World Teacher chap 27,5 B. Indonesia

Chapter 27.5 Selingan---Pencarian 3000 meter demi sebuah Pedang
Diterjemahkan oleh I-Fun Novel



☆☆☆☆

Ngomong-ngomong, pria tua itu mungkin sudah agak terlupakan. Tapi ayo kita membahas sebentar tentang Lior.

Sebenarnya, dia tidak tinggal di 'rumah' itu sekarang.

Cerita ini berlangsung satu bulan sebelum kami meninggalkan rumah.
Aku mendatanginya tanpa membawa Reus bersamaku.

"....Kau datang ya?"

"Yah....seperti yang direncanakan"

Ini adalah sesuatu yang kami telah putuskan terakhir kali aku berkunjung.

Untuk bertarung sungguh-sungguh pada waktu lain kami bertemu.

Sebagai bukti, Lior melengkapi baju zirah dan pedang favoritnya. Sementara diriku juga dilengkapi sepenuhnya dengan pedang yang kumiliki dari Dee, pisau mithril, pisau lempar, dan lain-lain. Kuputuskan untuk tidak menggunakan sihir pistol karena terkesan tidak adil.

"Ini mungkin yang terakhir kalinya. Tapi aku akan tetap meminta....jangan mati sebelum diriku, ya?"

"Kau juga, jangan mati"

Tak ada yang perlu dibicarakan lagi. Setelah itu, kami berganti tempat dan mencoba serius saling membunuh.

Aku memasuki posisi tempur dan bersungguh-sungguh mengayunkan pedangku sementara Lior menghempaskan pedang besarnya, masing-masing dipenuhi niat tajam membunuh. Inilah yang disebut pertarungan mematikan.

....Aku tidak ingat bagaimana kejadiannya berlangsung, karena kami benar-benar tenggelam dalam kegilaan.

Namun, jika berbicara tentang hasilnya....sekumpulan kawah telah tercipta di hutan, satu lengan Lior tertebas dan dia menjadi sekarat. Aku sangat lelah sampai-sampai tak bisa pulang, jadi hari itu merupakan pertama kalinya aku tidur di kediaman si pria tua.

Jujur saja, tidak aneh jika Lior meninggal saat itu. Tapi, dengan insting bertahannya dan perawatan medisku, hidupnya terselamatkan. Entah bagaimana, aku bisa menyambungkam lengannya kembali dan kurasa bisa digunakan lagi setelah istirahat yang cukup.

"HAHAHA!!!! Aku benar-benar mengira akan mati saat itu!!"

"Jangan tertawa, akulah yang akan merasa tertekan ketika seorang pria tua sepertimu tewas"

"Maaf, maaf. Tapi....aku tetap takkan menang, bahkan jika sekarang adalah masa jayaku"

Dia menunjukkan ekspresi sedih yang jarang. Namun, aku benar-benar berpikir bahwa dirinya luar biasa. Sampai bisa mendapatkan kembali kekuatan sebanyak ini di usianya, aku dari dunia sebelumnya bahkan takkan mampu melakukan itu.

"Apa? Kau benar-benar ingin pensiun kali ini?"

"....Itu sebaliknya!"

Meski sudah sekarat beberapa jam yang lalu, Lior mengepalkan tinju dan menunjukkan senyuman ganas. Haahh, jika kau mengepalkannya terlalu keras, pendarahan akan muncul lagi.

"Aku juga akan berangkat dalam sebuah perjalanan, bukan untuk mencari calon siswa....tapi untuk melatih diri!!"

"Hei hei, pikirkan usiamu!"

"Tidak masalah! Jika aku mati dalam prosesnya, maka kisahku akan berakhir, itu saja. Lagipula, kalau kau berhenti berkunjung, aku tidak punya alasan untuk tinggal di rumah ini lagi"

Nah, dengan diriku yang pergi ke sekolah, aku kira jaraknya akan sangat merepotkan untuk pergi kesini dari sana. Itu sebabnya, setelah berpikir ini akan menjadi yang terakhir, kami memutuskan untuk bertarung dengan serius. Tapi....begitu, ya?

"Aku mengerti. Ini adalah hidupmu, kau takkan mendengarkanku bahkan jika aku mengatakan sesuatu, kan?"

"Tepat sekali! Ngomong-ngomong, berapa kali kau bisa mampir lagi?"

"Hmm....kalau tak ada halangan, kurasa dua kali"

"Kalau begitu, bawalah siswamu, terutama Emilia!"

Kenapa Emilia? Anehnya, pria tua ini seolah kakek yang sangat menyayangi cucunya.

'Sebagai kakaknya, aku ingin bertemu dengan orang yang telah merawat adikku' dengan alasan itulah Emilia bertemu dengan pria tua ini sebelumnya.

"(Senang bertemu dengan Anda, aku kakak Reus, Emilia. Terima kasih karena selalu merawat adikku)"

"(Hoo? Betapa manis dan santunnya. Aku adalah pria tua bernama Lior. Maaf untuk selalu membuat adikmu babak belur)"

"(Tidak, dia nampaknya menikmati itu juga, jadi tolong jangan keberatan. Apakah sulit bagi Lior-sama ketika mengurusnya?)"

"(Jangan khawatir, aku juga bersenang-senang, jadi ini bukan masalah. Di sini, tidak banyak, tapi apa kau ingin minum teh? Ada juga beberapa jenis buah jika kau menginginkan sesuatu yang manis)"

"(Ah, aku akan menyiapkan itu sendiri Lior-sama)"

"(Hmm....jangan terlalu formal, bicara saja seperti kau sedang dengan keluargamu)"

"(Kalau begitu....Ojii-chan?)"

"(Ojii-chan?! O-Ooohh....perasaan suka cita apa ini yang memenuhi dadaku?!)"

"(A-Apa kau baik-baik saja, Ojii-chan?)"

"(OOOHHH?!?! Ti-Tidak apa-apa!!! Jii-chan sudah menjadi tak terkalahkan!!!!)"

Dengan begitu, Lior mulai menganggap Emilia cucunya sendiri.

Meskipun Reus berada dalam situasi yang sama, namun pria tua ini berkata bahwa kami tak dapat memperlakukannya dan Emilia dengan cara yang sama.

"(Bocah laki-laki itu* adalah siswamu, sedangkan aku seperti guru sementara baginya. Dia memang lucu dengan caranya sendiri, tapi tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Emilia!!)"
[Reus, maksudnya]

....Atau begitulah katanya.

Pria tua ini belum menikah. Dia dulunya punya beberapa siswa, tapi memperlakukan mereka seperti anak-anaknya sendiri.

Jika kita berpikir seperti itu, Reus dan Emilia yang bukan siswanya sendiri, akan nampak seperti cucu untuknya.

Dia mengajarkan cara bertarung menggunakan pedang kepada cucu tercintanya, betapa sederhananya pria tua ini.

"Boleh-boleh saja membawanya, tapi kenapa Emilia?"

"Karena aku ingin bertemu dengannya. Kalau Reus, aku memang ingin menunjukkan sebuah gerakan tersembunyi....hanya saja bukan sekarang"

Hei, setidaknya baliklah urutannya. Reus akan menangis, kau tahu.

Tanpa mengetahui itu, Reus terkagum-kagum ketika Lior menunjukkan 'gerakan tersembunyi'nya.



Terakhir kali aku menemui Lior adalah beberapa hari sebelum kami meninggalkan rumah.

Saat itu, dia sudah memakai perlengkapan dan telah membersihkan tempat tinggalnya, bersiap untuk perjalanan. Kurasa dia ingin segera pergi setelah selesai bicara.

"Pertama-tama, terimakasih. Aku sangat menghargaimu karena sudah menjadi tujuan baruku. Terima kasih"

"Aku sudah mengatakan ini berkali-kali, tapi jangan terlalu pedulikan itu. Aku juga bersyukur telah menjadi tujuan agar kau menjadi lebih kuat"

Setelah saling berjabat tangan, dia menyerahkanku sebuah tas kecil.

"Ini adalah sesuatu yang aku buat dan ingin memberikannya kepada siswaku dulunya, sebuah bukti kelulusan. Jika kau menganggap bahwa bocah laki-laki itu cukup pantas, aku ingin kau memberikan itu kepadanya"

Di dalam tas terdapat sepucuk surat dengan medali yang terukir pedang bersilangan.

"Tujuanmu Elysion, kan? Ada seorang pria tua eksentrik di sana dan merupakan orang yang telah membuatkan pedang tercintaku. Ini merupakan surat pengantar dariku agar dia mau membuatkan pedang untuk Reus"

Lior yang 'aneh' menyebut seorang pria tua sebagai eksentrik. Aku bertanya-tanya, seberapa absurdnya orang yang dimaksud.

Tapi, dengan bukti kelulusan dan surat pengantar itu, kurasa Lior juga menganggap penting Reus.

Kekuatan anak ini sudah berada di atas Emilia tapi dia tidak pernah membanggakannya. Paling tidak, aku ingin dia merasakan rasa superioritas tentang ilmu pedangnya.

"Yah, tentu saja senjata Emilia akan dibuatkan juga. Aku telah menulis 'Kalau kau memprioritaskan Reus dibandingkan Emilia, aku akan datang dan meninjumu'"

....Tak peduli seberapa kerasnya dia berlatih, sepertinya Reus takkan pernah menang dari kakaknya.

"Sampai jumpa ya!! Lain kali kita bertemu aku pasti akan menang!!"

Dan dengan senyuman lebar, pria tua yang usianya hampir 60 tahun, pergi merantau sekali lagi.

☆☆☆☆

Setelah banyak hal terjadi, sekarang merupakan dua hari sebelum kami menetap di asrama siswa.

Kami bertiga berjalan-jalan mengelilingi kota, mencari pria tua eksentrik yang diceritakan Lior.

"Dia hanya memberitahuku nama tokonya. Di kota sebesar ini, bagaimana kita bisa menemukan orang tua yang dimaksud?"

"Jii-chan berkata, pria tua ini sangat pendek dan agak gemuk. Selain memiliki nada suara yang menjengkelkan, dia juga seorang eksentrik yang selalu mengomel"

Tanpa sepengetahuanku, penghinaan tentang orang ini meningkat?

"Jika tidak salah, nama tokonya adalah Gekimetsu messatsu kongou kajiya*, kan?"
[Blacksmith penghancur pelenyapan vajra.... -_- ]

"Apa ada toko dengan nama seperti itu? Kurasa pemiliknya memang tak punya bakat penamaan"

"Ah, Sirius-sama. Bagaimana kalau kita bertanya pada orang-orang di warung itu? Warung itu tampaknya sudah tua, orang-orang yang ada disana pasti tahu banyak tentang daerah ini"

Tampaknya Emilia sudah memahami akan pentingnya informasi dan cara mengumpulkannya. Sementara menatap gadis ini dengan kagum, tak lama dia kembali dengan informasi sekaligus beberapa daging bakar tusuk*.
[Sate]

"Aku paham. Sepertinya kita perlu berbelok ke gang itu untuk sampai ke toko yang dimaksud"

"Ternyata dekat, ya. Ayo kita pergi sekarang"

Beberapa menit setelah kami memasuki gang dan terus maju, papan bertuliskan Gekimetsu messatsu kongou kajiya terlihat. Kamipun masuk ke dalam toko.

Aku sudah memikirkan hal ini saat melihat eksteriornya, tapi ketika melihat interiornya, aku agak mengerti. Bisnis di toko ini sedang tak berjalan dengan baik.

Papan namanya memudar, setumpuk debu menyelimuti tempat-tempat seperti rak dan pot. Tempat ini bagaikan rumah terlantar, tapi karena kami bisa mendengar suara pukulan palu dari dalam, kurasa ada seseorang di sini.

Dari tampilan sekilas, tempat ini terlihat tak memiliki niat untuk berbisnis, tapi gairah pemiliknya akan senjata tak boleh diremehkan. Seluruh senjata yang dipajang di toko ini sudah dirawat secara teratur.

"Ini tempatnya, kan? Permisi!!"

Tak ada respon atas teriakan Reus. Bunyi palu dari dalam pun belum berhenti.

"Oiii!! Permisi!! Kami datang sebagai pelanggan!!! "

Masih tak ada respon. Apakah telinga pemiliknya sudah tuli karena terlalu banyak mendengar bunyi pukulan logam?

"Keluarlah cepat!!! Orang idiot disana yang memiliki penamaan buruk!!!! "

"Apa yang kau katakan, kau idiot?!?!"

Aku bisa mendengar cercaan seperti itu dari dalam. Kesampingkan itu, bukankah Emila tahu kelemahan dari tempat ini?

"Jii-chan berkata jika kau berkata begitu dia akan menanggapinya"

Hubungan seperti apa yang dimiliki Lior dengan pria ini?.

Lalu....Orang yang keluar dengan marah adalah pria tua dengan tinggi badan tak berbeda dariku.

Rambut dan janggut yang panjang, tangan maupun kaki pendeknya tampak kokoh dan tubuh terlihat kuat. Pria tua ini adalah seorang Kurcaci.

Ras mereka menyukai alkohol dan kegiatan menempa. Dikatakan bahwa jika kau menginginkan senjata yang luar biasa, carilah kurcaci. Para kurcaci itu tahu banyak tentang bijih dan penempaan.

"Akhirnya, senang bertemu denganmu, aku dipanggil Sirius---"

"Aku punya prinsip untuk tidak berurusan dengan anak-anak dan bangsawan. Lagi pula, jika kau hanya ingin mengolok-olokku, pulanglah, idiot!"

"Hmm, kami datang ke sini dengan surat pengantar Lior dan bukan untuk mengolok-olok"

"....Hah?"

Kurcaci itu hendak masuk kembali, namun mengalihkan pandangnya lagi ketika nama Lior disebutkan.

"Inilah surat pengantarnya, dia bilang kau akan mengerti kalau membacanya"

"....Jika kau berbohong aku akan memukul dan membunuhmu dengan palu, kau dengar idiot?"

Orang ini, apa 'idiot' merupakan kata favoritnya?

Dia mengambil surat itu seolah-olah menyambarnya dan mulai membaca dengan tatapan seakan melihat musuh.

Tepat setelah membaca itu, dia meremas dan membuangnya. Pria tua ini lalu membariskan beberapa pedang besar yang dipajang pada etalase dari ujung kiri dan menunjukkannya ke Reus.

"Pegang dan ayunkan. Cobalah semua pedang ini dan katakan yang mana yang paling mudah kau gunakan"

"Aku mengerti!....Ohh, ini tidak sama dengan pedang di luar sana!"

Memang bagus karena ada ruang tersendiri untuk mengayungkan pedang disini. Namun, aku tidak terlalu setuju untuk mengayunkan pedang di dalam toko. Tapi karena pemiliknya tidak mengatakan apapun, mungkin memang tidak masalah.

"Tidakkah menurut Sirius-sama pisau ini luar biasa?"

Sementara Reus mengayunkan pedang itu dengan senang hati, Emilia menuju ke sisi lain. Dia memegang salah satu pisau yang dipajang dan terpesona.

"Nona, kau mengerti kualitas dari pisau itu?"

"Ya, ini tampak begitu tajam. Aku yakin daging sekeras apapun akan terpotong dengan lancar. Panjangnya juga sempurna"

"Begitu ya, aku tidak keberatan menjualnya kepada seseorang yang memahami nilai benda itu. Berapa anggaran yang kau miliki?"

Emilia menoleh padaku. Aku hanya memberinya anggukan, mengisyaratkan agar dia tidak ragu untuk melakukannya.

"Aku tidak punya banyak, hanya 5 koin perak"

"5 koin perak ya?....ini agak sulit"

Untuk pisau seperti itu, bahkan 1 koin emas pun akan dianggap murah olehku. Sebenarnya, kakak beradik ini telah kuberi masing-masing 1 koin emas sebagai uang saku, tapi....ayo kita lihat dulu seberapa banyak Emilia bisa menawarnya.

"Aku melayani Sirius-sama di sini, namun aku tidak terlalu bisa diandalkan disaat keadaan darurat. Maukah Anda melihat ini?"

"Hah? Hmm....itu benar-benar mengerikan ya, idiot"

Apa yang Emilia tunjukkan pada si kurcaci tua adalah pisau yang selalu dia gunakan. Itu merupakan pisau murahan yang bisa dibeli di manapun, tak heran kalau seorang profesional menyebutnya 'mengerikan'.

"Aku ingin lebih berguna bagi masterku. Untuk itu, aku sangat ingin memiliki pisau yang indah seperti ini. Hanya saja, sebagai pelayan, aku tidak ingin membebani masterku dengan pembayaran barang pribadi"

"Aku mengerti maksudmu. Tapi ini adalah bisnis, jadi...."

"Kumohon, Ojii-chan!!"

"Ojii-chan?! Perasaan suka cita apa ini yang memenuhi dadaku?!"

Ahh....reaksi yang sama persis seperti Lior.

"Aku juga memanggil Lior-sama 'Ojii-chan', jadi karena Anda merupakan kenalannya, kupikir harusnya sama....atau apakah itu tidak boleh?"

Emilia-san sungguh licik, ya. Dia memohon dengan mata menengadah, sebuah teknik perangkap madu yang dia pelajari untuk digunakan pada Lior sebelumnya.

"OOOHHH!!!!....Tidak masalah!!! Panggil saja aku semaumu!!! Aku akan memberikannya gratis, idiot!!!"

"Tidak, aku yakin memberikannya secara gratis terlalu berlebihan. Bagaimana dengan 5 koin perak?"

"Apa boleh buat. Jika nona bersikeras seperti itu, tidak apa-apa"

"Terima kasih, Ojii-chan"

"Idiot!! Ambil saja gratis!!"

Kurcaci tua yang menarik.

Tapi, kau tahu, pisau itu akan digunakan untuk memasak. Pisau yang gadis ini tadi tunjukkan padamu juga untuk memasak. Kalau dia tahu kebenarannya....Tidak, aku rasa dia akan memaafkan segalanya saat mendengar Emilia menyebutnya 'Ojii-chan' lagi.

Karena ada banyak hal di dirinya yang mirip Lior, mungkin keduanya bisa disebut 'Rekan dengan selera yang sama tapi saling membenci'.

Ketika Emilia terus memaksa 5 koin perak ke pria tua yang bersikeras gratis, Reus yang mengayunkan pedang dari tadi memanggil.

"Oi, Occhan, aku sudah selesai mengayunkannya!"

"Haa? Lalu idiot, mana yang paling cocok untukmu?"

"Yang kelima dan keenam, kurasa? Keduanya mudah digunakan"

"Hmm....tampaknya kau memiliki kemampuan yang langka ya, idiot?"

"Aku bukan idiot! Namaku Reus!"

"Kau idiot! Kau benar-benar siswa Lior, kan? Pilih saja senjata yang sama dengannya"

"Aku Reus! Dan aku bukan siswanya, aku siswa Aniki. Dan, apa maksudnya dengan senjata yang sama?"

"Kau idiot!"

"Aku Reus!"

Pembicaraan takkan berkembang jika si eksentris dan si kepala angin bertemu.

Karena obrolan itu terlalu sia-sia, aku memutuskan untuk turun tangan dan meringkasnya.

"....jadi alasan Anda menyuruhnya mengayunkan berbagai jenis pedang, adalah untuk membedakan kemampuannya?"

"Benar! Setiap orang memiliki kecocokan sendiri dengan sebuah pedang. Misalnya, pedang yang ringan dan tajam atau pedang berat yang berpusat pada kekuatan penghancur. Terdapat banyak jenisnya, idiot!"

"Aniki bukan idiot!"

"Tenanglah Reus, itu hanya kebiasannya. Jadi, tipe pedang mana yang cocok?"

"Pedang yang berat dan tajam, mungkin. Dengan melihat pusat gravitasinya, dia memiliki kemampuan yang serupa dengan si bajingan Lior*. Astaga, dia sampai menamkan ajarannya sejauh itu, bocah ini pasti sangat disukainya"
[Lio-Yarou....ku artikan aja Si Bajingan Lior]

Meski dia adalah pria bertubuh gempal dan aneh, tapi keahlian dan tatapannya merupakan hal yang serius.

Reus sering mengeluh tentang betapa ringan pedang miliknya, dan mempertimbangkan tentang kurcaci tua ini---sebagai pencipta pedang besar Lior---, kurasa bagus untuk menyerahkan pembuatan senjata Reus kepadanya.

"Kalau begitu, bisakah Anda membuatkan pedang yang sesuai dengan Reus? Kami tidak memiliki banyak uang sekarang, tapi kami pasti akan membayar sisanya pada hari terakhir senjata itu selesai"

Aku mengambil 5 koin emas dari saku pakaianku dan meletakkannya di atas meja. Jujur saja, menurutku ini memang kurang, tapi menunjukkan ketulusan adalah yang terpenting disini.

"Ini dariku juga, tolong"

Emilia juga mengeluarkan 1 koin emas dari saku bajunya. Tunggu, Emilia? Keputusanmu memang baik. Tapi, dengan begini kau bisa ketahuan kalau memiliki koin emas.

"Aniki....Nee-chan...."

"Hehh....Bajingan itu ternyata dikelilingi oleh orang-orang idiot, ya"

Tapi kelihatannya si kurcaci tak memperdulikannya. Karena kedua anak ini tampak tergerak oleh suasana, ayo kita dorong lebih jauh.

"Kami takkan meminta sebuah pedang indah seperti yang Anda buat untuk Lior. Melainkan sebuah pedang yang bisa menyaingi pertumbuhan anak ini, hingga dia semakin kuat"

"....Aku tidak ingin membuat pedang setengah hati seperti itu!"

"Jadi, itu tidaklah mungkin, ya?"

"Salah!! Aku hanya berkata tidak ingin membuat pedang setengah hati seperti itu! Yang akan kubuat adalah sebuah pedang, senjata yang mampu mengiringi kemampuannya hingga dia dewasa!"

"Dengan kata lain....Anda akan membuatnya?"

"Benar! Sudah lama aku tidak menempa dengan kekuatanku yang sesungguhnya. Lenganku bergemuruh, idiot!!!"

Aku merasa sedikit cemas ketika membayangkan sosoknya mengayunkan palu di kedalaman toko dengan penuh antusiasme dan terengah-engah. Namun, bagian bagusnya adalah masalah pedang Reus telah terpecahkan.

"Kau bisa membayar ongkosnya kapanpun"

"Tapi, harusnya ada biaya untuk hidup atau bahan-bahannya kan?"

"Aku memiliki tabungan jadi tidak apa-apa. Tentang biaya hidup, kurasa kalianlah yang lebih membutuhkannya. Kalian, para bocah juga tidak harus mencemaskan biaya bahan-bahan dan sejenisnya, idiot!"

"Begitu ya. Jika Anda butuh sesuatu, tolong katakan saja. Walau terlihat seperti ini, kami sebenarnya cukup kuat. Jadi, setidaknya kami bisa membawakanmu bahan-bahan yang sederhana"

"Andalkan kami juga, Occhan!"

"....Aku baru teringat, surat ini juga menjelaskan sesuatu seperti itu ya? Ini mungkin adalah takdir. Hei, kau yang disana....beritahu namamu"

"Sirius. Anda sendiri?"

"Aku Grant. Si bajingan Lior menuliskan bahwa kau merupakan anak kecil yang hebat dan cerdas. Aku punya sesuatu untuk didiskusikan denganmu"

Karena dia mulai berbicara dengan ekspresi masam, aku memutuskan untuk mendengarkan cerita Grant-san.

Sepertinya kurcaci tua ini punya sedikit masalah dalam mencari ide-ide baru. Dia menginginkan rangsangan agar mendapatkan inspirasi.

"Bahkan jika aku mampu membuat senjata khusus, ada banyak orang yang juga mampu untuk membuatnya. Aku tidak merasa berkembang walaupun berhasil menciptakan sesuatu. Apa kau punya ide yang menarik?"

"Hmm....untuk saat ini, aku mempunyai senjata yang tidak biasa. Apa Anda ingin melihatnya?"

Aku lalu menunjukkannya pedang ringan yang didapat dari Dee dan pisau mithril yang didapatkan dari Fia. Dia menatap keduanya dengan penuh perhatian, terutama pada pedang ini.

"Tak ada yang istimewa dari pisau ini kecuali bahannya yang dari mithril. Tapi....pedang ini aneh. Dugaanku adalah pedang ini terbuat dari bijih itu"

"'Bijih itu'....jadi Anda tahu dari bahan apa pedang ini dibuat?"

"{Graviton}, awalnya merupakan bijih yang sangat padat dan berat. Untuk pedang sependek ini, takkan aneh jika beratnya bisa mencapai 30kg*. Tapi aku bahkan tidak bisa merasakan beratnya"
[Jika kalian lupa, satu pedang Sirius yang diberikan Dee pada chap 7. Panjang bilah 50cm dengan sedikit ornamen]

"Kalau begitu, pedang ini memang memiliki rahasia?"

"Aku yakin. Mungkin dari pola yang terukir di bilahnya, atau mungkin ada sesuatu di pegangannya. Ini diluar pengetahuanku, jadi aku tidak begitu tahu, idiot"

"Terima kasih banyak. Mengetahui sebanyak ini sudah cukup bagiku"

Sepertinya Grant-san tidak terlalu mendapat banyak ransangan untuk ide, tapi bagiku ini memberi cukup rangsangan. Pedang ini memiliki rahasia melampaui perkiraanku. Ada nilai dalam menyelidikinya.

"Ini memang cukup menarik, tapi apakah ada hal lainnya, idiot?"

"Kalau begitu, bagaimana dengan yang seperti ini? "

Aku lalu berbicara tentang teknik pembuatan katana.

Katana tidak dibuat dengan hanya satu lapis besi. Melainkan dengan shintetsu/inti besi, yaitu besi lunak sebagai bagian pusatnya, dan kawatetsu/kulit besi, yaitu besi padat nan keras sebagai pembungkus untuk bagian luarnya. Itulah yang disebut katana. Dengan demikian, shintetsu yang lembut di dalam akan menyerap dampak benturan dan mencegah katana pecah, sedangkan kawatetsu yang keras di bagian luar akan mencegahnya membengkok.
Sayangnya, aku hanya memiliki informasi tentang pedang, bukan cara membuatnya. Aku merasa ini akan berguna sebagai ide, tapi....

"KAU IDIOOTTTT!!!!!"

....Gendang telingaku sakit.

Diapun menghempaskan palu ke lantai hingga lantai kayunya pecah.

"Shintetsu dan Kawatetsu, ide yang konyol!!! Jika aku bisa memahaminya, ini akan menjadi hal yang menakjubkan!!!"

Ya ampun, si kurcaci tua ternyata dilimpahi emosi. Namun, memecahkan lantai kayu terlalu berlebihan, kan?.

"Tapi, aku tidak tahu bagaimana membuatnya"

"Kau idiot!! Itu pekerjaanku untuk menemukan caranya!! Oohh....diriku terbakar!!!"

Dia sekali lagi mengayunkan palunya ke sekeliling, tenggelam dalam kegembiraan.

Sekarang, jika Grant-san melihat masalah kami yang lain, mungkin akan berakhir juga. Haruskah aku mengingatkannya?

"Hmm....dan jangan lupakan tentang pedang Reus, ya?"

"Aku tahu. Tapi, bahannya tidak cukup sekarang. Butuh waktu untuk mendapatkannya lagi. Tunggulah sebentar, idiot"

"Juga, karena belum bisa mendaftar di Serikat Petualang, kami belum bisa menjual hal-hal yang didapatkan dari monster. Jadi, kalau tidak keberatan, Grant-san bisa membeli bahan yang dibutuhkan dari kami"

"Begitu ya? Boleh-boleh saja. Tapi jika itu adalah bahan yang remeh, aku tidak membutuhkannya. Namun, dalam kasus terburuk, kau bisa menjualnya ke Serikat Petualang melalui diriku"

"Terima kasih banyak. Kalau begitu.... ummm, kami akan membawa bahan itu ke Gekimetsu messatsu kongou kajiya"

"Kau idiot! Ini adalah Gekimetsu massatsu kongou kajiya!!"

Hanya berbeda satu huruf, yaitu Messatsu Dan Massatsu....yah, terserahlah*.
[滅殺/Messatsu : pelenyapan. 抹殺/Massatsu : penghapusan]

"Si brengsek Lior juga, berkata bahwa Kyokuten Haou Guren Ken yang kuciptakan terlalu merepotkan untuk diucapkan, dia lalu hanya menyebutnya Guren!! Dia lah yang tidak mengerti kualitas penamaanku, idiot!!!"
[Pedang Crimson sang Penguasa Agung Kutub]

Satu suara untuk Lior dariku.

Sepertinya Emilia memiliki pendapat yang sama. Wajahnya menjadi kaku dengan memaksa diri untuk tersenyum.

"Aku pikir Kyokuten Haou Guren Ken adalah nama yang bagus!"

"Kau mengerti ya, bajingan Reus!*"
[Tulisannya juga Reu-Yarou]

Reus....kau juga ya?.

Tidak apa-apa untuk belajar dari yang tua tapi....Entah sifat gila bertarung Lior atau rasa eksentriknya Grant-san, aku merasa dia hanya menyerap hal-hal aneh dari lingkungannya.

Pemikiran ini memang telah berulang kali muncul. Hanya saja, aku sangat khawatir tentang masa depan anak ini.

"Sirius-sama....ayo kita didik anak itu dengan baik"

"Kau benar, kita usahakan saja"

Sambil menyaksikan kedua orang yang tertawa, kami berjanji di kedalaman lubuk hati untuk tidak membiarkan Reus melenceng lebih jauh lagi.


☆☆☆Chapter 27.5 berakhir disini☆☆☆

>Catatan penulis : Aku menulisnya sebanyak setengah hal yang biasanya kutulis.

Awalnya ini bukan cerita utama melainkan cerita singkat. Tapi, aku pikir ini agak berbeda karena berisi pembahasan sepele sebagai cerita yang lucu. Jadi, aku akan dengan cepat beralih ke cerita utama selanjutnya.


>Catatan penerjemah : Hmmm, berkutat di sekitar Flashback ya. Daripada pusing, aku ngasih tanda kurung () ke dialog masa lalu. Yah, kayak dulu.


Ke Halaman utama World Teacher
Ke Chapter selanjutnya

Comments

  1. Cerita sampingan pun masih menarik buat dibaca,,,

    Lanjut min,, semangat,,,

    ReplyDelete
  2. Bagus,certa sampingan maupun yg utama keduanya memang bagus ,makasih min lanjut terus

    ReplyDelete
  3. Gak di buat sampingan juga enak bacanya..

    ReplyDelete
  4. Maaf admin, ini translate dari mana y?
    Apakah langsung dari original light novelnya yang berbahasa Jepang?
    Karena saya sudah baca sampai volume 12 dari light novel bahasa Inggrisnya.
    Dan saya menemukan banyak ketidak cocokan. Mohon segera dibalas.

    Kalau memang benar menerjemahkan dari light novel Jepang, boleh saya minta linknya?

    Terima kasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. World Teacher yg kuterjemahkan adalah versi Web Novel/WNnya, disertakan ilustrasi dari Light Novel/LN. Untuk chapter-chapter awal, aku memfokuskan dengan hasil terjemahan Omega Harem Translation. Dan yg berikutnya adalah Defiring Translation, lalu Bayabucostranslation. Sebenarnya, aku bisa juga menerjemahkan dari RAW. Namun, ada berbagai kosakata jepang yg kadang membuatku bingung (sebut saja, kurang mampu di bidang sastra jepang). Sedangkan cerita selingan ini berasal dari Bayabuscotranslation (https://bayabuscotranslation.com/2016/03/12/world-teacher-volume-4-intermission-non-edited-searching-3000-meters-for-a-sword/).

      Btw, bisa disebutkan sedikit, bagian mana yg memiliki ketidak cocokan??

      Delete
    2. Kurasa balasanku diatas perlu diralat. Coba cek RAW WNnya di syosetu, agan mungkin akan terkejut dengan perbedaannya. Jika agan belum bisa membaca sastra jepang, maka setidaknya agan bisa merubahnya dulu ke inggris (men-TL chapter berbahasa jepang ke bahasa inggris lewat google TL) Aku sudah mencobanya tadi dan itu agaknya berhasil. Yah, walaupun ada beberapa yg amburadul. Tapi disana agan mungkin mengerti kalau banyak bagian di Bayabuscotranslation yg dipersingkat dan sedikit dirubah (mungkin agar lebih cocok/enak dibaca inggrisnya)

      Singkatnya kayak begini :

      1. Omega Harem Translation merupakan terjemahan alternatif (terjemahan yg mengambil hampir persis versi RAW, namun 'mengubah' beberapa bagian kata2nya agar lebih enak dibaca di versi english).

      2. Defiring Translation adalah terjemahan english WT yg hampir 'Sama persis' dengan RAW (Tanpa banyak menyingkat/mengubah kata2nya).

      3. Sedangkan Bayabuscotranslation merupakan versi terjemahan english yg memiliki banyak bagian yg 'Disingkat' dan agak 'Dirubah' (mungkin untuk mencocokkan/lebih enak dibaca di versi english)

      Ini mungkin agak kurang sopan. Pernahkah agan membandingkan terjemahan Bayabuscotranslation dengan Defiring Translation?? Atau Defiring Translation dengan Omega Harem Translation?? Aku bukannya mengkritik mereka. Namun, tiga situs english utama diatas memiliki 'Gaya terjemahan yang berbeda-beda'. Tentunya, pemberian nama tentang siapa yg lagi ngomong, '(Sirius), (Emilia), dll' itu sebenarnya gak terlalu ngaruh. Pikirkanlah kalau itu merupakan keputusan dari penerjemah versi englishnya, yg sebenarnya gak pernah ada di versi RAW. Meski gak dikasih hal seperti itu, aku yakin dialog di WT bisa dipahami dengan mudah. Misal, jika Emilia yg lagi ngomong dengan Sirius, maka dia akan menyebutnya "Sirius-sama". Sedangkan Reus memanggilnya "Aniki".

      Delete
    3. Oh, sial. Ralat lagi. Ini bukan dari Bayabusco, melainkan dari https://omwnta.blogspot.co.id/2016/05/world-teacher-chapter-275-3000-meter-of.html . Pantesan aku mikir "Kok ini beda dari yg terakhir kali". Sorry & terimakasih sudah memberi tahuku tentang hal itu ^_^ jika terjemahanku memiliki suatu kesalahan atau apapun yg membuat terjemahanku buruk, jangan sungkan untuk menuliskannya di Pojok Rekomen Kritik dan Saran ^_^

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

108 Maidens chap 14 B. Indonesia

Kusoge Online (BETA) Bahasa Indonesia