Big Life chap 18, 19 B. Indonesia

Chapter 18, 19 Is this Canned Food? (2)
Diterjemahkan oleh I-Fun Novel


"Apa-apaan omong kosong ini....?!"

Myunghoon dengan wajah kejutan bergumam. Nama Suhee berkedip pada layar ponselnya.

"Kenapa dia begitu keras kepala?"

Myunghoon terkejut.

Dia tahu bahwa Suhee bukan tipe perempuan yang akan membuat lelucon.

Pria ini tampak seperti orang yang kehilangan tanah airnya untuk sementara waktu dan melihat ke arah langit-langit. Kemudian dia menelepon Suhee lagi.

'Tidak ada Jawaban? Serius?'

Dering hanya bergema untuk sebentar lalu dipotong.

Dia menelepon lagi, tapi hasilnya sama.

Myunghoon meraih telepon erat-erat dan menggertakkan giginya bersama-sama.

"Dia telah punya seorang penulis baru? Tidak, ini tidak boleh. Sialan, aku mungkin sudah menghinanya terlalu banyak'

Myunghoon akan membuat dia frustrasi untuk sementara dan memberinya skenario. Dia telah selesai skenario rancangan hari lalu, tapi ia sengaja menunggu untuk membuat orang ini emosi.

Alasan kenapa ia melakukannya cukuplah sederhana.

Suhee tidak melihat dia dengan rasa kekaguman.

Dia menulis pada kertas yang lalu dirubah menjadi drama, dan dirinya juga memiliki pengalaman dengan karya yang diberi penghargaan. Tapi meskipun semua itu terjadi, mata Suhee masih tampak sama ketika memandangnya. Tidak ada perbedaan dari sekarang ataupun 7 tahun lalu.

'Sialan!!'

Dengan beberapa pemikiran, Myunghoon menekan tombol berbeda dan memanggil orang lain. Setelah beberapa detik, tim pemasaran, Manajer Nexon Lee menjawab.

"Ya, aku ingin menghubungimu"

-Ada apa, teman?

Manajer Lee adalah teman SMA pria ini.

Karena rekomendasi-nya lah dia bisa bekerja di sana. Pernyataan tentang Suhee yang memohon padanya untuk bekerja pada Nexon hanya tipuan.

"Suhee baru saja mencabut kontrakku. Apa ada sesuatu yang terjadi dengan Tim pembuatan? "

-Itu....Aku pikir mereka mendapat seorang penulis baru

Kedua mata Myunghoon melebar sepenuhnya.

Seorang penulis baru? Hanya dalam satu hari? Sesingkat ini?!.

"Siapa? Siapa dia?!"

Myunghoon bertanya seolah-olah sedang berteriak. Bukan hanya tentang si penulis, fakta yang membuatnya marah adalah bahwa Suhee telah mengabaikan dirinya dan mencari orang lain.

-Aku tidak tahu. Mereka pergi untuk membicarakannya dengan pemimpin tim-ku. Aku akan memberitahumu ketika kabarnya datang. Maaf, tapi aku harus pergi ke rapat.

Panggilan berakhir tapi Myunghoon tidak bisa menjauhkan telepon dari telinganya.

Tatapannya pergi ke cermin di meja. Dia merasa ingin menghancurkan wajah yang menatapnya kembali di pantulan kaca.

"AAAAHHHHHH!!!!!!"

Myunghoon menjerit dan mendorong benda itu kesamping.

(Jatuh!)

Cermin hancur berkeping-keping saat jatuh ke lantai. Pelayan laki-laki terdekat mendengar ini dan berlari ke arahnya.

"Tuan, apa Anda baik-baik saja?"

Myunghoon tidak memberikan jawaban.

Pelayan ini lalu memanggil para pelayan perempuan untuk membersihkan kekacauan dan dengan hati-hati bertanya.

"Panggilan telepon datang dari 'pemimpin'. Dia mengatakan kepada Anda untuk menyelesaikan pekerjaan hari ini pada jam 22:00"

"Aku tahu"

"Dan ada pertemuan yang dimulai pada jam 7 tentang pekerjaan baru seorang perempuan. Perempuan itu mengatakan, karena ini adalah pertama kalinya ia mendapatkan peran utama, dia menginginkan Anda untuk---"

Myunghoon melebarkan matanya lebih luas dan berteriak.

"Aku tahu!! Apakah aku ini anak kecil?! Aku akan pergi mengambil taksi atau bus!! Berhenti mengingatkanku!!! "

"Sa-Saya minta maaf, tuan"

Pelayan laki-laki dan perempuan yang selesai membersihkan lantai melarikan diri.

Myunghoon dengan berkerut jatuh ke sofa sambil menghela napas keras.

Kenapa begitu sulit untuk mendapatkan gadis yang ia inginkan....


☆☆☆☆


"Penulis Ha, pemimpin perusahaan memberiku kerang untuk di serahkan kepadamu. Ini dia. Aku ada bisnis lain dan takut terlambat, jadi bisakah aku permisi sekarang?"

Si pegawai StarBooks, Somii.

Jaegun meletakkan bungkusan yang ia dapat lalu menjawab.

"Aku akan dengan senang hati menerimanya. Selama kau tidak datang ke sini hanya untuk ini, aku baik-baik saja"

"Tidak, tidak apa-apa. Aku akan menghubungimu"

Jaegun tersenyum.

Dia bisa membayangkan lengkungan bibir yang serasa hidup dan ceria milik gadis itu.

Ada yang menganggap senyuman orang-orang sejenis ini sebagai suatu hal yang dapat menyembuhkan stres. Sekarang, bagi Jaegun, Somii sudah mengambil posisi itu.

....

"Kemudian, aku akan mengambil laptop baru? Rika, datanglah kemari"

"Meong?"

Kucing kecil melompat dari jendela di mana ia duduk. Jaegun menjelaskan sambil membuka laptopnya.

"Ini adalah laptop seharga 2 juta won. Sulit menulis dengan yang lama. Pertama, layarnya terlalu kecil. Kedua, jika aku kesulitan dalan suatu kata, aku akan mencari di internet, tapi untuk memuat satu situs saja menghabiskan waktu 20 detik"

Sebuah laptop bersinar perak menunjukkan eksistensinya dari dalam wadah kardus. Dengan Monitor 17 inci, jelas lebih lebar daripada milik Seo Gunwoo.

Jaegun tersenyum sambil menghubungkan adaptor lalu menyalakannya.

"Kau melihatnya, Rika? Kurang dari 5 detik untuk booting. Inilah teknologi baru, hanya berkedip sekali dan layar utama muncul"

"Meong~?"

"Memang 2 juta won, tapi tidak apa-apa. Aku bisa menutupinya jika menulis untuk satu hari. Sekarang ini adalah awal baru dengan laptop baru"

Jaegun men-download aplikasi Word di layar dan membuka naskah dari Suhee. Itu adalah permintaan tentang Oh Sumin, seorang gadis dalam game.

"Ah, mungkin karena belum menulis dalam waktu lama. Aku merasa tidak baik"

Untuk pertama kalinya, dalam waktu yang lama, dia kesulitan untuk berpikir.

Di sana adalah adegan pertemuan awal karakter utama dan Oh Sumin, yang terdiri dari sudut pandang si gadis. Namun ia tidak bisa mendapatkan suatu ide.

Jaegun mulai dengan menulis dialog yang melintas di otaknya, lalu bergumam.

"{Hm, Ahh, aku minta maaf}. 'Sungguh pria yang tampan'. {Apakah kau terluka?} {Ini mobil Anda? Mobil yang bagus. Kakiku sepertinya sakit ketika tertabrak. Emm, bisakah Anda membawaku ke rumah?} Ahhhhhh. Buukkaaaaannn. Bukan begini!!"

Dia menghapus apa yang ia tulis dengan rasa jengkel.

Mungkin karena tidak terbiasa menulis sebuah novel romantis, tapi memang benar-benar sulit. Ini bukanlah hal yang bisa diperbaiki dengan keterampilan Seo Gunwoo. Melainkan masalah perasaan.

Jadi ia merubah jalan pikirannya untuk sesuatu yang bisa dilakukan. Dia mengabaikan dialog sampai akhir, dan mulai menulis dengan setting 'pencarian'.

(Tap! Tap! Taptaptaptap!)

Sekitar 2 jam mengetik

'Apa, ini....?'

Jaegun menggeleng dan mengangkat tangannya dari keyboard.

Rasanya aneh. Tak ada masalah dari bentuk kata yang dia tekan pada keyboard. Namun rasanya, tangan pria ini tidak bisa mengikuti kecepatan pemikiran.

'Sudah sekitar 2 jam, tapi aku hanya bisa menulis sebanyak ini?'

Jaegun memeriksa tab informasi. Dia baru menulis sekitar 5000 kata. Melihat itu, wajahnya mengeras.

'Apa yang salah…?!'

Tangan yang seharusnya bisa mencapai 10.000 kata per jam sekarang tidak terasa benar. Karena keterampilan inilah Jaegun mengatakan bahwa dia akan mengirim naskah malam ini.

"Mungkin karena aku tidak terbiasa menulis dalam gaya baru. Aku akan mencoba lagi"

Dengan kesabaran, dirinya kembali menekan-nekan keyboard.

Belum mencapai 30 menit, Jaegun yang berwajah pucat sudah bersandar ke kursinya. Dia tahu bahkan tanpa memeriksa tab informasi.

Ia telah kehilangan kekuatan menulis 10.000 kata per jam.

'Ada apa ini....?'

Dengan demikian, ia tidak bisa memastikan akan menyelesaikannya pada jam 3 sore.

Jaegun tiba-tiba merasa ketakutan karena pemikirannya itu.

'Apa aku....Apakah aku telah kehilangan kekuatanku?!'

Tidak dapat menciptakan dialog sampai dengan tidak dapat menulis 10.000 kata per jam, mungkin penyebabnya seperti itu. Otak Jaegun menggigil.

Mimpi buruknya adalah dimana dirinya kembali ke masa lalu.

(Beep!)

"Ha?!"

Jaegun merasakan getaran dari ponselnya. Layar kecil yang memasang rangkaian huruf, itu Somii.

"Ha-Halo...."

"Hei, aku di rumahmu. Kau mungkin sibuk, jadi aku minta maaf"

"Tidak, tidak masalah. Masuklah. Aku akan membuka pintu"

"Baiklah"

Suara gadis itu cerah tanpa mengetahui penderitaan Jaegun.

Dia lalu menyeret diri ke pintu depan dan membukanya. Somii sedang berjuang untuk membawa kardus styrofoam dari StarBooks ketika melintasi lorong.

Jaegun bergegas mendekat dan mengambil kotak kardus itu.

"Maaf. Kau jadi membawakannya langsung untukku"

"Tidak apa-apa. Ini tidak berat juga. Kalau begitu, terima kasih, penulis Ha. Aku mau pergi dulu"

Somii membuat belokan 90 derajat dan berbalik. Jaegun dengan cepat berbicara kepadanya.

"Kau tidak mampir sejenak? Aku akan mengambil secangkir kopi"

"Tidak, tidak apa-apa. Kau terlihat sibuk, jadi...."

"Aku tidak bisa membiarkanmu datang hanya seperti ini lalu pergi. Kumohon, jangan menolak"

Jaegun bertanya lagi. Ada perasaan tentang energinya yang kembali dengan mengobrol bersama Somii. Jika dia tetap sendirian untuk entah berapa lama, ia mungkin sudah akan tertekan oleh keadaan.

"....Baiklah kalau begitu, permisi"

Somii melepas sepatunya dan melangkahkan kaki memasuki kamar.

Pada saat itu.

Somii dan Jaegun tidak menyadari kedua bola mata Rika yang bersinar. Satu pupilnya menangkap sosok Jaegun, dan yang lain pada Somii.

Sepasang mata bagaikan cermin, memantulkan mereka berdua.


☆☆☆☆


"Silahkan. Duduklah di atas tikar ini"

"Ah, terima kasih"

Dia meletakkan tikar di tanah dan perempuan ini duduk dengan lututnya terangkat.

Jaegun berkata ketika melihatnya masih menahan tas berat di punggung.

"Santai saja dan taruh saja tas-mu"

"Ah, baiklah"

"Apa kau ingin kopi dingin?"

"Iya, tentu"

Rika datang mendekati Somii. Gadis ini kemudian menyadari keberadaannya dan melonjorkan kaki sambil tersenyum.

"Hei, kau benar-benar menggemaskan. Siapa namamu?"

"Rika"

"Hmm, namamu Rika? Sangat manis dan imut. Ah, aku tidak bermaksud padamu, aku hanya berbicara dengan Rika...."

"Aku tahu"

Jaegun tertawa.

Somii sambil tersenyum membelai Rika. Kucing kecil ini lalu pergi ke kaki si gadis, berbaring di sana dan bertindak imut sambil agak mengayunkan kakinya.

'Dia menyukainya'

Jaegun menuangkan secangkir kopi dan dengan ekspresi terkejut menatap Rika. Kucing itu lebih bersikap manja padanya daripada ke Suhee. Seakan-akan mereka sudah mengenal satu sama lain.

"Ini"

"Terima kasih"

Si penulis memberi secangkir kopi dingin ke Somii dan kembali ke tempat laptopnya.

Mungkin karena kunjungan gadis ini, Jaegun merasa sedikit lebih baik dan nyaman ketika melihat monitor.

'....Bukan kekuatanku yang menghilang'

Dia mengkonfirmasi dengan menatap kata-kata yang baru saja ditulis.

Apa yang terasa seperti keterampilan Seo Gunwoo masih berlama-lama di otaknya. Dia bisa mengatakan dengan melihat tulisan disana.

Kalau begitu, apa alasan sampai ia tidak bisa menulis dialog sang gadis di game ini?.

Jaegun pun menyimpulkan bahwa itu karena dia tidak memiliki emosi perempuan.

'Hei, pak....kau juga tidak memiliki pengalaman kencan?!'

Jaegun merasa firasat buruk dan meminta Seo Gunwoo dalam pikirannya.

Untuk berpikir akan sangat sulit untuk menulis dari perspektif seorang gadis. Jika ia tahu ini akan terjadi, ia akan berlatih menulis novel roman.

Jaegun meninggalkan desahan penuh penyesalan sementara pandanganya jatuh ke lantai. Sekarang kekuatan untuk menulis 10.000 kata per jam tidak bisa digunakan, ini adalah kegagalan ganda.

"Meong~"

"Rika, kau mau kemana?"

Si kucing kecil meninggalkan kaki Somii dan kembali ke tempat pribadinya, menara kucing.

Dengan nyaman duduk. Di kedua matanya, sosok Jaegun dan Somii menjadi lebih jelas.

"Apa?!"

Jaegun menangkupkan telapak tangannya dan membelalakkan mata.

Perasaan 'itu' tidak terserap melalui otaknya. Melainkan seperti kabel listrik dan pergi melalui jantung.

"Ini....?!"

"....Penulis Ha, ada apa? Kau sakit kepala?"

"Tidak, bukan. Tunggu"

Jaegun meletakkan satu tangan di dahi dan dengan lainnya menyuruh Somii berhenti. Gadis ini hendak berdiri. Tapi karena diisyaratkan begitu, ia patuh duduk kembali.

'Apa? Apa perasaan bahagia dan gembira ini? Ini bukan emosiku, ini bukan apa yang diriku rasakan'

Jika digambarkan sebagai warna, itu adalah pink yang lembut.

Jika musim, itu adalah akhir musim semi dan datangnya musim panas.

Emosi sekaligus perasaan feminim datang lebih jelas lalu menjadi satu di kepalanya.

"Meong~"

Jaegun berbalik karena suara Rika.

Otot wajahnya kemudian berkerut.

Dia merasa bahwa emosi Somii telah datang pada dirinya melalui kucing ini. Sebagai sebuah peristiwa misterius yang tidak dapat di jelaskan.

'Kalau begitu....ini pikiran Somii?'

Dada Jaegun melompat cepat

Detak jantung yang berbeda dari biasanya. Melaju kencang namun ringan seperti bola karet.

Apakah ini perasaan Somii yang dilihat oleh Rika?.

Di hadapan peristiwa membingungkan, Jaegun setengah sadar tidak tahu bagaimana untuk bergerak.

"Penulis Ha....Apa kau yakin keadaanmu baik-baik saja? Yang kulihat itu sepertinya sakit kepala. Jika kau tidak memiliki obat apapun, aku bisa---"

"Tidak, aku tidak apa-apa"

Meluruskan postur tubuhnya, Jaegun kembali ke catatan di layar.

Ada alasan untuk menguji ini sekarang. Dia mulai menciptakan dialog untuk Oh Sumin, karakter gadis yang ia sebelumnya tidak mampu untuk tulis.

'Bagaimana ini bisa?!'

Setelah ia menulis satu kalimat, perasaan 'itu' terus menghampirinya.

Dialognya mengalir begitu saja.

Pria ini merasa malu karena menganggap kemampuannya telah pergi.

"Somii, aku minta maaf tapi....berapa usiamu?"

Mata Jaegun masih memandang monitor saat bertanya.

Dengan pertanyaan mendadak juga acak, Somii menjadi bingung. Tapi dia segera menjawab.

"Ah, aku sekarang 22"

"Kau mulai bekerja segera setelah lulus?"

"Ya, benar. Sebelum aku lulus, aku sudah mengirim formulir pendaftaran dan agaknya beruntung karena diterima"

Dengan api di matanya, pria ini menghantamkan jari-jari pada keyboard.

Dialog untuk Oh Sumin cepat mengisi layar.

Bisa dikatakan seolah-olah sedang menambang emas dari sebuah tambang yang disebut Somii daripada mengetik. Pekerjaan yang Jaegun lakukan hanya mengungkap kilauan mahal dalam cara yang indah.

Dia adalah model terbaik karena baru saja lulus dari perguruan tinggi baru setahun yang lalu. Usia kedua gadis ini (yang satunya karakter game) bahkan sama. Kisah Oh Sumin dengan cepatnya dipenuhi oleh emosi seorang editor bernama Jung Somii.

"Hoh...."

Telinga Jaegun berkedut

Memang pelan, tapi napas gadis itu terdengar di telinganya.

Jaegun sedikit berbalik. Somii mengangkat lututnya dan mengusap kaki.

Saat itu, dia sadar. Udara panas menyebar ke seluruh ruangan. Kaki telanjang Somii di bawah celana pendeknya sedang terbungkus keringat.

"Ah, maaf. Aku lupa"

Jaegun berdiri seperti sedang terpental dari kursi lalu menghidupkan AC.

Somii menjawab kembali ketika pria ini menutup jendela.

"Tidak, tidak apa-apa. Penulis Ha, aku baik-baik saja. Kau tidak perlu memakai AC hanya untukku. Lagipula, aku mau akan kembali"

Jaegun yang di tengah-tengah menutup jendela, berbalik dengan tatapan kosong.

Somii membawa tas dan meletakkan di punggungnya lagi.

"Kau, pergi?"

"Ya, kau tengah bekerja jadi aku minta maaf kalau mengganggu begitu lama. Terima kasih untuk kopi-nya"

Gadis itu membungkukkan pinggang. Alih-alih mengganggu, dirinya tidak tahu bahwa dia sudah menyelamatkan seorang penulis.

"Bolehkah aku menggunakan wastafel? Aku akan mencuci cangkir ini sebelum pergi"

"H-Hei, Somii"

Jaegun begitu tergesa-gesa sampai kata-kata tidak keluar dengan benar.

Dia tidak bisa membiarkan Somii pergi. Gadis ini harus terus ada di dekat sampai setidaknya ia menyelesaikan seting pencarian Oh Sumin.

"Jangan keberatan, aku akan sungguh membersihkannya"

"Ini bu-bukan tentang cangkir"

"Iya? Lalu.…?"

Somii dengan punggungnya di wastafel memandang Jaegun.

Sambil menggaruk kepala, Jaegun berpikir tentang apa yang akan di perbuatnya agar dia tetap disini.

(Beep!)

Telepon di sakunya berdering.

Itu adalah pesan dari Suhee.

Isinya merupakan pertanyaan tentang bagaimana situasi pekerjaan, tapi Jaegun tahu makna tersembunyi dari pesan ini.

Pesan memang tampak kecil, namun berisi perasaan Suhee yang sedang tergesa-gesa. Pekerjaannya sedang di kejar.

Jaegun menyingkirkan telepon ke saku dan sekali lagi menatap Somii.

Gadis ini sedang menunggu jawaban dengan mata terbuka lebar.

Sebuah kata yang baru saja terlintas berubah menjadi kalimat dan pergi melalui mulut Jaegun.

"Somii, aku minta maaf tapi bisakah kau membelikan makanan kaleng untukku?"

☆☆☆☆

Ke Halaman utama Big Life
Ke


Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

108 Maidens chap 14 B. Indonesia

Kusoge Online (BETA) Bahasa Indonesia