hari kemarin bukanlah diriku"

Jaegun mendapatkan kembali kekuatannya, pergi ke depan komputer dan duduk.

Ketika ia melihat jam, itu sudah mencapai 06:00. Dirinya mulai hanya setelah tengah hari sehingga sudah bekerja selama 6 jam.

"Wow, Rika. Aku telah bekerja selama itu dan sampai menulis sekitar setengah buku"

Ketika ia memeriksa info dokumen, disana tertera lebih dari 65.000 kata. Pada tingkat ini, dia dapat menyelesaikan penulisan buku sekitar 7-8 jam.

"Leherku sakit dan lelah. Aku akan mengambil kopi saat istirahat"

Jaegun menekan pinggang yang sakit. Tangannya terluka setelah menulis selama 6 jam saat mengetik dengan kecepatan 10.000 kata per jam.

Dia pergi ke wastafel dan mengambil stik kopi instan dan menyalakan tombol teko kopi.

"Oh, sialan. Aku belum mencuci piring"

Pria ini malas untuk mencuci piring sampai ia melihat sebuah mug berwarna abu-abu.

Itu adalah salah satu barang peninggalan Seo Gunwoo. Karena hanya sebuah cangkir, ia mencuci tapi tidak pernah menggunakannya.

"Sekarang aku sadar, cangkir ini sebenarnya cukup bagus. Baiklah. Satu lagi"

Jaegun menempatkan stik lain ke cangkir dan menuangkan air panas ke tepiannya. Aroma yang kuat membumbung.

Bau yang lebih menyengat dari biasanya datang melalui hidung.

"Hmmm. Bagus. Tidak membuat cemburu penyeduh kopi profesional"

Jaegun, sebagai cara istirahat, menonton berita internet dan perlahan-lahan minum kopi panasnya.

Meskipun instan, tampaknya lebih baik dari biasanya. Ia dengan senang hati minum semua yang ada di cangkir.

"....Hah?"

Meletakkan cangkir mug, Jaegun menunduk ke tubuhnya dan menggeleng.

Energi mengalir melalui dirinya.

Hanya beberapa saat yang lalu, tubuhnya terasa berat seperti kapas basah dan sakit, tapi sekarang ia merasa segar seakan baru saja selesai mengambil istirahat.

"Hm? Apakah penyebabnya kafein? "

Jaegun meletakkan cangkir di wastafel dengan perasaan bingung. Dia tidak melihat tanda putih yang tersisa di bagian bawah cangkir abu-abu.

"Haaa. Baiklah, sekarang kondisiku menakjubkan. Ayo kita selesaikan pada jam 02:00"

Si penulis mulai memukul keyboard lagi.

Layar terisi kata-kata secepat cahaya. Secangkir kopi dari mug Seo Gunwoo memberinya energi baru.


☆☆☆☆


"Editor, apa anda sibuk?"

Kantor Penerbit Starbooks.

Editor Gwon Tewon itu baru saja kembali dari perjalanan dan memeriksa jadwal buku untuk para penulis.

Salah satu karyawan Jung Somii datang mendekat padanya.

"Ah. Somii, ya, tidak apa-apa. Lanjutkan"

Tewon memindahkan pandangannya dari monitor ke Somii dan menjawab.

Dia adalah tipe pria yang tidak pernah merendahkan pada setiap orang di tingkat bawahnya. Somii yang adalah seorang karyawan baru selama sekitar 6 bulan tertawa patuh dan meneruskan.

"Ini tentang Martial Ranking, oleh Penulis Ha"

"Iya. Kenapa dengan Penulis Ha? "

"Dia sudah selesai semua 10 buku seri dan mengirimnya. Jadi aku bingung, apa yang harus aku lakukan dengan ini?"

"....Apaaa?!"

Tewon tanpa sadar berdiri.

"Dia benar-benar mengirim semua 10 buku seri?! Sungguh?!?!"

"Iya. Aku sudah memeriksanya. Dia selesai dari buku keempat sampai kesepuluh dan mengirim 7 buku dari konten milik kita"

"....Wow. Aku tidak percaya. Apa yang terjadi? Sudah berapa lama sejak ia mengirimkan buku ketiga, dan sekarang ia selesai 10 buku? Bagaimana ini bisa terjadi?"

Tewon menggeleng dan kembali duduk.

Hanya terhitung sepuluh hari sejak editor ini telah mendapat buku ketiga.

Tewon mengetahui bahwa Jaegun adalah seorang penulis yang menyelesaikan karyanya dalam waktu sekitar sebulan. Sudah mengejutkan bahwa orang yang sama mengirim buku ketiga hanya dalam seminggu. Namun sekarang, mengirim 7 buku dalam durasi 10 hari. Harusnya buku itu adalah yang ia tulis sebelumnya dan disimpan.

"Apakah kau sudah membaca beberapa bukunya?"

"Iya. Memang tidak semua, tapi aku sekarang di buku kedelapan"

"Kau banyak membaca. Bagaimana perasaanmu? "

Somii menempatkan kedua tangan di dadanya dan berkata dengan suara kecil namun percaya diri.

"Aku pikir itu baik-baik saja. Ceritanya jelas dan twist plot bagus. Aku sedang mencari celah, tapi sampai sekarang tidak terlihat lubang di dalamnya"

"Benarkah?....Apakah sesuatu terjadi pada Penulis Ha tahun ini? "

"Mungkin sekarang menjadi tahun sukses baginya"

"Iya. Pokoknya, aku mengerti. Aku akan memeriksa dan membalas kembali sehingga kau bisa meninggalkannya"

"Baiklah. Terima kasih"

Somii kembali ke tempat duduknya.

Tewon yang sendirian meletakkan dagu di atas meja dan pergi untuk berpikir.

Buku Jaegun telah mendapatkan ulasan yang bagus. Setelah buku keempat dicetak, rencananya adalah untuk meningkatkan sampai 1000 eksemplar. Sekarang akan menjadi 4000 eksemplar per buku.

Biasanya setelah buku keluar, dibutuhkan sekitar 1 bulan sampai yang berikutnya dilepaskan.

Alasannya adalah untuk membantu si penulis, tapi itu juga agar pembaca menyesuaikan diri pada periode waktu setelah buku yang dirilis di pasaran.

Tapi itu selama waktu ketika buku dicetak hanya dalam salinan kertas.

Sekarang pasar elektronik ada. Jika seri ini sudah berakhir, tidakkah lebih baik untuk mencetak mereka semua dan kemudian menempatkannya di internet? Itu bisa menjadi jalan pintas untuk kesuksesan yang lebih besar.

'Apa yang akan penulis asli-nya pikirkan sekarang'

Tewon mengambil ponselnya. Dan kemudian mencari pada daftar panjang kontak, dia memilih Ha Jaegun dan menekan tombol panggilan. Setelah bunyi bip singkat, orang diseberang mengangkat teleponnya.

-Iya. Editor

"Penulis Ha. Anda menulis ini sebelumnya, kan? Bagaimana anda menyelesaikan sampai buku kesepuluh hanya dalam 10 hari? "

-Haha, bagaimana dengan buku itu? Harusnya baik-baik saja

"Karyawan Penerbit mengatakan bahwa itu bagus. Aku belum membaca, tapi harusnya memang bagus. Oh, dan juga, Penulis Ha"

Tewon berhenti untuk sebentar dan memeriksa jadwal di sore hari.

Karena ia sudah punya buku terakhir dari seri, ini adalah waktu untuk membuat kontrak pekerjaan berikutnya.

Jika Jaegun entah bagaimana menandatangi kontrak dengan penerbit lain, itu akan menjadi kabar buruk.

Sekarang Jaegun, menurut editor ini, sudah menjadi seorang penulis yang tidak bisa dibiarkan pergi.

"Apakah anda setuju untuk makan malam hari ini? Aku pernah mengatakan ingin bertemu anda beberapa kali, tapi aku belum bisa"




Ke Halaman utama Big life
Ke Chapter selanjutnya


Comments

Popular posts from this blog

108 Maidens chap 14 B. Indonesia

Kusoge Online (BETA) Bahasa Indonesia