108 Maidens chap 13 B. Indonesia

Chapter 13 Xun Tian Daoist
Diterjemahkan oleh I-Fun Novel




Di sekitar mereka, tirai dedaunan yang berkembang. Flora semeriah sulaman megah. Musim semi memberi jalan untuk aliran dangkal arung jeram yang melalui gunung. Diiringi jarak, air terjun mengalir jatuh, memancarkan lapisan halus kabut. Pegunungan dan danau memberikan suasana sangat damai dan tentram.

Meskipun Shu Jing telah akrab dengan pemandangan puitis benua Liangshan dalam sebulan terakhir, potret ini masih memaksanya untuk berhenti sejenak dan melihat sekeliling.

"Tuan muda, apa kau sudah menjadi bodoh hanya dari pemandangan?"

Song Lu sedikit menggodanya.

Shu Jing hanya mengangkat bahu. Saat berjalan sepanjang jalan kecil, tak lama kemudian mereka sampai di posisi dengan pemandangan gunung besar. Di bawahnya terlihat empat orang yang sedang berdiskusi.

Saat mereka mendekati kelompok itu, Shu Jing secara bertahap mulai mendengar percakapan mereka.

"Kep_rat!! Perjalanan yang sia-sia!! Seperti apa teknik jiwa sialan yang bisa ada di reruntuhan sampah ini?!"

"Aku sudah memperingatkanmu di awal untuk tidak terlalu percaya. Ini adalah sesuatu yang muncul hanya sekali setiap beberapa ratus tahun. Bagaimana mungkin kau menjadi orang yang bisa menyelesaikannya?"

"Sialan!!"

Melihat kelompok Shu Jing, empat orang itu menengok pada satu sama lain dan berhenti bicara.

Shu Jing mulai melihat mereka semua sekaligus. Tiga laki-laki dan seorang perempuan, dengan kultivasi terendah berada pada tahap Stardust Tengah. Di antara mereka, biksu Taois* memegang sapu ekor kuda tampaknya memiliki kultivasi tertinggi.
[Aliran filsafat yang berasal dari Cina. Juga muncul dalam bentuk agama, mulai berkembang 2 abad setelah perkembangan filsafat Taoisme. Sebutan lain adalah Daoisme yang diprakarsai oleh Laozi berdasarkan kitab Daode Jing. Kitab disebut begitu karena membahas tentang Dao (jalan) dan De (Kebajikan)]

Dia kemungkinan besar memasuki puncak tahap Stardust Akhir.

Mata biksu Taois itu menjadi cerah ketika garis pandanganya bertemu Lin Yingmei. Perasaan di balik pandangannya adalah sesuatu yang tidak menyenangkan.

"Apa kalian juga di sini untuk memeriksa tempat peninggalan?"

Song Lu bertanya dengan nada ramah.

Meyadari bahwa tidak ada sejejak pun kultivasi dalam tubuh Song Lu, biksu itu hanya memberi lirikan sekilas lalu matanya berganti fokus pada Lin Yingmei dan Shu Jing.

"Teman-teman, apakah kalian datang ke sini setelah mendengar tentang tempat peninggalan telaga gunung?"

Biksu ini tersenyum dan bertanya.

Teman-teman? Disebut seperti itu membuat Shu Jing lengah. Dia tertawa lalu menjawab.

"Kami baru saja lewat, dan memutuskan untuk berkunjung ke sini"

"Untuk kultivator Stardust seperti kami, sejenis tempat peninggalan yang gampang benar-benar lebih penting. Sayangnya, aku pikir kau juga akan kecewa"

Biksu itu tampak menyesal.

"Mendengar kalau tempat peninggalan ini memiliki sejarah panjang 500 tahun, aku tidak terlalu berharap juga"

Si tentara samar-samar menjawab.

"Teman, itu merupakan sikap baik"

Sambil mengelus jenggotnya, biksu berkata. Shu Jing juga tidak merasa ingin membuang-buang ocehan pada mereka. Ketiga orang lain sedang melirik Yingmei dengan tatapan tidak menyenangkan. Hati mereka dipenuhi kebencian dan iri pada Shu Jing.

Ekspresi si Majestic Star tetap sedingin es. Bahkan sekarang, dia tidak memperdulikan mereka.

"Kalau begitu, aku akan pergi ke depan untuk melihat"

Shu Jing ringan bertukar pandang dengan Yingmei sebelum berjalan ke depan. Tiga kultivator yang bersama si biksu hanya sebentar melihat pada satu sama lain sebelum menepi dan memungkinkan tentara ini untuk lewat.

Shu Jing tersenyum pada mereka, kemudian mengambil Song Lu dan Lin Yingmei untuk maju ke arah gunung, yang tampaknya jalur menuju pintu masuk tempat peninggalan.

Menunggu sampai Shu Jing berada di kejauhan, tiga orang kultivator kemudian mengeluarkan senjata mereka, berniat kembali ke dalam reruntuhan Telaga Gunung.

"Kalian, jangan bertindak gegabah"

Biksu Taois dengan tenang berbicara, menyebabkan mereka untuk sejenak diam.

"....Biksu Taois Xun Tian, apa yang kau maksud dengan itu?"

Perempuan itu berbalik dengan ekspresi tidak puas.

"Bukankah ini waktu terbaik untuk membunuh mereka?"

Pria berkepala botak mengkilap mencengkeram palu dan berbicara sambil tertawa jahat.

"Hanya kultivator tahap Stardust Awal. Aku sendiri cukup untuk mengurusi mereka"

Pria terakhir tanpa peduli menambahkan.

Xun Tian menggeleng. Dia sedikit melambaikan sapunya dan tersenyum.

"Apa kalian tidak melihat gadis di samping pria itu?"

"Dia hanya ksatria bintang, itu saja!"

Pria itu menyeringai, matanya berkelebat terlihat cemburu.

"Aku justru ingin menyingkirkannya karena dia seorang ksatria bintang! Siapa yang tidak tahu kalau membunuh mereka akan meningkatkan kekuatan kultivator-mu? Bahkan mungkin bisa membuat orang yang melakukannya langsung masuk ke gunung Liangshan Maiden!"

Satu-satunya kultivator perempuan berkata dengan nada melengking. Si biksu taois berbicara membalasnya.

"Yang aku takutkan adalah jika gadis itu bukan ksatria bintang biasa"

"Apa yang kita takutkan? Lihatlah master bintang itu. Kekuatan pria ini biasa-biasa saja. Ksatria bintangnya pasti bukan orang kuat"

"Kalau dia Ksatria Bintang yang belum mengikat kontrak, maka mungkin saja. Tapi melihat Maiden Bintang itu, mungkin dia memiliki suatu ikatan dengan pemuda pincang disampingnya....Ha ha, tenanglah. Bahkan jika itu Linchong, kita akan mampu mengatasinya!!"

"Mungkin Xun Tian takut? Sungguh sebuah keberuntungan, kita berjumpa dengan Master sekaligus Ksatria bintangnya yang lemah. Aku benar-benar tidak ingin membuat perjalanan ini menjadi sia-sia"

Mereka kecuali si biksu telah memutuskan untuk mengejar Yingmei demi mendapatkan Energi Bintangnya.

Xun Tian menanggapi dengan perlahan berbicara.

"Kenapa kita tidak menunggu sebentar lagi. Legenda mengatakan bahwa semua tempat peninggalan diciptakan untuk para ksatria bintang. Mungkin saja mereka mampu memecahkan misteri tempat itu"

Tiga yang lain berpikir untuk sementara dan mengangguk setuju.

Tidak peduli apa, bahkan jika dia Master Bintang dengan kaki patah yang ingin berlari, dia tidak akan bisa lepas dari mereka. Membunuh kultivator tahap Stardust Awal benar-benar terlalu mudah.

Berpikir sampai di sini, mereka kembali menuju reruntuhan tempat peninggalan.


☆☆☆☆


"Yingmei, sepertinya identitas kita sudah ketahuan"

Bisik Shu Jing pada Yingmei. Wajah Majestic Star tetap tak bergeming saat ia mendengus setelah paham akan situasi.

Mungkin dia sudah mengantisipasi keadaan seperti ini.

"Hanya beberapa semut busuk, tidak perlu khawatir"

Mendengar keyakinannya, Shu Jing hanya tertawa.

Mata tentara ini sekali lagi terfokus pada reruntuhan tempat peninggalan.

Adegan dimana pegunungan dan danau dihiasi dengan dinding lorong. Namun karena berlalunya waktu serta perbuatan para manusia, lukisan pada temboknya telah mengalami kerusakan.

Seseorang masih bisa samar-samar menyaksikan gunung, pagoda, air terjun, pohon dan tumbuhan hijau lainnya.

Pahamilah pegunungan sebagai pegunungan, danau sebagai danau. Lihatlah pegunungan bukan sebagai pegunungan, danau bukan sebagai danau.

Dia bertanya-tanya tentang misteri di balik lukisan tembok. Karena Shu Jing sebelumnya telah memecahkan teka-teki Pisau Relik hanya dari pengamatan saja, Lin Yingmei merasakan antisipasi yang langka dalam hatinya.

Di benak gadis ini, ia benar-benar mengabaikan tempat peninggalan dan hanya berkonsentrasi pada Shu Jing sambil mencari petunjuk.

Melihat sekeliling, si tentara tiba-tiba mengerutkan kening. Ia menghentikan langkahnya dan dengan tenang menyuarakkan kata-kata.

"Apa yang kalian perlukan?"

Yingmei dan Song Lu berbalik untuk melihat.

Disana, kelompok yang mereka telah temui di luar reruntuhan tempat ini, semua melangkah keluar dari bayang-bayang. Terlepas dari si biksu taois, mereka semua memancarkan aura penghinaan terhadap Shu Jing.

Si biksu kemudian melangkah maju dan tertawa canggung.

"Sepertinya kau telah terluka, teman. Aku tahu beberapa seni penyembuhan yang mungkin dapat membantu"

"Tidak perlu"

Shu Jing lugas menolak tawarannya, mengejutkan Xun Tian.

Meskipun ia tidak benar-benar ingin menolong Shu Jing, mendapat penolakan tiba-tiba masih membuatnya terperangah.

"Ini hanya luka kecil. Tidak ada alasan untuk merepotkanmu, biksu"

Jelas Shu Jing.

"Diriku ini dipanggil Xun Tian si biksu taois. Bolehkah aku mengetahui namamu bersama dua gadis disana?"

"Aku Shu Jing, ini adalah Lin Yingmei, dan yang itu adalah Song Lu"

Shu Jing memperkenalkan kelompoknya. Mengetahui bahwa ada sebuah desa klan Song yang tidak jauh dari posisi mereka sekarang, para kultivator sekali lagi mengabaikan keberadaan Song Lu. Tatapan mereka hanya terpaku pada Yingmei.

Xun Tian menggunakan kesempatan ini dan penuh semangat berbicara dengan Shu Jing. Dia berpura-pura menjadi perhatian ketika mencoba untuk memunculkan topik tentang bagaimana Shu Jing sudah terluka.

Si tentara sudah paham bahwa biksu ini hanya mencoba untuk mencari tahu latar belakangnya. Dalam kemiliteran, ia sudah melalui Pelatihan 'Penyelidikan dan Anti-Interogasi'. Dia menganggap trik orang-orang yang sekarang berusaha untuk lakukan di depannya benar-benar menggelikan.

Shu Jing menggunakan kesempatan ini untuk mengubah taktik perlawanan mereka. Sambil menghindari membocorkan informasi sensitif, ia mulai meminta tentang diri mereka sendiri.

Setelah berbicara selama beberapa saat, Xun Tian si biksu taois akhirnya melihat sesuatu yang melenceng. Wajahnya berubah saat ia tertawa keras.

"Aku mendengar bahwa seorang biksu ahli telah meninggalkan teka-teki misterius di tempat ini. Memecahkannya akan mengangkat kebenaran tentang Telaga Gunung. Jadi, kita harus dengan teliti memeriksa sekitar. Mungkin saja ada beberapa petunjuk berguna yang bisa ditemukan"

"Ide bagus"

Jawab Shu Jing dengan santai.

Kenyataannya, pemikiran Shu Jing hanya berfokus pada tempat peninggalan ini.

Semakin lama dia mengamati desain Telaga Gunung, dirinya semakin tertarik.



Ke Halaman utama 108 Maidens of Destiny
Ke Chapter selanjutnya



Comments

Popular posts from this blog

Kusoge Online (BETA) Bahasa Indonesia

108 Maidens chap 14 B. Indonesia