World Teacher chap 26 B. Indonesia

Chapter 26 Tes Pendaftaran Elysion
Diterjemahkan oleh I-Fun Novel




Bagian 1


Ibukota di Merifest, Elysion.

Salah satu kota utama pada benua Merifest. Hal pertama yang para pelancong dari daerah lain tangkap dari pandangan mereka adalah dinding raksasa, mengelilingi tanah luas.

Namun, yang terpenting bukanlah tembok maupun skalanya.

Inilah tempat dimana terdapatnya sebuah sekolah, Akademi Elysion.

Tak ada dimanapun pada benua Merifest kecuali disini. Hanya dengan mendaftarkan diri, kau akan memperoleh kehormatan layaknya bangsawan.

Perubahan suhu selama musim cukup lembut, monster-monster buas dimusnahkan, juga tanah subur dengan kekayaan alam yang melimpah. Di atas semua itu, terdapat sekolah terkenal yang hampir seperti tempat wisata.

Tak diragukan lagi bahwa Elysion merupakan wilayah yang bisa disebut kota metropolitan.

Ketika kau melihat ke atas dinding besar itu, hal berikutnya yang akan muncul adalah sesuatu yang lebih tinggi---Istana.

Di sanalah raja yang memerintah negara ini tinggal. Tampaknya, karena kemampuan sang penguasa bersama orang-orang berbakatnya, kedamaian di sini begitu terjaga. Hampir tak ada ketidakadilan, para penduduk dapat melewati hari-hari mereka di dalam dinding dengan puas.

Disaat aku bertanya tentang perlakuan terhadap para ras binatang, terlepas dari bagian bangsawan yang menyebalkan, tak ada masalah dengan berjalan-jalan dan diskriminasi juga jarang terlihat. Meski begitu, mayoritas populasi diduduki oleh manusia, sedangkan ras binatang menempati tiga puluh persennya.

Itulah yang dijelaskan Zack sementara kami menunggu dibagian luar dinding.

Untuk memasuki kota ini kau hanya bisa lewat dua gerbang pada dua sisi dinding, tentu saja disetiap gerbang dijaga oleh sekumpulan tentara. Setiap individu baru diperbolehkan masuk seusai diperiksa identitas atau asal-usulnya.

Akan lebih cepat jika kau bisa membuktikan diri sebagai orang yang berasal dari perusahaan Galgan. Sebaliknya, jika tidak, kau akan menghabiskan waktu lama untuk menjawab setiap pertanyaan yang mereka lontarkan. Hal itu tampaknya terjadi pada orang-orang di depan barisan, membuat kami menunggu hampir tiga puluh menit.

Reus sedang berlatih mengayunkan pedang di dekat kereta. Karena senggang, aku mendengarkan ringkasan tentang kota.

"Ada juga ras binatang di antara para siswa di sekolah, jadi harusnya takkan ada masalah bagi Emilia dan Reus"

"Baguslah. Jika di sini, kalian bisa melepaskan jubah"

"Kelihatannya begitu. Lagipula, Sirius-sama, bolehkah aku memintamu memakaikan kerah padaku?"

"....Hah?"

"Karena aku harus secara jelas menyatakan ke lingkungan bahwa diriku adalah milik Sirius-sama. Bahkan jika harus diperlakukan sebagai budak, aku malah akan merasa terhormat karena menjadi petugasmu"

"Tunggu, tunggu, tunggu! Bahkan jika kau baik-baik saja dengan itu, aku membencinya. Ini ditolak, ditolak!"

"....Begitu ya"

Bisakah kau berhenti depresi?

Jika ada pengukuran untuk nilai loyalitas, bukankah milikmu akan mencapai puncak dan bahkan menembus bagian atasnya?

"Yah, pernyataan Emilia-chan agak aneh. Tapi itu sesuatu yang harus dipertimbangkan"

"Zack juga, apa yang kau bicarakan?"

"Tidak, itu karena Emilia-chan begitu manis bahkan dari sudut pandangku. Ini tidak terbatas pada ras binatang, tapi aku pernah mendengar bahwa beberapa bangsawan mulai menginginkan mereka sampai muncul rumor tentang penculikan. Jadi jika ada tanda yang menyatakan bahwa dia sudah dimiliki, itu bisa bertindak sebagai tindakan pencegahan"

Jika setiap orang berkumpul dari sana kegelapan lahir, ya*.
[Peribahasa mungkin. Kurang tahu sih artinya]

Memang takkan mudah bagi seorang perempuan yang sudah terlatih untuk diculik, tapi dia tidak bisa menang melawan jumlah. Kami harus berhati-hati meski mendapat perlindungan sekolah.

"Zack-san kelihatannya juga setuju. Jadi, tolong beri aku kerah. Yah....Aku tidak keberatan jika suatu hari nanti berganti menjadi cincin"

"Aah....aku akan memikirkannya"

"Aniki!! Istana itu sangaaaattt besar, ya kan?! Gerbangnya juga terlihat kokoh! Mungkinkah aku bisa menebasnya?!"

Bagus sekali, Reus. Itu menjadi alasan untuk mengubah topik pembicaraan. Hanya saja, komentarmu dapat menyebabkan kesalahpahaman yang aneh.

"Tidak boleh. Aku tidak ingin mereka beranggapan kita kesini untuk menyerang kota"

"Mengerti, aniki!"

"Hahaha, Reus dipenuhi semangat, ya"

Giliran kami untuk memasuki Elysion pun tiba.

Bersama Zack dari perusahaan Galgan sebagai perantara, pemeriksaan kami berakhir dengan cepat. Awalnya, mereka yang tidak bisa membuktikan diri harus membayar sejumlah kecil uang setelah pemeriksaan, tapi Zack berperan sebagai saksi dan membayarkannya untuk kami.

"Maaf membuatmu membayar biaya masuk"

"Jangan khawatir, dibandingkan dengan kasus para bandit dan barang dagangan baru*, ini hal yang tidak penting. Ngomong-ngomong, apa yang akan Danna lakukan dari sini?"
[Maksudnya barang dagangan baru itu pas adegan mereka berkemah setelah insiden bandit. Coba inget2 chapter sebelumnya]

"Tes masuk sekolah mulai besok. Tujuan pertama adalah mencari penginapan"

"Kalau begitu ayo kita pergi. Aku merekomendasikan sebuah penginapan yang bagus dibidang keamanan dan makanannya juga lezat. Aku sering kesana ketika datang ke kota ini"

"Ini pertama kalinya kami disini. Tanpa tahu arah, aku akan menyerahkannya padamu"

Sudah hampir malam, tapi Zack mengajak kami kesana sebelum mengantarkan barang dagangannya ke perusahaan.

"Ini adalah penginapan {Spring Breeze Perch}. Aku akan pergi sebentar untuk berbicara dengan pemiliknya"

Bangunan ini tiga kali lebih besar dari rumah kami, merupakan konstruksi dari kayu dan berlantai dua.

Melewati pintu masuk ada lobi, bergeser ke samping ada pintu yang mengarah ke ruang makan di mana kau bisa melihat para tamu sedang menikmati hidangan. Sepertinya juga berfungsi sebagai bar, karena ada yang minum alkohol dalam suasana hati gembira. Lantai pertama merupakan ruang makan dan penginapan termasuk tempat tinggal pemiliknya, sedangkan lantai kedua adalah bagian dari penginapan utama.

Sementara memahami sifat dan fasilitas tempat ini guna mencatat rute pelarian---kebiasaan diduniaku sebelumnya---Zack membunyikan bel di meja lobi.

"Ya, yaaaa! Oh, bukankah ini Zack!"

"Halo, pemilik. Mohon bantuannya lagi"

Yang keluar adalah wanita ras manusia berusia empat puluhan. Sosoknya yang sedikit gemuk, menyambut Zack dengan senyum ramah nan lembut.

"Apa kau akan memesan satu kamar seperti biasa?....Ara, ada beberapa anak yang tidak kukenal. Mungkinkah mereka anakmu?"

"Kau tahu aku belum menikah, kan? Karena kami bepergian bersama, aku mengenalkan mereka pada penginapan ini"

"Ara, terimakasih atas berkontribusimu. Selamat datang! Aku adalah pemilik tempat ini, Rona. Terdapat beberapa kamar kosong, apa yang para pelanggan disini inginkan?"

"Mohon bantuannya juga. Karena bertiga, kami akan memesan kamar ganda untuk pria, dan satu kamar untuk wanita---"

"Satu kamar untuk tiga orang atau kamar besar, tolong!"

Sebelum sempat menyelesaikan pesananku, Emilia maju dan melayangkan permintaannya. Tunggu sebentar! Aku tidak benar-benar ingin mengatakan ini, tapi apa normal untuk menyelat ucapan masternya?.

"Ara, betapa manisnya anak ini. Singkatnya, ketiga pelanggan ingin berada di kamar yang sama, ya. Tapi jou-chan, apa tidak apa-apa meski kau seorang gadis?"

"Ya, yang disini adalah adikku. Juga ada master kami, Sirius-sama. Tidak masalah"

"Begitulah!"

"Baiklah. Kalau begitu, ayo kita pergi ke kamar besar yang ada di belakang"

Mereka memutuskan ini seenaknya.

Aku memang tidak ingin kedua anak itu lepas dari pandanganku, tapi....ada apa dengan perasaan tidak jelas ini.

"Hanya satu hari untuk Zack, tapi berapa lama kalian bertiga akan tinggal?"
"Benar juga. Tes-nya besok, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk masuk ke asrama?"

"Menurut yang kudengar dari onee-chan, paling tidak butuh tiga hari"

"Aku juga pernah mendengarnya selama itu. Pemilik, jika memesan lima hari untuk berjaga-jaga, berapa biayanya?"

"Ayo kita lihat....Dengan tiga kali makan dan satu kamar besar. Ini agak mahal, tiga koin perak, bagaimana?"

Aku tidak tahu apakah tiga koin perak itu mahal atau murah. Tapi sebuah ruangan jumbo termasuk makanan mungkin memang murah. Ketika aku mencoba mengambil uang dari saku dada, Zack mendahului dan menyerahkan empat koin perak.

"Ini bagianku sekaligus mereka. Jadi tak perlu kembalian"

"Ara, betapa murah hati untuk seseorang yang sangat teliti dengan uang seperti dirimu. Apa yang terjadi?"

"Terlepas dari penampilan, mereka sangat menakjubkan. Aku dibantu dengan berbagai cara saat datang ke sini"

"....Mungkinkah mereka bangsawan?! Sangat menyesal! aku akan segera memperbaiki sikapku!"

Sang pemilik melesat keluar dari meja lalu mencoba menunduk sangat rendah, akupun menghentikannya dengan panik. Pengaruh bangsawan sungguh luar biasa, apa dianggap tidak sopan jika kau tidak bertingkah sebanyak ini?

"Uhh, kami bukan bangsawan, hanya orang biasa. Jadi tidak perlu begitu hormat, tolong berhubungan saja dengan cara normal"

"Begitulah, pemilik. Danna memang bukan bangsawan, tapi dia pria terhormat yang lebih hebat dari itu. Dia akan sering menjadi pelanggan perusahaan Galgan, jadi aku ingin menjaganya bahkan setelah diriku kembali"

"Ohhh, aku mengerti. Meski bukan, aku masih akan melayaninya dengan segenap ketulusan seperti biasa"

Sang pemilik kembali ke posisi semula, setelah mengambil buku tamu dia lalu membungkuk pada kami. Tidak setingkat kaa-san, tapi bungkukannya cukup elegan. Ups, masalah sekarang bukanlah si pemilik, melainkan Zack.

"Zack, aku merasa tidak enak jika kau membayar biaya penginapan juga"

"Aku ini memang pria yang seenaknya. Seperti sebelumnya, tolong biarkan aku membayar"

"Tapi...."

"Maaf, bolehkah aku memotong sebentar?"

Sambil tersenyum, sang pemilik datang untuk turun tangan di antara kami, yang sedang saling mendorong beberapa koin perak.

"Tolong biarkan Zack membayar untuk menyelamatkan harga dirinya. Dia merupakan seorang pedagang yang tidak bisa menerima jika tidak menebus segala hutangnya dengan benar"

"Sama seperti si pemilik katakan. Aku akan berangkat besok, jadi tolong biarkan aku melakukan setidaknya sebanyak ini"

Melihat mereka berdua menundukkan kepala, aku kehilangan keinginan untuk mengatakan sesuatu. Apa boleh buat, jika memang ini yang harus dilalui maka aku akan memperkenankan kebaikan Zach disini. Hanya saja....si pemilik pandai menengahi ya. Seperti yang diharapkan dari seseorang yang mengurusi bisnis penginapan dan melibatkan berbagai orang.

"Baiklah, dengan rasa syukur aku akan menerimanya"

"Terima kasih. Kalau begitu pemilik, aku meninggalkan sisanya padamu. Aku akan datang lagi setelah mengantarkan barang dagangan"

"Ya, selamat jalan....Para pelanggan, tolong masukkan nama Anda disini"

Setelah kepergian Zack, kami menuliskan nama masing-masing di buku tamu. Akupun terheran dengan nama-nama sebelumnya yang tertulis karena banyak sekali yang serupa.

"Sirius-sama, Emilia-sama, Reus-sama, benarkan? Tulisan kalian bertiga sangat rapi. Karena ada cukup banyak orang yang tidak dapat menulis, aku sering menuliskan nama mereka"

"Itu sebabnya ada banyak tulisan tangan yang sama. Jadi ini adalah penginapan yang berorientasi pada rakyat jelata, bukan bangsawan ya"

"Persis. Kami memfokuskan tempat ini menjadi penginapan dimana orang awam bisa bersantai. Meskipun melihat kesopanan dan pakaian kalian bisa disalah kira sebagai bangsawan"

Kesampingkan kesopanan, pakaian kami layaknya petualangan biasa, jadi bagian mana yang seperti itu. Aku agak penasaran.

"Oh, astaga. Barang bawaan kita masih tertinggal di kereta. Reus, ayo mengejar Zack-san"

"Mengerti, nee-chan"

Begitu ya....rambut. orang awam biasanya tidak terlalu mengurusi kilau rambut mereka.

Apalagi Emilia, yang diajarkan berpenampilan baik dari kaa-san agar menjadi petugas yang cocok untukku. Rambut peraknya yang mengkilap halus, takkan ada yang menganggapnya sebagai petualang.

"Kalau begitu, aku akan membimbing Sirius-sama ke kamar sambil menunggu keduanya kembali. Ruang makan akan ditutup dalam dua jam, apa yang kau akan lakukan tentang makan malam?"

"Aku ingin makan bersama, tapi aku tidak begitu tahu kapan Zach akan kembali"

"Toko cabang perusahaan Galgan tidak jauh dari sini, sepertinya dia hanya akan memeriksa dan menyerahkan barang dagangannya. Itu mungkin tidak sampai satu jam. Haruskah aku memberitahunya dimana ruanganmu?"

"Tolong lakukan itu"

Kedua bersaudara kembali tak lama kemudian, kamipun diantar ke kamar.

Sepertinya ruangan besar ini awalnya untuk empat orang karena ada empat tempat tidur, tapi oleh sebab itu ruang lainnya kecil, jadi kamarnya hanya untuk tidur saja. Sedangkan toiletnya berada di tempat lain. Ini adalah toilet yang menyiramkan air menggunakan lingkaran sihir air. Merupakan fasilitas yang tidak buruk karena sering dibersihkan.

Sayangnya, tidak ada bak mandi. Di dunia ini biaya pemeliharaan untuk bak mandi begitu tinggi, selain dirumah para bangsawan, tak ada tempat untuk mandi di rumah-rumah pribadi.

Ketika berada di rumah, aku membangun membuat sebuah drum kayu, dan mandi menggunakan itu.

Biasanya, aku membersihkan diri dengan handuk yang direndam dalam air hangat, namun seperti yang diharapkan dari kota metropolis nomor satu di benua. Biayanya sedikit lebih tinggi, tapi ada tempat yang mirip pemandian umum, aku diberitahu bahwa kami bisa kesana.

Seusai menaruh barang bawaan, kamipun duduk di tempat tidur untuk mengambil nafas.

Karena berbagai hal, aku tidak sepenuhnya dapat beristirahat selama perjalanan. Jadinya aku sering tertidur sambil duduk.

"Ayo kita bicara sedikit sampai Zack kembali. Kita akan mengikuti tes masuk besok, kalian ingat isinya?"

"Wawancara dengan guru dan tes praktek untuk keterampilan sihir, kan?"

"Benar. Yang penting selama praktek, jangan sampai sihir tanpa mantra ketahuan. Jadi takkan masalah jika kalian membisikkan sesuatu sebelum menyebutkan nama sihir"

Seperti yang bisa diduga, menggunakan sihir tanpa mantra di usia ini akan membuat mereka menyelidiki berbagai hal. Sulit untuk menjelaskan bahwa imajinasi itu penting, dan jika mengumumkannya dengan buruk, itu hanya akan menghasilkan protes serius dari para peneliti berkepala keras. Waktu tidak bisa mengikuti perubahan yang terlalu mendadak, aku juga tidak ingin terlalu terkenal, jadi jika kami semua lulus tes, itu sudah cukup.

Kalau kami membisikkan kata-kata seperti mantra selama tes praktek, paling tidak mereka akan menganggapnya sebagai pemendekan mantra.

"Aku kebanyakan mengayunkan pedang, jadi aku tidak terlalu baik dengan sihir"

"Tidak apa-apa Reus. Sepertinya mereka hanya ingin melihat apakah kau bisa menggunakan sihir atau tidak. Takkan ada masalah walau kau hanya bisa menggunakan sihir tingkat dasar. Kau mungkin juga harus menunjukkan mereka 'itu'"

"'Itu', ya....apa boleh?"

"Silakan saja. Meski aku tidak tahu situasi apa yang akan kalian buat, tapi kalian bisa menunjukkannya kepada orang-orang di sekolah"

"Mengerti. Aku akan menunjukkan kepada mereka ajaran langsung Aniki!"

Aku hanya mengajarkan konsepnya, bahkan sering tidak kuabaikan. Reus bisa menggunakannya murni karena kemampuan dan hasil usahanya.

"Aku lebih khawatir dengan bagian wawancara. Cara bicara akan memengaruhinya kan...."

"Kau benar tentang itu. Bukankah ucapan sopan atau semacamnya sudah bagus untuk Reus?"

"Tidak apa-apa, Aniki! Aku akan berbicara sesuai yang diajarkan oleh Erina-san!"

Ada banyak orang setiap tahun, jadi aku tidak berpikir mereka akan menghabiskan berjam-jam hanya untuk satu kali wawancara. Tapi karena tindakan Reus yang biasa ini, aku merasa cemas.

Apalagi baru-baru ini dia sangat ingin tahu apakah dirinya mampu memotong benda kokoh atau tidak. Keadaan bisa berbelok ke arah yang berbahaya jika dia ceroboh.

"Yang tersisa adalah Sirius-sama, tapi....seharusnya tidak ada masalah"

"Ya! Khawatir tentang Aniki itu sia-sia!"

Sepertinya akan ada penilaian atribut sebelum melakukan tes praktek, aku tidak tahu bagaimana kesan mereka  terhadap 'Tak Berwarna' milikku. Hanya saja....yah, aku akan mengaturnya.

"Tinggalkan padaku, aku akan mengurus itu entah bagaimana. Bahkan jika tidak lulus, aku akan bekerja di perusahaan Galgan dan berperan sebagai tim distributor yang juga memberikan bahan untuk Dee"

"Tentu saja, kami juga akan ikut"

"Jika bandit dan semacamnya muncul, aku akan mengirim mereka semua terbang!"

Kakak beradik ini datang ke sekolah karena mereka ingin bersamaku. Jadi bahkan jika diriku sendiri yang gagal, rasanya mereka akan dengan santainya mengabaikan hasil dan mengikuti jejakku. Siswa-siswa yang dapat diandalkan.

Saat kami melanjutkan persiapan untuk besok, keduanya yang sedang beristirahat di tempat tidur mulai terlihat menjadi waspada.

Tenang, ini bukan musuh.

"Oooiii, Dannaaa!!"

Apa yang bisa didengar bersamaan dengan ketukan, adalah suara Zack. Emilia hendak segera membuka pintu, tapi Reus menghentikannya. Ooh, sepertinya kau mengerti. Bahkan jika itu suara seorang kenalan, pintu tidak boleh dibuka sembarangan.

"....Aniki adalah....?"

"Yang terbaik!!"

Aku terjatuh.

Sejak kapan kalian memutuskan untuk menggunakan kata sandi?! Atau kenapa isi kata sandinya seperti itu?! Ada banyak hal yang ingin aku tsukkomi.

Sementara aku memegangi kepalaku erat, pintunya terbuka. Zack muncul dengan senyum puas di wajahnya.

"Maaf sudah membuat kalian menunggu. Tapi sungguh, aku tersentuh begitu tahu kalian menantiku untuk makan malam"

"Aah, ya, kalau begitu ayo kita pergi"

"Kau bilang hidangan disini sangat lezat. Aku jadi tidak sabar"

"Begitulah. Bagian terbaik dari tempat ini adalah daging panggang Jaora Snake"

"Aku tidak berpikir itu akan menang melawan masakan aniki, tapi kedengarannya enak!"

Kami berjalan dengan harmonis ke ruang makan. Tak lama kemudian itu berubah menjadi makan malam meriah layaknya pesta kecil.

"Kalau begitu, untuk merayakan kalian yang bersekolah---"

"Tunggu sebentar. Kami bahkan belum lulus tes-nya"

"Eh? Tapi aku tidak bisa membayangkan kalau Danna gagal"

"Daripada itu, ada hal lain yang harus kita rayakan. Seperti pertemuan dengan Zack"

"Itu bagus juga. Kemudian, untuk pertemuanku dengan kelompok Danna, bersulanggg!!"

Sambutannya memang agak amburadul, tapi pesta tetap berlangsung.

Kami makan panggangan Jaora Snake yang sempat direkomendasikan oleh Zack, meski memiliki cita rasa yang terlalu kuat karena ditenggelamkan dalam minyak, tapi ini memang enak....Lebih seperti, ini hanya belut.

Aku ingin menyantapnya dengan saus kabayaki*, tapi sangat disesalkan karena itu tidak bisa dibuat tanpa kecap.
[Sebenarnya kabayaki itu nama masakannya. Unagi no Kabayaki. Emank dari belut sih. Yg pernah nonton Anime Ben-To pasti tau. Karena itu ada di episode terakhirnya. Malah nyaranin anime XD ]

"Aku tidak bisa makan terlalu banyak, tapi ini sangat lezat. Kurasa bisa dimengerti kenapa hal ini dikomendasikan"

"Aku juga suka! Rasanya pasti cocok dengan roti, enak!!"

"Unnn, aku pikir malah akan menjadi yang terbaik jika bersama nasi"

"Nasi? Apa itu hal yang sesuai dengan daging ini?"

"Apa itu nasi, Aniki? Apakah itu hidangan baru?!"

"Hohoh! Aku juga ingin mendengarnya lebih banyak"

Sejak mereka bertiga bertanya sambil mencondongkan tubuh, aku sempat menjelaskan bentuk dan kondisi untuk tanaman padi agar bisa tumbuh secara alami, juga tentang kecap kabayaki. Kesampingkan kedua bersaudara, Zack adalah seorang pedagang. Jika aku menjelaskan itu, dia mungkin bisa menemukan beras di suatu tempat. Gad bahkan menemukan saus yang diminta Dee.

"Aku akan mencarinya setelah kembali ke Almest"

"Bukankah Zack terlalu berlebihan? Kau menghabiskan berhari-hari untuk mengantarkan barang ke Elysion tapi kemudian kembali keesokan harinya"

"Hahaha, biasanya aku tinggal selama beberapa hari, tapi kali ini adalah pengecualian. Kami harus membalas kejahatan perusahaan itu dengan menggunakan kesaksian para bandit. Kau akan kalah jika meremehkan lawan terlalu banyak"

"Ya! Kau kalah jika meremehkan lawan!"

"Mereka memberi kita pengalaman yang sangat pahit. Ketika Aniki mendengar ini, dia akan benar-benar bersiap. Mungkin Aniki juga akan kembali pada saat yang sama denganku, setelah itu perusahaan kami akan berkumpul dan menghancurkan mereka!!"

Zack dipenuhi antusiasme. Walau pada akhirnya aman, itu tidak mengubah fakta kami telah diserang. Wajar saja jika orang-orang yang melakukan tindakan bodoh akan hancur.

"Kali ini aku benar-benar menyadari kekuranganku. Danna membuat kesempatan bagi perusahaan kami untuk menghancurkan sumber masalah. Jadi biarpun kebetulan, aku sangat senang bertemu kalian semua"

"Aku memang tidak mengarahkan situasi menjadi seperti sekarang tapi karena sudah terlanjur, lakukan itu agar tidak menimbulkan persoalan mengganggu di masa depan"

"Baiklah!! Lain kali aku kemari, aku akan membawa hadiah sebagai ucapan terima kasih bersama Aniki!!"

Makan malam berlanjut dengan suasana hati yang damai. Hari kamipun berakhir.


☆☆☆☆

Bagian 2


Besoknya, setelah menyaksikan sosok Zack yang kembali ke Almest pagi-pagi, kami sampai pada tujuan, Akademi Elysion.

"Waaaahh....Ini besar"

"Besar sekali! Jadi ini akan menjadi rumah baru kita, ya!"

Sama seperti yang dikatakan kedua bersaudara, gedung sekolah sangat besar hingga bisa dikira sebuah benteng....tidak, ini sudah menjadi istana. Kalau dilihat dari luar kota, bangunan ini menyembunyikan istana tempat tinggal raja dibaliknya, tapi aku tidak berpikir sisi belakang memiliki kastil dengan tingkat yang sama.

"Sekarang, dimana tempat tes-nya?"

"Sirius-sama, orang-orang berkumpul di sana. Terdapat juga anak-anak, jadi mungkin saja itu tempatnya"

Ke arah yang Emilia tunjuk memang ada kerumunan orang. Setelah semakin dekat, bisa terlihat suatu tanda pengumuman yang isinya {Tempat Pendaftaran Tes}. Ada juga sebuah bangunan dengan tulisan {Resepsionis} diatasnya, kamipun menuju ke sana.

Aku berpaling ke para pendaftar lain di perjalanan, tapi kebanyakan berpakaian layaknya bangsawan.

Ras binatang hanyalah minoritas. Meski begitu, ada anak bertelinga kucing atau kelinci, berbagai ras dengan telinga berbeda sedang mengobrol, berkumpul di tempat yang jauh dari para bangsawan. Sepertinya beberapa faksi sudah di buat.

Ada seorang pemuda berwajah muda yang duduk di meja resepsionis, dan memperhatikan kami. Dia mulai berbicara.

"Halo, apakah Anda datang untuk mengikuti tes pendaftaran?"

"Iya. Termasuk diriku, kami bertiga datang untuk mengambil tes"

"Aku mengerti. Ngomong-ngomong, apakah Anda semua membawa uang untuk pendaftaran? Maaf, tapi kadang ada yang kemari sebagai lelucon"

"Tidak apa-apa. Biayanya lima belas koin emas, kan?"

"Itu benar. Karena ada tiga orang, totalnya menjadi empat puluh lima. Sebagai imbalan atas koin emas, ini adalah barang untuk diserahkan kepada para pendaftar"

Sambil mengatakan itu, dia menunjukkan liontin bertahtakan permata giok pada kami. Sebuah angka terukir di bagian bawahnya.

"Ini sebagai bukti tes, teruslah gantungkan itu di leher kalian. Ini telah diukir dengan lingkaran sihir yang menyerang pemakainya jika dia meninggalkan area sekolah, jangan lari membawa itu"

"Bagitu ya. Kemudian, ini koin emasnya"

Uang yang aku dapatkan melalui berbagai hal, sirna begitu saja. Aku bukan menyesalinya, melainkan hanya emosional*.
[Mungkin dia mengingat masa-masa saat keluarga mereka berusaha mengumpulkan uang bersama Erina]

Setelah pemuda itu selesai menghitung koin-koin, dia memasukkannya ke dalam kotak dan memberi kami masing-masing satu liontin dan selembar kertas. Tampak seperti pamflet panduan sekolah.

Kamipun memakai liontinnya, dan membaca pamflet ini di tempat agak jauh dari sana.

Tes awal akan dimulai beberapa jam lagi. Setelah berkumpul di paviliun sekolah, yang pertama adalah menulis profil diri sendiri. Dikatakan bahwa mereka yang tidak dapat membaca ataupun menulis, tidak memenuhi syarat untuk diterima. Kau juga tidak dapat berkonsultasi dengan siapa pun di tempat, jadi pada saat itu, kau resmi dinyatakan keluar.

Setelahnya, lima anak akan dipanggil secara bersamaan untuk menjalani wawancara dan tes praktek. Sejumlah guru akan melakukan penilaian dengan cara membagi anak-anak itu dalam beberapa ruangan. Pergantian giliran nampaknya tidak buruk.

Lulus atau gagalnya seseorang akan diumumkan segera. Beberapa hari kemudian upacara penerimaan siswa barupun diadakan....begitulah informasinya. Ngomong-ngomong, ketika kau gagal dan menyerahkan liontin ini kepada pihak sekolah lagi, lima koin emas akan dikembalikan.

Untuk dunia seperti ini, pelayanannya sangat baik. Aku jadi berpikir inilah bukti bahwa sekolah sekaligus kepala sekolahnya cukup hebat.

Ketika menceritakan pemikiranku kepada kedua bersaudara, mereka menunjuk nama kepala sekolah yang tertulis di pamflet tersebut.

"Kepala sekolahnya bernama Rodwell. Ah, sepertinya dia adalah ras elf"

"Elf adalah ras yang hidup lama, kan? Keren! Dia mungkin sudah berumur lebih dari empat ratus tahun!"

"Kukira Elf merupakan ras yang sering diburu, tapi jika setenar ini mana mungkin dia ditargetkan. Aku ingin tahu orang macam apa dirinya"

"Sirius-sama telah bertemu dengan seorang elf sebelumnya kan?"

"Yah, begitulah. Aku jadi penasaran apa yang dia lakukan sekarang...."

Karena suatu peraturan, Fia tidak bisa meninggalkan hutan tempat tinggalnya selama sepuluh tahun. Sudah sedikit lebih dari tiga tahun sejak saat itu, pertemuan masih jauh di masa depan.

"Nah, karena sudah memiliki informasi yang cukup, ayo pergi paviliun. Nomorku adalah....Seratus lima puluh enam"

"Punyaku seratus lima puluh lima"

"Aku seratus lima puluh empat!"

"Aah, aku satu-satunya yang akan pergi dengan kelompok lain, ya. Ini bukan sesuatu yang harus aku katakan sekarang, tapi....percayalah pada kemampuan sendiri dan bertindaklah seperti biasa. Lakukan yang terbaik"

""Ya!!""

Kamipun mengikuti tes pendaftaran.

☆☆☆☆

Bagian 3

---Sudut Pandang Rodwell---


Aku adalah kepala sekolah Akademi Elysion, Rodwell.

Cukup menyenangkan ketika tahu banyak anak-anak yang energik berkumpul di tahun ini juga.

Nah, meski tes dimulai beberapa hari dari sekarang dan seterusnya, namun hari pertama memiliki tes paling banyak.

Dari penjelasan resepsionis, terdapat 163 pendaftar pada hari ini.

Jika seperti tahun lalu, ini akan mencapai tiga ratus. Tapi sesuai dugaan, hari pertama memang paling sulit.

Setelah peserta ujian selesai menulis profil masing-masing, mereka selanjutnya akan dipanggil ke kamar terpisah dalam kelompok lima orang untuk memulai wawancara.

Bahkan jika dikatakan profil, itu hanya hal sederhana berupa mencantumkan nama, atribut, dan sihir yang kau sukai. Guru di sekolah ini secara pribadi memeriksa mereka sambil melihat profil, dan memutuskan hasilnya setelah menyaksikan sihir para pendaftar. Umumnya ada 10% kegagalan yang disebabkan karena terlalu tegang atau kekurangan kemampuan, tapi apa boleh buat. Kau harus mencoba lagi atau menyerah jika kau tidak mau menghadapinya.

Nah, wawancara memang semacam itu, namun....mereka takkan pernah mengira bahwa ada aku, sang kepala sekolah bercampur di antara para guru. Tentu saja setelah menyamarkan diri, takkan ada yang tahu bahwa diriku adalah elf.

Aku memang tidak dapat melihat semuanya, tapi menyaksikan anak-anak melakukan yang terbaik seperti ini sudah cukup menyenangkan. Inilah yang agak kunantikan setiap tahunnya. Sedikit disayangkan karena terdapat beberapa masalah, seperti fakta bahwa diriku bersama Gregory-sensei. Dia adalah pria berbakat yang sangat mampu memanfaatkan atribut api dan bumi. Namun sikap sombongnya yang memandang rendah semua orang kecuali bangsawan, cukup menonjol.

Sejujurnya aku ingin segera memberhentikannya, tapi dia seorang bangsawan berpangkat tinggi, jadi akan menjadi hal yang merepotkan jika aku bertindak ceroboh. Sepertinya dia sedang merencanakan sesuatu akhir-akhir ini, aku sampai berpikir ingin menugaskan seseorang untuk mengawasinya.

Singkirkan dulu pikiran sedih ini. Ayo kita saksikan calon siswa baru yang akan menjadi bintang dimasa depan.

"Atributku adalah bumi. Aku belum bisa menggunakan sihir serangan, tapi aku pandai membuat boneka"

"Api adalah keahlian utama di rumah kami, dan aku juga hebat dalam hal api. Aku akan menunjukkan kepada kalian {Flame Lance}, yang telah diturunkan selama beberapa generasi!"

"Angin merupakan puncak segalanya, dan anginku adalah yang terkuat. Saat aku mendaftar, sebuah legenda akan lahir di sekolah"

"Orang seperti diriku datang untuk mendaftar. Jika seseorang dari rumah kami mendaftar, tanpa diragukan lagi sekolah ini akan menjadi lebih terhormat"

"Uhh....aku cukup bagus di sihir air. Aku tidak bisa menggunakan sihir serangan....dan sama sekali tak bisa menggunakan sihir api"

....Hmm, seperti yang diharapkan, kebanyakan dari mereka adalah para bangsawan.

Ada beberapa yang menjanjikan, tapi banyak juga yang sombong dan terlalu bangga dengan nama rumah* mereka.
[Ingat ya. Nama rumah itu kayak nama keluarga/marga]

Terutama ada beberapa yang sampai salah paham bahwa guru penguji bisa disuap. Sayangnya bahkan ada guru yang menerimanya....investigasi dan pembersihan akan dilakukan di masa depan.

Haa....dulunya banyak anak yang tidak terlalu bangga pada kekuatan mereka dan terus berlatih....akhir-akhir ini kualitas terus menurun. Aku menantikan tes masuk setiap tahun, namun kenyataan ini semakin membuatnya suram.

Para ras binatang yang tak mau belajar dari lingkungan luar karena disudutkan oleh anak sebaya-nya, hingga ke para bangsawan yang bertebaran sambil menyombongkan sihir mereka. Terutama bangsawan, mereka sangat buruk. Meskipun sekolah secara luas mengumumkan bahwa tidak akan membedakan status sosial, semakin banyak kasus dimana mereka mengacungkan nama rumah untuk mengancam orang awam dan ras binatang.

Mungkin sudah saatnya membangun rencana pensiun.

Ketika memikirkan itu....aku bertemu mereka.

"Nomor seratus lima puluh empat! Reus Silverlion!"

"Nomor seratus lima puluh lima, Emilia Silverlion"

Ruang wawancarapun menjadi berisik. Dua anak dari ras serigala perak, yang langka di benua ini telah muncul.

Melihat profil, nampaknya mereka adalah saudara kandung.

Namun, alasan kebisingan ini bukan karena adanya ras langka. Pakaian mereka merupakan hal biasa yang dikenakan petualang, tapi sikap mereka sungguh menakjubkan. Seluruh perilaku sangat sempurna, hingga hanya dengan satu bungkukan yang ditunjukkan tadi, bisa membuat mereka disalah kira sebagai petugas raja.

Selain itu, penampilan mereka juga. Dari rambut perak berkilau yang rapi sampai otot kencang yang merupakan pertanda mereka telah berkembang dengan sangat baik. Tertulis disini adalah orang biasa, tapi mereka sungguh anggun layaknya bangsawan.

Yang terpenting, keduanya sama sekali tidak tegang. Seakan berkata bahwa mereka berada di sini karena hal yang wajar, duduk sambil membusungkan dada penuh dengan kepercayaan diri .

"Hmph....'Bukan manusia' yang mengkhawatirkan penampilan mereka"

"Anda bersikap kurang sopan, Gregory-sensei"

Menyedihkan. Ras binatang atau bukan, penampilan sangat baik seperti ini begitu jarang muncul bahkan diantara para manusia.

Setelah pendahuluan adalah penilaian atribut, yaitu dengan menyentuh bola kristal. Ini juga dilakukan untuk menyelidiki apakah ada atau tidaknya kecocokan antara warna kristal dan apa yang tertera di profil.

Sepertinya Reus-kun adalah api, karena kristal bercahaya dalam warna merah. Namun itu merupakan merah yang begitu indah. Seakan mewujudkan bahwa inilah warna api sesungguhnya. Kilau merah yang membuat para guru merasa takjub.

Berikutnya adalah Emilia-kun, kristal bersinar dengan warna hijau dari kekuatan anginnya.

Semakin terang cahaya, semakin besar Mana yang tersimpan dalam diri. Hanya saja, kecerahan hijaunya mampu membuat beberapa orang menutup mata. Setingkat ini dengan mudah melampaui penyihir rata-rata. Tidak, dia bahkan mungkin lebih hebat dari para guru di sini.

Tiga lainnya dalam kelompok lima orang adalah normal. Tidak ada poin yang perlu disebutkan, jadi aku mengabaikannya.

"Nah, Reus Silverlion. Dapatkah kau menunjukkan kepada kami sihirmu?"

Akhirnya, praktek yang sudah kutunggu-tunggu dimulai.

Satu sisi pada ruangan wawancara terbuka ke luar, dimana ada target berbentuk manusia yang dibuat oleh sihir beratribut tanah. Tugasnya hanya mengenai boneka-boneka itu dengan sihir, tapi aku menanti-nantikan hal apa yang akan dia lakukan.

"Ummm.....sebenarnya aku tidak terlalu pandai dengan sihir jarak jauh"

"Apa? Jangan bilang kau tidak bisa melakukan {Flame} yang sederhana? Sesuai dugaan, mereka hanya setingkat ini"

"Gregory-sensei, Anda harus diam....Jadi, apa yang ingin kau lakukan, Reus-kun?"

"Sihir unik milikku, tapi aku harus mendekati target. Jika targetnya sejauh itu, aku mungkin takkan bisa mengenainya"
"Begitu ya. Magna-sensei, tolong"

Salah satu guru pengawas, Magna-sensei adalah pengguna sihir tanah. Baginya untuk menambah jumlah target bukanlah masalah sama sekali.

Dalam sekejap mata, muncul boneka bumi di hadapan Reus-kun.

"Kalau begitu, silahkan lakukan"

"Mengerti. Nyalakanlah api mengelilingi tinjuku....{Flame Knuckle}!!"

Saat dia meneriakkan nama sihir, api besar meledak dari tangan kanan anak itu. Nyala merah padam seakan menyelimuti kepalan-nya, namun tak ada tanda-tanda dia merasakan panas.

Kecuali saudara perempuannya, setiap peserta ujian dan guru melihat dengan linglung, dia lalu mengayunkan tinju itu ke sasaran. Bersamaan dengan suara nyaring, boneka bumi luluh lantah. Apa yang tersisa dari disana hanyalah bekas hangus dari suatu adegan tragis.

Tentu saja ada faktor kekuatan fisik. Hanya saja....pada usia delapan tahun sudah menguasai sesuatu yang tidak kalah dengan {Flame Lance}, ditambah mampu memendekkan mantra menjadi satu kalimat---sungguh menakjubkan.

Diriku telah hidup selama lebih dari empat ratus tahun, namun jarang menemukan pemakai api seperti anak itu. Memang sangat kuat, tapi ini juga bisa menjadi pedang bermata dua yang dapat membakar penggunanya jika ragu dan kehilangan kontrol.

Meski begitu, dia melakukannya dengan tenang tanpa sedikitpun kecemasan.

Entah dia cukup bodoh sampai tidak peduli jika dirinya terbakar atau orang yang mengajarinya sangat terampil. Tidak, dengan kontrol dan kekuatan setingkat ini, dia pasti menerima pengajaran dari seseorang.

"Cih....Bukankah itu sihir cacat yang tidak bisa digunakan kecuali kau di dekat target?"

Di sampingku Gregory-sensei berbisik, dia sungguh tidak mengerti. Kau memang tidak bisa menggunakannya jika tidak mendekati musuh, tapi bila sudah didekat musuh, kekuatan setingkat itu sudah cukup memutuskan pertarungan. Jika kau memandang rendah hanya karena dia ras binatang, kau akan diejek, bodoh.

"....Se-Selanjutnya, Emilia Silverlion, tolong tunjukkan sihirmu"

"Mengerti"

Setelah dengan anggun berdiri, sambil mengibarkan rambut peraknya yang panjang, dia mengarahkan tangannya ke arah sasaran.

Si adik telah menunjukkan sihirnya. Hanya karena dia adalah kakak, tidak berarti dirinya lebih kuat. Tapi meski begitu, aku masih mengantisipasi hal ini.

"Wahai angin, robeklah. {Air Slash}"

Apa?! Tidak hanya kecepatan pengubahan Mana yang lebih cepat daripada si adik, dia juga memperpendek mantra tingkat menengah sebanyak itu?!
Aku tidak percaya....namun angin bertiup kencang, jadi sepertinya sihir berhasil aktif.

"....Tak ada yang terjadi"

Sama seperti kata gregory-sensei. Walau jelas-jelas kena, targetnya tidak bergerak sedikit pun.

Aneh, pastinya ada tanda-tanda pengaktifan sihir....apa artinya ini?

{Air Slash} adalah sihir tingkat menengah yang melecutkan sebuah bilah angin pendek nan tajam. Harusnya ini dengan mudah memotong target semacam boneka bumi menjadi dua.

"Mengejutkan saja, inilah yang terjadi saat kau mencoba menggunakan sesuatu seperti sihir tingkat menengah. Cepatlah gunakan sihir dasar!"

"Tidak, ini sudah berakhir.....Dampak angin {Air Shot}"

Sihir barusan bahkan satu langkah lebih pendek dari {Air Slash}, tapi tetap saja, cepat!!.

Dia melepaskannya seolah hanya dengan mengayunkan tangan, kecepatannya sama....Tidak, lebih cepat dari guru sekolah ini!

{Air Shot} yang melesat hanya menabrak bagian kepala target, dan lenyap setelah sedikit menyentuh. Sihir ini harusnya memiliki kekuatan cukup untuk menghancurkan sasaran, meski begitu....bukankah ini hanya sedikit menggoncang target?

"....AP---?!?!"

Aku tidak tahu siapa yang berteriak. Mungkin itu disebabkan ketika kau melihat....sayatan yang tak terhitung jumlahnya muncul pada target, dan boneka bumi runtuh menjadi banyak bagian.

Dengan kata lain, tidak hanya satu bilah angin, setidaknya ada empat yang dilepaskan pada saat bersamaan. Kekuatan kontrolnya mampu mengendalikan jalur pisau-pisau tajam  dari sihir ini teralihkan sehingga membuat target tak jatuh kecuali disenggol.

Sekali lagi, siswa baru yang luar biasa telah muncul.

"Itu saja"

Setelah membungkuk dengan elegan, dia kembali ke tempat duduknya.

Nah, untuk hasilnya....tiga anak yang lain memenuhi persyaratan, juga tak ada hal yang perlu dikatakan tentang kedua bersaudara. Bahkan Gremory-sensei yang membenci ras binatang tidak mampu memberi kritik apapun.

"Kalau begitu, tak ada masalah jika mengatakan mereka semua lulus kan?"

"T-Tidak keberatan"
"Tidak keberatan juga"

"Kuh....Tidak keberatan"

Mendengar kata-kataku, kelima anak yang duduk mulai bersukacita dengan wajah yang pucat. Kecuali untuk kedua bersaudara, seolah berkata ini hal yang wajar, diam-diam senang sambil saling menepuk telapak tangan masing-masing.

Setelah itu mereka meninggalkan ruangan. Hanya saja karena rasa penasaran, aku berseru untuk menghentikan kedua bersaudara.

"Maaf, tapi bisakah kalian berdua menunggu sebentar?"

"Ya....ada apa?"

"Aah, kalian tidak perlu khawatir karena hasil sudah diputuskan dan takkan di ubah. Aku hanya ingin mengajukan beberapa pertanyaan"

Keduanya berhenti sambil keheranan, lalu menghadap ke arahku. Muncul suara decakan lidah di dekat sini, tapi aku akan mengabaikan itu.

"Kedua sihir kalian benar-benar luar biasa. Ngomong-ngomong, boleh aku tahu dari mana kalian mempelajarinya? Atau apa kalian melatihnya sendiri?"

"Kami diajari oleh orang yang paling kami hormati"

"Hou. Jika tidak apa-apa, bisakah kalian memberi tahuku namanya?"

"Sirius-sama. Orang yang merupakan master kami"

"Master? Kalian berdua petugas?"

"Itu benar. Dia adalah sosok hebat yang menyelamatkan dan mendidik kami. Kami sangat bangga menjadi petugasnya."

Dia menjawab dengan manis dan meyakinkan, adik laki-lakinya juga mengangguk.

Setelah menanyakan apa yang ingin di tanyakan dan membiarkan keduanya pergi, kami, para guru membicarakan itu sambil beristirahat sejenak.

"Kalian mendengar percakapan barusan kan? Ada yang pernah mendengar nama itu sebelumnya?"

"Tidak. Dari ketajaman angin itu, kupikir dia belajar dari Dora of the Storm*"
[Ini termasuk tanda bahwa cerita novel ini bakalan sangat panjang]

 "Aku juga tidak ingat pernah mendengarnya. Seorang penyihir yang bisa mengajarkan sihir seperti ini pastilah terkenal"

"Siapa yang peduli dengan seseorang yang membuat para 'bukan manusia' itu sebagai petugas!"

Aku tidak meminta pendapatmu.

Bagaimanapun, melatih para petugasnya hingga sangat kuat dan dihormati dari lubuk hati. Aku bertanya-tanya siapa Sirius ini?

Haruskah aku meminta sedikit lebih banyak tentang karakteristiknya? Yah lagipula, hasil pendaftaran mereka sudah diputuskan, jadi aku bisa menanyakan itu nanti.

"Unn....kepala sekolah. Lihatlah profil ini*"
[Yang tau Rodwell sedang menyamar hanyalah Magna-sensei]

"Hmm? Nama itu tidak disebutkan di salah satu profil mereka, kan?"

"Tidak, bukan pada profilnya, maksudku adalah nama dari peserta tes berikutnya...."

"Hmmm....Ini?!"

Nomor seratus lima puluh enam....Sirius Teacher.

Apakah sebuah kebetulan? Tidak, karena ini merupakan nomor urut, ada kemungkinan besar dia memiliki hubungan dengan kedua bersaudara itu. Usianya....delapan tahun?! Tak dapat percaya kalau dia melatih kakak beradik hingga sekuat itu. Apa dia memang orangnya?

Namun....aku merasa seolah ini terlalu bagus untuk menjadi suatu kebetulan.

"Dia sedang menunggu di ruang wawancara sebelah....Apa yang harus kita lakukan?"

"Tolong beritahu mereka segera bahwa kita akan bertanggung jawab atas dirinya di sini"

"Baiklah, aku mengerti!"

Setelah melihat guru itu yang segera pergi, aku bersandar dikursi dan menutup mata.

Tinju api Reus-kun, sihir angin Emilia-kun. Orang dengan bakat luar biasa yang belum kulihat dalam waktu lama, dua sekaligus langsung muncul disaat bersamaan. Selain itu, terdapat anak laki-laki dengan nama yang mirip seperti orang yang melatih mereka.

Sekarang....aku tidak tahu apakah dia adalah master keduanya atau tidak, tapi siapa sebenarnya dia?

Secara pribadi, aku berharap kalau dia memang master mereka.

Bagaimana dia melatih keduanya?

Seberapa banyak bakat yang dimilikinya?

Ketika tersadar, diriku kegirangan layaknya anak kecil. Berlawanan dengan usiaku.


☆☆☆Chapter 26 berakhir disini☆☆☆

>Catatan penulis : Aku sebenarnya ingin menyelesaikan wawancara si Main Chara di chapter ini. Tapi karena terlalu panjang, aku membaginya.

>Catatan penerjemah : Hmp. Baru segitu doank para guru udah terkejut ya. Gimana kalo tes-nya langsung latih tanding gitu dengan sesama peserta. Misal Reus ama Emilia. Wew XD



Comments

  1. Kayanya kekonyolan Noel diwariskan ke Reus dah ini,,, wkwk

    Ditunggu lanjutannya min,,,

    ReplyDelete
  2. di tunggu kelanjutannya
    semangat

    ReplyDelete
  3. hahaha yg melatih mreka adalah tanpa atribut >.<

    thx 4 chap min

    ReplyDelete
  4. Sehat selalu ya gan, trims 😁

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

108 Maidens chap 14 B. Indonesia

Kusoge Online (BETA) Bahasa Indonesia