Kusoge chap 2 (2) B. Indonesia

Chapter 2 (2)
Diterjemahkan oleh I-Fun Novel



Mereka menempatkan dungeon tutorial dalam pusat kota Start, tepatnya pada Teleport Square. Di sisi lain dari tanda tempat itu mengatakan, 'Pekerjaan Konstruksi, Dilarang Masuk'. Sesuatu yang seharusnya tidak ditemukan dalam VRMMO, yaitu sebuah tangga mengarah ke bawah tanah.

Di depan tangga berdiri Alice berpakaian petualang dan Sasaraki.

Sedangkan di hadapan mereka berdiri Lizna dan Azrael. Keduanya dengan mulut mereka terbuka lebar, menatap Alice.

"Aku Alice, Sasaraki mengundangku. Mari kita bersama, kalian berdua"

Alice tersenyum dan membungkuk elegan.

Sasaraki Telah menerima undangan Lizna. Dia telah mencoba untuk menyembunyikan fakta bahwa dirinya adalah gamemaster sambil berkata 'Aku telah menemukan sebuah dungeon baru!'.

Meskipun ia sudah ragu-ragu untuk menyeret keduanya dalam kekacauan ini, Alice bersuara dalam argumennya, 'Ini penting untuk mendengar pendapat para pemain ketika dungeonnya di tes, kan?'.

Tapi lebih dari segalanya, Sasaraki ingin Azrael dan Lizna untuk mencoba dungeon yang telah diselesaikannya.

Setelah semua, dia membuat dungeon ini dengan mereka dalam pertimbangan. Dia ingin mendengar kesan mereka.

"Y-Ya, mari kita bersama....Huh? Huh....?"

Lizna menatap Alice sambil berkata ke Sasaraki.

"Hei, Sasaraki-kun"

"Apa itu?"

Lizna berbisik di telinganya dengan ekspresi cemas.

"Jadi kau seorang lolicon?"

"Itu tidak benar sama sekali!!"

Dia berteriak di tempat.

"Mungkinkah dia menjadi alasan kau masih belum mengaku ke Azrael-san?"

"Kenapa kau akan berasumsi bahwa aku akan mengaku?! Tunggu, kau benar-benar salah! Dia hanya seorang kenalan!"

"Tapi untuk Sasaraki-kun yang membawa seorang gadis....Aku pikir kau adalah seorang penyendiri dengan keterampilan komunikasi nol...."

"Kau mengejutkan kejam ya, Lizna!!"

Lizna menatapnya bahkan lebih intens.

Tidak bagus, bagaimana jika dia tahu bahwa Alice dan aku sudah berciuman?. Aku sudah menjadi sangat berhati-hati untuk tidak membiarkan mereka tahu bahwa aku gamemaster.

"Muuuu"

Azrael memelototi Alice, menggeram.

"Azrael, apa yang salah?"

Setelah dipanggil, ia pindah ke sebelah Sasaraki. Untuk beberapa alasan dengan sedikit ekspresi ketidak bahagiaan, dia berkata.

"....Siapa anak ini?"

"Aku bilang, dia teman. Seorang sahabat. Kami mengenal satu sama lain ketika aku meningkatkan level Blacksmithing"

Alice dan Sasaraki telah memutuskan untuk pergi dengan cerita semacam itu.

"H-Heeeh? Seorang teman. Seorang teman, ya? Jadi kau memiliki teman-teman selain kami...."

Azrael bergumam pada dirinya sendiri.

"Ah, te-tentu saja aku juga memiliki teman-teman! Tidak dalam daftar temanku di game, tapi di RL aku sudah memiliki seratus, tidak, 300! Jadi kau sudah memiliki teman-teman juga, ya? Ya, aku-aku lega bahwa anggota guild kita bukan penyendiri! "

Dia mengoceh panik untuk beberapa alasan.

"Uuuh....pasti ada suatu halangan....Ah!"

Sesuatu tampaknya telah datang ke pikirannya.

"Hei, Sasaraki, apa situasimu sekarang adalah terkena badger game*?"
[Metode pemerasan yang dilakukan pada pria. Kayak gini, si cewek ngerayu agan sampai-sampai agan akan sengaja/tanpa sengaja 'meniduri'nya. Lah, nantinya dia akan memfoto adegan 'tidur' agan bersama si cewek lalu ngancem agan menggunakan foto-foto itu. Entah karena uang atau posisi]

"....Maaf, ulangi lagi?"

"Badger game"

Dia benar-benar mendengarnya pada kali pertama.

"Untuk apa dia mencoba merayuku? Bahkan, Alice masih dua belas tahun"

"Dia pasti mata-mata dari guild pesaing! Itu prosedur standar untuk menjadi mata-mata yang dapat mempermainkan kita!"

"Kau tahu kalau guild kita tidak punya saingan...."

Mula-mula, guild kami berfokus pada penyelesaian dungeon dan PvE daripada PvP antar guild, dan bahkan anggotanya hanya kami bertiga.

Siapa yang akan mendapatkan sesuatu dengan menarik tindakan semacam itu pada kami?.

"Dia seorang gadis berambut perak misterius, kau tahu? Harusnya ada rahasia di belakangnya!"

"TidakTidakTidak...."

Dia memang memiliki rahasia, tapi itu tak ada hubungannya dengan mata-mata sama sekali.

"Lagi pula, Alice, kan? Jangan percaya padanya. Indra keenamku kesemutan!"

"Aku pikir indra keenammu adalah sesuatu yang sia-sia...."

Apa yang salah dengan dirinya? cukup jelas bahwa dia tidak mungkin tahu tentang Alice yang merupakan seorang gamemaster.

"Azrael-san, ada yang salah?"

Alice mendekat padanya dengan senyum menyegarkan.

Ekspresi Azrael tumbuh suram dan dia menyusut bersama-sama sambil berteriak....

"KAU TIDAK AKAN BISA MENIPUKU!!!!"

"Hah?"

Aku berbisik tentang keadaan ke telinga Alice.

"Aku mengerti. Pemikirannya benar-benar seperti fantasi, bukan?"

"Tolong jangan katakan padanya itu, ya....?"

"Itu pujian, kau tahu? Dia itu menyenangkan. Lagipula, aku sudah paham"

Alice berlari ke depan Azrael. Azrael menarik tubuhnya kebelakang dengan hati-hati.

"Waah!!"

Alice menunjuk pinggul Azrael ini.

"Apakah yang ada dipinggangmu itu 'Pedang Sihir Gram?!'"

"Eh? Ah, y-ya, itu benar...."

"Menakjubkan! Ini pertama kalinya aku melihat itu!"

Azrael masuk ke sedikit senyuman.

"Aku tidak baik dalam hal informasi, tapi mungkinkah kau seorang pemain terkenal?"

"Ya. Te-Tentu saja! Selama beta tes, aku secara luas dikenal sebagai 'Deathbringer Angel!'"

"Beta tes ya....??"

Alice memiringkan kepala.

"Ya. Saat itu adalah penutupan beta, sehingga hampir tidak ada pemain yang tahu tentang hal ini!"

Alice menatap Azrael.

Kemudian Saraki berpikir, ngomong-ngomong, gadis ini pengembang. Alice harusnya tahu tentang penutupan beta yang super rahasia dan bagian Azrael di dalamnya. Mungkin dia sudah mengetahui itu dari sebelumnya.

"....Ya aku mengerti!"

Setelah memikirkannya, Alice tersenyum polos.

"Jadi kau seorang beta tester! Kau benar-benar terasa seperti itu!"

"Yah, tidak ada hal seindah dan sebanyak seperti yang aku lakukan, hah?!"

Azrael mengalihkan pandangan, tampak malu dan bahagia.

"Aku seorang pemula! Jadi tolong ajari aku jika kau tidak keberatan!"

"Tentu saja aku tidak keberatan!"

Azrael menjawab dengan bangga. Sasaraki menatap kosong sementara Alice kembali kepadanya.

"Sasaraki, dia semanis dan senaif seekor anak anjing ya!"

Dia tampak benar-benar bahagia, bukan? Nah, selama mereka dapat bergaul....yah.

"Haruskah kita bergerak dan menjelajahi dungeonnya sekarang?"

Ketiga gadis mengangguk pada kata-kata Sasaraki.

Azrael memasuki dungeon sebagai penyerang garis depan. Melewati koridor berbatu yang menuju ke ruang pertama, mereka tiba ditempat peti berwarna biru yang Sasaraki telah taruh sebelumnya. Azrael bersukacita dengan, 'Kita beruntung, bukan?!', sambil membuka peti harta dan memicu jebakan bola batu. Ujung-ujungnya mereka terkubur di bawah bola batu itu dan mati. Proses kematian yang mulus.

Lizna menikmatinya dengan, 'Ada satu yang baru!'

Alice juga mengambil pose kemenangan dan tersenyum.

"Baiklah. Ini akan baik-baik saja!"

"Apanya yang baik-baik saja?!"

Tiga menit kemudian, Azrael dihidupkan kembali.

Dia tersenyum, tapi untuk beberapa alasan keringat mengalir di pipinya.

"Aku....Aku belum serius sekarang! Aku hanya bercanda, ya?!"

Diberitahu hal itu dengan wajah bingung agak mengkhawatirkan.

Dalam hal apapun, mereka terus ke kamar sebelah. Mereka melewati sebuah gua batu kapur dengan air di langit-langitnya yang jatuh ke bawah dan tiba di sebuah ruangan yang tampak seperti ruangan pertama. Sekali lagi, itu memendam peti harta biru yang Sasaraki telah taruh.

Menurut perhitungan mereka ketika mereka telah menyelesaikannya, Azrael seharusnya melihat perangkap kali ini. Dia menatap peti itu dengan intens.

"Huh....? Bukankah itu perangkap dari sebelumnya?"

Berhasil! Sasaraki mengambil pose kemenangan dalam pikirannya. Apakah ia mencoba untuk membukanya dari jauh sekarang atau bagaimana tindakannya.

"Atau mungkin tipuan dan perangkap yang sama sekali berbeda"

"Eh....? Tidak, warna dan bentuknya memang sama, jadi haruskah sama dari sebelumnya?"

Azrael tertawa bangga dengan, 'Fufun'.

"Sasaraki, kau tidak paham ya. Kau harus membaca bagaimana para pengembang pikirkan"

Akulah pengembangnya....adalah apa yang dia tidak bisa ungkapkan.

"Ruang, warna peti, dan segala sesuatu yang lain itu sama. Ini jelas, terlalu jelas"

"Bukankah lebih baik untuk tidak terlalu memikirkanya....?"

"Yah, hanya diam dan lihatlah. Aku punya rencana yang bagus"

Sebuah rencana yang bagus adalah sesuatu yang Azrael belum begitu pandai.

Dia dengan cepat menghadapi peti harta. Lizna berteriak, 'Berikan yang terbaik, Azrael-san! Aku akan mengawasimu!', dari jarak yang aman, tiga meter. Azrael membuka peti itu. Sebuah suara bergema (Clonk) menarik perhatiannya, dan bola batu jatuh.

Dan seperti itulah....hanya ketika Sasaraki berpikir dia akan menunggu gadis itu dihidupkan lagi....

"Aku sudah pernah melihatmu!! Killing Blade*!!!"
[Pisau pembunuh. Nama skillnya]

(Swooooosh!)

Azrael berlari menyerang batu itu dengan 'Pedang Sihir Gram'. Batu besar meledak seperti bola ping-pong dan menabrak sesuatu. Meninggalkan seorang Azrael tanpa luka, tertawa dengan bangga.

"Fuuu"

Mengangkat pedangnya, dia berbalik ke Sasaraki.

"Mereka tidak menggunakan perangkap yang sama dua kali selama beta"

Setelah beberapa saat....

"....Haha...."

Sudah berbeda dari bagaimana ia rencanakan, tapi ya, ini tidak buruk.

Di sampingnya, Alice juga bertepuk tangan dengan senyum.

Lizna harusnya juga sudah tersenyum, namun dia tidak terlihat. Ketika diselidiki lebih dekat, gadis itu telah diratakan oleh bola batu.

"AAAAAA?!?!?!"

Azrael berteriak. Efek kematian dan kilauan naik menjauh. Dia berlari kesampingnya dan tepat setelah itu, batunya terguling. Meratakan Azrael, membuatnya tewas dengan 800 damage.

"....Uwaahhh...."

"Keduanya tahu bagaimana cara bersenang-senang, bukan?"

Alice tertawa lagi.

"Hei, Alice....mungkinkah kita yang paling buruk?"

Mereka telah memikat dua gadis yang tidak waspada ke dalam perangkap dan membunuh mereka. Bukankah mereka hanya seperti dalang kejahatan yang kau akan temukan dalam game, novel, dan sejenisnya?.

"Oh ya ampun, kau baru menyadarinya sekarang?"

Alice tersenyum cerah.

"Cobalah lihat nama job milikmu"

"Eh?"

Dia membuka layar status sekarang dan itu telah berubah menjadi 'Raja Besar Iblis' (dibaca sebagai: 'Sang Gamemaster').

"Raja Besar Iblis?!"

"Para Gamemaster adalah dalang kejahatan, setelah semua"

"Aku merasa sangat bersalah sekarang!!"

Mungkin aku seharusnya membiarkan mereka tahu bahwa ini hanyalah penge-tes-an? Tidak, jika aku mengatakannya, itu akan menjadi sama dengan mengatakan kepada mereka bahwa aku seorang gamemaster. Aku tidak mau itu. Aku ingin mereka menikmati game tanpa mengetahui apapun tentang semua ini.

Jika mereka tidak bisa melakukan itu, maka tidak ada makna dalam diriku yang telah menjadi seorang gamemaster.

"Fufu. Yakinlah, keduanya sedang bersenang-senang dengan cara mereka sendiri"

"....Aku harap begitu...."

Setelah setengah jam menjelajahi dungeon, mereka telah menyelesaikannya. Butuh total tujuh kematian (breakdown: Lizna dua kali, Azrael lima kali) sebelum mereka mencapai ruang akhir. Ruang akhir itu sendiri memiliki perasaan khidmat tentang hal disekitarnya dan terbuat dari marmer. Mengamati bagian dalam ruangan dari lorong, mereka melihat seekor monster raksasa yang belum pernah mereka saksikan sebelumnya.

Azrael dan Lizna menatapnya dengan mulut mereka terbuka lebar.

"Alice, ada apa dengan naga di sana?"

Naga dengan sisik berkilau merah. Panjang total sekitar sepuluh meter. Sayapnya tersebar di seluruh ruangan.

"Itu monster kelas atas unik yang disebut 'Rainbow-Eating Elder Dragon King', level yang direkomendasikan harusnya 450"

"Bukankah kita menempatkan 'Great Goblin' dengan level yang direkomendasikan 3 di sini?"

"Sepertinya ada yang tidak beres dengan penempatan yang sebenarnya. Bug terjadi cukup sering"

"....Uwah...."

Kemudian Azrael tertawa dengan, 'Fufufu....'.

"Aku mengerti! Lizna, itu pasti hanya ilusi untuk membuat kita panik!"

"Begitu ya! Seperti yang diharapkan dari Azrael-san!"

Keduanya menyiapkan senjata mereka dengan senyum.

"Sasaraki, maju!!"

Azrael berteriak dan menyerbu ke ruang bos. Tepat setelah itu, sosok mereka diselimuti api tujuh warna dari naga dan mengambil sekitar 40.000 damage. Keduanya larut ke udara tipis tanpa sebutirpun debu yang tersisa. Efek Overkill.

"Mereka meninggal, ya kan?"

"Tentunya"

"Apa yang akan kita lakukan tentang hal ini?"

"Akan bagus untuk melakukan tes untuk melihat dungeon di selesaikan, kan? Nah, apa boleh buat kalau jadinya begini"

Alice melepas anting-antingnya dan menyerahkan itu kepada Sasaraki.

"Di sini, bawalah"

"....Apa ini?"

"Sebuah senjata"

Tidak peduli bagaimana kau melihatnya, itu hanyalah dadu sepuluh sisi yang sederhana.

"Cobalah lemparkan pada naga"

"Ini tidak akan membunuhku jika aku menyerang naganya?"

"Fufufu, itu akan baik-baik saja. Cobalah"

Alice mengatakan dengan keyakinan yang aneh. Sasaraki melakukan seperti yang diperintahkan dan ringan melemparkannya pada naga. Anting-anting itu menyentuh ekor 'Rainbow-Eating Elder Dragon King'.

Tepat setelahnya, (DOGAGAGAGAGAGAGAGAGAGA), tubuh naga memantul dari dinding ke dinding sekitar 300 kali seperti pinball. Damage yang ditampilkan, 800.000.000.

Delapan Ratus Juta.

"GUOOOOOOOOOOOOOOOUUUUUUUUU............"

Sebuah gemuruh tampaknya menyedihkan. Setelah itu, 'Rainbow-Eating Elder Dragon King' runtuh.

Efek kematian gemerlapan naik dari seluruh tubuhnya.

"....Aku pikir aku baru saja membaca angka yang sangat aneh...."

Ratusan juta. Delapan dari mereka.

"Ini adalah senjata favoritku, 'Dice of the Goddess', kau tahu?"

Alice mengangkat tangan dan dadu bangkit dari lantai sambil terbang ke arahnya.

Dia menangkapnya dan tersenyum bangga.

"Ini mengaitkan damage seratus juta per biji dadu di sisi yang terkena. Karena memukul dengan 'delapan' sisi, jadinya delapan ratus juta"

"Bukankah itu cara yang terlalu tidak masuk akal?! Sebenarnya, bagaimana bisa dadu menjadi senjata?!?!"

"Semasa kecil, aku selalu berangan-angan memukuli monster dengan dadu"

Mereka terus berbicara seperti itu sampai Lizna dan Azrael kembali.

"Itu sangat aneh! Apa artinya ini?! 40000 damage?!"

"Kita menetapkan rekor overkill baru, bukan?! Yaayy!!"

"Aku tidak menginginkan rekor semacam itu! Aah, apa yang akan kita lakukan tentang mahkluk ini?!"

"Tidak apa-apa, Sasaraki mengurusnya sekarang"

""He?""

Azrael dan Lizna mengintip ke dalam ruangan. Waktunya persis saat ketika tubuh raksasa naga berkilauan merah dan menghilang.

Keduanya ternganga dengan mulut lebar lagi. Seperti yang dilakukan Sasaraki.

"Karena kebetulan, kebetulan aku memiliki skill yang membatalkan api naga. Sasaraki menyerbu naga dengan perlindungan suci yang kuberikan dan kemudian menjadi menakjubkan! Dia mengelak taring tajam dan serangan ekor. Memotong itu, tiba-tiba naganya roboh dan semua yang tersisa adalah sosok gagah Sasaraki!!"

Alice menceritakannya dengan cerah. Tiga lainnya masih tersisa dengan mulut mereka menganga.

"Aku benar-benar ingin menunjukkannya juga....Kita harus benar-benar memanggilnya Pahlawan Dewi sekarang, kan?"

"Tung---Alice, apa omong kosong yang kau semburkan?!"

Dia berbisik padanya panik.

"Hei, kita telah menyembunyikan seluruh hal tentang gamemaster, bukan?"

"Menakjubkan, Sasaraki-kun!"

Mata Lizna berbinar-binar. Ohoh, mereka benar-benar percaya!.

"Sasaraki-kun adalah pria yang bisa mendapatkan sesuatu jika ia mencoba, kan?!"

"Tidak, aku tidak---"

"Jadi dia bukan hanya seorang pecundang dan lolicon berjiwa lemah?!"

"Tunggu, kau berpikir aku begitu?!"

"Tidak peduli bagaimana kau melihatnya, ini tidak masuk akal, kan?!"

Azrael memotong. Ya, itu benar-benar tidak dapat diterima logika.

"Bahkan jika kau bertahan terhadap apinya, Sasaraki tidak bisa menembus sisik di tubuh---"

"Kematian kalian membuat pedang Sasaraki berkobar, ya kan?"

Alice mulai menceritakan omong kosong lainnya.

"Menyaksikan para sahabatnya yang berharga jatuh, Sasaraki-san menumpahkan air mata dan darah sebagai hasil dari emosinya yang didorong sampai batas. Dia membangunkan EX Skill 'Immortal Soul'. Pedangnya memperoleh kekuatan untuk memotong musuh bebuyutan dengan kekuatan untuk sekejap membunuh naga tersebut!!"

Mengapa dia memberitahu sesuatu yang jelas kebohongan?.

"I....Immortal Soul?"

Azrael bergumam bingung.

Daaann dia ketahuan---pikir Sasaraki, ketika....

"Tidak adil!"

"Hah?"

Untuk beberapa alasan, Azrael berkobar padanya dengan air mata.

"Apa-apaan skill keren itu?! Ini tidak adil jika hanya kau yang memilikinya!"

"Tung----Terlalu dekat! Kau terlalu dekat, Azrael!"

Dia cukup dekat sampai-sampai payudaranya hampir menyentuh Sasaraki. Dan dia tidak menyadari dirinya sendiri, dia mungkin sudah terlalu bersemangat.

"Sasaraki-san adalah pahlawan, kan? Menakjubkan!!"

Lizna menatapnya dengan mata berbinar.

Sasaraki ingin memegang kepalanya. Mengapa hal-hal berubah seperti ini?.

"Aku benar-benar cemburu dengan seberapa baiknya kalian semua akur"

Alice tertawa di sampingnya.


☆☆☆☆


Lima menit kemudian, Azrael telah kembali.

"J-Jangan salah paham! Ini tidak seperti aku cemburu atau sesuatu!"

"Tidak, lihat, hanya dengarkan apa yang---"

"Itu hanya mengejutkanku sedikit!"

"Dengarkan apa yang---"

"Aku bersumpah!! Aku benar-benar, benar-benar bersumpah!!!"

Azrael tidak mendengarkannya sama sekali.

Hal terus seperti itu sampai mereka telah membubarkan party.

Ruang debugging, satu hari kemudian. Sasaraki menghela napas besar sambil duduk di atas tanah. Setelah semua, ia baru saja mengingat kembali kejadian kemarin di kepalanya.

"Para gamemaster sebenarnya dalang kejahatan, ya....?"

Menempatkan monster dan perangkap, memikat para pemain kesana....Tidak peduli bagaimana kau melihatnya, itu adalah perbuatan Raja Iblis.

"Tapi itu menyenangkan, bukan?"

"Uh"

Dia tidak punya apapun untuk mengembalikan kata-kata Alice.

Tentu, itu telah melonggarkan bibirnya ketika ia melihat keduanya melangkah kedalam kebingungan pada perangkap yang di atur. Ketika dia menjadi pemain, tampaknya tak terpikirkan.

"Lalu itu semua baik-baik saja"

"....Begitukah...."

Itu tidak membantu melenyapkan rasa bersalahnya, sama sekali.

"Lagi pula, kita sudah selesaikan tutorial, kan?"

"Yah, kita telah membereskan 'Rainbow-Eating Elder Dragon King' dan semua"

Setelah mereka berpisah dengan Azrael dan Lizna, mereka membahas masalah ini dan melakukan perjalanan lain. Dungeon seharusnya bekerja dengan benar sekarang. Juga, mereka telah menempatkan sebuah rambu yang terlihat di kota, karena itu seharusnya untuk membimbing pemula.

"Ah, benar juga. Aku harus memastikan untuk memberitahu Fury tentang tanda jalan, ya?"

"Kenapa begitu?"

"Karena tanda-tanda itu adalah objek biasa"

Objek biasa adalah salah satu jenis benda yang ada di lapangan. Terutama furniture, seperti pintu toko atau meja, lalu kebawahnya. Semua objek dalam game ini bebas digerakkan oleh pemain. Jadi mereka bisa dicuri, hancur, dan / atau dibakar cukuplah sering.

Ketika sudah seperti itu, objek-objek ini tidak akan kembali ke semula.

Sebelumnya, mereka lakukan, kecuali dicuri, lingkaran penjualan adalah cara mudah untuk membuat uang, sehingga mereka membuatnya tidak bisa dicuri---yah, mereka ingin tapi tampaknya tidak bisa, maka mereka membereskannya dengan membuat objek-objek itu tidak muncul kembali.

Berkat itu, semua rumah NPC di Start kosong seolah-olah mereka sudah kabur.

"Jika tandanya rusak, kita buat Fury memasang yang lainnya"

"Kita benar-benar akan menyebarkannya ke seluruh tempat, ya....?"

Sasaraki berkata dan mengambil bel dari sakunya. Bell emas yang Fury telah serahkan kepadanya. Deringnya akan memanggil peri itu ke samping Sasaraki.

'Aku Tinkerbell, kau tahu? Tinkerbell!!', ia mengatakan dirinya.

Bagaimanapun, Sasaraki membunyikan bel itu.

"Anda memanggil Fury-chan, Master? ☆"

Seorang peri muncul dari pilar kecil cahaya sementara berkibar dengan sayapnya yang seperti kupu-kupu.

"Aku ingin menanyakan sesuatu padamu---"

"Sebelum itu, aku memiliki laporan mendesak ☆"

"Eh? Apa itu?"

"Guild 'Seek Brilliance of the Stars' telah menemukan dungeon akhir lantai pertama ☆"

Dia telah mendengar nama guild itu sebelumnya. Itu guild yang serius mencoba untuk menyelesaikan kusoge ini. Mereka memiliki reputasi yang sangat baik di antara para pemain. Dia harus menemui mereka, tapi mereka selalu berkumpul dengan sesama pemain yang super serius. Jadi upaya keras mereka telah dihargai, memang sangat menggembirakan!.

"Sepertinya mereka sedang merekrut pemain dan menuju untuk menyelesaikan dungeon yang saat ini kita bicarakan ☆"

Fury mengatakan, 'Lihat, lihat !', dan menampilkan keadaan saat ini di kota pada tampilan utama. Di depan alun-alun air mancur, seorang pria berpakaian di pelat baja mengadakan pidato untuk puluhan orang. Dia Guildmaster dari 'Seek Brilliance of the Stars'.

"Heeh....Huh? Azrael di sana, juga"

Dia tampak agak gelisah.

'Levelku terlalu rendah, tapi....Tidak, aku pasti bisa mengurusnya sekarang'

Itu adalah kata-kata sederhana yang berbeda dari dirinya yang biasa.

Dia membelai sarung dari 'Pedang Sihir Gram'.

'Ba-Bahkan Sasaraki mendapat Skill EX sendiri....'

Tidak, aku tidak memperolehnya, tapi kata-kata itu tidak akan mencapainya bahkan jika ia mengatakannya keras-keras.

'Ya, aku harus bergabung. Aku hanya tidak mencoba, tapi jika aku mencoba, aku bisa melakukannya!'

Azrael mengepalkan tinjunya dan agak menguatkan tekadnya.

"Aku merasa sunggguuuuhhhh bersalah sekarang...."

"Itu nasib gamemaster, kau tahu?"

Alice tertawa.

"T-Tapi mereka tentunya bersemangat, kan? Bukankah itu hal yang baik?"

Dekat dengan seratus pemain mendengarkan pidatonya dan tampak seperti mereka akan bergabung. Mengingat ada lebih dari 10.000 pemain, itu hanya satu persennya, tapi mungkin tidak buruk untuk memiliki acara terbuka, atau begitulah yang kau akan pikirkan.

"Jadi, apa yang akan kita lakukan? ☆"

"Hah? Kenapa kita perlu melakukan sesuatu tentang hal ini?"

"Apakah anda mengantuk, Master? ☆ Disana mereka hanyalah pengganggu ☆"

"....Hah? Kenapa?"

"Fury-chan merekomendasikan untuk membiarkan dia merobek Guildmaster itu menjadi daging cincang ☆"

"TidakTidakTidak, kau tidak boleh melakukan itu. Kita tidak akan melakukan sesuatu yang buruk, ya?"

"Mencoba untuk menyelesaikan menara ini adalah dosa, kau tahu? ☆"

"Seperti, kenapa?!"

"Ingin tebak-tebakan? ☆"

Dia menjawab pertanyaan Sasaraki dengan sebuah pertanyaan. Kenapa, ya? Aku tidak tahu mengapa penyelesaian game ini menjadi sesuatu yang mengkhawatirkan.

"Ya ampun! Masterku ini memiliki hati paling murni, ya? Tapi....☆"

Fury berbalik ke Alice.

"Jika itu Alice kita yang tercemar, dia harusnya tahu apa artinya, kan? ☆"

Alice melipat tangannya dengan wajah poker. Dia tampak merenungkan sesuatu.

"Alice, apa artinya ini? Kenapa itu buruk jika mereka mencoba menyelesaikan game?"

"Sasaraki"

Dia berkata dengan nada mengejutkannya serius.

"Aku mengatakan kepadamu sebelumnya, 'Ayo kita membuat VRMMO', kan?"

"Eh....? Ah, ya. Rasanya agak melenceng"

"Bagaimana?"

"Kau tahu, game sudah jadi dan begitulah"

Beberapa saat keheningan berlalu. Di sampingnya adalah Fury, menghalangi mulutnya untuk menahan cekikikan.

"Sayangnya, 'membuat' adalah kata yang tepat untuk digunakan."

Alice bergumam pada akhirnya.

"Karena game jauh dari kata selesai"

"Eh?"

Apa yang kau maksud, sebelum ia bahkan bisa meminta, Fury memotong ke dalam percakapan.

"Waktu untuk debut nasional ☆ ini adalah bentuk sejati 'Sword & Magic online' ☆"

Fury menekan sebuah tombol. Dia melihat menara menjulang tinggi di langit pada layar utama.

Dinding batu luar menara menjadi lebih dan lebih transparan sampai ia bisa melihat bagian dalamnya.

Kosong.

"Heh?"

Dari atas menara ke bawah, yang sebagian besar itu berlubang.

Di bagian bawah, padang rumput berlabelkan 'Lantai Pertama' menyebar jauh. Di bagian atas adalah lantai berbentuk kubus, berlabelkan 'Lantai 255' Itu semua yang ada, sisanya----segala sesuatunya dari lantai 2 sampai lantai 254, tidak ada.

(Fffffffffuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu)

Untuk beberapa alasan, angin dingin bertiup di ruang debugging.

Itu mungkin hanya ilusi, tapi Sasaraki bisa merasakannya, pasti.

"Tunggu sebentar"

"Aku akan menunggu sampai akhir layanan ☆"

"Apa arti semua ini?"

"Aku suka Masterku yang lambat ☆ Untuk menjelaskannya, dengan kata lain---"

Pundaknya melambung riang, Fury tampak menikmati dirinya sendiri.

"---Tidak ada hal seperti lantai kedua ☆"

"Ti-TidakTidakTidak! Apa-apaan itu?!"

Teriaknya dengan refleks.

"Game ini tentang menyelesaikan 255 lantai, kan?!"

"Dan segala sesuatunya dari lantai kedua belum diciptakan, Maste~r ☆"

"KENAPA?!?!"

"Tidaklah tidak biasa ☆ Lantai pertama kita dirancang untuk mengulur waktu setidaknya satu bulan, sehingga tidak ada kebutuhan untuk merancang semua lantai. Dan itu bukan masalah sama sekali jika kau mengembangkan satu per satu lantai selama sebulan ☆"

"Tapi itu menjadi masalah sekarang, ya kan?! "

Titik penjualan game ini telah dengan berani memasang 255 lantai yang belum dijelajahi oleh petualang. Bagaimana bisa ada 254 lantai, 99% bagian game, belum bahkan dirancang? Itu seperti penipuan. Sebenarnya, memang penipuan.

Jika para pemain yang serius tahu tentang itu, pastinya akan ada kerusuhan.

Karena itulah Master lama dari peri ini mencoba untuk mengganggu penyelesaian game oleh pemain.

"Tidak, lalu, apa yang akan kita lakukan?!"

"Tidak apa-apa, Master ☆ Tinggalkan itu semua untuk Fury-chan ☆"

"Serahkan saja padamu...? Apa yang kau berniat untuk lakukan?"

Fury mengenakan senyum seperti dongeng.

Maka tampilan utama diubah kembali ke pidato guild.

"Bukankah sudah jelas? ☆"

Dia mendorong tombol dengan tengkorak dan tulang bersilang di atasnya. (Booom!)

'UOOOOH ?! YUTANGA-SAN meledak ?!'

'LAGI?!'

'Itu membuat kelima kalinya dalam tiga hari, bukan?'

Penonton di alun-alun mulai menjadi riuh.

"AA?! A-Apa yang kau lakukan, Fury?!"

"Bukankah aku sudah mengatakannya? Dengan 'Tombol tidak masuk akal' eksklusif Fury-chan, semua pemain yang semakin dekat dengan dungeon terakhir.... "

Dia menyajikan tombol dengan tangannya seperti persembahan dan menyatakan sambil tersenyum terang.

"....Akan diterkam oleh Fury-chan ☆"

Peri dengan kejahatan murni!.

"Berhenti bicara omong kosong dan hentikan itu, Fury"

Alice bercampur dan mengambil tombol Fury.

"Itu benar! Mereka adalah para pemain yang sedang menyelesaikan game, kau tidak bisa---"

"Kita tidak bisa meninggalkan tugas penting ini untuk orang-orang sepertimu"

"Lihat? Alice juga mengatakan itu----Hah?!"

Ketika dia berbalik, Alice tersenyum.

"Sasaraki, ingat ini! 100 Aturan Menjadi Gamemaster, aturan nomor 3!"

Dia berbalik dan menunjuk Sasaraki, lalu berkata....

"Bahkan jika pemain mati, kau harus membiarkan mereka bersenang-senang melakukannya!"


☆☆☆☆


Frost Mountain.

Sebuah wilayah bersalju di tepi lantai pertama menyimpan sebuah gunung di paling utara bagiannya.

Sekitar 1500 meter di atas permukaan laut. Mengabaikan wajah bodoh bagaimana mungkin ada sesuatu seperti itu dalam sebuah menara, gunung itu sungguh-sungguh melonjak tampaknya memegang dungeon terakhir dari lantai pertama.

"....Itu mereka, kan? Kelompok raid*...."
[Maksud raid disini adalah kelompok besar pemain. Biasanya untuk menantang dungeon yang khusus]

"Sepertinya begitu. Perlahan mendekat"

Sasaraki dan dua lainnya telah datang ke gunung. Di belakang mereka adalah sarang naga salju. Di bawah tebing adalah plaza besar, dan banyak pemain berkumpul di atasnya. Permukaan batu tertutupi salju yang berfungsi sebagai plaza, ada lubang menganga tidak wajar.

Menurut Fury, lubang itulah pintu masuk dungeon. Berdiri di depan pintu masuk, Guildmaster yang meledak sebelumnya.

'Hm. Kita punya 85 orang yang tidak pergi....jumlah ini cukup'

Sasaraki bisa mendengar seseorang berkata. Mungkin anggota serikat 'Seek Brilliance of the Stars'. Menghitung pemain yang akan datang, ia tampaknya menetapkan mereka menjadi kelompok-kelompok. Ketika Sasaraki lebih menajamkan telinganya, ia juga bisa mendengar suara-suara dari pemain lain.

'Kerja bagus menemukan ini, bukan? Akan ada sebuah pintu masuk pada jalur tersembunyi dalam permukaan batu tanpa petunjuk apapun....'

'Kabarnya adalah bahwa mereka hanya memeriksa seluruh peta dengan ukuran meteran seperti di RPG super tua'

'Yang benar?! Kenapa mereka begitu serius dengan kusoge ini?!'

'Para pengembang mungkin memiliki isi kepala yang lucu, tetapi orang-orang itu tidaklah jauh lebih baik'


"....Mengatakan aku memiliki isi kepala yang lucu...."

"Itu pujian ☆"

Fury bertepuk tangan.

"Sebenarnya, orang-orang ini tampaknya tidak terlalu termotivasi, ya kan? Sepertinya mereka tidak akan mengacaukannya bahkan jika kita meninggalkan mereka"

"Sebagian besar dari kelompok mungkin memang begitu, tapi ada orang-orang yang super termotivasi disana juga, kau tahu? ☆"

'Lihat, lihat!', Fury menunjuk.

Di atas sebuah batu besar di tengah alun-alun berdiri satu orang. Memperhatikan lebih dekat pada dirinya, pria itu memasang pedang raksasa di punggungnya dengan ekspresi muram di wajah.

'Para pria dan wanita!'

Suara memerintah Guildmaster memotong melalui kerumunan. Obrolan ramah berhenti seketika.

'Kau juga menantang bug terlalu sering datang ke sini! Aku, Yutanga, memberikan terima kasih! Terima kasih kepada penyelidikan panjang sepuluh hari kami, kami telah menemukan dungeon terakhir oleh keberuntungan dalam pegunungan ini! Setelah melakukan pekerjaan yang menyakitkan mencari pintu tersembunyi dengan memukul batu lebih dari 30000 kali, aku ingin membuktikan terima kasih yang terdalam terhadap temanku, Tiolis!'

Gadis yang berdiri di belakangnya, memiliki rambut hitam pendek, memakai baju tempur ringan, dan dilengkapi epee*. Dia sedang ditepuk tangani. Tiolis menunduk tampaknya malu.
[Pedang untuk anggar]

"Dan di sini Fury-chan pergi keluar dari cara untuk bersembunyi sebaik yang dia bisa, upaya mereka begitu tidak beralasan, kan? ☆"

Maaf, Yutanga-san. Pelaku petak umpetnya di sini.

'Kalau begitu, mari kita bahas pertarungan. Menurut laporan pengintai kami, pemain yang mati dalam dungeon, tidak akan dapat masuk kembali untuk setidaknya seminggu. Dugaan kami adalah bahwa hal itu dikarenakan kutukan bos 'Soul Leech'!'

Orang-orang gempar.

"Fury, mau menjelaskan?"

"Pasti! Masterku yang sebelumnya memerintahkan untuk melakukan penundaan manuver ☆"

"Uwaahhh..."

Maaf, Yutanga-san. Peri jahat ini yang mengutukmu, bukan bos.

'Kalau begitu, Tiolis. Seperti yang kita bahas sebelumnya, aku memintamu untuk mengeluarkan sepatah atau dua patah kata'

Dia menyebut gadis itu, Tiolis, dan dengan pipinya memerah, dia melangkah di atas batu.

Dia melipat tangannya di depan dada seperti sedang berdoa dan memberikan suara yang jelas.

'Aku hanya ingin mengatakan satu hal. Ayo kita percaya pada dunia ini'

Tiolis menelan ludah dan melanjutkan.

'Ketika kita tidak bisa menemukan dungeon terakhir, tidak bisa menemukan jalan yang akan membawa kita ke lantai berikutnya tidak peduli seberapa keras kita menyelidiki, banyak orang berpaling dari game ini. Pastinya karena belum diciptakan, kata mereka. aku yakin kusoge ini sudah berakhir di lantai satu, kata mereka. Tapi sekarang, di sini kita berdiri, mengetahui bahwa itu tidak benar!'

Tiolis mengatakan sambil tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Sasaraki ingin menangis juga. Untuk alasan yang berbeda.

Dia ingin meminta maaf, mengatakan itu bukan kesalahan mereka. Sebenarnya, itu benar-benar belum dirancang.

'Setelah kita berhasil melewati dungeon terakhir ini, 'The Cave of the End of Start', pasti, dunia baru akan menanti kita. Ayo kita percaya, dunia ini bukanlah kusoge. Bahkan jika memiliki beberapa lapisan yang masih terbagi, masih memiliki banyak mimpi dan romansa yang menunggu kita!'

(UOOOOOOOOOOOOOOOOO!)

Kerumunan mengangkat suara mereka.

Sasaraki ingin memegangi kepalanya.

Tiolis menyebar kedua tangan dan menyerap sorak-sorai yang ditujukan padanya. Masih tersenyum bersamaan dengan tangisan.

Terima kasih, terima kasih, dia terus berkata.

"Sasaraki, dengarkan, dengarkanlah baik-baik"

Alice mengatakan sungguh-sungguh.

"Kita akan membunuh setiap satu dari mereka"

"Kata-katamu itu terlalu mengganggu!"

"Bahkan jika aku lebih membubuhi keterangan, itu akan menjadi sama, kaaannn?"

Alice berdiri di sana dengan tinjunya bertumpu pada pinggul.

"Hei, Alice. Tidak bisakah kita hanya memberitahu mereka langsung?"

"Itu tidak boleh dilakukan"

Dia menjawab dengan nada serius.

"100 Aturan Menjadi gamemaster, aturan nomor 4! 'Kau tidak harus mengungkap rahasia dari game'!"

Alice meneruskannya sambil mencermati Sasaraki.

"Jika mereka tahu bahwa lantai yang menunggu mereka hanya lahan kosong, mereka akan mengetahui rahasia batas dunia maya kita. Rasa realitas yang sudah rendah di sini akan benar-benar runtuh dan mereka akan mulai merasa bahwa tanah yang mereka pijak hanyalah sebuah permainan belaka. Kita harus mencegah hal itu dengan cara apapun"

"....Itu....pastinya benar"

Namun, ia enggan.

"Apa yang akan kau lakukan? Menghentikannya? Aku tidak akan memaksamu"

Sasaraki tampak ragu-ragu sejenak, tapi kemudian ia teringat kata-kata Lizna.

'Aku berpikir, aku akan terus login ke dunia ini, sampai akhir, selalu'.

Dia telah bersumpah pada dirinya sendiri bahwa dia akan membuat dunia ini berlangsung selamanya.

"Tidak, aku baik-baik saja. Aku akan melakukannya"

"Kau yakin?"

"Aku tidak akan mengembalikan kata-kataku, kau tahu....? Wah?!"

Alice meraih tangan Sasaraki ini.

"Terima kasih, Sasaraki. Kau rekan yang benar-benar baik"

"Eh? Ah, yah, terima kasih...."

Dia tersipu saat diberitahu kata-kata yang penuh dengan emosi langsung.

"Kemudian ayo kita bicara tentang strategi konkret. Kita tidak akan hanya mengganggu, melainkan mengganggu dan membiarkan mereka bersenang-senang ketika melakukan hal itu, iya kan?"

"....Mengganggu dan membiarkan mereka bersenang-senang?"

"Kita akan membuat tingkat kesulitan yang menarik dan akan mengobarkan semangat juang mereka. Kesulitan yang bisa membuat mereka berani mereka semua menggabungkan kekuatan. Jika kita melakukan itu, bahkan jika mereka tersapu, mereka harusnya masih merasa puas"

Alice mengatakan dengan ekspresi bangga.

"Ini bukan tentang hasil yang paling penting dalam game, melainkan jalan untuk bisa sampai kesana, kau tahu?"

"Begitu ya....?"

"Seperti itulah!"

Dia menyatakan penuh keyakinan.

"100 Aturan Menjadi Gamemaster, aturan nomor 5!"

Alice menunjuk dirinya dengan senyum penuh dengan keyakinan.

"Seorang gamemaster, kau tahu, memiliki tugas untuk membiarkan para pemain menikmati diri mereka sendiri. Bahkan jika ini...."

"....Bahkan jika ini?"

"Total kusoge!!"


☆☆☆☆


Ke Halaman utama Kusoge Online (BETA)
Ke Halaman selanjutnya


Comments

Popular posts from this blog

Kusoge Online (BETA) Bahasa Indonesia

108 Maidens chap 14 B. Indonesia