World Teacher chap 34 B. Indonesia

Chapter 34 Taring Reus
Diterjemahkan oleh I-Fun Novel




Bagian 1

--Sudut Pandang Reus--

Entah bagaimana, kami memilih bertanding dengan para bangsawan yang bahkan tidak kami ketahui dan akan menjelajahi labirin tanpa aniki.

Sejujurnya, aku merasa khawatir karena tidak adanya aniki yang selama ini selalu mengawasi kami. Nee-chan juga sama, dia sering memalingkan pandangannya ke tempat dimana aniki biasanya berdiri dan mendesah diam-diam.

Meski begitu, nee-chan mengisi peran aniki dengan memberikan berbagai instruksi. Berkat itu, kami melanjutkan perjalanan melalui labirin dengan lancar tanpa berhenti dan akhirnya sampai di lantai delapan.

"Ini lantai kedelapan, ya. Bagaimana dengan kondisi kalian berdua?"

"Aku baik-baik saja. Jumlah Mana-ku masih tersisa cukup banyak"

"Aku juga tidak punya masalah!"

Banyak perangkap dan golem yang menghadang hingga tiba disini. Namun, kami mampu menerobos semunya.

Hanya ada beberapa jebakan yang terpasang di sudut-sudut jalan, golem yang menyerang pada saat bersamaan pun jumlahnya tidak mendekati dua puluh. Terdapat jebakan untuk setiap dua sampai tiga langkah maju, jika dibandingkan dengan kemarin dimana angka golem yang menyerang disaat bersamaan mencapai lima puluh, sekarang itu mudah.

"Ini akan jadi kemenangan gampang, nee-chan.  Kalau kita bisa menjadi yang pertama menyeselaikannya, mungkinkah Aniki memuji kita?"

"Berhentilah ceroboh, Reus. Perhatikan langkahmu"

"Ups, terima kasih nee-chan"

Aku menarik kembali kakiku yang hendak mengambil langkah maju dan memutari suatu titik pada lantai yang tampaknya memiliki lingkaran sihir. Ini tak terlihat karena disembunyikan dengan baik.

"....Kau sudah sangat mengetahuinya, Emilia. Sedangkan aku masih belum mengerti sama sekali"

"Jika kau memperhatikan Sirius-sama, kau pasti bisa"

"Namun, aku tidak tahu banyak tentang itu. Lagi pula, apakah Reus-kun mengerti?"

"Hmm....entah bagaimana aku hanya nyaris tidak bisa menyadarinya. Aniki menjelaskan bahwa itu karena intuisiku"

Aku juga tidak begitu mengerti tentang diriku sendiri. Ini bukanlah sesuatu yang bisa dijelaskan menggunakan kata-kata, tapi aku mampu merasakan secara tiba-tiba tempat yang mencurigakan maupun hal-hal berbahaya.

Aniki berkata bahwa intuisi itu penting, namun dia juga memberitahu agar tidak terlalu bergantung padanya. Kekuatan sejati adalah saat dimana kau menggunakan pengalaman dan kecerdasanmu dengan benar....ini sebenarnya sulit karena aku tidak benar-benar mengerti hal-hal yang telah dikatakan olehnya. Tapi ucapan Aniki adalah mutlak, akan sia-sia jika aku malah berhenti memikirkannya.

"Ngobrolnya sampai disini saja. 'Mereka' datang!"

"Serahkan padaku, nee-chan!!"

Ketika aku memikirkan itu sambil berjalan, banyak golem mulai bermunculan di depan kami. Kali ini terdapat lebih dari 20, namun takkan ada masalah kalau kami bekerja sama.

"{Air Slash}!"

"{Aqua Shot}!"

Kedua sihir mereka* memporak-porandakan barisan lawan, aku lalu bertindak gila dengan melompat langsung kesana. Tugasku adalah mengalahkan musuh dan tidak membiarkan satupun mendekati Reese-ane yang berada di belakang. Meski aku sering gagal memotong formasi sihir yang merupakan titik lemah kemarin, ketika kembali kesini lagi aku lebih bisa melihat tempat yang harus kutebas. Sepertinya pemikiran itu benar, aku sekarang bisa mengalahkan semua golem dalam satu tebasan. Ketika tanganku tidak mencapai golem yang muncul dari belakang, Nee-chan melemparkan pisau ke sana dan sihir Reese-ane tidak akan membiarkan golem mendekat.
[Nah, Reus menganggap Reese itu juga kakaknya yg setara dengan Emilia. Di chapter ini dia sering menyebut mereka berdua sebagai ‘Futari nee-chan’]

Sedangkan untuk aniki, jangankan golem, kurasa dia tidak akan membiarkan seekor tikus pun melewatinya. Aku belum bisa melakukan itu, tapi suatu hari nanti, aku ingin menjadi kuat untuk melindungi orang yang berharga seperti Aniki.

Untuk saat ini, aku hanya harus menghancurkan mereka agar tidak sampai ke barisan belakang bahkan jika ada segunung golem.

"Dengan ini....berakhir!!!"

Golem terakhir roboh dan lenyap oleh pedangku. Aku lalu sadar diriku dipenuhi keringat karena menggunakan terlalu banyak kekuatan, tapi nee-chan segera menawarkan handuk.

"Ini, Reus. Langkahmu agak melambat, berhati-hatilah"

"Terima kasih, nee-chan. Tapi, aku tidak ingin membiarkan kedua nee-chan menghadapi musuh sedikit pun"

"Bodoh. Bukankah Sirius-sama selalu mengingatkan untuk memahami dengan benar sejauh mana kau dapat bertindak? Itu tidak sopan jika kau terus khawatir pada kami yang masih bisa bertarung"

"Benar, Reus-kun. Aku ingin kau bergantung padaku sedikit karena aku juga sudah berlatih"

"Nee-chan, Reese-ane....maafkan aku!"

Itu berbahaya, aku hampir melupakan dasar-dasarnya. Aku segera lupa saat aniki tidak di sini.

Ketika selesai mengalahkan golem dan melanjutkan perjalanan, kami langsung menemukan tangga. Selanjutnya adalah lantai sembilan, menurut cerita dari teman sekelas,  akan ada tantangan terakhir disana.

"Kita akhirnya sampai disini. Berikutnya adalah untuk menyelesaikan tantangan terakhir"

"Aku ingin tahu ada apa disana ya?"

Apa golem batu yang akan muncul kali ini dan bukan tanah? Tapi aku merasa bisa memotong batu jika menggunakan pedang, mereka bisa dikalahkan dengan mudah menggunakan bantuan kedua nee-chan dipunggungku.

Perutku menggerutu saat diriku menuruni tangga yang panjang sambil berpikir begitu. Aku sering cepat lapar baru-baru ini. Aku ingin segera pulang dan makan masakan Aniki.

"Fufu, Reus-kun, kau selalu bergerak dari tadi. Kita punya daging kering disini, mau makan?"

"Bolehkah?"

"Tentu saja. Kau harus menjaga fisikmu dalam kondisi sempurna"

"Reus, minumlah air ini. Reese juga"

"Ya!!"

Terkadang menakutkan, tapi kedua nee-chan memang baik.

☆☆☆☆

Bagian 2

Ketika aku selesai makan daging kering, kami sampai di lantai kesembilan.

Tak ada perangkap dan golem tidak muncul di lantai sembilan, disini hanya berupa jalan berkelok-kelok yang terus berlanjut. Kami berbelok ke kanan dan kiri berkali-kali, lalu akhirnya kami sampai di sebuah aula yang sangat luas.

Kemarin, Aniki berkata bahwa kami akan bertemu dengan party lain di sini. Aku benar-benar mengerti alasannya dengan jelas begitu tiba disini.

"Ada begitu banyak pintu masuk disini"

"Ini aneh karena ada banyak lorong yang seperti ini"

Semua party yang lewat pintu masuk manapun harusnya tiba di sini. Sekumpulan lorong tersebar di dinding aula yang luas. Disaat kami berjalan sambil terkagum-kagum, tanda-tanda kehadiran beberapa orang bisa terasa di tengah aula.

"Sudah kutunggu kau, Reus!"

"Kami telah menunggumu, Emilia!"

Apa kalian ingin berkelahi dengan kami sekarang, Ha---....Ha---....siapa ya? Intinya, para bangsawan yang sudah menantang kami sekarang sedang berdiri di tengah aula. Kupikir para bangsawan itu bergabung di satu party, tapi ternyata mereka berada di party terpisah. Jika mereka ingin bertarung bersama, bukankah lebih mudah untuk mengirim petugas saja. Ini aneh*.
[Kalimat terakhir disini aku rada gak ngerti maksudnya 一緒に戦うなら慣れ親しんだ従者の方がやりやすいし、別に変じゃないか]

Karena pertemuan ini, terdapat banyak orang di aula. Selain party kami, ada dua party dari para bangsawan yang ditambah empat petualang.

"Aku pikir kau sudah datang duluan. Namun, kami sepertinya sedikit lebih awal"

"Tentu saja! Kalian kan ada enam orang?!"

Kami cuma bertiga dan orang-orang itu memiliki enam orang termasuk dua petualang untuk masing-masing party*. Keempat petualang tersebut secara khusus mengenakan jubah yang menutupi seluruh tubuh....aku merasa sangat tidak menyukai mereka.
[Masing-masing dari para bangsawan ini memiliki 1 petugas di party mereka. Ditambah 2 petualang untuk setiap party. Jadi, di satu party mereka ada 4 orang]

"Mempekerjakan para petualang diperbolehkan menurut peraturan labirin. Tak ada alasan untuk menyebutnya sebagai kecurangan"

"Benar. Maaf ya, tapi karena kami datang lebih awal, aku akan membiarkan kalian pergi lewat jalan ini"

"Apa katamu? Kau harus pergi dengan cepat"

"Oh? Tidakkah kalian tahu?"

"Yang kami tidak tahu....apa itu?"

"Hmph, akan sangat menyedihkan ketika kalian akan kalah tanpa mengetahui apapun. Baiklah, dengan ini, aku Hart Arcade akan menjelaskannya secara pribadi!"

Urusi saja dirimu sendiri! Walaupun aku ingin mengatakan itu, tapi Nee-chan juga menutup mulutnya. Dia sedang memikirkan saran mereka.

Atau lebih tepatnya, nama laki-laki ini Hart? Akhirnya aku ingat.

"Kau akan sampai di sini tanpa peduli pintu masuk mana yang kau lalui di labirin ini. Dan jalan menuju lantai sepuluh berada di pintu itu"

Apa yang Hart tunjuk bukanlah lorong tapi sebuah pintu yang tampak berat dan kokoh. Itu....pedangku sepertinya tidak bisa memotongnya.

"Tantangan terakhir akan terjadi di dalam sana. Hanya saja, ada suatu mekanisme yang mencegah petualang untuk ikut kesana"

"Oleh karena itu, kami akan menghadapinya hanya dengan mengandalkan kemampuan masing-masing sekarang. Bisa kalian mengerti itu?"

"Lalu, bagaimana dengan para petualang?"

"Tentu saja, kami mempekerjakan mereka hanya sampai di sini. Itu karena hanya satu party yang bisa masuk untuk tantangan terakhir"

"Orang pertama yang datang akan dilayani duluan. Gregory-sensei lah yang telah menyiapkan para petualang ini, mereka hebat karena bisa mengurusi banyak masalah. Jadi dengan menuruti urutan kelompok yang tiba, penantang pertama adalah Hart, kedua adalah aku, dan yang terakhir adalah kalian"

"Jika aku tidak memberi tahu kalian ketika menyelesaikan labirin ini, aku takkan bisa memberi sensasi kekalahan kepada kalian! Aku hanya ingin kemenangan! Tak perlu apapun selain itu!!"

Hah? Apa mereka tidak waras? Itulah yang juga dipikirkan nee-chan, dia melangkah maju di depan bangsawan-bangsawan itu untuk mengajukan pertanyaan.

"Tunggu sebentar. Apa kalian tidak memiliki permintaan dari kami jika menang?"

"Apa yang bisa kami peroleh dari jelata? Yang kami inginkan adalah kebanggaan dari reputasi yang disebut kemenangan!"

"Hmmm, memang takkan ada yang terjadi jika kami menang. Tapi, jika kami sampai kalah, kukira kami akan mendengarkan permintaan apa saja, walaupun cuma satu untuk setiap orang. Bagaimana?"

Kedua orang itu tertawa keras, kami agak takjub dengan tingkah mereka. Menurut aniki, kami tidak boleh terprovokasi. Jadi, aku memutuskan tidak meminta apapun dan memulai pertandingan, orang-orang ini hanya ingin mendapat kemenangan dari kami.

Apa yang harus kami lakukan jika kalah? Ini akan mengecewakan karena kami sudah terlanjur menerima untuk bertanding.

"Sekarang setelah kalian mengerti, kami akan masuk. Ini akan segera berakhir. Kalian hanya harus menunggu dengan cemas kemenangan kami tanpa harus melakukan apapun"

Hart hendak pergi ke pintu bersama para petugasnya. Hanya saja, seorang petualang malah berdiri di depan mereka.

Apa ini....aku merasakan firasat buruk.

"Sedang apa kau? Karena kontraknya sampai di sini saja, pergilah dengan cepat"

"Aku ingin mengambil....imbalannya"

"Bukannya setelah tantangan terakhir labirin ini selesai?"

"Itu benar! Kau hanya akan menjadi penghalang bagi Hart-sama!"

"....Aku bosan mengasuh anak-anak"

"?!"

Secara reflek, aku melesat dan menendang punggung Hart dengan keras. Ada sesuatu yang terayun pada saat itu, namun pelayan Hart hanya berdiri tercengang disana.

"Karena itu, aku akan mengambil imbalanku. Yaitu, wajah tertutup keputusasaan dan jeritan. Selanjutnya....adalah hidupmu, ya kan?"

Ketika petualang yang berekspresi dingin itu berbicara dengan gembira lalu melepas jubahnya. Di depan mata kami, kedua lengan petugas itu....terjatuh.

"Aaa....aaaaa...."

"Apa....ini?"

"Tangan!! TANGANKUUUU!!!!!!"

Jeritan mereka bergema di aula. Dengan itu sebagai tanda, petualang lainnya juga melempar jubah mereka dan menyerang si bangsawan perempuan.

"Benar! Sudah waktunya pengajaran!"

"Menjeritlah dengan keras, hiburlah kami"

"Hancurlah!!!"

Itu....adalah neraka yang pernah aku lihat dulu.

Desaku....teman....keluarga....ini mirip adegan mimpi buruk dimana semuanya lenyap.

Petugas si bangsawan perempuan terbunuh, robek dan hancur oleh petualang.

Dan kemudian perempuan bangsawan itu....

"Rasakan ini!! Aku meminta pedang angin---...."

Meski dia meneriakkan mantra dengan berani, namun para petugas yang melindungi si bangsawan perempuan tidak di sana lagi. Tentu saja para petualang akan menyerangnya karena dia tak memiliki pertahanan.

"Hei, kau yakin mau melepaskan sihir tanpa khawatir begini?"

"{Air Shot}!!"

Sebelum senjata petualang itu berayun, nee-chan menembakkan {Air Shot} dan menghempaskan tubuh si bangsawan perempuan hingga membuatnya terhindar dan nyaris selamat. Namun, seperti yang diharapkan, dia tidak bisa menahan itu dan malah terpental oleh dampaknya.

Aku juga sama karena telah menendang Hart tanpa menahan kekuatanku, dia benar-benar pingsan di lokasi yang agak jauh.

"Hehh? Kalian sangat baik walaupun masih anak-anak"

Petualang yang menyerang petugas Hart tersenyum bahagia sambil menggenggam pedangnya dan menatap kami. Sekilas dia tampak lembut, tapi kesan itu sirna saat melihat mayat para petugas yang bergelempangan di beberapa titik pada aula. Aku berdiri di depan nee-chan dan menarik pedangku.

"Siapa....kalian?"

"Hah? Jadi, kau tidak tahu meski sudah melihat tato ini?"

"Maaf saja. Tapi aku tidak tertarik dengan hal lain kecuali pada orang tertentu*. Jika tidak keberatan, boleh aku mengajukan pertanyaan?"
[Maksudnya ya Sirius]

Nee-chan bertanya dengan perlahan. Disisi lain, wajah Reese-ane memucat. Dia menutup mulutnya sambil terkaku di barisan paling belakang. Kami bisa tahan dengan pemandangan ini karena pernah menyaksikan hal serupa di masa lalu. Pemandangan dihadapannya sekarang terlalu berlebihan untuk dirinya yang lembut. Entah mau lari atau bertarung, kami ingin memberikan waktu sampai mental Reese-ane pulih walaupun hanya sedikit.

Petualang tersebut menjawab pertanyaan nee-chan dengan menunjukkan tato merah berbentuk naga, kemudian tersenyum kepada tiga orang lainnya sambil menyebarkan kedua lengan.

"Bagus sekali, akhir-akhir ini orang akan langsung kabur begitu mengetahui identitas kami. Jadi izinkan kami memperkenalkan diri"

Orang yang berbicara dari tadi bukan berasal dari ras manusia maupun ras binatang, ini adalah pertama kalinya aku melihat ras itu. Penampilannya mirip manusia. Namun sekujur tubuhnya dipenuhi sisik bagaikan ular, tanduk tumbuh di kepalanya, dan ditambah ekor yang mirip kadal.

Hanya saja, matanya adalah bagian yang paling berkesan. Seolah terdapat perasaan gelap dan mendalam yang tersembunyi di senyuman gelapnya. Itu menakutkan.

Bukan, aku sungguh tidak bisa melihat apa yang tersimpan di dalam dirinya. Jika tidak seperti itu, dia takkan membunuh seseorang dengan senang hati.

"Aku berperan sebagai pemimpin party guild 'Dragon of Fresh Blood', dipanggil Goraon dari ras naga. Yang di sini adalah Ash. Dia berasal dari ras serigala emas langka, kau tahu?"

Serigala perak dan serigala emas berada dalam jenis yang sama. Penampilannya hanya berbeda pada bagian rambut, perak dan emas. Tapi, pengecualian sesungguhnya ada pada gaya hidup. Ras serigala perak sangat menghargai keluarga, kerabat dan tetap berkelompok sampai kapanpun. Namun, ras serigala emas berbeda. Mereka adalah ras terisolasi yang mengusir keluarganya begitu anak itu tumbuh sampai batas tertentu.

Kekuatan mereka sangat tinggi. Hanya saja, jumlahnya yang sedikit bisa diperkirakan akibat gaya hidup itu, hingga membuat ras ini jarang terlihat. Ketika Aniki mengetahuinya, dia berkata kalau mereka persis seperti serigala penyendiri.

Petualang yang diperkenalkan oleh Goraon, Ash si ras serigala emas dengan tubuh besarnya tersenyum ganas ketika menatap kami.

"Hebat....kalian benar-benar hebat. Rasanya pasti bagus ketika memotong daging mereka"

"Belum, Ash. Pengenalan diri belum berakhir....Paman kurcaci ini adalah Ed. Dia sangat kuat"

"Hmmph, aku saja sudah cukup untuk mengalahkan bocah-bocah nakal ini"

Postur si kurcaci tidak terlalu berbeda dengan Aniki, tapi dia membawa perisai dan kapak yang tampak berat dan kasar dengan mudah. Terutama, perisainya yang sangat besar hingga menutupi seluruh tubuh. Kupikir itu takkan hancur dengan hanya serangan setengah-setengah.

"Dan yang terakhir adalah Romeos dari ras manusia. Dia penyihir hebat dengan atribut air dan tanah, seorang Double"

"Salam, anak-anak ras binatang dan manusia"

Dia membungkuk sopan sambil membiarkan rambut panjang hijaunya tergerai. Kelihatannya saja seperti pemuda baik, tapi dia memiliki mulut yang melengkung dengan menjijikkan.

"Itulah kami, 'Dragon of fresh blood'. Meskipun waktunya sangat singkat, senang bertemu dengan kalian"

"Waktu yang sangat singkat....kenapa begitu?"

Sementara berbicara, aku juga mengambil posisi dimana nee-chan dan Reese-ane menjadi titik buta bagi mereka. Aku mempersiapkan pedang terlebih dahulu, dan tanpa melonggarkan kewaspadaan sedikit pun.

"Eh? Tentu karena kalian akan segera mati juga, kan? Kami suka membunuh orang"

"Bukankah itu....sebuah kejahatan? Aku punya satu pertanyaan lagi, mengapa orang-orang seperti kalian ada di sini?"

Nee-chan berusaha memperoleh lebih banyak waktu sambil membelai punggung Reese-ane. Aku tidak berpikir mereka akan menjawab tapi pemimpinnya, Goraon berbicara dengan senang hati.

"Itu karena ketika kami bermain di kota tertentu, Gregory datang dan mengundang kami. 'Kalian bisa membunuh banyak orang', katanya. Tapi, meski sudah repot-repot sampai di sini, hal pertama yang kami lakukan malah mengasuh anak. Awalnya aku bersabar hingga di pertengahan jalan, tapi itu tidak bisa ditahan lagi. Akupun melakukannya tanpa sengaja. Kesabaran itu buruk bagi kesehatan seseorang"

"Tapi, ini tidak buruk juga. Meski masih anak-anak, mereka berbeda. Bukankah ini akan jadi menyenangkan?"

"Kau benar. Jeritan mereka pasti bagus"

"Jauhkan tangan kalian! Ini adalah mangsaku!!"

Gregory lagi? Sampai mengundang orang-orang semacam ini, dia tidak pernah melakukan hal yang baik.

Saat aku teringat bajingan itu, Goraon menepukkan tangannya sambil tampak berpikir sesuatu.

"Benar juga! Membunuh secepatnya juga bagus, namun aku ingin mendengar jeritan keputusasaan mereka. Tidakkah akan baik kalau ada waktu untuk pertemuan strategi jika mereka mau melawan kita?"

"Kebiasaan buruk itu keluar lagi. Aku ingin secepatnya bertarung"

"Eh? Karena mereka melawan, ekpresi yang mereka buat ketika semuanya dihancurkan bukankah yang terbaik? Kalian juga setuju kan?"

"Tidak bisa terbantu, ayo ikuti pendapat pemimpin"

"Karena itu, kita akan memberikan sedikit waktu untuk kalian"

Sementara kami terkejut, kelompok Dragon of Fresh Blood duduk di dekat dinding dan mulai beristirahat.

Sudah jelas kami sedang diremehkan tapi kami sangat bersyukur sekarang. Meski begitu, aku tidak berhenti bersikap hati-hati lalu menoleh ke belakang pada Nee-chan dan Reese-ane.

"Apakah kau baik-baik saja, Reese-ane?"

"Yeah ... maaf....Aku sudah baikan"

"Kita telah meminta bantuan melalui liontin ini, tapi jangan berharap kalau mereka akan segera tiba"

"Benar. Mereka....pasti lebih kuat dari kita"

Salah satu pengajaran yang kuterima dari Aniki adalah hal tentang menyadari musuh yang kuat.

Ini adalah ajaran untuk memastikan kekuatan dan membandingkannya dengan diri sendiri dari berbagai sudut pandang, termasuk penampilan mereka juga. Bagaimana cara menekan hawa kehadiran dan haus darah. Aniki mengatakan, bahwa sulit jika tidak melakukannya berkali-kali, tapi saya bisa paham kesan buruk dari 'Dragon of Fresh Blood' ini. Kami tidak sebagus Aniki, tapi kami mengerti hal-hal yang berada di atas kami.

Aniki berkata bahwa aku harus melarikan diri tanpa ragu jika bertemu lawan yang lebih kuat. Tapi aku tidak ingin melarikan diri dari orang-orang ini.

"Apa Emilia dan Reus-kun bahkan tak bisa menghadapi mereka?"

"Jika bersama Nee-chan, kami bisa mengurus satu orang. Tapi tidak mungkin dengan empat orang sekaligus"

"Kalau begitu, ayo kabur. kita mungkin bisa melarikan diri jika menggunakan {Aqua Mist}"

Saat mendengar tentang melarikan diri, aku langsung menatap kedua bangsawan yang tergeletak lalu menggelengkan kepala. Kedua nee-chan adalah prioritas utama.

"Sama dengan lawan, ada suku serigala emas yang sensitif terhadap bau disana. Mereka akan segera mengejar bahkan jika kita lari. Bagaimanapun juga, ini akan berakhir kalau nee-chan dan Reese-ane tertangkap"

"Lalu....kita akan bertarung?"

"Ini akan sulit, tapi....kita tidak punya pilihan lain. Reese, kaulah satu-satunya yang bisa lolos"

"Ya, aku ingin kau memberi tahu Aniki"

"Aku tidak setuju dengan itu!"

Wajah Reese-ane masih pucat karena dibebani ketakutan akan teror. Namun, dia mencengkeram tinjunya dan menolak rencana kami.

"Aku....merasa akan menyesal jika sampai melarikan diri dari sini. Aku takut penyesalan ini menjadi sesuatu yang tak bisa kusembuhkan selamanya"

"....Kau mau mati?"

"Aku takut! Aku tidak ingin mati! Tapi....meski begitu....hal seperti  meninggalkan kalian berdua....aku sama sekali tidak setuju!"

Reese-ane menatap kami sambil menumpahkan air mata. Walaupun aku ingin dirinya melarikan diri, rasanya sangat hangat ketika dia menolak demi nee-chan dan diriku.

"Jadi, aku juga akan bertarung! Aku ingin pulang bersama semua orang!"

"Terima kasih Reese, ayo kembali ke tempat Sirius-sama bersama-sama. Tapi sebelum itu, kita harus mulai dari awal dan menyusun strategi. Pertama, kita mungkin harus mengurangi jumlah musuh"

"Siapa yang kita targetkan dulu?"

"Strategi yang biasa adalah menargetkan pemimpinnya, namun dia tadi mengaku berasal dari ras naga. Reus akan menahan pria serigala emas itu, sedangkan apakah pisau anginku bisa mengenainya atau tidak...."

Tertulis dalam buku bahwa tubuh ras naga sangatlah kokoh. Menebasnya dengan pedang mungkin bisa, tapi aku harus menahan lawan lain sambil memastikan {Air Slash} nee-chan mengenainya atau tidak. Karena ini merupakan serangan kejutan, kesempatannya hanya sekali. Aku bertanya-tanya tentang apa yang bisa membuat rencana kami berhasil.

"....Aku yang akan melakukannya"

"Reese?"

"Aku pasti bisa. Sirius-san telah mengajariku. Kalau memakai 'itu', aku pasti bisa pergi kesana"

"'Itu' ya! Kalau memakai 'itu'....!"

"Benar juga. Tapi Reese, kau akan melompat langsung ke daerah musuh utama, kau tahu? Sampai-sampai menghadapi risikonya...."

"Hasilnya akan sama jika kita kalah! Jadi, ayo pilih metode barusan meski kemungkinan berhasilnya kecil!"

Tubuh Reese-ane agak gemetar, dia hampir tak bisa berdiri tegak. Meski begitu, perilakunya masih tegas. Orang itu sendiri melangkah maju dan bertekad memberi dukungan.

Aku mengangguk dengan Nee-chan, lalu bersama memegang tangan Reese-ane.

"Terima kasih. Kami mempercayakannya padamu. Jangan khawatir, Reus dan aku akan memberi jalan untukmu"

"Aku akan melindungi punggung Reese-ane!"

"Ya, akan kulakukan yang terbaik!"

Yang bisa kami perbuat hanyalah menanggapi tekad Reese-ane.

"Karena begitu, tentang strateginya...."

Nee-chan terlihat sangat kuat. Mungkin itu wajar karena dia dan aku selalu berlari mengejar punggung aniki.

Namun di situasi ini, nee-chan hanya berpura-pura kuat. Aku sadar ketika kami saling berpegangan tangan tadi, tubuhnya....gemetar. Ekornya juga menegang, sama sepertiku.

Meski begitu, tak ada pilihan selain melakukan ini! Demi kembali ke sisi aniki!

Aku memikirkan strategi yang nee-chan susun di kepalaku dan bersiap untuk bertarung. Pihak lain juga kembali.

"Bagaimana kalau kita mulai sekarang? Yah....apa pun pertarungan yang kalian akan tunjukkan, kami berharap itu akan menyenangkan"

Dia tersenyum seperti sebelumnya dan menunggu dengan gembira tindakan kami.

Lihat saja, kami akan segera menghapus senyuman itu.

"Kumohon! {Aqua Mist}!"

Pertama, menutup bidang pandang menggunakan sihir Reese-ane. Pada saat bersamaan, nee-chan dan aku akan berlari dan menargetkan lawan masing-masing. Itulah rencananya.

Lawanku adalah orang dari ras serigala emas dan si kurcaci. Kami mampu melihat dengan sempurna sosok lawan meski ikut berada dalam kabut tebal ini berkat bantuan Reese-ane. Aku mengaktifkan {Boost} dan mulai menyerang si kurcaci dulu.

"{Flame Knuckle}!!!"

"Apa?!"

Karena tak perlu menyembunyikan kemampuan kami yang sesungguhnya, aku meninju si kurcaci dengan kepalan api tanpa memakai mantra. Walaupun berhasil mengejutkannya, lawan masih sempat menyiapkan perisai dan menahan seranganku. Hanya saja, tujuanku yang sebenarnya bukan untuk mengalahkannya, tapi untuk menarik perhatian.

Pria kurcaci itu terdorong mundur sambil terhuyung-huyung karena dampaknya.

"Bocah nakal disana!!"

Merasakan bau ledakan tersebut, pria serigala emas pun menyerang. Aku menghentikan serangannya dengan mengayunkan pedangku. Pria dari ras serigala emas ini tidak memegang satupun senjata, gaya bertarungnya mungkin hanya mengandalkan kemampuan tubuh fisik saja. Kuku-kukunya memanjang dengan aneh dan dia bahkan menerima seranganku tanpa terganggu. Sialan, apakah lawanku lebih unggul bahkan saat aku memperkuat diri menggunakan {Boost}?

"Kau harus menghentikan tipuan kekanak-kanakan semacam itu. Wahai---...."

"Aku tidak akan membiarkanmu melakukannya!"

Nee-chan menghadapi si penyihir manusia yang hendak melemparkan sihir angin kelas pemula. Dia mengacungkan pisaunya dan menyerang dari dalam kabut. Namun, serangan mendadak itu berhasil dihindari.

"Fufu, jangan berpikir kalau aku lemah dalam pertarungan jarak dekat hanya karena diriku seorang penyihir"

"Aku tidak menyukai ini, tapi aku setuju! {Air Slash}!!"

"Cepat?! Tapi lintasan laju sihir itu hanya akan membersihkan kabutnya"

Nee-chan sepertinya baik-baik saja, tapi aku mungkin takkan bertahan lebih lama. Gerakan kurcaci itu lamban dan entah bagaimana aku mampu mengurusnya, tapi si ras serigala emas sangat cepat dan kuat lebih dari yang kuperkirakan.

"Menyingkirlah, Ash! Kau menghalangi jalan!!"

"Diam!! Sudah kukatakan kalau bocah ini adalah mangsaku!"

"Ada apa dengan orang-orang itu?!

Aku bersyukur karena keduanya malah bertengkar disaat kami sedang bertarung. Mereka mulai saling menyerang, tapi aku berhasil menghindarinya. Bagaimanapun, kerja sama itu penting.

Dan sementara kami menarik perhatian lawan seperti itu, Reese-ane bergerak perlahan dari samping sambil mendekati Goraon tanpa disadari.

"Heh....sihir yang menarik, ya? Aku jadi tidak bisa melihat apapun"

"Kelengahanmu itu bisa berakibat fatal!"

Reese-ane kemudian berlari menuju Goraon dan melepaskan sihir terbaiknya.

"Aku memohon pada semuanya! {Aqua Cutter}!!"

Itu adalah pisau air yang sudah diciptakan aniki. Berupa percikan air dengan kekuatan besar dan merupakan sihir hebat dan mampu memotong apapun seperti batu maupun bongkahan besi. Aniki berkata bahwa kekuatannya menjadi sebesar ini karena dibantu oleh para roh.

Harusnya sihir itu bisa memotong benda padat sekalipun seperti sisik ras naga.

Reese-ane bergerak ke arah Goraon sambil melemparkan benda tipis dari tangannya. Lawan segera berpindah, tapi itu sudah terlambat. Satu lengan sekaligus satu kakinya dipotong oleh sihir Reese-ane, dia terjatuh ke lantai tanpa bisa menopang tubuhnya sendiri dengan anggota badan yang tersisa.

"Ini?!"

"Selanjutnya adalah kepalamu! Aku ingin kau menghentikan ini. Yang lain harus segera menghentikan tindakan mereka dan pergi!"

Reese-ane berpura-pura menjadi sangat kejam sambil menunjuk lawan, tapi tubuhnya sendiri sedikit bergetar. Tidak heran, ini adalah pertama kalinya dia memotong seseorang.

Melihat Goraon yang menahan tawanya membuat Reese-ane tampak kesal.

"Apanya yang lucu?! Cepatlah pergi!"

"Tidak, aku hanya heran. Apa ini pertama kalinya kau memotong seseorang?"

Goraon mengambil lengan yang terpotong menggunakan lengannya yang tersis tanpa wasapada sama sekali dan menempelkan bagian itu ke tubuhnya lagi.

"Sudah lama aku tidak terluka dalam medan pertempuran. Meski pada saat itu kedua kakiku yang terpotong, aku tidak menyangka gadis sepertimu lah yang selanjutnya bisa melakukan ini"

"Mus....tahil...."

Ketika lengan yang terputus itu disambungkan lagi, jarinya mulai bergerak-gerak dan tampak masih hidup. Seolah tak ada yang terjadi.

"Terkejut? Diriku berasal dari ras naga dengan spesies sedikit berbeda dan memiliki ketahanan yang sangat bagus. Hei, bahkan kakiku seperti ini"

"Aa....aaa...."

Selanjutnya, kakinya juga sama. Dia segera berdiri dan menunduk untuk menatap Reese-ane.

Rasa haus darah dihadapannya membuat Reese-ane tampak kaku dan tak mampu bergerak sedikitpun.

Dia juga terlihat tidak mampu lagi mempertahankan sihirnya, menyebabkan kabut tebal air lenyap dengan cepat.

"Hmm, bagus. Ekspresi keputusasaan itu....Jadi, aku akan memotong bagian yang sama darimu untuk mengungkapan rasa terimakasihku"

Goraon menggenggam pedangnya sambil tersenyum kepada Reese-ane yang terdiam.

Sekalipun aku ingin membantu, diriku berada dalam keadaan dimana tak mampu lari dari kedua orang ini.

"Ha ha ha!! Bermainlah lebih banyak denganku!"

"Lihat kemari, bocah nakal!"

"Sialan! Menyingkirlah kalian!! Reese-ane!!!"

Aku menangkal kedua serangan mereka dan bergegas ke arah Reese-ane dengan niat menerima tebasan itu. Namun, pedang Goraon lebih cepat. Disaat senjatanya berayun turun---....

"Reese!"

....---Nee-chan menerjang kesana.

Tubuh Reese-ane terpental akibat tubrukan mereka. Nee-chan kemudian menangkis pedang yang berayun dengan pisaunya. Sayangnya, itu tidak bisa ditahan, ada batas bagi pisau agar bisa membelokkan jalur tebasan pedang. Jika pisaunya bukan senjata yang dibuat kakek Grant, itu mungkin sudah pecah dan dia akan tertebas.

Nee-chan mengatur ulang posturnya yang hancur dan mencoba melakukan serangan balasan....

"Jangan mengganggu!"

Namun, Goraon lebih cepat. Dia menendang nee-chan dan membuatnya terhempas jauh. Tanpa menahan diri, itu merupakan tendangan dengan niat membunuh.

Nee-chan terbang dan menabrak dinding dengan bagian belakang tubuhnya. Dia jatuh di lantai dan tak bisa bergerak.

"Nee....chan?"

"Emilia!!!"

Reese-ane berlari sambil memanggil namanya.

Aku tak bisa melakukan apapun dan hanya bisa menatap pemandangan ini.

Apa kau bercanda....

Nee-chan....

Oleh pria sepertinya....

"Apa kalian melihat itu?!"

"Pertama, kita akan mengambil satu lengannya kan?"

"DIAAAAMMMMMM!!!!!!"

Seketika, aku langsung berubah.

Diriku membesar, rambut tumbuh di sekujur badan, dan kekuatan mengalir ke seluruh bagian tubuh.

Pedangku menjadi sangat ringan seolah sesuatu yang tidak nyata. Aku lalu menyingkirkan lengan bersenjatakan kuku si ras serigala emas dengan kekuatan penuh menggunakan pedang ini.

"Ugh?!"

Aku sekarang bisa menghentikan serangannya dan menghempaskan lawanku. Berikutnya, aku hendak membelah kurcaci itu, tapi dia menggunakan posisi bertahan begitu menyadari perubahan wujudku.

"Apa menurutmu kau bisa menembus pertahananku?!"

"UWAAAAAHHH!!!!!"

Ketika pedangku terayun tanpa peduli, perisai kurcaci itu dan pedangku saling menghantam. Suara menderu pun bergema di ruangan ini.

Tubuh kurcaci itu terhempas bersama perisainya. Dia kemudian terjatuh dengan punggungnya di beberapa langkah agak jauh. Meski benturan tadi begitu luar biasa, pedang dan perisai kami masih mempertahankan bentuknya.

....Aku bisa melakukannya.

Dengan kekuatan ini, aku bisa melawan orang-orang itu.

Aku menyegel bentuk ini karena tidak ingin Reese-ane melihatnya, tapi sekarang bukan masalah.

Singkirkan secepatnya orang-orang ini dan pergi ke tempat Nee-chan segera*!
[こいつらを速く――して、すぐに姉ちゃんの所へ行くんだ!....menurut kalian, garis panjang itu apa maksudnya ya??. Kata-katanya sih "Koitsu ra o hayaku---shite, sugu ni neechan no tokoro e iku nda"]

"Cih....Walaupun tidak terkena serangan langsung dari depan, kekuatan brutal macam apa itu? Dia bukan sekedar bocah nakal"

"Berhati-hatilah. Aku bisa melihat pergerakan Mana darinya. Mungkin semacam suplemen Mana yang diterapkan ke dalam tubuh fisik"

"Apa dia juga sudah bisa menggunakan {Boost} di usianya ini? Dia disebut anak terkutuk, anak yang sangat kuat"

"Anak terkutuk? Apa itu?"

"Anak terkutuk bisa berubah wujud seperti anak itu. Ini adalah kisah turun temurun di ras serigala kami. Mereka akan membawa malapetaka, dan jika sampai ketahuan akan dibunuh"

"Bukankah dia hidup sekarang?! Jangan katakan kalau itu bohong!"

"Aku tidak tahu sejauh itu. Bagaimanapun, ini sedikit merepotkan"

Apa pun yang mereka katakan aku tidak peduli.

Cepatlah....lebih cepat---agar bisa tiba di tempat nee-chan*.
[Disini juga ada garis panjangnya]

"Yah, haruskah kita melakukan itu?"

"Apa boleh buat...."

"Bocah berambut perak inilah yang masih tersisa. Jadi kita targetkan anak ini dulu"

"Semoga berhasil. Aku akan mengurus gadis rambut biru itu nanti"

Hanya ada perasaan jijik setiap kali mereka berbicara.

Aku lalu menggunakan {Boost} dengan kekuatan penuh dan mengincar orang-orang itu.

"Hoi, aku disini bocah nakal!!"

Aku mengayunkan pedang karena kurcaci yang memegang perisai itu melangkah maju....tapi dia masih sempat mengarahkan perisainya secara diagonal, membuat pedangku meluncur di sepanjang perisai dan hanya menebas lantai.

"Sangat mudah ketika harus berurusan dengan kekuatan yang luar biasa!"

Ayunan pedangku ditepis oleh perisai itu dan malah berganti dengan diriku yang menerima serangan kejutan. Namun, aku hanya sedikit tersentak dan memerima kerusakan kecil pada tubuh ini.

Sialan, ini hanya sedikit sakit. Aku masih bisa melakukannya!!.

"Hei, Nee-chan tersayangmu dalam bahaya, kau tahu"

"?!"

Saat aku berbalik mendengar suara itu, si pria ras serigala emas berlari menuju nee-chan yang roboh. Reese-ane yang tinggal di dekatnya terlalu sibuk menggunakan sihir penyembuh hingga tidak menyadari situasinya.

Aku harus melindungi mereka!!.

"Jangan mendekati nee-chan, AAARRRGGGHHH!!!!!"

Kakiku menendang lantai dengan segenap kekuatanku dan melesat menuju si pria ras serigala emas.

Aku menyusul pria itu, yang beberapa langkah dari nee-chan dan menebasnya tapi dia melompat ke belakang sambil tersenyum tenang.

Dia bisa saja memakai kukunya untuk menangkis serangan tadi. Tapi kenapa dia malah menghindarinya kali ini?

Ketika memikirkan itu, intuisiku membuat tubuhku berbalik secara paksa.

Sihir bumi tingkat dasar, Rock Bullet].

Bongkahan batu terbang mendekati dadaku.

Kurasa sihir itu datang dari penyihir di belakang. Aku tidak bisa menghindarinya karena pedangku yang masih berayun di udara. Sejak awal ini memang tak bisa dihindari.

Aku tidak punya pilihan selain membunuhnya!

Biasanya aku akan menepisnya dengan tebasan turun, tapi tidak mungkin sekarang karena aku masih ditengah mengayunkan pedang. Aku hanya harus menebasnya pada percobaan pertama.

Aku bisa melakukannya....Sekarang aku bisa melakukannya!

"DISIIINNIIIII!!!!"

Pedangku mengenai {Rock Bullet} di arah dan waktu yang tepat lalu membuatnya pecah menjadi serpihan-serpihan kecil. Sedangkan untuk bentuk ini, membunuh manusia tidak sulit sampai batas itu tapi....aku menyadarinya karena konsentrasiku yang tinggi.

Ada {Rock Bullet} lagi yang mendekat dari belakang dan ada satu lagi masuk.

Daripada menembak satu-satu, dia melepaskan dua sekaligus.

Aku yakin ini akan berakhir karena aku tidak lagi dalam kondisi untuk mengayunkan pedang. Namun, mungkin aku bisa menghindarinya jika melompat sambil memutar tubuh.

Tapi, itu tak boleh dihindari.

Karena ada nee-chan di belakang.

☆☆☆☆

Bagian 3

Sebongkah batu menusuk ke dalam dadaku.

Dampak serangan itu melewati armor yang kupakai. Bunyi sesuatu yang pecah dan berasal dari dadaku seketika terngiang-ngiang di telingaku.

Tubuhku terpental tanpa bisa menahannya, menabrak dinding dan jatuh ke lantai.

Aku....belum pingsan.

Namun, rasa sakit tak tertahankan mulai menjalar dari dadaku. Menyebabkan mulutku terbatuk darah.

Pikiranku menyadari kalau wujudku telah kembali ke bentuknya yang sedia kala.

"Reus-kun!!"

Begitu aku menoleh ke asal suara itu, Reese-ane menatapku sambil menangis.

"Syukurlah....kau....aman"

"Berhenti bicara!! Wahai air....tolonglah, {Aqua Heal}!!"

Rasa sakit di dada sedikit mereda karena sihir Reese-ane. Tapi, wajahnya pucat dan berkeringat banyak. Ini adalah tanda kekeringan Mana.

"Sudah cukup....Reese-ane....akan segera pingsan...."

"Kau berada dalam kondisi yang lebih buruk! Jika aku tidak merawatmu bahkan sedikit saja, kau akan mati!!"

Walau pernapasannya kasar dan tampak akan runtuh kapanpun, dia tak menghentikan sihirnya.

Aku jatuh didekat posisi nee-chan. Pria ras serigala emas itu kemudian berjalan ke sini sambil tertawa.

Aaa....bukankah ini tidak mungkin?

Aku....sudah melakukan yang terbaik.

Jika aku kehilangan kesadaran seperti ini, kupikir Aniki pasti akan datang untuk membantu.

Dan saat diriku bangun, Aniki dan nee-chan akan berada disana menatapku dengan cemas.

Tapi....bagaimana jika Aniki tidak berhasil tepat waktu?

Jika aku pingsan....Nee-chan akan diserang.

TIDAK!!!

Hal itu sudah pasti....TIDAK BOLEH!!!!!

Alasan diriku memutuskan untuk menjadi kuat.

Ini karena untuk melindungi nee-chan!!

Lebih baik aku mati daripada nee-chan diserang!!

"Aa....Aaaarrghh!!!"

Aku berdiri.



Reese-ane terkejut, tapi aku berjalan tanpa mempedulikannya dan menghadang jalan si pria serigala emas.

"Aku mendengar kalau ras serigala perak menghargai keluarga mereka, tapi ini lebih dari yang di harapkan. Apa yang bisa kau lakukan dengan tubuh babak belur seperti itu?"

"Berisik....datanglah, dan lawan aku"

"Hmmm, ternyata kau masih memiliki sisa tenaga ya"

Rambutku di jambak dan diriku diangkat setinggi wajah pria itu.

Aku entah bagaimana mengingatnya.

Selama masa perbudakan, rambutku di jambak seperti ini lalu dipukuli setiap kali diriku mengatakan hal yang tidak sopan.

Meski hanya bisa menangis dan meminta maaf pada saat itu, aku yang sekarang berbeda.

Aku....memiliki taring.

"UGAAAAAA!!!!"

"Ap---, guaaargh?!?!"

Aku menggigit lengannya.

Bahkan jika kesadaranku tinggal sedikit....Bahkan jika sosok nee-chan dan Reese-ane semakin memudar dari mataku....---

"Sialan!! Lepaskan itu, bocah nakal!!!"

"GUUUU!!!!"

---Takkan pernah kulepaskan!!!

Tak peduli seberapa menyedihkannya ini, seberapa sakitnya ini, aku akan bertahan.

Aku akan kembali ke tempat Aniki bersama semua orang.

"Bajingan ini!!!"

Wajahku terus dipukuli dengan tangan kosongnya. Pada akhirnya aku berguling-guling di lantai dan kembali ke tempat nee-chan lagi. Kupikir cengkramanku takkan terlepas, tapi ternyata dia merobek dagingnya sendiri. Daging seperti ini memang tidak enak dimakan.

"....Re....us"

"Emilia, kau sudah bangun?!"

....Saat aku mengalihkan pandangan, nee-chan dengan lemah membuka matanya dan memanggilku.

Aku senang, dia masih hidup.

Aku sungguh....sangat senang.

"Cukup....hentikan. Kau....sudah....cukup melakukannya"

"Benar sekali!! Istirahatlah karena aku akan melakukan sesuatu!!!"

'Berhenti' Jika kata selembut itu diucapkan, bukankah tekadku akan menjadi tumpul?

Lihat, orang itu datang lagi dan kali ini dengan wajah yang sangat marah.

Datanglah. Karena aku akan menggigitmu lagi.

Aku akan menggigitmu....tak peduli berapa kalipun....

Sampai taringku patah.



---Bam!! Bam!! Bam!! Bam!! Bam!! Bam!! Bam!! Bam!! Bam!! Bam!! Bam!! Bam!! Bam!!---



....

....Pergerakan semua orang mendadak terhenti.

Melihat ke asal suara itu, ada banyak sekali lubang pada dinding di sebelah kami.

Lubang-lubang itu berpola seperti lingkaran seolah ingin merobohkan dinding....tidak, itu benar-benar akan roboh.

....Aku lalu menangis.

Seseorang yang bisa melakukan hal seperti itu....aku hanya mengenal satu orang.

"Apa?!"

"Sesuatu datang!!"

Dinding itu runtuh seiring kelompok Goraon yang mengambil sikap waspada. Sesuatu lalu melesat dari sana. Ketika puing-puingnya terbang ke arah mereka, sosok itu melompat melewati kami dan menerjang si pria ras serigala emas.

"Siapa kau?!"

Pria itu meninjunya secara refleks namun dihindari dengan mudah oleh pihak lain. Kakinya lalu tersapu, menghancurkan keseimbangannya. Dia kemudian terhempas kencang karena tendangan berputar.

Orang yang baru datang ini mengatur ulang postur tubuhnya dan menghadapkan punggungnya di depan kami.

Pandanganku meredup, kesadaranku hendak lenyap. Namun, tatapanku masih bisa melihat punggung orang itu dengan jelas.

Punggung yang selalu ku lihat....dan takkan bisa kulupakan.

Favorit kami semua....

"....Ani....ki"

"....Kau bertahan dengan baik, Reus"


☆☆☆Chapter 34 berakhir disini☆☆☆

>Catatan penulis = Ini hanyalah kebiasaan kecil, aku menulis karena ingin menulis.

Selanjutnya adalah amukan sang karakter utama yang tidak muncul di chapter ini, rahasia kecilnya adalah....aku sudah menjadwalkannya. Akan kulakukan yang terbaik untuk update secepatnya.

>Catatan penerjemah = ....Hiks....mengharukan sekali si Reus ini....

Ke Halaman utama World Teacher
Ke Chapter selanjutnya


Comments

  1. Min....
    Tanggung min....
    Cepetan update min....
    😀😀😀😀

    ReplyDelete
  2. why ed chapternya di saat yg tidak pas min T_T

    ReplyDelete
  3. lanjut min , penasaran MC ngamuk >.<

    ReplyDelete
  4. anjiiiiiiiiirrrrr..... lagi seru-serunya nih.....

    ReplyDelete
  5. Noooooooooooooo :" Reus-kun Over badass , Sirius mengamuk :" mate kalian Dasar para naga kampret

    ReplyDelete
  6. Ntapss.. perjuangan reus ama si Mc-nya mau ngamuk ,ahh kenapa harus nunggu lagi padahal pas seru"nya

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Kusoge Online (BETA) Bahasa Indonesia

108 Maidens chap 14 B. Indonesia