World Teacher chap 13 B. Indonesia

Chapter 13 Kau Memilih
Diterjemahkan oleh I-Fun Novel




Bagian 1


"Hmmmm....Tidak apa-apa, kau aman sekarang. Kau benar-benar beruntung, bukan? Kau sampah!!"

"---?"

Hei baru saja, itu kata-kata pertamamu setelah mereka bangun? Aku takut Noel menyebabkan kebingungan yang tidak perlu, karena kesan awal sangat penting untuk menjernihkan ketegangan.

Namun, darimana kata 'sampah' itu datang?

"....Apa yang kau ucapkan....?"

"Lidahku tergelincir! Aku tadi menatap mereka. Karena penampilan keduanya berantakan, aku kebingungan dan tanpa sadar menyebut sampah!"

"---?!"

"Dengar, tarik napas dalam-dalam dan lihatlah anak itu lagi"

Dengan dia yang panik, anak ini tidak akan tenang.

Saat Dee dan aku melangkah agak kebelakang, Noel dengan kikuk mulai berbicara sambil menggerak-gerakkan tubuhnya.

"Ah, eh....maaf. Umm....Kau baik-baik saja?"

"....A---u?!"

Sedikit terkejut untuk berucap, gadis itu menoleh ke sekeliling, panik mencari sesuatu. Menyadari ada anak lain di sampingnya, ekspresinya agak melembut.

"Saudaramu, ya? Dia juga sudah aman. Apa ada sesuatu yang kau butuhkan?"

"....Aaa....uuu---"

Noel lalu memastikan hal-hal satu per satu. Pertama untuk menenangkan gadis ini, kemudian memastikan kondisi tubuhnya.

"Apa anak ini tidak mampu berbicara?"

"Setelah menyelamatkan mereka, aku juga memeriksanya. Mungkin itu hanya peradangan, jadi dia harusnya bisa sembuh dengan cepat"

Untuk memastikannya lagi, aku mendekat dan melepaskan {Scan} tanpa disadari keduanya.

Selain memar dan luka yang meliputi tubuh, mereka juga terganggu dengan kelaparan dan dehidrasi berat. Peradangannya takkan berlangsung lama, aku akan menyembuhkan tenggorokan si gadis meskipun prosesnya nanti akan merepotkan.

Memahami kegugupan si gadis kecil, aku meninggalkannya untuk Noel sampai dia tenang terlebih dahulu.

"Hei lihat, aku tidak memiliki kerah, kan? Orang-orang disampingku ini tidak akan menyakitimu"

"....Ah?!"

Mendengar kata 'kerah', gadis itu mencoba menyentuh lehernya. Dan terkejut ketika tahu benda logam yang mengekang kehidupannya disana sebelum dia pingsan sudah menghilang.

Di sisi lain, anak laki-laki itu juga bangun dan masih tampak linglung.

"Kau menyadarinya? Kau sekarang bisa lega karena kerah itu telah dilepas"

"A....u?"

"Dalam keadaan normal itu memang tidak mungkin, tapi berkat Master kami, semua menjadi lancar. Oh iya, kau lapar, kan? Kami telah menyiapkan sup hangat, ini lezat"

"?!....Uu....uuu"

Gadis itu menumpahkan air mata kebahagiaan setelah mendengar bahwa kerahnya telah menghilang. Dia lalu bereaksi terhadap kata 'sup'. Namun, anak laki-laki yang masih berbaring menggeleng, seakan melarangnya menerima apapun.

Noel tampaknya mempertimbangkan reaksi mereka.

"Aku tahu, adikmu masih ragu-ragu. Nah, bisakah kita berbicara dulu?"

Diserahkan sapu tangan, gadis itu menyeka air matanya dan perlahan mengangguk. Sifat Noel telah membantu mereka untuk menurunkan kewaspadaan.

"Aku Noel. Boleh aku mengetahui namamu?"

"....no*"
[Ini bukan 'No'=Tidak. Tapi dia memang belum bisa berbicara]

"Maaf, suaramu terlalu serak. Bagaimana dengan huruf? Kau dapat menulis? Um...."

Noel menengok ke arah Dee dan diriku untuk meminta bantuan. Mengingat sifatnya, dia bukan tipe yang menyerah begitu cepat.

Dengan kesulitan besar, Noel kembali memperhatikan gadis itu.

"Astaga, bukannya Noel terlalu kebingungan? Dia memanggil Dee sementara tatapannya mengarah padaku"

"Maaf"

Kenapa kau yang harus minta maaf?.

"Ummm, pria ini adalah Master kami, Sirius-sama. Apa kau mengingatnya? Dialah yang sudah menolongmu"

"....Hm"

Masih agak waspada, gadis kecil itu menjawab dengan anggukan. Setelah Dee diam-diam meninggalkan ruangan, aku mendekati Noel.

"Akan kuperkenalkan diriku lagi. Aku Sirius. Sesuai perkataan Noel, akulah Masternya dan orang yang melindungi kalian"

"....?"

"Aku ingin memahami situasi kalian. Namun, kau belum bisa bicara, kan? Pertama-tama, tenggorokanmu harus disembuhkan. Nah, aku bertanya-tanya bagaimana cara melakukannya"

"Sirius-sama adalah Master yang sangat ramah dan berhati lembut, sehingga tidak apa-apa. Lihat, dia bahkan tidak marah dari sesuatu seperti ini"

Noel mengusap kasar kepalaku. Dia tahu bahwa tindakan ini adalah untuk menenangkan si gadis kecil. Bahkan dengan wajah tanpa ekspresiku yang diperlakukan begitu dan ucapan serampangan Noel sebelumnya*, gadis itu mengangguk lagi.
[Yg dimaksud disini adalah ucapan Noel tepat ketika si gadis bangun. Di bagian paling atas kalo kalian ingin membacanya lagi]

"Terima kasih. Kalau begitu, biarkan aku menyentuh tenggorokanmu. Kau hanya akan merasa sedikit panas tapi rasa sakitnya akan lenyap"

"....Y....ya"

Meskipun sedikit curiga, dia menyiapkan dirinya. Berkat itu, aku bisa melihat berbagai bekas luka lecet menyedihkan. Aku akan menyembuhkan itu juga.

Menempatkan satu tangan di kepalanya, aku meresapkan Mana kedalam tubuh si gadis. Lalu, dalam sekejap---

"Gaaaa!!"

"---!"

Mendadak, anak laki-laki itu menerjang dan menggigit lenganku.

"Sirius-sama?!"

"Tunggu!"

Noel hendak melepas anak itu, namun tanganku yang bebas terangkat untuk membiarkannya. Mana-ku takkan menyebar kalau diriku masih berkonsentrasi. Ini agak menyakitkan, walaupun rahangnya lemah, gigi taring nya sudah tumbuh seukuran orang dewasa.

"Ii---aa!"

"Jangan berbicara, kau akan menunda pengobatan Master kami"

Karena si gadis mencoba untuk menghentikan adiknya, proses penyembuhan menjadi tidak stabil. Anak laki-laki ini pasti sedang putus asa. Sulit baginya---yang tertimpa segala pengalaman buruk---untuk tiba-tiba berpikir rasional.

"Uuuu!"

"Sudah kuduga, ini agak merepotkan"

"Wah wah!! Sirius-sama, darah....!"

Gelembung darah keluar, berasal dari tempat gigi taring telah menancap. Rasa sakit berlanjut. Namun, setingkat ini masih dapat ditahan.

"Kau, jika kau bisa bergerak, boleh aku memintamu untuk membelainya?"

"....?"

"Benar. Aku hanya akan bertindak tak peduli, kau lah yang harus menenangkannya"

Erina datang dan berdiri di depan pintu masuk, jelas dalam kekacauan sambil mengamati situasi yang tidak menyenangkan. Anak ini bersikeras bertahan tanpa belas kasihan.

Setelah si gadis dengan perlahan membelai tubuh anak laki-laki ini selama beberapa menit, ia berangsur-angsur melepas gigitannya.

"Kakak!! Kenapa aku harus berhenti?!"

"Nnn...."

"Aku tidak suka! Aku tidak mempercayainya!! Hei, jauhkan tanganmu dari kakakku!!"

Mencoba untuk menyerang sekali lagi, kali ini dia dihentikan oleh tangan kakaknya sendiri.

Tidak seperti si gadis, sifat memberontaknya masih kuat. Wajar ketika mempertimbangkan diri mereka yang baru saja mengalami perbudakan.

Setelah adiknya benar-benar tenang, penyembuhan selesai. Akupun menarik tanganku.

"....Baiklah. Sekarang sudah tidak apa-apa. Katakanlah sesuatu"

"Hentikan! Ini tidak masuk akal!! Mereka sudah membuat kakakku tidak bisa bicara!! Dia hanya akan sakit lagi!!"

"Tenggorokanmu harusnya telah sembuh. Cobalah dan gunakan suaramu"

Sementara anak laki-laki itu berteriak-teriak, aku tetap membujuknya. Mungkin keheranan dengan kondisinya sendiri, si gadis mulai menarik napas.

"....Re, usu?"

"Kakak?!"

"Re, us....Reus. Kau, bisa mendengar suaraku?"

"Aku mendengarnya! Aku bisa mendengarmu, kakak!!"

"....Hiks....syukurlah~"

Noel membawa sapu tangan mendekati wajahnya yang dipenuhi aliran air mata, saat melihat mereka berdua saling berpelukan. Tunggu sebentar, ada hal-hal yang harus dilakukan sebelum kau menangis.

"Ingin sup?"

"Benar~! Siapkan sekaligus~!"

Sebelum mendingin, aku ingin mereka makan dengan cepat.

Meraup sampai ke bagian bawah wadah, Noel menyajikan kepada kedua saudara bagian mangkuk sup mereka dengan wajah tersenyum.

"Adikmu akhirnya tenang, jadi baik-baik saja sekarang, kan? Aku sudah membuat sup hangat untuk kalian makan"

"Hmmm....ini, ini pasti tipuan! Ini sangat menjijikkan dan ketika kami memuntahkannya, kau akan tertawa!!"

"Itu tidak akan terjadi. Lihat....um, lezat"

Haahhh, dia menuduhku lagi sedang menipu. Aku hanya bisa membuktikan dengan menelan sesendok sup dari panci yang sama di hadapannya.

Disisi lain, Noel mengulurkan mangkuk kepada mereka dengan wajah agak serius tanpa berkata apapun pada adegan yang terjadi di depannya.

"Aku pikir kalian berdua sudah banyak menderita. Namun, Sirius-sama berusaha sangat keras demi kalian"

"Umm....kenapa melakukan ini untuk kami?"

"Kau bertanya alasan Sirius-sama menolong? Terlebih dahulu aku ingin kalian makan sebelum mendengarkan penjelasan darinya"

"Yah, dia benar, makanlah. Itu akan mendingin"

Dengan bujukanku, gadis itu akhirnya menaruh satu suapan di mulutnya.

"....Enak"

"Oh, apakah itu benar, kakak? Ini bukan sesuatu yang beracun?"

"Ini sangat enak. Hangat, dan untuk pertama kalinya...."

Takut-takut mengangkat mangkuk ke mulutnya, butiran besar air mata lalu mulai mengalir.

"Sialan....kau. Apa-apaan....hiks, sial"

"....Sungguh....enak....u, uuu!"

Di pandanganku, semua belenggu yang menahan mereka sampai beberapa saat lalu, akhirnya hancur berkeping-keping.

Mengabaikan penampilan dan rasa malu, keduanya mengeluarkan tangisan dalam suara keras.

Menangis dengan segenap kekuatan tanpa dapat ditenangan, hadiah ini datang untuk membuat mereka paham kalau mereka takkan kesakitan lagi.

Menangis tanpa menahan merupakan cara yang baik untuk melepaskan seluruh beban berat.

"Kalian bisa mengandalkan kami di masa depan"

"Ya, silakan tinggalkan kepada kami~"

Membiarkan keduanya, aku diam-diam meninggalkan ruangan.

Tepat setelah mencapai lorong, diriku disambut oleh dua sosok, Erina dan Dee.

Erina lalu meraih tanganku sambil tersenyum lembut.

"Kerja bagus. Tapi jangan berlebihan melakukannya. Kalau bukan karena daya gigit seorang anak, kau akan mengalami cedera serius"

"Yah, memang menyakitkan, tapi cederanya tidak begitu parah hingga kau harus khawatir"

"Tetap saja ini berdarah. Sekarang, giliranmu untuk untuk diobati. Aku tidak ingin terdengar sinis, namun aku khawatir tentang infeksi"

"Tidak apa-apa, aku dapat membuat Mana-ku menyaring kotoran apapun di dalam darah. Setelah lukanya mengering, pengobatan tidak diperlukan lagi"

"Seperti yang diharapkan. Hanya saja ayo kita bungkus perban untuk berjaga-jaga"

Menggenggam tanganku, perban menyelimuti area cedera dengan cepat. Kasih sayangnya berada di tingkat tinggi seperti biasa, dia tampak bahagia.

"Maaf Erina. Aku membawa keduanya tanpa berkonsultasi dulu"

"Permintaan maaf tidak diperlukan. Sebaliknya ini adalah hal yang baik. Sirius-sama memang putra Aria-sama"

"Ibu?"

"Iya. Situasi sekarang berbeda, tapi Aria-sama membawa Noel dengan cara yang sama di masa lalu. Penampilan dan keadaan mental mereka seperti ini"

Erina tertawa gembira. Tanpa mengetahui aku akan bertindak dengan cara yang sama seperti ibu. Sejujurnya, aku benar-benar senang.

"Sirius-sama, apa yang kau berniat untuk lakukan dengan keduanya?"

"Apa yang aku berniat....kondisi rumah sekarang masih bisa menampung dan mengurus dua orang lagi---"

"Sirius-sama"

Memotong ucapan itu, Erina meletakkan tangannya di bahuku dengan wajah penuh ketegasan.

"Jangan keberatan dengan kami, tolong beritahukan perasaan jujurmu. Kami adalah petugas yang akan melakukan apa yang kau inginkan"

"Bahkan jika aku meminta hal tidak masuk akal?"

"Bahkan jika kau meminta hal tidak masuk akal. Namun, kami tetap akan memperingatkanmu kalau hal itu salah"

Astaga, orang-orang ini sulit untuk ku mengerti. Dengan ucapan Erina, sebagian besar rasa bersalahku sirna.

"....Aku ingin melindungi mereka. Aku ingin melatih dan memberi mereka kebebasan"

"Keduanya tidak memiliki uang dan bahkan belum dewasa. Jujur saja, itu hanya akan menjadi beban bagi kita semua. Namun kau tetap menginginkan ini?"

"Aku tidak peduli....Sejujurnya, ini bukan tindakan belas kasihan, melainkan untuk kepuasan diri"

Sebagai guru mereka, aku harus memenuhi syarat. Aku mengerti ada perbedaan dalam pertumbuhan karena ras, tapi aku bisa mengabaikan perbedaan ini dengan jumlah sihirku.

"Yah, begitulah, alasanku menolong keduanya. Apa itu buruk?"

"Aku pikir itu tidak baik. Namun ketika mendengar tangisan mereka yang tumpah seakan membuang semua rasa sakit, menjadi sulit untuk berpikir begitu"

Tepat disaat tatapanku dan gadis itu bertemu, aku langsung merasa ingin melindunginya.

Selama diriku melihat seseorang terluka, pemikiran pertama yang terlintas adalah mengobatinya.

Hal ini karena aku pernah mempunyai seorang siswa dalam hidup sebelumnya dengan mata yang sama.

Aku memang terlalu sentimental, tapi itu baik-baik saja. Aku yang sekarang---bukan sebagai orang tua dengan 60 tahun kesalahan---bermaksud untuk menjalani kehidupan secara naluriah.

"Aku begitu nekat untuk melindungi orang lain, ya? Lagipula, aku kira dapat mempercayai keduanya"

"Jika Sirius-sama mengatakan begitu, aku juga akan mempercayaimu....Dengan demikian, kau akan menerima permintaanku untuk memberikan mereka pelatihan sebagai petugas?"

"Pelatihan petugas? Aku tidak membawa keduanya agar mereka bisa menjadi pembantu"

"Sayangnya, aku tidak dapat memberi makan dua orang tambahan yang tidak melakukan apa-apa. Sebuah rumah sekaligus makanan memiliki nilai masing-masing, sehingga mereka setidaknya harus membantu pekerjaanku"

"Mm, benar juga"

Hanya pelatihan fisik atau pendidikan tidaklah cukup baik. Kami juga harus menyediakan mereka dengan pengalaman menjadi seorang petugas.

"Aku malu mengakuinya. Baru-baru ini, pekerjaan menjadi lebih banyak dan terlalu melelahkan. Kita membutuhkan lebih banyak petugas"

"Aku memang tidak keberatan, bagaimana menurutmu, Dee?"

Sebagai petugas di rumah yang sama, Dee akhirnya membuka mulut setelah lama terdiam seperti patung.

"Kalau Erina memungkinkan, aku tidak keberatan"

"Jika begitu, hal pertama yang harus dilakukan adalah mengkonfirmasikannya kepada dua bersaudara itu"

"Karena Sirius-sama menyelamatkan hidup mereka, aku pikir keduanya akan setuju"

"Aku merasa berkewajiban untuk mengajari mereka cara untuk hidup, tapi terlepas dari itu, aku mengizinkannya"

"Uhuhu, sungguh baik hati ya. Benar-benar seperti Aria-sama"

Hentikan, aku malu saat menerima ucapan itu. Merasa canggung, aku kemudian memaksa untuk mengubah topik obrolan.

"Sudah tiba waktunya makan malam. Persiapkan peralatan, Dee. Aku punya potongan daging segar hari ini"

"Apa kali ini hidangan baru? Aku akan bergegas dan menunggu di dapur"

"Benarkah? Hidangan baru berbahan utama daging ya? Aku ingin tahu resepnya juga agar bisa membuatnya bersama Noel di waktu luang"

Aku berharap hidangan baru ini akan menjadi hal pertama yang menonjol untuk mereka. Aku akan menargetkan serangan pertama ke perut keduanya.

☆☆☆☆

Bagian 2


Sekarang makanan sudah siap, semua orang berkumpul di ruang tamu.

Baiklah, aku akan mulai bertanya kepada mereka berdua.

"Apa ini?! Ini sangat renyah dan berlemak!! Selain itu, mayones di dalamnya adalah yang terbaik!"

"Tenanglah"

Aku memang sengaja menciptakan adegan dimana Noel menikmati makanan tepat dihadapan keduanya. Ngomong-ngomong, apa yang kuhidangkan adalah potongan daging terselip diantara dua roti.

Sementara Noel gembira dengan mayones favoritnya, memperlihatkan di depan mereka mungkin sebuah kesalahan. Keduanya tampak iri, bahkan Reus mulai mengeluarkan air liur saat menghirup aroma daging.

"Ini akan buruk bagi tubuh, sehingga kalian tidak harus makan apapun"

"Aku tidak percaya padamu! Bukankah Oneesan* makan itu?!"
[Yg dia maksud ya Noel]

"H-Hei, Reus! Maaf untuk kekasaran adikku!"

"Jangan khawatir. Lagipula, apa hal terakhir yang kalian berdua makan?"

"Itu....bukan daging, kami memakan bunga liar yang bisa ditemukan di luar. Sup tadi merupakan makanan pertama kami setelah waktu lama"

"Begitu ya. Tidak makan akan melemahkan organ internal. Kalau kau makan ini sekarang, kau akan muntah-muntah"

"Aku tidak akan muntah!"

"Maaf! Maaf!"

Reus terus membuat pernyataan berani tanpa memahami situasi. Dapat ditebak, dia juga bersikap seperti itu saat masih sebagai budak.

"Nah hmm, kalau suaramu terdengar sesehat itu, kau perlu bersabar untuk makan"

"Iya! Ah....M-Maaf...."

Gadis kecil, kau tampaknya juga ingin memakannya, tidak sengaja merespon dengan bersemangat lalu merasa malu. Nah, kejujuran merupakan hal yang sangat bagus.

"Aku telah memperkenalkan diri sebelumnya, tapi haruskah aku memperkenalkan diri lagi?"

"Ya ya, siapa kau sebenarnya?!"

"Reus!"

"Tidak apa-apa. Aku Sirius, Master rumah ini"

Selanjutnya aku memperkenalkan Erina, Dee, dan Noel.

Selama perkenalan, Noel secara kebetulan tersedak disaat meminum beberapa teguk air, tapi tidak sampai mempengaruhi aliran percakapan.

"Um, apakah Sirius-sama seorang bangsawan?"

"Untuk saat ini, memang seorang bangsawan. Walaupun begitu lebih baik kalian berbicara santai denganku. Aku berbeda dari tipe orang kebanyakan"

"Alasan tersebut....La-Lagipula, aku Emilia. Meskipun terlambat, terima kasih untuk membantu kami. Hei, kau juga"

"....Aku....Aku Reus"

Emilia dan Reus ya. Nada Reus dalam sekejap menjadi penurut, mungkin dia memikirkan kembali tingkahnya begitu tahu diriku seorang bangsawan?

"Suaramu menjadi tenang, ya. Apa yang terjadi dengan rasa percaya dirimu sampai sekarang?"

"Uu, tutup mulutmu! Namaku Reus! Anak Phelios yang luar biasa kuat dan dibanggakan!!"

"Jadi, 'anak Phelios yang luar biasa kuat dan dibanggakan' tidak memiliki sopan santun untuk mengucapkan terima kasih atas bantuan yang dia terima?"

"Uu?!"

Aku tidak terlalu ingin mengejeknya, tapi ini merupakan bagian dari mendidik. Meskipun dia masih seorang anak, sikapnya tentang berterima kasih kepada penolongnya harus diperbaiki. Para pelayan mendukung sisiku dengan tidak mengatakan apapun dan hanya menunggu perintah.

"Ah, Terima....kasih"

"Mm, baik-baik saja. Dengan ini, perkenalan sudah selesai, apa kalian memiliki pertanyaan?"

"Ah, umm....apa yang akan terjadi pada kami setelah ini?"

Itulah yang paling membuatku khawatir juga. Daripada melanjutkan, kami perlu menghadirkan pilihan apa yang ada.

"Aku tidak memiliki siapapun kecuali Reus. Tanpa orang tua, keluarga atapun kerabat, dan tidak mempunyai uang. Oleh karena itu, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan"

"Kalau begitu, Emilia dan Reus. Tetaplah tinggal disini sampai kalian sembuh sepenuhnya"

"Eh? Tapi kami berdua budak...."

"Tanpa kerah, seseorang bukan lagi budak, kan? Setelah sembuh ada 2 pilihan menanti kalian. Pertama adalah pergi dari sini untuk melakukan apa yang kalian ingin lakukan. Yang kedua adalah belajar cara untuk hidup dariku"

"Belajar.....itu?"

"Iya, aku akan melatih kalian sampai kuat dan memberikan pengetahuan untuk bertahan hidup di dunia ini. Tentu, aku juga akan menyediakan makanan dan kebutuhan sehari-hari"

"Dia berbohong, kakak! Orang-orang dewasa itu juga berbicara seperti ini. Dia pasti memiliki alasan tersembunyi!"

"Reus....tapi...."

"Apa kalian berdua tidak frustrasi?"

"A-Apa yang kau tahu?!"

"Bukankah kalian frustasi? Ingin melindungi satu sama lain, sayangnya tidak mampu bahkan untuk lari terhadap seekor monster? Mendengar dari ucapanmu tadi, kalian pasti sering ditipu oleh orang dewasa, kan?"

Dengan kata-kata itu, mereka menundukkan wajah merasa tak berdaya. Ini adalah pelajaran pahit. Walapun itu mudah dilakukan.

"Hei, kau berkata tidak memiliki siapa-siapa kecuali adikmu. Jika kau ingin mampu mempertahankannya, ikuti aku"

"....Kenapa....pergi sejauh itu untuk kami?"

"Tidak ada alasan. Kalau kau memaksaku untuk menjawab, itu hanya karena aku ingin. Anggap saja sebagai keberuntungan"

"....Baiklah, kami akan mengikuti Sirius-sama"

"Kakak?!"

Agak mengecewakan. Aku kira akan harus menekan sepanjang hari agar mereka bisa memunculkan sebuah keputusan, hanya saja gadis kecil ini lebih proaktif dari yang diharapkan.

"Kami tidak punya pilihan lain, dan Sirius-sama mengatakan akan mengajari seseorang sampai menjadi kuat, kan? Aku ingin menjadi kuat untuk melindungi Reus"

"A-Aku juga harus melindungi kakak!"

"Kemudian, Reus juga setuju? Selain itu, bukankah kau berpikir sikap itu akan membuatmu menyerupai ayahmu sendiri?"

"Salah! Ayah lebih besar dan lebih kuat. Kau dan kita tidak sama dengannya!"

Oi oi, jangan bandingkan aku dengan dia. Karena aku terlihat berusia 6 tahun, aku tidak merasakan hal yang sama untuk Reus, tapi Emilia tampaknya berbeda. Aku pikir dia hanya seorang gadis tak berdaya, dia mungkin tak menyangka kalau ini merupakan hal baik.

"Bukan 'kau', itu Sirius-sama. Karena kau memutuskan untuk mengikutinya, kau harus memanggilnya dengan benar"

"A-Aku mengerti, kakak. S-Sirius....-sama"

"Meskipun adikku tidak berguna, tolong perlakukan kami dengan baik, Sirius-sama"

Reus tampak enggan, namun keduanya diam-diam menunduk. Bagaimanapun, ternyata berjalan cukup lancar. Setengahnya dipaksakan, untuk bisa mendidik lagi dan agar kedua anak ini menerima perlindungan sampai mereka menjadi kuat adalah hubungan Win-Win. Aku tidak bisa mengeluh.

"Aku memiliki berbagai pengalaman, tapi perlakukan diriku dengan baik juga. Ketetapan hatiku tidak dapat setengah-setengah"

""Kami akan melakukan yang terbaik!""

"Itu singkat....dan menunjukkan tekad kalian"

Ekspresi mereka segera melunak, kontras dengan penampilan yang masih lusuh. Yah, hal terbaik bagi anak-anak adalah tersenyum. Memang hanya untuk sesaat, tapi beberapa hari kemudian kedua anak ini akan mengatasi masa lalu mereka dan ceria lagi.

"Karena tampaknya percakapan telah selesai, tidak apa-apa kah bagi kami, keluarga*, untuk menjelaskan?"
[Dia menjadi lebih sering mengaku keluarga setelah acara memasak nabe]

"Itu benar, aku akan menyerahkan sisanya kepada kalian"

Mereka harus mempelajari aturan-aturan keluarga dari Erina dan yang lain, yang pernah berada dalam situasi serupa.

"Pertama penampilan kalian. Ambil obat ini dan lap badan kalian"

"Ini obatnya"

"Benar, dan ini air panas sekaligus handuk~!"

""Eh? Eh?""

"Selanjutnya pakaian, setelah mengambil pengukuran, ambillah beberapa tangan-me-downs"

"Baiklah....pengukuran selesai~!"

"Pakaiannya disini"

""Eeh?! Eeh?!"

Erina, Dee, dan Noel, menyesuaikan pakaian keduanya sementara mereka berdiri di sana dalam keadaan linglung. Sejak cedera mereka benar-benar sembuh, sekitar 5 hari harusnya cukup untuk memungkinkan pikiran mereka beradaptasi, kan? Tentu saja aku memasukkan ini kedalam rencana pengobatanku.

Aku membentuk jadwal dibenakku ketika menyaksikan mereka sedang dipermainkan seperti boneka yang dipasangkan baju.

Emilia:
Gadis berusia 7 tahun dengan rambut yang bersinar perak sebahu dalam potongan bob.
Dengan mata kecil dan prospek masa depan untuk tumbuh menjadi seorang wanita cantik.
Salah satu dari ras Serigala Perak di benua Adroad, putri Phelios.
Membantu dengan pekerjaan rumah tangga di desa dan seperti sesosok kakak yang peduli kepada anak-anak.
Tidak menggunakan sihir, sehingga atribut-nya tidak diketahui.

Reus:
5 tahun, adik Emilia.
Tidak kalah dengan kakaknya yang gentar, seorang anak nakal berambut perak dengan sikap yang mampu mengolok-olok langit.
Memiliki perbedaan kecil berupa potongan di ujung telinganya. Seperti tanda kucing yang telah dikebiri.
Karena banyak komentar kurang ajar, aku harus mengajarinya secara menyeluruh sebelum aku menempa dirinya.
Atribut tidak diketahui seperti kakaknya.

Baiklah, seperti sebelumnya, mendidik siswa membuat diriku bersemangat.

Hanya membayangkan potensi mereka membuatku senang.

Aku, Sirius.

Pada usia 6 tahun, akhirnya bisa mendapatkan 2 siswa.

☆☆☆Chapter 13 berakhir disini☆☆☆

Catatan penerjemah=CHAPTER INI HANYA TERJEMAHAN SEMENTARA!!!! Kalian mengerti??? Sesungguhnya ini adalah chapter yg membingungkan dari versi inggris. Sangat membingungkan. Karena itulah aku menyesuaikan seluruh bagian dan membuat updatenya lama -_- . Ketika aku sudah mendapat/memahami terjemahan yg pas, akan kuubah lagi (walaupun kurasa tidak terlalu melenceng/hampir sama dengan ini).....Sungguh membingungkan....

Ke Halaman utama World Teacher
Ke Chapter selanjutnya


Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Kusoge Online (BETA) Bahasa Indonesia

108 Maidens chap 14 B. Indonesia