Big Life Prolog B. Indonesia

Big Life Prolog
Diterjemahkan oleh I-Fun Novel



-Tikka! Tap! Klik! Klik!

Suara keyboard memenuhi ruangan yang sempit. Jam dinding menunjukkan tengah malam sementara di luar langit berwarna hitam. Ha Jaegun mengambil tangannya pergi sejenak dan menekan ke pelipisnya. Dia terus-menerus mengetik sejak pagi petang. Tidak hanya satu, tapi dua hari berturut-turut, ia telah bekerja sangat keras.

Lehernya, tubuh, lengan, dan pergelangan tangan semuanya tegang mati rasa. Jaegun sudah pergi ke kamar mandi sepuluh kali untuk mendinginkan diri dengan air, tapi wajahnya masih memerah cerah.

"Hampir sampai....Kurang sedikit lagi"

Kembali ke komputer, ia menghentikan tab informasi kisahnya. Total 124.331 karakter. Hanya kurang sekitar 15.000 karakter lebih untuk menyelesaikan bagian terakhir dari seri dua bukunya. Buku-buku dengan kontrak.

Paling lambat, ia harus mengubahnya besok pagi. Sekitar 6 jam lebih untuk menulis.

'Di masa lalu, aku bisa mengetik sekitar tiga ribu kata per jam'

'Staminaku tidak masalah', pikirnya.

Dia berusia 27 tahun, belum cukup umur untuk dapat memanggil stamina sebagai masalah. Masalah sebenarnya diletakkan pada tempat lain di pikirannya. 'Aku ingin menulis apa yang aku ingin tulis'. Itu adalah masalah utama.

Dia tidak bisa menulis tentang ceritanya sendiri. Menulis untuk uang adalah prioritas utama. Apa lagi yang bisa kau tulis ketika dirimu tidak memiliki makanan dan uang sewa? Tidak. Juga, bagaimana seseorang bisa menulis buku terlaris?.

Jaegun tidak tahu. Dia mencoba untuk menyesuaikan tren baru dan mengikuti perintah editornya, tapi itu sulit. Bahkan dengan semua usahanya, itu masihlah sangat sulit.

Dia melihat ke sekeliling 'rumah' satu kamar menyedihkan sambil minum kopi. Dengan hampir setiap furnitur, itu tampak seperti sebuah rumah yang baru saja dibuat pindahan. Dia telah membeli semua kebutuhannya dengan harga serendah mungkin. Dia harus merebus air untuk minum, dan kulkasnya membiarkan keluar suara mengganggu.

'Jangan menyerah! Ini akan baik-baik saja! Aku bekerja sangat keras!!'

Dia menampar dirinya untuk mencoba mendapatkan suatu pegangan. Berpikir ibu dan adiknya, ia tidak punya waktu untuk di sia-siakan.

-Tap! Tap! Klik…!

Jaegun menuangkan kopi ke dalam mulutnya dan mulai untuk memukul keyboard-nya lagi.

Monitor putih mencerminkan wajah tirus, yang bosan hidup.



Ke Halaman Utama Big Life
Ke Chapter selanjutnya

Comments

Popular posts from this blog

108 Maidens chap 14 B. Indonesia

Kusoge Online (BETA) Bahasa Indonesia