World Teacher chap 14 B. Indonesia

Chapter 14 Jalan untuk memperoleh kepercayaan
Diterjemahkan oleh I-Fun Novel




Bagian 1


Desa ras serigala perak umumnya dapat ditemukan di berbagai sisi pada hamparan luas benua Adroad

Salah satunya adalah desa barat, desa dimana Emilia dan Reus tinggal. Dikelilingi oleh hutan lebat, itu merupakan sebuah tempat yang damai dengan mayoritas penduduknya bertahan hidup menggunakan mata pencaharian berburu dan bercocok tanam.....atau begitulah dulu.

Dikatakan 'dulu' karena kabarnya desa itu telah lenyap dan runtuh tanpa meninggalkan jejak apapun.

Sedikit lebih dari setahun yang lalu, Emilia dan Reus manikmati hidup terbungkus dalam kedamaian....hingga suatu hari tempat tinggal mereka tiba-tiba diserang oleh kawanan monster.

Tentu, penduduknya tidak hanya diam dan melawan. Namun karena ada perbedaan sangat jauh dalam hal jumlah, mereka terdorong sampai ke sudut. Meskipun ayah Emilia merupakan seorang pemimpin kuat yang bertempur dengan gagah berani di garis depan, ia dimakan tepat di depan mata putrinya sendiri, tanpa bisa menang menghadapi serbuan angka.

Reus, untungnya tidak melihat adegan tragis itu secara langsung di tempat kejadian, karena ia bersembunyi dengan ibunya.

Seekor monster pun mendekati sosok kecil Emilia yang menangis, hanya saja ibunya melompat dan menyelamatkannya dengan nyaris.

Walaupun terus melarikan diri, ketiganya berakhir dikelilingi oleh sekelompok monster. Ibu mereka memutuskan untuk mempercayakan Reus kepada Emilia dan menerjang ke dalam lautan bencana sendirian.

Berkat pengorbanan demi setitik waktu yang mengambil kehidupan ibu anak-anak ini, keduanya mampu lolos dengan membawa nyawa utuh mereka....

....Menjauhkan diri dari desa, keduanya terus berjalan sementara tanpa petunjuk tentang arah. Kelelahan pun menimpa tidak lama, dan mereka ditemukan oleh para manusia yang kebetulan lewat.

Sayangnya, pertemuan itu bukanlah suatu berkah karena....orang-orang itu adalah pedagang budak. Walaupun dianggap sebagai barang dagangan seharusnya cukup, ini adalah dunia yang berbeda. Kedua anak tampaknya menerima perlakuan yang mengerikan. Tanpa diberi cukup makanan, sudah termasuk hal biasa bila dihajar ketika bahkan sedikit menolak perintah.

Suatu hari, karena berulang kali menepis untuk dijual, orang-orang ini  memberi makanan yang sudah diracun secara rahasia agar Emilia tidak mampu berbicara. Reus yang juga makan, berujung pada kondisi jatuh sakit. Karena itulah, ia menjadi curiga kepada orang lain dan enggan untuk menerima apapun.

Hanya saja, agar tidak menyia-nyiakan pengorbanan kedua orang tua mereka, anak-anak ini terus berjuang untuk tetap bernafas.

Hari demi hari kehidupan sebagai budak berlanjut. Tanpa disadari....setahun pun berlalu.

....Kemudian, takdir membawakan keduanya kesempatan untuk meloloskan diri.

Sewaktu di perjalanan, semua kereta pedagang budak diserang oleh segerombolan monster.

Setelah diusir dari tempat tinggal oleh hal kejam ini, sangat menyedihkan ketika mendapat bantuan dari hal yang sama.

Memanfaatkan kebingungan, kedua bersaudara itu berlari dan berkeliaran di hutan sambil dilanda rasa takut jika ditemukan.

Dengan kaki yang goyah, raga kewalahan juga terus menerus kehilangan Mana karena kerah. Mereka malah berjumpa monster lain dan hanya bisa terus melarikan diri terselimuti keputus-asaan. Pada akhirnya roboh karena telah mencapai batas stamina, kehilangan seluruh tenaga.

Di titik itulah diriku turun tangan.

"Ohh, jadi begitu alasan keduanya berada di sana, ya...."

Beberapa hari setelah membawa anak-anak itu ke rumah, aku bersantai di kediaman Lior. Setelah menyelesaikan pertempuran sengit beberapa saat yang lalu dalam jadwal pertarungan hari ini, kami sekarang beristirahat sambil menikmati waktu minum teh.

Aku menjelaskan situasi keduanya karena si pria tua bertanya tentang asal usul mereka.

"Hmm, sekelompok monster menyerang desa anak-anak itu, ya? Dan setelahnya, kau berkata mereka hidup sebagai budak? Sungguh tidak beruntung"

"Jujur saja. Meskipun cedera dan luka luar bisa dilenyapkan, akan sangat sulit untuk menyembuhkan mental keduanya"

"Menyaksikan orang tuanya tewas di depan mata. Trauma mereka pasti dalam. Lalu, apa yang akan kau lakukan?"

"....Terlebih dahulu, aku harus menciptakan hubungan baik dengan keduanya"

Anak-anak ini memiliki kemauan bulat untuk menjadi lebih kuat. Semakin kuat merupakan faktor penting.

Hanya saja, masing-masing dari mereka memiliki masalah kecil.

Pertama, Emilia. Terlalu patuh karena dia memahami bahwa dirinya berutang kehidupan padaku. Aku bisa saja memanfaatkan keadaan itu, namun akan terkesan kejam untuk melakukannya karena mentalnya sangat tidak stabil.

Meskipun ia tampak seperti sosok kakak pemberani di depan adiknya, aku berkali-kali menyaksikan dia diam-diam menangis ketika sendirian. Jika ketakutan dan kegelisahan tidak disingkirkan, kesedihan karena kehilangan orang tua tidak akan sembuh dalam waktu dekat. Tanpa mempunyai seorang pun yang dapat dijadikan bahan sandaran, dia terus menahan luka yang terkubur jauh di kedalaman hati. Entah bagaimana, aku harus 'membebaskan' dirinya, sebelum dia meledak karena hal-hal tersebut.

Reus adalah anak laki-laki yang kurang sopan, namun, itu hanya penampilan luar.

Dia mati-matian menyemangati diri sendiri demi melindungi kakaknya. Tapi kenyataannya berbanding terbalik....dia sungguh ketakutan dan ingin lari. Setelah mengerti ini, terkadang Erina mendekatinya lalu memanjakan Reus ketika mereka hanya sendirian. Pemahaman pelayanku itu benar-benar hebat, ditambah lagi jarak mereka semakin berkurang karena Reus juga masih mencari sosok ibu sebagai seorang anak.

Hubungannya dengan semua penghuni rumah cukup bagus....Yah, setidaknya, dia memberontak terhadapku. Mungkin disebabkan karena dia tidak bisa menerima kalau diriku sangat dihargai oleh kakaknya dan Erina. Walaupun kemungkinan sifat itu bisa diselesaikan setelah ia tumbuh sedikit, ini tidak akan menghilang kalau terus dibiarkan.

Intinya, ini semua karena kepercayaan anak-anak itu belum cukup.

Aku tidak bisa terus memotong sudut pada pelatihan yang akan dimulai setelah ini, kami akan membutuhkan komunikasi tetap dalam kehidupan sehari-hari.

"Aku tidak berkata kalau mereka harus tersenyum selama pelatihan, tapi aku ingin mereka setidaknya tersenyum ketika duduk untuk makan. Keduanya masihlah anak-anak"

"Yah, buat mereka mengayunkan pedang. Mungkin saja bisa berguna"

"Itu hanya kau, pria tua. Kau menggelikan"

"Hahahaha! Aku sangat sadar diri. Dan bagaimana kerasnya kau untuk mencapai kesimpulan semacam itu tentangku"

"Lagipula, kau kalah. Aku akan mengangkat siswa-siswa yang dapat membuatmu iri, pria tua"

"Hmmm, aku akan menunggunya. Jadi, jika kau ingin mengajarkan mereka pedang, aku tidak keberatan membantu"

"Ada saran itu juga, ya? Aku akan mempertimbangkannya....Kemudian, sudah waktunya untuk pulang"

"Khawatir tentang siswa-siswamu, kan? Aku berpikir tentang pertandingan lain, namun apa boleh buat"

Ngomong-ngomong, di lima puluh pertarungan dengan Lior, skor-ku tiga puluh kali menang, dua belas kali kalah dan delapan kali seri.

Pria tua ini, dia seorang bajingan yang lebih senang kalah daripada menang. Mengingat bahwa dia sangat gembira menantang orang-orang kuat tanpa pernah kehilangan tujuan, individu yang sulit dipahami.

Aku hampir tidak menang hari ini. Bahkan belakangan, Lior telah meraih kembali kekuatannya dalam kecepatan normal. Aku mungkin akan dihajar dengan mudah kalau ceroboh sedikit saja. Karena ia memungkinkan diriku untuk terus merasa tertekan, saingan semacam dia sangat disambut.

Berpisah dengan Lior, itu sudah malam pada saat aku selesai dengan urusanku dan kembali ke rumah.

Saat diriku turun dari langit dan memijak tanah di depan gerbang, aku melihat Noel dan Emilia sedang membersihkan pintu.

Noel menatapku tanpa ekspresi yang berubah, sedangkan Emilia membuka kelopak matanya lebar-lebar dalam keadaan tercengang.

"Selamat Datang di rumah~. Hei, Emi-chan, sambutlah juga"

"A....ah iya! Selamat datang kembali, Sirius-sama"

"Aku pulang. Kau bertindak agak aneh, apa terjadi sesuatu?"

"Tidak ada....Ah, kalau dipikir-pikir, ini adalah pertama kalinya dia melihat sihir terbang Sirius-sama"

"Oh, jadi begitu? Di ingat-ingat lagi, dia pingsan saat aku menyelamatkannya"

"....Apakah itu....sihir?"

"Begitu lah. Tindakan Sirius-sama selalu mengejutkan, jadi kau harus menyerah untuk memahami orang seperti itu"

"Aku mengerti, Noel-san"

"Tidak bagus, poin dikurangi~!"

Noel memanas sepenuh hati saat mengangkat jari. Poin dikurangi katanya, tapi aku tidak melihat bagian mana dari percakapan mereka yang salah.

Mungkinkah itu adalah kesalahan yang hanya seorang pelayan bisa lihat? Sepertinya Noel telah menjadi seorang senior baik.

"Aku lupa. Hmmm....onee-chan?"

"Bagus! Ya, ketika kau memanggilku, gunakan Onee-chan. Ada apa Sirius-sa---Aduh aduh aduh~!"

Aku menyuruhnya membungkuk dan menghukum dengan cakar besi*. Terbaru favoritku.
[Gambarnya. Ini gerakan dimana kau meremas wajah pihak lain]

"Aduh~....wajahku menjadi lebih kecil. Tolong lebih perhatian padaku"

"Maaf, tapi memanggilmu onee-chan sangat tidak cocok, kan? Bisakah kau setidaknya mengubah itu jadi 'senpai'?"

Meskipun tidak baik untuk memarahi senior di depan juniornya, tanganku tidak sengaja bereaksi dari kebodohan yang keterlaluan.

"Tunggu, orangnya sendiri sudah menyetujui untuk itu. Benarkan, Emi-chan?"

"Ah iya. Aku tidak keberatan memanggilnya Onee-chan....aku kira"

Dia tidak bisa menyembunyikan kebingungannya. Namun, mereka tampak akrab, mungkin aku harus membiarkan ini.

"Sirius-sama sedikit terlambat hari ini. Apa kau mencari sesuatu?"

"Aku harus mengamankan bahan-bahan untuk hidangan baru"

"Hoho~. Apakah itu manis? Apakah pedas?"

"Pedas, mungkin? Aku pikir akan membuat hamburger dengan kombinasi tofu dan daging cincang"

"Hebat~!! Aku tidak benar-benar mengerti tapi aku akan menunggunya~!"

"Kau tidak memiliki rasa malu, kan?"

Saat aku memotong percakapan keduanya dengan senyum masam, aku berbalik, merasakan tatapan yang berasal dari Emilia.

"Hmm. Ada apa?"

"Ah....tidak, tidak ada...."

"Hamburger Tofu sangat baik untuk kesehatanmu, sehingga makanlah yang banyak"

"Iya, baiklah"

Hmmm, dia memang mengikuti perkataanku, hanya saja akan mendadak gugup ketika berbicara santai dengan topik yang remeh.

Kewaspadaannya masih tidak lenyap sepenuhnya, ya kan? Dari luar, dia cukup pulih untuk dapat membantu pekerjaan. Aku sedang mempertimbangkan apakah harus mengambil tindakan segera.

"Wow....Suatu rasa dunia baru telah dibuka kembali~"

Setelah makan malam, para petugas, yang selesai makan hamburger tofu, mengangguk puas.

"Berbeda dengan daging panggang biasa, ini sangat mudah untuk dimakan. Seperti yang diharapkan dari Sirius-sama"

"Untuk sesuatu seperti tofu dapat menghasilkan rasa dan tekstur semacam ini. Hidangan yang cukup mendalam, bukan~?"

"Baiklah. Sekarang aku akan mencoba untuk membuatnya juga"

"Iya, silakan saja, Dee"

Berbeda dengan ketiganya yang memuji, dua pendatang baru tampak seperti mereka tidak yakin untuk beberapa alasan. Sikap itu segera di sela oleh Erina.

"Bagaimana dengan kalian berdua? Sepertinya kalian tercengang untuk sejenak, dan sadar kalau hidangan ini enak"

"Hmm....ya"

"M-Mungkin...."

"Kalau begitu, sampaikan itu dengan benar. Karena orang yang memasak makanan pasti akan senang dipuji dan berterima kasihlah terlepas dari posisi mereka sebagai master atau petugas"

"Iya. Sirius-sama, makanannya sangat lezat"

"Sialan---....i-itu lezat...."

"Salah. Kalian tidak perlu secara paksa mengatakan itu, hanya ucapkanlah ketika kalian terus terang berpikir bahwa ini lezat. Begitu saja sudah cukup"

Erina membantu dengan memberi mereka pelajaran moral tegas.

Namun, aku tidak mengerti. Meskipun Reus memberontak dalam segala hal, Emilia terlalu sulit untuk dibaca. Dia tampak seakan-akan menjadi lebih murung seiring hari berlalu. Aku harus lebih bergegas mengubah keadaannya.

"....Emilia, tolong datang ke kamarku setelah ini"

"---! Ah, iya!"

"Apa yang akan kau lakukan pada kakakku?!"

"Hanya hal biasa. Erina, jika kau tidak keberatan"

"Silakan tinggalkan kepadaku. Reus, mari kita membahas sesuatu sebentar"

"Tapi, kakakku, kakakku....aaaaah---!"

Reus ditarik oleh Erina dan menghilang.

Walaupun dia bereaksi ragu-ragu, apa yang aku akan perbuat sungguh bukan hal mencurigakan sama sekali.

"Kalian berdua, menjauhlah untuk sementara"

""Mengerti""

Suara dari Dee dan Noel menyelaraskan. Kompatibilitas keduanya sempurna.

Sebelum aku mencoba untuk kembali ke kamar, Noel memanggilku untuk berhenti dan melayangkan senyuman sambil mengangkat jempol.

"Sirius-sama, dia seorang gadis yang baik jadi---aduh aduh aduh~! Jangan wajahku~~!"

☆☆☆☆

Bagian 2


Beberapa menit setelah kembali ke kamar, ketukan yang terkesan malu-malu terdengar.

"Masuklah"

"....Permisi"

Pintu terbuka, dan sosok Emilia datang dengan tampilan gugup.

Alih-alih pakaian malam, ia mengenakan jubah yang ukurannya terlalu besar. Sebelum aku menyuruh, dia sudah melepasnya. Hanya mengenakan pakaian dalam, dia mengalihkan mata penuh kecanggungan.

"Kalau begitu, berbaringlah di tempat tidur menghadap ke atas"

"....Y-Ya"

Aku akan mengatakannya lagi, ini bukanlah perbuatan yang patut dipertanyakan.

Aku pikir tak ada yang lebih manis daripada gadis tujuh tahun. Untuk mengakhiri salah paham, diriku sendiri masih enam tahun termasuk libido yang belum berkembang. Dengan kata lain, dia dipanggil ke sini hanya bertujuan untuk membersihkan cicatrix-nya*.
[Gambar 1 / Gambar 2 google. Penjelasan entar diterangkan oleh Sirius]

Bekas luka gadis ini hanya disebabkan karena hal-hal seperti luka dan memar. Sehingga, bahkan tanpa praktek medis yang kompleks seperti operasi bedah, entah bagaimana aku bisa mengurusnya dengan Kontrol Regenerasi-ku*.
[Masih inget sewaktu Sirius menyembuhkan Fia??]

Kenapa harus membersihkan sisa-sisa cicatrix?

Ketika luka seseorang menghilang dengan penyembuhan diri, berbagai sel bekerja sama dan memulihkan cedera, namun bahkan jika kulit di permukaan telah secara sempurna sembuh, organisme yang disebut jaringan parut masih tetap didalam. Karena terlihat berbeda dari kulit, tampak seperti bekas luka. Singkatnya, cicatrix bukanlah kulit di permukaan, itu menonjol karena bagian dalam yang tidak normal.

Adapun kasus luka terbakar dan tertusuk, aku akan menghilangkannya untuk saat ini.

Aku mengalirkan Mana, menunjuk tepat disana. Ini adalah metode paksa yang memungkinkan diriku untuk menghilangkan jaringan parut di metabolisme dan menghapus cicatrix-nya. Kesampingkan Mana, ini dapat dilakukan hanya karena aku memiliki pengetahuan medis yang diperlukan.

Walaupun mungkin akan lebih mudah kalau aku bisa menggunakan sihir pemulihan atribut air, kecocokan 'Tanpa Warna'ku dengan atribut lainnya benar-benar buruk. Sampai-sampai aku hampir diperas kering dalam upaya hanya untuk menggunakan {Api}.

Oh yah, atributku bukanlah masalah. Langsung saja mulai pengobatannya.

"Hari ini adalah perut dan sekitarnya. Aku akan menyentuhmu sekarang"

"....Silakan"

Lengan, kaki dan bagian lain telah bersih. Sisanya adalah perut dan punggung, yang ditutupi oleh pakaian.

Reus adalah seorang anak lelaki, sehingga beberapa luka kecil pada dirinya bukanlah masalah meski dibiarkan. Lagipula aku hampir selesai dengan dia, tapi kulit gadis perlu ditangani dengan benar. Aku menggunakan {Search} sementara berhati-hati menuangkan Mana.

Dia bertahan, menutup matanya, merona, menggeliat dan tergelitik dengan setiap gerakan tanganku.

Menjaga pengobatan berlangsung tanpa pemikiran aneh-aneh yang bisa menghalangi, aku merasa puas karena bekas luka di sekitar perutnya menghilang.

"Hm, bagus. Beginilah harusnya kulit seorang gadis"

"Terima....kasih"

"Selanjutnya adalah bagian punggung. Berbaliklah"

Setelah membuatnya tengkurap, ternyata ada banyak bekas luka di punggungnya juga.

Aku kira itu karena kekerasan secara naluriah dilakukan di belakang, namun bekas-bekas luka ini agaknya terlalu menyedihkan. Menyingkarkan kekhawatiran, aku berbicara dengannya sambil meneruskan perawatan.

"Apa kau sudah terbiasa hidup di sini? Noel bertindak semata-mata menurut perasaannya, jadi aku kira orang lain mungkin kelelahan dengan itu"

"Ah iya! Aku diurus dengan baik. Noe-.....nee-san adalah sejenis...."

Kenapa dia bertindak begitu terlalu sopan? Dari pengalamanku, dia mungkin akan bertindak begitu. Tapi aku pikir bahwa itu karena dia tertekan.

"Tolong katakan saja dengan jujur, jangan sungkan jika ada sesuatu yang terjadi"

"C-Cukup. Lebih dari ini akan terlalu jauh untukku"

Sayangnya, pembicaraan tidak pergi ke mana pun. Dia hanya menjawab apa yang dia anggap cukup. Meskipun aku ingin dia untuk menunjukkan perasaan sebenarnya, itu tidak berguna. Kami harus memulai membentuk akrab.

Proses penyembuhan terus bekerja diiringi kesunyian. Bersamaan dengan bekas luka di punggungnya yang hampir menghilang, aku menyadari terdapat satu cicatrix, agak berbeda di bahunya. Bekas luka ini lebih seperti berasal dari gigitan daripada akibat benda tajam atau tanda cambuk.

"Apa kau pernah digigit Reus? Aku harus menyembuhkan ini juga, kan?"

"Jangan!!!"

Saat aku menyentuh bahunya, ia mengambil jarak menjauh untuk memisahkan kami. Dengan wajah terdistorsi dalam ketakutan, Emilia bernafas berat sementara menyembunyikan bekas luka itu. Karena dia tampak akan lari setiap saat, aku menaruh tanganku dan berbicara perlahan.

"Dengar, aku tidak akan melakukan apapun. Aku juga tidak akan marah, jadi bicaralah"

"Ini....Ini tidak boleh...."

"Maksudmu untuk menghapus bekas luka itu, tidak boleh?"

Dia mengangguk berulang kali pada kata-kataku.

Setelah menghentikannya dari melarikan diri, dia sekarang menatapku untuk memohon agar diriku duduk di tepi tempat tidur. Aku mengembalikan lagi nada seperti orang dewasaku ke anak-anak, karena tidak tahu apa yang akan dia lakukan. Mungkin saja dia bisa tenang kalau aku memanggil Erina.

Untuk saat ini, aku harus menggali ke kedalaman hatinya.

"Bisakah kau ceritakan alasannya terlebih dahulu? Darimana luka ini berasal?"

"....Ibuku"

Eh, kekerasan dalam rumah tangga? Seolah-olah. Namun, ada apa dengan ibunya yang menggigit bahu putrinya?

"Kami, ras perak serigala, menggigit sesama....untuk mengekspresikan kasih sayang...."

Ini seperti persahabatan anjing yang menggigit satu sama lain, atau mungkin sesuatu seperti anjing peliharaan dengan manja menggigit tuannya. Kalau dipikir-pikir, anjing yang telah kuselamatkan di masa kecilku dulu sudah terbiasa untuk melakukan hal itu kepadaku.

"Menggigit bahu adalah bukti cinta....Ibu menggigitku....lalu melompat ke dalam kawanan monster!!"

Dia mungkin mengingat kejadian itu.

Sosok ibunya yang menerjang ke kematian agar memungkinkan kedua bersaudara ini untuk melarikan diri.

Butiran air mulai meluap dari sudut mata Emilia.

"Kenapa....untuk apa?!....Kenapa kau meninggalkan aku, ibu?! Ayah juga, kenapa?! Bukankah kalian berkata bahwa kalian mencintaiku?! Datang kembalilah kalau kalian benar-benar mencintaiku! Bahkan jika kalian mempercayakanku dengan Reus, itu terlalu berat! Aku kakak, tapi ini tidak membuatku bahagia! Aku tak berguna kalau ayah dan ibu tidak ada di sini!....Kenapa aku diperbudak?! Kenapa aku dipukuli?! Itu sangat menyakitkan!....Kenapa, kenapa aku harus melalui hal seperti itu? Aku lelah....aku sudah lelah...."

Sambil menangis, ia membenamkan wajah di antara kedua lututnya sendiri dan meringkuk untuk melarikan diri dari semua pengalaman pahit.

Ini memang terlalu berat bagi anak tujuh tahun untuk bereaksi terhadap orang tuanya yang meninggal tepat di depan mata.

Dia menahannya dengan baik sampai di sini, walaupun berjuang untuk berpura-pura menjadi tanggug di depan adiknya.

"....Emilia"

"Tidaaakkk...."

"Emilia, dengarkan aku"

"---?!"

Aku mendekati gadis ini, yang menolak dan menepuk kepalanya---seperti pada momen pertama kami bertemu.

"Apakah ibumu hebat dalam hal pertarungan?"

Dia menggeleng mendengar pertanyaan itu.

"Jadi, ibumu tidak kuat? Namun, dia secara sukarela melompat ke dalam lautan monster. Menurutmu, kenapa dia sampai melakukannya?"

"....Aku tidak tahu"

"Agar kau bisa bertahan. Cobalah ingat ini, bagaimana wajah ibumu saat itu?"

"....Dia tersenyum...."

"Faktanya adalah....dia tidak menempatkan nilai dalam hidupnya sendiri demi melindungi kalian. Bekas gigitan di bahumu cukup parah, bukankah itu bukti kalau cintanya padamu sangat dalam?"

"....Ibu...."

"Kata-kata terakhir darinya, apa kau juga masih ingat?"

"....Hiduplah dengan kuat, aku....mencintaimu...."

"Kalau begitu....hiduplah. Jadilah kuat untuk hidup sampai bisa memenuhi harapan ibumu. Selain itu, kau harus melindungi Reus, kan?"

"....Iya....adikku, aku harus melindunginya"

"Benar....Kau harus maju meskipun itu menyedihkan....Aku akan mengawasimu"

"Uuua....uuuaaaaaaa!!"

Dia datang dan menempel ke dadaku dengan kekuatan yang bisa disalah artikan sebagai terjangan. Aku terkejut oleh dampak tak terduga, tapi entah bagaimana berhasil menahan tubuhku sendiri dari terpental ketika memeluknya.

Di awal, aku mengusap rambutnya yang kusut juga pucat....dan kali ini, secara lembut sekaligus perlahan, tanganku membelai setiap helai rambut perak mengkilapnya yang indah.

"Pasti sulit. Namun, itu semua baik-baik saja sekarang, menangislah sepenuh isi hatimu karena tidak ada yang akan menyakitimu lagi di sini"

"....Iya....Iya...."

"Ringankan dirimu, kau akan dapat makan sampai perutmu kenyang di masa depan. Kau akan bisa menjadi jauh lebih kuat. Pikiranmu juga akan menjadi kokoh seperti ibumu"

"Iya....Aku akan jadi....kuat"

"Bicarakan perasaanmu dengan jelas. Berkonsultasilah dengan kami ketika kau mengalami masalah"

"....Aku akan bicara...."

"Temukan sesuatu yang kau ingin lakukan suatu hari nanti....Dan aku akan mendukungmu pilihanmu"

"....Iya!"

Dengan kekuatan pelukannya semakin erat, dia terus terisak deras, menumpahkan semua yang masih tertinggal.

Ketika dia, yang telah melepaskan seluruh beban, suasana berubah sekali lagi menjadi sunyi. Pernapasan tidur damai pun terdengar.

Wajar saja kalau seseorang akan kelelahan setelah menangis sebanyak itu, kan? Aku kira, dengan ini hatinya akan menjadi ringan.

Menyeka wajahnya, yang tercakup dalam air mata dan ingus, aku membaringkan tubuhnya di tempat tidurku, dan menyebarkan selimut untuk menutupinya.

Aku ingin membiarkan ini berlalu, karena sekarang merupakan pengecualian, dimana wajah asli Emilia tidak terlihat oleh adiknya.

Setelah diriku keluar dari ruangan sementara berharap tidak membangun gadis yang sedang tidur dengan wajah tenang, semua petugas kecuali Reus sedang menunggu di koridor. Mereka harusnya gugup dari kebisingan dan tangisan kencang Emilia.

"Terima kasih untuk kerja kerasmu. Kabut yang mengelilingi hantinya pasti telah terhapus dengan ini. Itu adalah perlakuan yang sangat baik"

"Entah bagaimana berhasil, tadi bisa saja gagal jika aku tidak melakukannya dengan benar"

Hasilnya ternyata bagus, tapi aku harus menggali luka lama yang ia belum pulihkan. Bahkan ada kemungkinan pikirannya menggila karena tidak dapat bertahan kalau ini gagal. Namun, agar kekuatan pikirannya bisa bertahan....untung saja, ada kasih sayang orangtuanya yang juga berperan besar.

Apa wajah yang akan ia munculkan besok? Aku harap dia tersenyum secara tulus.

"Namun, Sirius-sama, kau benar-benar seorang pembunuh wanita. Emi-chan pasti sudah terserang setumpuk cinta~"

"Kau tahu, aku hanya terikat dengan dia seperti orang tua. Bukan melakukannya demi hal bodoh seperti ingin membuatnya sebagai kekasihku"

"Tidak tidak tidak, seorang wanita yang terserang cinta tanpa menolak akan bereaksi seperti itu"

"Kalau memang begitu, aku berencana melakukan pelatihan yang kurangcang khusus untuknya dalam beberapa hari. Kesibukan akan membuat Emilia berhenti memikirkan perasaannya padaku"

"Ah! Kau akan melakukan itu? Oh, ayolah~, kau harus sedikit lebih ramah dengan mereka....itu tidak bisa, ya?"

Wajah Noel membiru saat dia ingat pelatihanku yang biasa. Dia mulai bersimpati kepada dua bersaudara.

"Lagipula, Bagaimana dengan Reus?"

"Meskipun anak itu tidak di tingkat Emilia, ia telah memuntahkan apa yang menumpuk dalam berbagai cara dan tertidur"

"Begitukah? Maaf, aku menganggap kalau diriku yang membawanya, juga yang harus melakukannya tapi...."

"Dia mencari orang tua jadi aku harusnya memenuhi syarat, tidakkah Sirius-sama setuju? Selain itu, wajah tidur Reus agak lucu"

"Kau memang cocok sebagai ibu, Erina. Aku juga menganggapmu begitu"

"---?! T-Terima kasih banyak!"

Erina menjuntai kepalanya dalam-dalam dan bersukacita. Kenapa dia berterima kasih padaku? Nah, terserahlah.

"Sekarang, di mana aku akan tidur malam ini? Emilia menggunakan kamarku---"

"Kemudian, kau bisa tidur di kamarku"

Begitu cepat, Erina! Kau mengangkat tangan bahkan sebelum aku selesai berbicara?.

"Tidak, aku baik-baik saja dengan sofa di ruang tamu. Aku akan menyiapkan selimut"

"Itu tidak baik. Aku tidak, sangat tidak setuju, membiarkan Masterku tidur di tempat semacam itu. Aku yang akan tidur di sofa"

"Aku tidak ingin kau tidur di sana, kau baru saja kelelahan, Erina....Sebuah ruang untuk dua orang, ya...."

Hei, pasangan petugas. Kenapa kalian mengalihkan pandangan ke kejauhan? Dan si telinga kucing di sana, jangan bersiul jika kau tidak dapat melakukannya.

"Kamarku sangat berantakan jadi...."

"Aku pikir aku harus tidur di samping Emi-chan. Aku akan kesepian ketika bangun sendiri, kau tahu~?"

"Kalau begitu, kamarmu kosong, kan? Aku akan meminjam tempat tidurmu, Noel"

"Tidak!! Itu---....banyak rambut ekorku rontok akhir-akhir ini dan kasurku penuh dengan itu"

Alasanmu yang mengada-ada benar-benar buruk. Aku terjebak dalam motif tersembunyi. Ini semacam ITU, kan?

"Kalau begini....Erina, maukah kau tidur bersamaku?"

"Iya! Baiklah, aku akan pergi mempersiapkan tempat tidur tanpa penundaan"

Senyum tersebar di seluruh wajahnya. Aku berharap dia hanya berjalan, tapi dia kembali ke kamarnya tiga kali lebih cepat dari yang biasa.

"Ini masih sedikit lebih awal tapi aku juga akan bersiap untuk tidur. Sirius-sama, aku akan meminjam kasurnya terlebih dahulu"

"Aah, ya, lakukan apa yang kau inginkan"

Aku sudah kewalahan untuk beberapa alasan. Berpikir tentang hal ini dengan benar, wajar saja bagiku untuk kelelahan setelah bertarung melawan Lior hari ini, kan?

Aku hanya akan pergi tidur karena sepertinya persiapan Erina hampir selesai.

"Sirius-sama"

"Ada apa, Dee?"

"Maafkan intervensi tidak sopanku. Tapi, tentang kedua anak itu....kau tidak melakukan sesuatu yang salah dengan mereka, Sirius-sama"

"Apakah begitu?"

"Memang. Setidaknya, kedua anak ini bisa hidup lebih baik di bawah bimbinganmu. Kalau dibiarkan, mereka pasti takkan pernah bahagia"

"....Terima kasih"

Dengan bungkukan, Dee menyimpulkannya dan kembali ke kamarnya sendiri.

Benar....aku memang tidak tahu bagaimana masa depan keduanya akan berubah, aku hanya yakin itu akan berubah sesuai dengan caraku mendidik mereka.

Yang terbaik adalah membiarkan anak-anak untuk menemukan jalannya sendiri. Mereka harus dibimbing, sehingga tidak memilih jalan yang berujung pada kehidupan penuh penyesalan.

"....Hei....aku cemas kalau ditatap terlalu lama, jadi...."

"Aku sangat menyesal. Hanya saja, aku tidak bisa tidur jika tidak menghadap ke sisi ini"

"Jangan berbohong"

Malam itu, Erina terus mengawasiku dengan ekspresi gembira.

☆☆☆☆

Bagian 3


Seperti sebelumnya, langit pagi di waktu awal hanya sedikit cerah.

Aku menyingkir dari kasur, berusaha untuk tidak membangunkan Erina yang masih tidur di sampingku. Barganti baju dengan pakaian olahraga di ruang tamu terlebih dahulu, dan menghirup banyak kelembaban lalu pergi keluar.

Meregangkan badan, aku mulai lari pagi dengan giat. Menghiraukan tubuhku yang melonggar.

Karena berlarian di halaman, aku pergi dengan berjingkat, mempertimbangkan orang-orang yang sedang tidur. Ini juga merupakan bagian dari pelatihan. Aku secara bertahap menjadi cepat, dan ketika tubuh cukup hangat, aku mengaktifkan {Boost} dan melesat ke arah hutan.

Tanpa terbang di langit, aku memanfaatkan pepohonan sebagai hambatan, dan melaju melewatinya tanpa kehilangan kecepatan. Sambil menendang cabang-cabang, melompati sungai, menginjak monster, terbang di atas tebing, dan mendakinya. Tujuanku adalah puncak dataran tertinggi di lingkungan.

Menonaktifkan {Boost}, aku memulai pelatihan otot yang menekankan pada push-up, sit-up, dan berlari. Ini adalah pelatihan oksigen rendah pada dataran tinggi.

Ketinggian di sini kira-kira 3.000m (DPL*). Oksigen di dataran tinggi cukuplah rendah, jadi sebagian tekanan berkurang dan menempatkan beban besar pada tubuh, efek dari pelatihan ini merupakan pengembangan cepat. Aku melakukan itu karena tampak menimbulkan daya tahan juga.
[Dari Permukaan Laut]

Ngomong-ngomong, guruku sering membuatku melakukan itu di sebuah gunung bersalju, di mana ketinggiannya melebihi 5000m. Aku serius berpikir akan mati, dan itu hanya satu kasus di antara banyak lainnya.

Sekitar satu jam berlalu, aku memutuskan pulang karena waktu untuk sarapan mendekat.

Diriku kembali menuruni gunung saat terbang di langit dan secara bertahap mengurangi ketinggian. Kalau aku turun dengan terburu-buru, perbedaan tekanan atmosfer dapat menyebabkan kelainan pada tubuhku.

Itu semua adalah menu latihanku di pagi hari.

Program latihan fisik berakhir tepat ketika tiba di rumah.

Dukungan sihir dalam mengurangi gerakanku benar-benar membantu. Kalau bukan karena sihir, aku akan harus mendaki gunung dan menuruninya dengan bekerja keras.

Ketika menepis keringat yang menetes menggunakan tangan, aku merasa sesuatu yang aneh dari pintu masuk. Erina biasanya menawarkanku secangkir air dan handuk setelah latihan. Sementara kepalaku dilanda kebingungan di kejadian tidak biasa, telingaku menyaring langkah kaki dari suatu arah, membuatku secara reflek berbalik.

"Apa kau kesiangan? Ini sangat tidak biasa darimu, Erina---Hmm?"

"Ah, selamat pagi. Sirius-sama"

Yang berdiri di sana bukan pelayan keibuan dirumah melainkan Emilia. Dia membawa secangkir air dan handuk di tangan sambil tersipu dan menengok gugup ke bawah.

Oh, yah, dia pasti akan begitu karena peristiwa kemarin mungkin memalukan baginya. Apa dia berusaha untuk mendapatkan simpatiku?

"Selamat pagi, Emilia. Bisa kau memberiku handuk?"

"Ah iya! Silahkan!"

Disaat bersamaan menerima handuk yang dia ulurkan dengan tergesa-gesa dan menyeka keringat, aku bisa merasakan tatapan. Walaupun dia juga menatapku dengan wajah merona, apa yang menonjol adalah....empat wajah dari balik sebuah pohon di sudut penglihatanku.

....Apa yang orang-orang itu lakukan?

"Bertahanlah, Emi-chan~!"

"Sialan, kakak dengan laki-laki itu---Mmmhmhm!"

"....Diamlah"

"Ahhh, masa muda"

Aku bisa mendengar mereka dengan memperkuat indra pendengaranku....sungguh menyakitkan~.

Aku menembakkan keluar kilatan {Impact} di pohon sebagai ancaman dan mereka menyebar seperti merpati.

"Silakan ambil minuman ini juga"

"Ah, baiklah, aku akan mengambilnya"

Minuman hangat lebih baik daripada minuman dingin setelah latihan, tapi anak ini sepertinya sudah mengetahui itu. Setelah meneguk perlahan-lahan, Emilia menjadi sangat diam pada saat aku mengembalikan gelasnya.

Mengambil beberapa napas dalam-dalam, mengangguk sekali, dia lalu membungkuk dengan segenap tenaga.

"Tentang kemarin....Terima kasih banyak!"

"Kau agak baikan sekarang?"

"Iya! Rasa malu masih ada, tapi aku sudah merasa baik-baik saja"

Sama seperti kata Emilia, aku tidak merasa jejak suasana kepura-puraan dari kemarin. Wajahnya memang masih merah, hanya saja dia memiliki ekspresi tenang dan segar.

"Walaupun masih tersisa sedikit kesedihan, sekarang sudak baik. Aku akan menjadi lebih kuat. Aku ingin menjadi kuat seperti ibu dan ayah. Oleh karena itu, sekali lagi, tolong. Tolong buat diriku kuat!!"

"....Maukah kau mengikutiku? Pelatihan ini lebih keras daripada di waktu dirimu sebagai budak. Apa itu masih baik-baik saja?"

"Iya! Aku akan mengikutimu, Sirius-sama!!"

"Begitu ya, kau sudah mengatasi trauma kematian orang tuamu"

"Ah...."

Aku secara spontan menepuk kepala Emilia, membuat gerakannya berhenti sesaat. Dia lalu menyipitkan mata....

"....Hehe"

....Dan tertawa untuk pertama kalinya.

Gadis muda yang membangkitkan senyum bagaikan bunga terindah. Ya, seperti yang aku pikir, hal terbaik bagi anak-anak adalah tersenyum.

Ngomong-ngomomg, Emilia berasal dari ras serigala perak jadi dia memiliki ekor lebat. Itu sekarang berayun dengan kekuatan yang menakjubkan setiap kali aku mengelus kepalanya. Bertanya-tanya apakah dia menyukai ini, aku berhenti menepuk untuk bereksperimen.

"Ah...."

Ayunan ekornya berhenti. Selain itu, ia memiliki ekspresi sedih. Akupun menepuknya lagi.

"Hehehehe"

Dan kembali melambai. Ini buruk, terlalu lucu, seperti sebuah saklar. Aku bereksperimen dengan kekuatan lebih, dan menepuk dengan tekanan yang mengkusutkan rambutnya.

"Kyaaa---!"

Memungkinkan jeritan indah dan ekornya melambai puas dengan kecepatan yang memberikan suatu afterimage. Seseorang biasanya tidak menyukai itu bila dilakukan dengan gegabah, kan? Dan rambutnya juga semakin terobrak-abrik, jadi kenapa ini?

Aku berhenti di titik itu karena, mungkin saja 'kecanduan hal-hal manis'. Meskipun dia kecewa ketika tanganku menjauh, aku harus bertahan....ya, aku harus. Perasaan itu mereda ketika mencoba untuk berbicara sambil menghadap dirinya selama sarapan, dan datang ke realisasi.

"....Sirius-sama...."

....Hmmmmm....Tunggu sebentar....

....Matanya, untuk beberapa alasan....dia mempunyai tatapan seorang gadis yang telah jatuh cinta.



Aku ingat perkataan yang Noel lontarkan tadi malam.

"(Namun, Sirius-sama, kau benar-benar seorang pembunuh wanita. Emi-chan pasti sudah terserang setumpuk cinta~)"

Tidak tidak tidak!! Tunggu dulu!!

Ini pasti tampak seperti aku mencoba untuk menghiburnya, tapi tidak berencana agar hal-hal berubah ke arah sana. Aku hanya berencana untuk menjadi pengganti orangtuanya, aku membayangkan diriku sebagai sesuatu seperti wali.

Aku mengambil seorang gadis kecil yang mirip dengannya dalam hidupku dulu, dan menghiburnya dengan ucapan serupa dengan yang kuberikan pada Emilia....Dipanggil ayah pada hari berikutnya, bersama dengan dia seperti orang tua sungguhan.

Karena itulah Emilia harusnya juga berakhir ke situasi yang sama, sehingga....tunggu, seorang ayah?

Diri dari kehidupanku sebelumnya....berusia lebih dari 60 tahun. Pihak lain berusia sekitar tujuh tahun.

Diriku yang saat ini....berusia enam tahun. Pihak lain berusia tujuh tahun.

....Ini adalah perkembangan sempurna Boy Meets Girl*.
[Ini maksudnya kayak adegan pertemuan tipikal dari manga atau anime. Seorang lelaki menolong perempuan, dan voila!! Muncullah cinta XD ]

Lebih seperti perbedaan usia dengan anak bukan seorang ayah, ya kan?! Tentu saja dia jatuh cinta ketika dipeluk lembut di saat dirinya dalam situasi lemah*!!!
[Cara Sirius, 100% berhasil XD]

T-Tidak, dalam hal apapun, yang penting adalah aku berhasil mendapatkan kepercayaan dirinya.

Mengatasi masa lalunya, dari sini, dia akan semakin kuat. Dia bisa melakukan pelatihan khusus dengan benar tanpa berpikir tentangku jadi itu semua bagus, kan?

Sebagai seorang guru, merupakan hal normal bagiku untuk bergaul dengan siswaku. Ya, Ini benar-benar normal.

"Aku mencintaimu, Sirius-sama"

....Hmmmmmmm....Aku pergi terlalu jauh.


☆☆☆Chapter 14 berakhir disini☆☆☆

Ke Halaman utama World Teacher
Ke Chapter selanjutnya

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

108 Maidens chap 14 B. Indonesia

Kusoge Online (BETA) Bahasa Indonesia