World Teacher chap 29 B. Indonesia

Chapter 29 Siswa Dibawah Standar yang Beratribut Air*
Diterjemahkan oleh I-Fun Novel

[Kata aslinya itu Irregular (rettousei) tapi aku gak bisa mikir arti yg pas -_- ]

Bagian 1

"Rasakan ini, Tak kompeten!!"

Seseorang datang mengayunkan turun pedang kayu dari belakang, aku mengelak dengan satu kali langkah mundur dan berputar setengah lingkaran. Tatapan kamipun bertemu.

Mungkin dia mengira akan mustahil untuk menghindari serangan mengendap-endap dari belakang. Wajahnya diwarnai dengan kejutan saat kepalan tinjuku meresap ke dalam perutnya.

"Gahkg?! I-Ini...."

Sebelum orang itu terjatuh, aku mengambil langkah selanjutnya.

Aku memungut pedang kayu pria itu dan melemparkannya ke orang lain pada saat bersamaan, namun orang tersebut berhasil membelokkan pedang kayu yang dilemparkan secara reflek. Ketika fokusnya mulai beralih padaku, aku bergerak kesamping dan berpindah ke belakangnya sambil tetap menjaga jarak agar tetap pendek. Pihak lain pun kehilangan pandangannya terhadap diriku.

"Hei, aku di sini"

Aku menekan gerakannya dengan melingkarkan lenganku langsung ke leher. Ini bukan penjelasan yang akurat, namun akan lebih mudah dimengerti jika aku digambarkan sedang membuat seseorang tersedak.

Di keadaan ini lawan tak bisa lepas dengan mudah, bahkan dalam kasus yang lebih ekstrim akan lebih mustahil lagi untuk bisa lolos. Misalkan jika kedua kakinya terjegal, tapi kali ini aku hanya menangkap lehernya. Lama-kelamaan dia pasti akan lebih memberontak, jadi agar dirinya mengerti aku mulai berbisik ditelinganya.

"Apa kau ingin berhenti?"

Meski mau menjawab, laki-laki ini tak mampu berbicara apapun karena lehernya yang tertahan, dia lalu mangangguk-anggukan kepala sedikit. Ngomong-ngomong, kedua petugas disisi lain membuat keributan dengan berteriak bahwa aku pengecut dan sebagainya, hanya saja mereka tidak bertindak sama sekali. Pengecut ya....Aku ingin mengembalikan kata itu kepada mereka.

"Jika kau ingin aku berhenti, ketuk tanganku dua kali. Tapi---....."

Sebelum mulutku selesai berucap, tanganku sudah diketuk. Oi oi, kemenangan serasa sia-sia karena kau tidak terlalu menantang. Sesuai janji, aku melepaskan apitan lenganku. Dia lalu tertawa sambil menoleh ke belakang.

"Kau bodoh---Owaaa?!?!"

Sebelum sempat mengayunkan pedang kayunya lagi, aku membuatnya jatuh dengan sapuan kaki. Kau meremehkanku karena mengira aku takkan pernah memprediksi itu. Selanjutnya, aku mengambil pedang kayunya yang tergeletak di tanah, dan menyodorkannya ke wajah orang yang terjatuh.

"Hiii?!"

Tentu saja, aku tidak menusuk dengan serius. Pedang ini menembus ke tanah tepat di sebelah matanya, menggores kulit sedikit. Bilahnya setengah terkubur di tanah, dia akan mengerti apa yang akan terjadi jika aku menusukkan ini dengan kekuatan penuh. Misalnya, jika pedang kayu ini mengenai kepalanya langsung, tak peduli apakah ini pedang kayu atau bukan, kehidupannya akan lenyap seketika.

"....Takkan ada lain kali"

"A....AAAAHHH?!?!...."

Mengatakan itu sambil menatapnya, aku bisa melihat bola matanya berputar menjadi putih dan pingsan karena ketakutan. Mungkin terlalu berlebihan, tapi rasa takut cenderung membuat lawan yang bodoh memahami ini lebih jelas. Rasa takutnya memang akan memudar seiring berjalannya waktu, hanya saja dia takkan sadar untuk sementara.

"Orang ini....apa ini sungguhan?"

"Oi, bagaimana dengan kalian?"

Karena dua petarung mereka tak bisa melanjutkan, sisa kemenangan kedua hampir petugas lenyap begitu saja. Ketika aku mendekat sambil tersenyum, keduanya gemetar oleh kekesalan.

"Sementara aku menahannya, gunakan sihirmu!!"

"Baiklah!!"

Oi, oi, mengucapkan rencanamu begitu santai dihadapan lawanmu?

Selagi diriku takjub, salah seorang petugas berbegas kemari dan menyerang, namun aku menghindarinya dengan mudah. Aku bisa mengincar kelemahan pada perut yang celahnya terbuka lebar, hanya saja kurasa aku akan mendidik kalian sedikit. Sekalipun kau bangsawan, sihir tak boleh digunakan secara berlebihan di sekolah....ya kan?

"Ayoooo!!! Apa yang terjadi dengan kekuatan itu sekarang, haa?"

Meski seorang bangsawan, kurasa dia punya pengalaman karena gerakannya tidaklah buruk.

Sambil berusaha menghindar setipis mungkin, aku mengingat ini seolah-olah pertempuran antipersonel. Kemudian, anak di belakang akhirnya telah selesai memantrai.

"Lepaskan panah api....{Flame Arrow}, pergi! Habislah kau!!!"

{Flame Arrow} dan [Flame Lance] merupakam sihir atribut api tingkat menengah. {Flame Arrow} adalah api tipis yang memiliki panjang kira-kira 50 sentimeter, namun kekuatannya rendah. Jika digunakan dengan buruk, ini bisa menyebabkan dampak serius seperti luka bakar dan benturan, jadi bukan sihir yang bisa digunakan dengan santai. Karena panah yang dia lepaskan menuju langsung ke arah sini, dia lalu mengisyaratkan agar rekannya menghindar.

"Aku menger---guaa?!"

---Hanya saja, aku menangkap kerah orang yang hendak tiarap dan melemparkannya ke arah {Flame Arrow}.

"Be-Berhenti!!!!"

"Aahh?!?!"

Tangan yang melambai ke bawah itu takkan bisa berhenti. Seorang petugas dan {Flame Arrow}-pun bertabrakan di udara, dengan dampak langsung diiring bunyi ledakan kecil, anak itu berguling-guling ditanah. Nah ini sebagai pelajaran, jika kau menggunakan sihir secara serampangan, itu mungkin akan meleset dan malah mengenai temanmu sendiri....yah, begitulah.

Jika ini adalah pakaian biasa, hal itu akan menyebabkan luka serius. Namun, baju yang disediakan oleh sekolah kami begitu kokoh dan memiliki ketahanan yang sangat bagus terhadap sihir. Sedangkan untuk {Flame Arrow}, luka bakar dan memar kurasa cukup untuk menyadarkan mereka.

"Brengsek!!! Aku memohon, kekuatan besar yang berfungsi sebagai inkarnasi api...."

"Haa?"

Apa yang kau pikirkan? Tak ada lagi penyerang garis depan atau apapun yang bertugas sebagai tamengmu. Apa kau membuat ini seperti lelucon karena terlalu panik? Aku lalu berdiri di depan petugas yang nampaknya masih mengantuk itu dan memukul pipinya pelan.

"Geh?! Apa yang kau lakukan?!"

"Tidak, hanya saja kau penuh dengan celah"

"Berisik!! Jatuhlah, Tak Kompeten!!"

Karena mantranya terputus, dia mengayunkan tinjunya, akupun menghindar dengan ringan. Kupikir dia akan mendatangiku lagi, namun dia malah mulai mengucapkan mantra untuk kedua kalinya.

"Aku memohon, penjelmaan api....buuu?!"

Tentu saja mantrannya terhenti. Karena tamparanku sedikit lebih kuat, dia terhuyung-huyung dan hampir roboh.

"Si-Sialannn...."

"Ada banyak celah....apa kau bodoh?"

"Berisik! Jika sihirku berhasil mengenaimu, kau akan...."

"Ini adalah dampak, {Impact}*"
[Shokugeki yo, {Impact}]



Sebuah peluru kejut meluncur menggores pipinya, dan menusuk pohon di belakang. Ketika dia menengok kesana untuk mencari asal suara kehancuran itu, wajah yang awalnya merah padam kini berubah menjadi pucat pasi.

"Lain kali aku takkan melenceng. Berikutnya adalah perut....atau mungkin saja wajah"

"K-Kau....Apa kau kira bisa melakukan hal seperti ini dan lolos begitu saja?"

"Eh? Bukankah kita sedang bertarung? Dan menurutmu apa yang akan dilakukan oleh Mark, master kalian, jika dia tahu tentang situasi ini?"

Karena dia tahu karakter Mark, maka akan bisa dimengerti. Jika situasi ini dilaporkan, kau akan dihukum. Dan jika kepala keluarga yang mengetahuinya, posisimu akan terancam.

"Mula-mula, bagaimana kau akan menjelaskan kejadian ini? 'Aku bersama rekan-rekanku yang bersenjata menantang si Tak Kompeten yang tak bersenjata'....seperti itu?

"Guh....gugu...."

"Jika apa yang terjadi di sini menyebar, posisimu akan sangat jatuh. Para bangsawan akan menertawakan kekalahanmu oleh seorang Tak Kompeten, bahkan rakyak jelata akan menjelek-jelekkanmu karena masih kalah walaupun menggunakan trik pengecut"

"Si....SIALAANN!!!"

Dia tak memiliki apapun untuk membalas, hanya bisa memukulkan tinjunya ke tanah dengan lemah. Karena dia benar-benar putus asa, aku akan menyebut ini sebagai kemenangan gemilang.

"Kalau begitu, aku permisi dulu. Aku tidak memiliki kebiasaan untuk menyebarkan rumor, tapi akan kupastikan kekalahan kalian ini agar tidak bocor"

Aku memunggungi mereka dan kembali ke tujuan semula. Untuk berjaga-jaga, aku memusatkan kewaspadaan ke punggungku, tapi mereka tidak mengejar dan hanya terdiam.

☆☆☆☆

Sambil mendorong cabang-cabang pohon ke samping untuk kembali, aku melihat Emilia berlari dijalan menuju pondok berlian. Ketika dia menyadari keberadaanku, dia melesat dengan ekornya yang melambai-lambai menuju kemari.

"Sirius-sama! Apa yang kau lakukan di tempat seperti ini?"

"Hanya berjalan-jalan sebentar....Emilia juga, apa semuanya baik-baik saja?"

"Ya, karena Reese telah kembali ke asrama, aku menjelaskan isi dari upacara masuk tadi"

Dia berbaris di kiriku, kamipun menuju ke Pondok Berlian bersama. Jika dilihat lebih dekat, di sedang membawa tas besar yang berbeda dari sebelumnya. Disaat dia mengetahui tatapanku, gadis ini mulai menunjukkan bagian dalamnya.

"Ini adalah pakaian pelayan"

"Yah, jadi....kenapa pakaian pelayan?"

"Karena ini merupakan pakaian formal untuk melayani Sirius-sama. Bagiku, ini adalah pakaian tempur"

Dengan kata lain, begitu sampai di Pondok Berlian dia akan berganti menjadi pakaian ini, dan kemudian berganti lagi ke seragam sekaligus jubah sekolah saat kembali ke asrama siswa. Tidak heran....tidak, ini mungkin merupakan kebanggaannya sebagai petugasku. Ayo kita hormati itu.

"Anikiii!!!"

Reus juga menyusul dalam perjalanan dan kami berkumpul dalam formasi yang biasa. Dia berbaris ke kananku dan tampak senang sambil memegang pedang kayunya.

"Aku sudah berlatih tanding dengan semua orang, tapi sangat sulit untuk tidak berlebihan"

"Mereka tidak terluka, kan?"

"Semuanya baik-baik saja, Nee-chan. Ketika mereka kembali ke asrama, mereka bisa berjalan dengan baik. Ngomong-ngomong Aniki, yang tadi masih belum memuaskan...."

"Aku tahu. Aku akan menjadi lawan tandingmu saat kita kembali"

"Seperti yang diharapkan dari Aniki!!"

Di sinari oleh mentari terbenam, kami berjalan ke Pondok Berlian diiringi bayangan kami yang memanjang.

Sepertinya insiden penyeranganku ini telah diam-diam menutup tirainya---....tidak, topik itu masih berlanjut.

☆☆☆☆

Bagian 2

Keesokan harinya, sambil menunggu guru di kelas pagi, Mark masuk ke kelas sendirian, mendekat lalu menundukkan kepala tepat dihadapanku. Sementara lingkungan menjadi mulai berisik, aku memintanya untuk mengangkat kepala dan menanyakan alasannya.

"Sungguh....aku sangat menyesal"

"Tidak, aku mengerti. Tapi daripada meminta maaf, aku ingin kau menjelaskan situasinya padaku terlebih dahulu"

"Ah, hal pertama yang seharusnya kukatakan sejak saat itu, kurasa aku sudah memahaminya. Namun, mereka tetaplah petugasku"

Kudengar, kedua orang itu dibawa ke ruang perawatan karena sempat dicari. Mark begitu terkejut ketika dia mengetahui salah satu petugasnya mendapatkan luka bakar dan menanyakan alasannya. Dia dengan paksa menginterogasi kedua anak yang enggan, dan terkejut ketika mengetahuinya.

Bagi mereka yang tergabung dalam keluarga Holtia, sangatlah memalukan untuk menantang seorang rakyak biasa, seorang anak, sekaligus seorang tanpa warna dengan beberapa orang. Dia tidak tahu lagi kemana dia harus menghempaskan kemarahannya. Pada akhirnya, emosi Mark mencapai titik dimana dia tak peduli pada mereka lagi.

Dia berkata telah mengirim pesan ke rumahnya di Elysion pada hari yang sama, dan melaporkan semuanya, termasuk tindakan tercela mereka di masa lalu. Mereka pun dipanggil pagi-pagi sekali dan menunggu pengasingan bersama orang tua masin-masing. Itulah sebabnya dia sendirian hari ini.

"Setiap hari bertingkah seperti itu. Dengan reputasi buruk ini, aku tidak mampu lagi menutupi kekecawaanku lagi dan memutuskan melepaskan mereka"

"Tindakanmu jelas-jelas dibenarkan. Namun, ini sepertinya balasan atas kepribadian mereka"

"Aku bersumpah atas nama keluargaku, bahwa aku berjanji akan mencegah kejadian yang sama terulang kembali. Mereka sudah dikirim ke tempat yang jauh untuk bekerja secara sukarela. Setidaknya, mereka tidak akan berada di kota ini lagi"

"Kalau begitu, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Benar kan?"

"Sekali lagi, aku sangat menyesal. Namun, begitu melegakan karena Sirius-kun tidak terluka. Sebenarnya, aku ingin memberi sesuatu sebagai bentuk permintaan maaf. Apa ada hal yang kau butuhkan? Jika itu uang, aku akan memberikan uang sakuku sendiri"

Mark mulai merogoh sakunya dan menumpuk koin emas di depanku. Hentikan! Hentikan!! Permintaan maafmu sudah cukup!! Dengan panik, aku menghentikan tindakannya dan mengembalikan koin-koin itu.

"Karena aku tidak terluka, semuanya baik-baik saja. Jika kau bersikeras ingin meminta maaf....anggap saja ini sebagai hutang"

"Hutang?"

"Yah, jika aku tertimpa masalah lagi yang berhubungan dengan para bangsawan, aku ingin kau membantuku, tentu saja dalam rentang yang bisa kau lakukan. Tapi, kalau itu terlalu berlebihan, aku akan melupakannya"

"Huhu....alangkah baiknya. Biarkan aku mengulurkan tangan jika aku mampu melakukan itu"

Aku berjabat tangan dengan Mark. Cerita inipun akhirnya benar-benar berakhir.

☆☆☆☆

Kesampingkan itu....aku mengetahui kabar ini di awal masuk sekolah. Sepertinya ada rumor bahwa aku adalah orang yang mampu membuat para bangsawan menundukkan kepala dan mengambil uang mereka secara paksa.

Selain itu....

""""""Selamat pagi, Aniki*! Oya-bun!""""""
[Aniki disini maksudnya si Reus. Sedangkan oya-bun untuk Sirius]

"Oh!! Selamat pagi!!"

Semua ras binatang yang berlatih tanding dengan Reus kemarin telah terlempar, dan kini mereka menjadi bawahannya. Apa-apaan ras binatang ini? Apa kalian bodoh?

Aku bahkan tidak melakukan apapun. Kuharap anak ini bisa mengurus hal itu, jika perlu tanpa disuruh.

"Mengerti, Aniki. Aku akan membuat mereka babak belur sampai takkan ada lagi yang mau jadi bawahan"

Tidak, ini dan itu berbeda, namun entah kenapa aku memiliki firasat bahwa dia bisa melakukannya.

Tak berapa lama kemudian, sebuah faksi disekolah yang bernama Kelompok Berlian akhirnya terbentuk. Malangnya, aku berperan sebagai Taishou*....hanya saja, lebih baik lagi jika mereka tidak sampai melakukan itu. Tidak, sungguh....
[Jenderal perang XD ]

☆☆☆☆

Tiga haripun berlalu sejak diriku memasuki Akademi.

Disini, kegiatan praktek lebih utama daripada belajar teori, tapi itu bukanlah hal yang menentukan dirimu ketika sudah lulus. Sekolah hanya menjadi tempat dukungan untuk individu berlatih sampai akhir....seperti itulah yang dikatakan Rodwell ketika upacara masuk.

Namun, seseorang takkan berkembang jika diberikan terlalu banyak kebebasan. Karenanya, mereka diharuskan untuk menetapkan jalan mana yang mereka akan pilih.

Ini juga tergantung pada kebijakan guru wali kelas. Misalnya, dalam kasus seseorang beratribut api, jika mereka mampu mengeluarkan sihir {Flame Lance} dan bisa memanfaatkannya, mereka akan menerima sesuatu seperti sertifikat ketika lulus.

Jika tak mampu melakukannya, atau malah menggunakannya untuk suatu hal buruk. Maka, mereka akan di usir sebelum lima tahun dan tak diperbolehkan mengambil pendidikan di tempat lain.

Seseorang akan mendapatkan perhargaan ketika dia telah mencapai target yang ditetapkan oleh guru wali kelasnya saat lulus nanti. Untuk itulah mereka akan bekerja keras. Namun....aku sama sekali tidak memperdulikannya.

Tentu aku datang ke sekolah untuk mempelajari berbagai hal. Hanya saja tujuan utamaku adalah untuk menghabiskan waktu dengan aman di tempat terlindung. Entah sedang bepergian atau tidak, kau bisa mendaftar di Serikat Petualang, yang merupakan kunci untuk mendapatkan gaji tetap di usia 13 tahun. Kurasa itu masihlah lama karena sekarang aku masih 9 tahun.

Aku juga akan berusaha agar pengetahuan dan kemampuanku yang sesungguhnya tidak ketahuan. Sambil berpura-pura polos, aku akan menghabiskan durasi 5 tahun ini. Jika 5 tahun sudah terlewati, dalam kasus terburuk, takkan ada masalah bahkan kalau aku keluar.

☆☆☆☆

Dan, di pelajaran pagi.

Magna-sensei menjelaskan tentang dasar-dasar sihir. Sementara siswa-siswi lain berfokus untuk mendengarkan, aku malah menulis diatas kertas.

Aku mengetahui dasar-dasar sihir sampai batas tertentu dari buku. Sejujurnya, ini terkesan gila. Sihir merupakan suatu hal yang tidaklah masuk akal, jadi mendengarkan penjelasan sensei adalah tindakan yang tidak perlu. Oleh karena itu, aku mempelajari formasi lingkaran sihir secara otodidak agar mampu memanfaatkannya seefisien mungkin.

Reus juga dalam situasi yang sama di mana dia sedang melakukan latihan berimajinasi. Sedangkan Emilia juga sedang menulis sambil terlihat mempertimbangkan berbagai cara untuk menciptakan sihir angin baru.

Memang sangat tidak sopan karena kami tidak mendengarkan pelajaran dari Magna-sensei sampai kelas pagi berakhir. Setelah itu, kami berkumpul di kantin seperti biasa dan makan siang bersama.

"Aku sudah ketagihan dengan masakan Aniki dan Dee-nii. Tapi makanan disini ternyata juga lezat"

"Kau benar, Reus. Mungkinkah bahannya berbeda?"

"Hmmm....Seperti yang katakan Emilia, daging ini agak berbeda"

Irisan daging ini sudah tepat dan sangat empuk. Hal yang disayangkan adalah banyak minyak dagingnya yang terbuang hingga membuat rasanya berkurang. Sambil berpikir bahwa kokinya tidak terlalu terampil, kami selesai makan siang.

"Haruskah kita bertanya kepada kokinya jenis daging apa yang dia gunakan? Aku pikir dagingnya lebih enak direbus daripada dipanggang"

"Hore!! Aku mengharapkan masakan baru dari Aniki!!"

"Aku juga menantikannya---Ah....bukankah itu Reese? Hai, Reese!"

Emilia mengangkat suara saat melihat kenalannya, tapi orang yang dimaksud terlihat begitu jauh. Kantin ini cukup luas, ditambah lagi ada banyak orang yang saling melemparkan obrolan. Suaranya tidak akan sampai jika seperti ini.

"Ada apa? Kau menemukan Reese?"

"Aku menemukannya, tapi entah kenapa dia terlihat agak murung. Padahal pagi ini dia baik-baik saja...."

"Jika kau menghawatirkannya, lebih baik kau menghampirinya. Masih ada waktu pada istirahat makan siang"

"Terima kasih banyak, Sirius-sama. Aku akan pergi"

Karena aku tidak tahu seperti apa penampilan anak bernama Reese ini, aku mengikuti sosok Emilia untuk memeriksanya. Sayangnya, dalam sekejap aku telah kehilangan pandangan karena keramaian.

"Aku bisa mengenalkan temanku segera. Tapi aku juga belum berkenalan dengan teman Nee-chan"

Tidak, itu bukan teman, melainkan bawahan. Hanya kau yang menganggap mereka teman.

"Aku juga belum. Mungkin Emilia akan memperkenalkannya pada kita"

Beberapa menit kemudia Emilia kembali, tapi sayangnya hanya dia sendiri yang datang. Sebelum pergi dia dipenuhi oleh senyuman, namun sekarang gadis ini tampak gelisah.

"Sirius-sama...."

"Wajahmu suram, apa yang terjadi? Kalian bertengkar?"

"Tidak, bukan begitu. Sebenarnya, Reese tampaknya bermasalah. Ketika mendengarkan ceritanya, tanpa berpikir panjang aku langsung memberitahu agar dia berkonsultasi dengan Sirius-sama. Aku telah bertindak egois tanpa izin dari master, aku sangat menyesal"

"Kau tidak perlu khawatir tentang itu. Apakah sulit untuk mengatakan masalahnya di sini?"

"Ya, dia ingin membicarakannya di tempat di mana hanya ada sedikit orang. Apa itu boleh?"

"Aku akan mendengarkannya. Jika berbicara tentang tempat yang sepi, itu adalah Pondok Berlian. Bagaimana kalau kau mengundangnya kesana setelah pulang sekolah?"

Emilia adalah anak yang peduli dengan orang lain. Aku ingin membantu jika bisa.

Pondok berlian adalah tempat tinggalku yang belum pernah dikunjungi siapapun kecuali kedua bersaudara. Inilah tempat yang tepat untuk membicarakan sesuatu yang kau tak ingin bocorkan kepada orang lain.

"Terima kasih banyak. Aku akan memberitahunya untuk segera datang"

Wajah gelisahnya menghilang, dan dia kembali ke arah Reese berada sambil tersenyum. Meski isi konsultasi belum terdengar, dia membuat wajah seolah semuanya telah terpecahkan.

"Baguslah, Nee-chan. Jika kita mempercayakan ini pada Aniki, itu sama saja dengan hampir selesai"

"Kalian, andai ini masalah unik para perempuan, misal konsultasi tentang hal romantis atau pembicaraan para gadis. Aku takkan bisa berbuat apapun, kau tahu?"

"Karena ini adalah Aniki, maka tidak apa-apa!"

Atas dasar apa kau mengatakan begitu? Jika tentang fisiologi wanita yang diperbincangkan, aku mungkin hanya akan terlihat sebagai orang mesum. Kalau dipikir-pikir, kau bisa mengatakan itu karena aku memiliki pengetahuan dalam bidang medis, tapi....ini bukan alasan untuk mengobrolkan hal semacam itu.

Setelahnya, ketika aku sedang berbicara dengan Reus tentang cara bertempur sambil menghabiskan waktu, Emilia kembali seusai membuat janji untuk bertemu.

"Kelas Reese adalah kelas Aion, jam pelajaran mereka agak tertinggal dengan kita, jadi aku membuat janji untuk bertemu di perpustakaan"

"Itu bagus. Istirahat makan siang akan segera selesai, haruskah kita kembali ke kelas?"

Dengan begitu, kami telah membuat janji bertemu dengan Reese. Istirahat makan siangpun berakhir.

☆☆☆☆

Kelas dari siang hari adalah pelajaran keterampilan praktek.

Pergi keluar dari kelas, semua orang menunjukkan sihir terbaik mereka. Hanya saja hampir semua siswa adalah penyihir ditingkat pemula. Terlepas dari diriku yang merupakan orang asing, para bangsawan dan jelata dapat mengaktifkan sihir dengan cukup hebat.

Sementara itu, Mark melepaskan sihir {Flame Lance}, menunjukkan perbedaannya dengan orang lain ke lingkungan sekitar. Meski dia mungkin mempunyai bakat sejak awal, dia merupakan orang yang memperoleh hasil yang sekarang berkat usaha sendiri. Dia tampaknya terus berlatih tanpa terganggu oleh kekaguman dari sekitar.

"Mark, kau menakjubkan. Untuk menggunakan sihir keren sejauh itu, pasti disebabkan oleh banyaknya latihan"

"Tidak sehebat itu. Aku pikir Sirius-kun lebih menakjubkan. Sungguh luar biasa karena kau bisa menggunakan semua atribut di umur ini meski tanpa bakat"

Ada waktu dimana aku mengaktifkan sihir semua atribut menggunakan lingkaran sihir karena permintaan Magna-sensei. Dengan sengaja menunjukkannya, nampaknya guru menginginkan diriku bisa menjadi contoh hasil dari usaha keras, bahkan jika kau tak berwarna atau tidak berbakat. Jika mereka sadar kalau diri mereka kalah dalam atribut terbaik masing-masing, itu akan membuat harga diri mereka jatuh. Fakta itu akan memotivasi setiap orang agar lebih mengembangkan diri.

"Itu adalah hasil karena memiliki pendukung yang disebut Peralatan Sihir. Jika tidak, aku bahkan takkan mampu mengaktifkan sihir pemula dengan benar"

"Kau bisa langsung mengaktifkan sihir begitu selesai menarik polanya. Aku pernah melihat teknisi sihir lainnya, tapi belum pernah menyaksikan orang yang melakukan improvisasi seperti dirimu"

"Begitukah? Sayangnya aku tidak tahu karena belum pernah melihat teknisi sihir lainnya"

Aku jadi ingin dia memberi tahuku tentang teknisi formasi sihir itu. Sementara kami berdua mengobrol, sorak sorai disisi lain meningkat ketika dua siswa terlihat melepaskan sihir secara berurutan.

"Wahai angin, robeklah. {Air Slash}"

"Nyalakanlah api mengelilingi tinjuku. {Flame Knuckle}"

Sebagai pusat perhatian, kedua bersaudara menggunakan sihir yang mereka pakai saat wawancara. Targetpun porak-poranda setelah terkena pisau angin dan tinju api. Sementara orang lain tercengang, mereka dengan gembira melambai padaku.

"....Hebat. Tidakkah Sirius-kun bangga memiliki petugas seperti mereka?"

"Yah. Aku memiliki dua orang yang lebih dari layak untuk diriku"

Kedua bersaudatara dikelilingi oleh teman sekelas mereka dan ditanyai tentang sihir barusan. Aaah....omong kosong. Aku bisa membaca kemana arus kejadian ini akan pergi.

"Sungguh menakjubkan! Bagaimana kau bisa mengaktifkan sihir seperti itu?"

"Mantranya sangat singkat. Ini juga pertama kalinya aku melihat sihir Reus, siapa yang mengajari kalian?"

"Tentu saja, master kami. Sirius-sama"

"Wajar saja jika kami berhasil karena menjadi siswa aniki. Bahkan ilmu pedangku juga diajarkan olehnya"

"Hebat! Sirius-kun, kami juga ingin menjadi siswamu---....ehhh?"

Aku sudah lenyap.

Terdapat guru yang sesungguhnya didepan kalian, jadi aku meminta maaf. Mula-mula, latihanku tidaklah normal. Jadi aku tidak yakin apakah ini bisa dipelajari oleh orang biasa atau tidak. Dalam kasus kedua bersaudara, mereka tidak memiliki pilihan lain selain menjadi kuat. Untuk itulah mereka sama sekali tidak mengabaikan usaha demi mencapai tujuan.

Disaat teman sekelas mencariku, Reus sepertinya mengingat sesuatu dan menceritakannya pada semua orang.

"Ah. Tapi, latihannya sangat sulit. Misalnya, di pagi hari...."

Berlari pagi pagi sekali. Makan lalu berlari. Berlari seusai belajar....Setelah berbicara tentang isi latihan pada saat berada di rumah yang dulu, rona wajah teman sekelas kami berubah menjadi biru dan menyerah belajar padaku. Itu memang reaksi masyarakat pada umumnya, kedua bersaudara yang tidak normal hanya bisa memiringkan kepala.

Mereka memiliki bakat, itulah yang biasanya kau pikirkan.

Namun....kekuatan kedua anak ini sebenarnya berasal dari upaya tanpa henti.

☆☆☆☆

Sekolah hari inipun berakhir, kami lalu sampai di perpustakaan.

Ini merupakan kota metropolitan satu-satunya di benua, tak heran jika perpustakaannya sangat luas dengan banyak materi. Sejumlah buku tersebar pada rak yang tinggi untuk dilihat. Meski teknologi penjilidan masih belum berkembang jauh, aku pikir bagus untuk mengkompilasi semua buku ini.

Sangatlah tidak berguna jika melewatkan belajar disaat kami telah memasuki sekolah dengan usaha keras. Itu sebabnya, ini sudah menjadi rutinitas sehari-hari dimana aku kemari ketika sekolah berakhir sebelum diriku kembali ke Pondok Berlian.

Inilah tempat yang cocok untuk pertemuan. Hanya saja, kelas Aion cenderung memiliki durasi pelajaran yang lebih lama. Jadi aku menghabiskan waktu sambil membaca buku.

"Sirius-sama, kita akan segera bertemu Reese"

Ketika membaca sebuah bagian yang menarik sambil mencatatnya, Emilia mengatakan itu dan berdiri dari tempat duduk. Hmmm, apakah sudah waktunya? Aku mulai merapikan diri saat mengalihkan pandangan ke arah Reus.

"Aniki, aku memiliki {Flame Knuckle}. Tapi, menurutmu bagaimana aku bisa mengaktifkan {Flame Lance} yang kulihat hari ini?"

"Oh, kau sungguh memperhatikan itu dengan teliti ya....ah, lakukan saja sambil membayangkan api yang terbang"

"Membayangkannya begitu sulit. Tapi kenapa Aniki bisa begitu lancar ketika melakukannya?"

"Itu sebuah rahasia"

Ini karena di kehidupan dulu, aku pernah melihat dan menggunakan hal yang sebenarnya.

Reus seperti anak-anak yang gelisah (sebenarnya aku juga anak kecil), tapi dia tidaklah bodoh karena sempat menerima pendidikan dari kaa-san dan diriku. Jadi, memahami isi suatu buku bukanlah hal yang sulit untuknya. Hanya saja....dia terlalu menonjol dibidang pedang, wajar baginya untuk dilihat sebagai orang idiot. Karena terpengaruhi oleh Lior juga, aku pikir akan lebih baik untuk memberinya pelajaran sedikit lebih banyak ketika aku memiliki waktu.

Perpustakaan merupakan tempat terlarang untuk menggunakan sihir. Sambil melihat Reus yang sedang melakukan pelatihan imajinasi dengan buku mantra api disatu tangan, Emilia datang kembali bersama seseorang.

"Sirius-sama, aku akan mengenalkannya. Namanya adalah Reese, dia adalah teman sekamar sekaligus teman yang seumuran denganku"

"Se-Senang bertemu denganmu. Namaku Reese"



Seperti yang dijelaskan oleh Emilia, dia adalah seorang gadis cantik dengan rambut biru mengkilap yang memanjang sampai ke pinggang. Itu merupakan gaya rambut yang agak sederhana, namun masih melengkapi kemanisannya. Matanya meniru Aquamarine, murni sekaligus transparan. Hidung dan mulutnya juga berfitur bagus. Dia pasti akan menjadi sangat cantik dimasa depan.

"Sama juga disini, senang bertemu denganmu. Kau mungkin sudah pernah mendengar ini dari Emilia, tapi akulah Sirius"

"Aku Reus"

"Ya, aku mendengar itu dari Emilia setiap hari bahwa kau adalah orang yang sangat luar biasa"

"Aku pikir ini agak berlebihan. Namun jika menurutmu itu merepotkan, katakan saja kapanpun"

"Tidak, malah aku senang karena bisa mendengarkan banyak cerita yang menarik....Ah, maafkan aku. Apakah kau di tengah-tengah membaca? Aku tidak keberatan menunggu sampai kau selesai. Lanjutkan saja"

"Oh, tidak apa-apa. Lagipula, aku sudah selesai"

Alasan dialog semacam ini muncul mungkin karena dia melihat buku dan kertas memo yang tersebar. Dia sangat perhatian, gadis baik yang mampu memahami suasana.

Yang aku lakukan hanyalah hobi untuk melewatkan waktu. Takkan masalah bahkan jika berhenti ditengah jalan, ayo kembalikan ini ke rak dengan cepat.

Ketika melakukannya, Reese sempat melihat judul buku-buku ini dan terkejut. Namun, kenapa dia terkejut?

"Kalau begitu, karena tidak akan ada orang lain kecuali kita, ayo pergi ke Pondok Berlian. Apakah Reese tidak keberatan untuk mengikutiku, yang merupakan orang asing?"

"Aku tidak khawatir karena kau adalah master Emilia. Lagipula, dia tidak akan menyarankanku seperti ini jika kau bukan orang yang baik"

"Kalau soal laki-laki, aku juga di sini, kau tahu?"

"Reus-kun....kan? Kau merupakan saudara Emilia jadi aku tidak cemas"

"Begitu kah? Hei, karena kau seumuran dengan Nee-chan, apa boleh aku memanggilmu Reese-ane?"

"Tidak apa-apa. Huhu, ini seperti aku mendapatkan adik laki-laki"

Dia tanpa ragu memberikan senyuman sederhana. Tampaknya gadis ini sungguh mempercayai kami. Kesopanan itu menunjukkan bahwa dia memiliki hati yang sangat lembut karena tidak membedakan dengan siapa dia berhadapan, entah ras binatang atau bukan....seperti hati pemaaf Emilia.

"Karena harus menurunkan suara jika berbincang di sini. Bagaimana kalau kita pergi Pondok Berlian?"

"Benar sekali. Reese tidak keberatan kan?"

"Tidak apa-apa"

"Kalau begitu, ayo pergi!!"

☆☆☆☆

Bagian 3

Kami terus menapaki jalan gunung bersama Reese menuju ke Pondok Berlian. Sementara itu kami telah selesai memperkenalkan diri kepadanya.

"Apakah Reese-sama seorang bangsawan? Aku sangat meminta maaf karena tidak menggunakan sebutan kehormatan beberapa saat yang lalu"

"Ah, tidak apa-apa! Aku tidak begitu peduli dengan hal semacam itu dan jangan keberatan untuk berbicara normal denganku. Hanya baru-baru ini saja aku menjadi seorang bangsawan, aku malah lebih terbiasa dengan menjadi jelata, jadi aku akan senang jika kau memperlakukanku begitu"

Ucapan sopan yang bagus dan perilaku yang elegan seolah bangsawan. Tapi ternyata dia merasa harus melakukannya karena perpindahan posisi*.
[Dia mencoba bertindak seperti bangsawan karena perubahan status mendadak]

"Dengan kata lain, seorang bangsawan yang berasal dari rakyat jelata? Aku kira kau sudah tertimpa berbagai hal"

"Ada banyak yang terjadi. Sebelumnya, aku tinggal di sebuah desa bersama ibuku. Tapi, setelah ibu meninggal karena penyakit setahun yang lalu, seseorang datang dan mengaku sebagai utusan ayahku. Dia lalu membawaku Elysion. Disaat itulah aku pertama kali diberitahu bahwa ibuku adalah seorang selir bangsawan. Dan ketika menyadarinya, aku telah menjadi anggota bangsawan"

"Hei hei, apa boleh memberitahuku, seseorang yang baru saja kau temui? Lagi pula, apa boleh untuk tidak terlalu formal?"

"Aku sudah berbicara dengan Emilia sebelumnya, jadi tidak apa-apa. Cara berbicaraku ini adalah berkat pendidikan ibuku jadi jangan terlalu khawatir. Kalau dipikir-pikir lagi, kupikir ibu yang ketat padaku karena untuk mengantisipasi hal ini"

"Aku minta maaf. Itu membuatmu mengingat hal-hal tentang ibumu"

"Karena sudah jelas sekarang, tidak masalah. Selain itu, dibandingkan dengan Emilia dan Reus-kun....aku...."

"Apa kau membicarakannya, Emilia?"

Ketika aku melihat Emilia yang berada di sebelah, dia bertingkah seperti anak kecil yang menyembunyikan rahasia dan menggantungkan kepalanya. Apa menurutmu aku akan marah karena kau berbicara egois? Ketika aku berpikir untuk tidak menggalinya lebih dalam, Reese mencoba melindunginya dengan tergesa-gesa.

"Tolong tunggu! Emilia hanya membicarakan masa lalunya. Dia tidak membahas apapun kecuali membual tentang Sirius-kun. Tolong jangan marahi dia!"

Gadis ini menilainya dari samping, mengira bahwa sedang terjadi masalah antara master dan petugasnya, dia lalu ikut campur untuk melindungi Emilia. Aku tidak bisa menahan diri ketika memikirkan kebaikan hatinya, mulutku pun melonggar.

"Aku tidak perlu memarahi dia, ya kan? Emilia sudah mampu berpikir dan berbicara untuk dirinya sendiri. Itu tanda bahwa dia senang karena memiliki teman yang tepercaya, tidak mungkin aku akan memarahinya. Hei, angkat wajahmu kemari"

"Sirius-sama....hehehe"

Meski dia berbicara tentang masa laluku, kata-kata yang akan dia keluarkan takkan berubah. Disaat aku membelai kepalanya, Reus di samping menarik lengan bajuku, akupun juga mengelus kepala anak itu. Ya ampun, begitu manjanya.

"Fufu....Sirius-kun, kau terlihat seperti ibu daripada master mereka. Aku merasa mengerti alasan kenapa Emilia sangat menyayangimu"

"Yah, maafkan aku karena memiliki anak-anak hebat di usia ini"

Namun, dari usia jiwaku, mereka memang seolah anak sendiri. Emilia sedikit malu sedangkan Reus menerima semua belaian tanpa khawatir. Aku memperhatikan mereka dengan Reese dan tertawa bersama.

☆☆☆☆

Kami lalu sampai di kediamanku, Pondok Berlian.

"Anu....kudengar tempat ini adalah reruntuhan yang telah diabaiakan selama bertahun-tahun"

"Ya, sebelumnya memang reruntuhan. Tapi kami telah melakukan berbagai hal"

Reese tertegun melihat bagian luar Pondok Berlian.

Rumput liar dan pepohonan yang sebelumnya mengelilingi bangunan, telah terpotong rapi oleh Reus. Dinding dan atapnya yang bobrok sudah dilukis indah menggunakan cat putih. Sumurnya yang juga terbengkalai telah dipulihkan dan dipompa menggunakan sebuah alat sihir.

Penampilannya hampir setara dengan vila bangsawan di tingkat rendah.

Apa yang dia ketahui mungkin ini yang seharusnya adalah bangunan terbengkalai. Bahkan hingga membuatnya mengira kalau kami datang ke tempat yang berbeda.

"Jangan bengong begitu, bagaimana kalau masuk dulu? Emilia sudah didalam sana, kau tahu"

"Y-Ya! Kalau begitu, maaf mengganggu"

"Reese-ane adalah tamu pertama, kan?"

Ketika pintu masuk terbuka, Emilia yang mengenakan pakaian pelayan berdiri di sana. Dia menyambut kami dengan bungkukan indah.

"Selamat datang kembali, Sirius-sama, Reus. Dan selamat datang, Reese"

"Ehh! Hah? Beberapa saat yang lalu kau masih mengenakan seragam sekolah....kenapa sekarang kau memakai pakaian pelayan?"

"Karena aku adalah seorang petugas. Silakan masuk, Sirius-sama. Ah, Reese juga, ini sandalmu. Aku ingin kau melepas sepatu dan mengenakan ini saat masuk ke dalam"

"Y-Ya, aku mengerti. Apakah tidak boleh memakai sepatu?"

"Itu merupakan aturan di Pondok Berlian yang diputuskan oleh Aniki. Pada awalnya, aku juga keheranan. Tapi begitu kau terbiasa, ini akan menjadi mudah"

"Karena tidak mengotori lantai, pembersihannya akan mudah dan menghemat waktu ya?"

Untuk menjelaskannya, dunia ini memiliki kebiasaan memakai sepatu bahkan hingga di dalam rumah. Rumah tempat diriku lahir merupakan wilayah ayahku, jadi hal itu serasa wajar. Namun, disini adalah rumah baruku. Akupun berpikir untuk melakukan apapun yang kuinginkan. Salah satunya adalah melarang pemakaian sepatu.

"Bagaimanapun, selamat datang di Pondok Berlian. Bagaimana kalau minum secangkir teh dulu?"

"Si-Silakan"

Ini sepertinya membuat Reese tertekan, tirai menuju dunia yang baru baginya telah terbuka.

☆☆☆☆

Di tengah ruang makan, empat orang duduk pada sebuah meja besar tempat dimana mereka menikmati teh hitam. Kami juga menyajikan kue-kue untuk melengkapi acara minum teh.

"Ini makanan ringan....ya kan?"

"Ini disebut kue, Sirius-sama yang membuatnya. Potonglah dengan garpu dan makanlah"

"Ini....kue? Sama sekali berbeda dari apa yang aku tahu!"

"Tidak apa-apa, makanlah! Ini sangat lezat, Reese-ane!"

"Y-Ya....umm?!"

Ketika membawa potongan seukuran satu gigitan ke mulut, wajahnya langsung berubah dari ekspresi kehati-hatian menjadi dipenuhi senyuman. Dia seolah direndam oleh cita rasa sambil memegangi kedua pipinya.

"Sangat manis....dan lembut....ini adalah pertama kalinya"

"Semua orang bereaksi sama ketika memakannya! Noel-nee juga begitu!"

"Ini sangat enak. Aku ingin lebih banyak memakannya"

"Jika terlalu banyak, kau akan gemuk. Ini terasa lezat karena hanya sesekali dimakan"

Meski begitu, Reese tidak kembali ke kenyataan sampai setelah selesai makan kue. Akhirnya, dia sadar setelah menelan bagian terakhir. Kemudian dia merasa malu dan menunduk sambil meminum teh.

"Aku memakan apa yang telah kau siapkan tanpa berkata apapun....aku minta maaf"

"Aku bisa memahaminya karena melihat kesanmu. Selama kau menyukainya, jangan sungkan"

"Reese, kau mau minum secangkir lagi?"

"....Itadakimasu"

Saat minuman yang tersisa di cangkir telah menjadi suam-suam kuku, suasana berubah ketika teh baru disiapkan. Dari sinilah, topik utamanya muncul.

"Pertama-tama, terima kasih karena telah mengundang diriku"

"Ahh, karena ini pertama kalinya kami mendapat pengunjung disini, jangan ragu untuk memberitahu apa yang mengganjal di kehidupanmu. Jadi....aku dengar dari Emilia bahwa kau ingin berkonsultasi tentang sesuatu?"

"Iya. Sebenarnya....aku ingin berlatih sihirku"

"....Ceritakan lebih detail"

"Aku pikir wajar saja jika kau tahu. Tapi tahukah kau sihir dasar dari empat atribut?"

"Ya, {Flame}, {Aqua}, {Wind}, dan {Earth}. Ya kan?"

{Flame} menciptakan sejenis bola api. Digunakan sebagai pengganti lampu dan obor.

{Aqua} menciptakan air yang memiliki berbagai kegunaan seperti air untuk keperluan sehari-hari atau memadamkan api.

{Wind} bisa digunakan untuk meniuapkan angin dan menyebarkan udara. Fungsinya seperti kipas angin.

{Earth} bisa untuk membuat dinding maupun lubang dengan ukuran bervariasi pada tanah yang ditunjuk. Bisa juga digunakan untuk perawatan jalan.

Sihir-sihir dasar diatas dapat diaktifkan dengan mudah jika atributnya tepat. Meski atributnya tak sesuai, sihir dasar masih bisa dilakukan dengan sedikit latihan.

"Di kelasku, guru berkata kalau mereka yang tidak bisa menggunakan sihir dasar adalah sampah"

"Guru wali kelas Reese, kelas Aion....Gregory, kan?"

"Iya, benar. Gregory itu"

"Harus kukatakan, Gregory sendirilah yang sampah!!"

"Memanggil tanpa kehormatan*?! Emm....yah, karena aku satu-satunya yang tidak bisa melakukan itu, semua orang di kelas menunjuk jari mereka padaku dan tertawa"
[Maksudnya, Reese terkejut karena mereka hanya memanggil Gregory bukan Gregory-sensei]

Siswa kelas Aion direkrut oleh Gregory yang sombong itu sendiri yang berprasangka buruk terhadap orang awam.

Ketika ada seorang siswa dibawah standar di sebuah kelas yang penuh dengan bangsawan sombong, maka bisa dibayangkan kata-kata jelek apa yang akan mereka lontarkan padanya

"Lebih baik aku yang ditertawakan. Aku takkan tahan jika ibuku, orang yang tidak bersangkutan juga diejek. Hanya satu atribut yang tak mampu ku gunakan, tapi....kenapa sampai seperti ini...."

Dia mengepalkan telapaknya, dengan putus asa berusaha menahan butiran air mata yang hendak tumpah. Sambil diriku mengawasi adegan ini, Emilia mengulurkan saputangan untuk menghiburnya. Lalu, suatu pemikiran terlintas dibenakku.

"Menurutku tak ada yang salah dengan Reese. Aku tidak suka pada orang yang berlatih hanya untuk menjaga harga dirinya*, lagipula kupikir ada orang lain selain dirimu yang juga tak bisa melakukannya"
[我侭な連中ってのは練習嫌いが多いし. Kok bingungin ya ?_? ]

"Siswa memang diperbolehkan menentang jika menurut mereka itu salah....namun kelihatannya tak ada yang mau mengkritiknya"

"Haaaahh...."

Ya ampun....entah guru wali kelas maupun para siswanya sama-sama sampah. Lalu kenapa dia masih ingin gadis ini agar berada di kelasnya? Tidak....ayo kita tunda menyelesaikan masalahnya.

"Aku sekarang mengerti alasannya. Tapi Reese, apa atribut yang tak bisa kau gunakan?"

"Itu {Flame}. Tak peduli berapa kali aku mencoba, bola api yang kumunculkan tak bisa bertahan lama dan menghilang"

"Kalau begitu, bagaimana dengan atribut aslimu? Aku ingin tahu juga semahir apa kau menggunakannya"

"Atributku adalah air. Aku bisa menggunakan hingga sihir tingkat menengah. Aku juga pandai dalam hal sihir pemulihan"

Apa karena api adalah kebalikan dari air? Aku mendengarkan ceritanya sambil berpikir tentang kontradiktifnya kedua atribut itu. Hanya saja, seharusnya kau masih bisa mengaktifkan sihir dasarnya.

Aku pikir latihan saja tidaklah cukup ketika mendengar gaya bertarungnya dari Emilia.

"Seperti yang diharapkan, akan lebih mudah dimengerti ketika melihatnya langsung. Bisakah kau menunjukkannya padaku di luar?"

"Ya, tentu"

Setelah itu kami keluar dari Pondok Berlian, Reese menunjukkan sihirnya di halaman depan rumah.

Pertama adalah {Earth}. Dia menciptakan banyak lubang kecil pada tanah didepannya tanpa kendala.

Berikutnya adalah {Wind}. Dia menghembuskan angin yang mirip dengan tingkat output maksimum kipas angin rumahan dari kehidupanku sebelumnya. Meskipun bukan atribut aslinya, dia masih bisa menggunakan itu sampai sejauh ini. Dia memiliki Mana yang cukup banyak.

Ngomong-ngomong, ketika Emilia yang beratribut angin menggunakan {Wind} dengan serius, itu memang tidak akan berlangsung lama, tapi sudah cukup untuk menghempaskan Pondok Berlian.

Dan kemudian, {Aqua} yang merupakan sihir dari atribut terbaiknya....kekuatannya lebih dari yang diharapkan.

{Aqua} adalah sihir yang menciptakan bola air berukuran tiga puluh sentimeter. Tapi ketika Reese yang menggunakan, ukurannya menjadi dua kali lipat. Dia juga dengan mudah mengontrolnya di udara.

"Hebat! Sepertinya menyenangkan saat kau melompatinya seperti ini!"

"Menakjubkan, Reese. Aku belum pernah melihat {Aqua} seindah itu"

"Aku hanya sedikit lebih pandai dalam memanfaatkan atribut air. Jika kalian terluka, beritahukan saja padaku. Aku akan menyembuhkannya"

"Mengagumkan. Kalau begitu, sekarang cobalah gunakan {Flame}"

Reese melepaskan sihir air, dan mulai mengucapkan mantra sihir {Flame} yang merupakan masalahnya. Sepanjang mantra, aku mengaktifkan {Search} pada gadis itu. Hanya saja, aliran Mana-nya sudah sempurna. Juga, tak ada masalah pada kata-kata mantra.

"{Flame}"

Namun, api hanya muncul untuk sekejap, meninggalkan asap dan lenyap tanpa bekas.

Dia jatuh berlutut lalu menatapku dengan mata sedih.

"Itu adalah {Flame} milikku. Tak peduli berapa kali aku mencoba....itulah hasilnya"

Akhirnya, tanpa mampu menahan lagi, tetesan mulai merembes dari sudut matanya.

Emilia memegangi bahu gadis ini sambil melihatnya. Sedangkan Reus menatapku seolah dirinya lah yang merasakan penyesalan.

"Sirius-sama...."

"Aniki...."

Keduanya seolah mengemis untuk meminta sesuatu.

Kesampingkan Emilia, meski Reus baru saja bertemu dengannya, dia sangat mengkhawatirkan gadis itu. Kakak beradik ini sudah tumbuh dengan sangat baik.

Terus terang....aku mengetahui penyebabnya.

Namun, aku masih ragu apakah harus mengatakannya atau tidak. Ini bukan sesuatu yang perlu dipublikasikan. Selama kau terus melatih atributmu yang asli, suatu hari kau mungkin akan di hargai.

"Bisakah Sirius-sama membantunya?"

"Aku tidak tahan melihat ini....Aniki"

Tatapan mereka begitu menusuk

Haahh....aku terlalu memanjakan para siswaku. Aku tidak punya pilihan selain memutuskannya sekarang.

Aku tidak tahu apakah dia sudah menyadari ini atau tidak, setelah memastikan tak ada orang lain disekitar, mulutku berucap.

"Reese....kau bisa melihat roh, kan?"

☆☆☆Chapter 29 berakhir disini☆☆☆

>Catatan Penerjemah : Entah knapa aku pusing mikirin artian yg cocok buat Irregular (Rettousei) -_-

Ke Halaman utama World Teacher
Ke Chapter selanjutnya

Comments

  1. Makin seru aja ni novel ,makasih min dah update

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Kusoge Online (BETA) Bahasa Indonesia

108 Maidens chap 14 B. Indonesia