World Teacher chap 35 B. Indonesia

Chapter 35 Pria yang dipanggil Terkuat
Diterjemahkan oleh I-Fun Novel





Bagian 1


"Kau melihat suatu kelompok yang mirip seperti itu?!"

Setelah mendengar kabar tentang 'Dragon of Fresh Blood', aku lalu menceritakan para petualang yang mengenakan jubah di sekujur tubuh dan mendampingi kedua bangsawan itu.

"Ya, walau hanya sesaat, tapi aku sempat melihat tato naga merah di punggung tangan mereka"

"Jika benar, maka ini adalah keadaan darurat. Aku akan segera mengirim orang untuk memastikannya. Kenapa orang-orang berbahaya itu bisa ada di sini?"

Vile-sensei sedang memikirkan penyebabnya, sedangkan aku memejamkan mata dan mulai mengaktifkan {Search}.

"Vile-sensei, ada laporan lain. Guru yang sedang mengawasi Gregory....ditemukan sudah menjadi mayat"

"Begitu kah....sungguh disesalkan kehilangan orang seperti dia. Dimana mayatnya?"

"Ya, aku sudah mengamankan mayatnya. Terdapat banyak luka seolah-olah dia telah dipermainkan, ada juga beberapa bagian tubuh yang hilang"

"Pembunuhan ini sungguh brutal. Tolong kuburkan sisa-sisanya dengan terhormat. Bagaimanapun, kasus guru yang sedang mengamati Gregory-sensei ini....sangat mencurigakan"

"Ini pendapat pribadiku, tapi menurutku dialah* yang sudah memandu orang-orang itu. Jika tidak, akses ke sekolah tak mungkin diizinkan"
[Maksudnya Gregory]

"Aku juga berpikir sama. Untuk Gregory-sensei, secepatnya....tidak, temukan Gregory. Kirim penjaga ke labirin pada saat bersamaan. Dan, Sirius-kun....

---Mereka ketemu!!

"Vile-sensei!"

"Iya?! Ada apa?!"

"Mana rute terpendek yang bisa aku lalui untuk menuju lantai sembilan di labirin?"

"Jika tidak salah....melalui pintu masuk kesembilan. Ini adalah rute paling lurus dan tak memiliki cabang kecuali jumlah golemnya yang banyak....Sirius-kun?"

Meski jaraknya jauh, tapi aku berhasil merasakan reaksi Mana para muridku menggunakan {Search}. Reaksi itu jauh di dasar labirin....mungkin itulah area lantai kesembilan.

Begitu aku selesai mendengar tentang rute terpendek, takkan ada masalah sesudahnya. Aku tidak mendengar ucapan Vile-sensei sampai akhir dan malah mendekati jendela sambil mengumpulkan barang-barang ketika menuju ke sana.

"Aku akan berangkat duluan, segera hubungi penjaga. Juga, aku akan meminjam ini"

"Sirius-kun!! Disini bukan lantai pertama---...."

Aku mendengar sesuatu dari belakang namun mengabaikannya dan malah melompat keluar jendela. Berdasarkan ketinggian bangunan, ruang staf Magna-sensei terletak di lantai empat, tapi diriku melompat ke atap bangunan berikutnya dan perlahan-lahan turun ke bawah sambil membuat perancah dengan {Air step}. Begitu kakiku memijak tanah, langkahku mulai berayun dengan kencang.

Aku tidak berniat menyembunyikan kekuatanku yang sebenarnya lagi. Setelah mengaktifkan {Boost}, aku berlari dengan momentum hebat hingga tanah tercungkil.

Setelah tiba di depan labirin hanya dalam beberapa menit, aku melompati pos keamanannya dan menerjang ke pintu masuk bertuliskan angka sembilan. Meski ada yang berteriak di belakang, aku tak peduli.

Begitu memasuki labirin, sebuah golem langsung muncul. Hanya saja, aku melompatinya sama seperti ketika melompati pos keamanan dan bergegas ke depan. Gerakan para golem itu lamban, hindari saja jika seseorang ingin menyelesaikan penjelajahan labirin ini.

Sambil berlari, aku terus melepaskan {Search} dan memindai posisi para muridku.

Mereka tampaknya sedang bertarung melawan beberapa orang yang memiliki reaksi Mana tak dikenal. Sepertinya masih aman untuk saat ini. Reaksi yang tidak kuketahui ini pasti berasal dari orang-orang yang dimaksud itu.

Aku berencana memanggil menggunakan {Call} ditengah perjalanan ke sana, tapi mereka mungkin menjadi lengah jika mendengar suaraku. Agak mengesalkan, tapi aku harus bertahan dan terus berlari maju.

Barisan panjang golem lalu muncul, aku memilih berpijak dan berlari melintasi dinding karena melompatinya akan sulit. Ketika golem berukuran besar yang keluar dan menghadang jalan, aku menembak lingkaran sihirnya menggunakan {Magnum} untuk menerobos.

Lantai ketujuh....menurut reaksi Mana, Emilia telah terhempas dan berhenti bergerak. Sedangkan Mana Reese semakin menipis.

Lantai kedelapan....reaksi Mana Reus membludak, namun segera mengecil. Ini telah menjadi situasi yang berbahaya.

Lantai kesembilan....Reus berada dalam genggaman satu orang dan dihajar olehnya. Dia terlempar, ketiga muridku berada didekat satu sama lain dan tak ada yang bergerak.

Akhirnya selama waktu itu, aku hampir sampai di dinding sisi lain. Aku bisa melihat dalam jarak dekat bahwa ada orang-orang di balik tembok. Namun, reaksi Mana yang mendekati muridku lebih cepat, aku takkan sempat jika terus berlarian di sepanjang dinding.

Aku harus menerobos.

Setelah menilainya dalam sekejap, aku mengarahkan tangan kananku sambil masih berlari, dan menembakkan {Magnum} dengan cepat ketika membayangkan amunisi peledak yang dikhususkan untuk menembus baja.

Tembok itu tertusuk hampir seperti kertas. Aku terus menembaki dan membentuknya menjadi garis melingkar. Saat pola bulat itu telah tercipta sepenuhnya, aku melompat ke arah dinding dan memberikannya sebuah dropkick.

Dinding yang terlubangi itu terlempar ke arah reaksi Mana yang sepertinya musuh. Namun, aku masih berlari menuju murid-muridku tanpa mengkonfirmasikan identitas mereka.

Orang berambut pirang dengan telinga hewan....apa dia dari ras serigala emas atau semacamnya? Tidak, itu bukan masalah. Dialah yang telah menghajar Reus, dan juga....penjahat yang telah menyiksa para muridku.

"Siapa kau?!"

Itu kata-kataku. Siapa kalian....apa yang telah mereka lakukan terhadap anak-anak ini.

Aku menghindari tinjunya, menyapu kakinya lalu melakukan tendangan berputar.

"....Ani....ki"



Ketika menoleh ke belakang, ada sosok muridku yang telah babak belur.

Emilia roboh, Reese pucat karena kelelahan Mana, dan Reus menderita luka di sekujur tubuhnya.

Aku mengerti itu karena aku terus merasakannya* sampai tiba disini.
[Maksudnya, Sirius terus mengawasi menggunakan {Search} sambil berlari menuju lokasi mereka]

Reus....kau telah berjuang mati-matian melindungi Emilia dan Reese.

"....Kau bertahan dengan baik, Reus"

"Aniki...."

Ketika aku merasa sedikit lega melihat Reus yang menangis seperti dulu, ada sesuatu yang terbang dan tertangkap oleh {Search}.

Batu yang ditembakkan itu....{Rock Bullet}? Ada tiga namun aku menghancurkan semuanya menggunakan {Impact}. Hanya saja, muncul satu lagi yang besar.

"Kau melakukannya dengan baik!!"

Apa dia orang yang baru saja ku tendang? Dia menebas menggunakan kuku kanannya yang memanjang dengan aneh. Namun sayang, bagian sisinya dipenuhi oleh celah. Ini merupakan bukti bahwa dia belum pernah menantang lawan yang lebih kuat.

Lengan kanannya berhenti secara paksa saat aku mendorong sisi tubuhnya dengan tangan kiriku*. Aku lalu melayangkan pukulan tangan kanan ke wajahnya yang terkejut.
[Sisi yg dimaksud memiliki banyak celah itu ya sisi kanan. Jadi gini, si Ash mau menyerang menggunakan cakar kanannya, namun tangan kiri Sirius mencapai ke bagian sekitar pundak/lengan kanan bawahnya hingga membuat gerakan lengan serigala itu berhenti. Agak rumit jelasinnya]

"Jangan mengganggu, serigala!"

Aku merasakan sesuatu yang patah pada wajahnya yang kutinju dengan marah. Namun, ini masihlah sepele dibandingkan dengan apa yang dialami muridku. Baguslah jika dia tidak mati. Jika sampai mati....aku takkan bisa melampiaskan murka ku, kan?

....Tidak, masih terlalu dini untuk melakukannya. Pertama, aku perlu memastikan keadaan murid-muridku.

Setelah menegaskan tak ada lagi yang ingin menyerang, aku mengangguk dan mendekati Reus yang terbaring.

"Sirius-san! Reus-kun melindungi kami! Selain itu, Emilia juga melindungiku!"

"Sirius-sama....Reus telah...."

"Ya, aku mengerti"

Aku tersenyum untuk membiarkan keduanya merasa lega, lalu menyentuh tubuh Reus dan mengaktifkan {Scan}.

....Beberapa rusuknya retak, organ dalam dan otot telah sangat terluka. Ada sebongkah batu yang menghantam organ dalamnya dan masih berada disana. Itu {Rock Bullet}. Bentuk otot-ototnya tampak berbeda. Apakah ini akibat dari melampaui batas transformasi?

Akan berbahaya untuk membiarkannya seperti ini. Aku menyerahkan sebuah wadah tertutup berisi cairan yang telah ku pinjam dari ruangan Magna-sensei kepada Reese yang sedang melakukan penyembuhan.

"Jangan aku, tolong berikan itu dulu pada Reus-kun!"

"Jika kau meminumnya, pemulihan Mana-mu akan menjadi lebih cepat"

"?!"

Pemulihan Mana untuk masing-masing orang agak berbeda, dan tak ada obat yang bisa membuat Mana terisi langsung setelah ditelan. Hanya saja, ada sesuatu yang mampu mempercepat pemulihan Mana, dan aku menyerahkan itu padanya.

Reese meminumnya segera setelah mendengar penjelasanku. Ekspresi gadis ini kemudian berubah buruk.

"....Pahit. Tapi, dengan ini...."

"Aku suka pada anak yang patuh. Permisi sebentar*"
[Dia memang berbicara seperti seorang ayah disini]

Setelah mengucapkan itu, aku menyentuh kepala Reese dan mengaktifkan {Scan}. Tapi sepertinya dia hanya mengalami kekeringan Mana dan sedikit memar. Mungkin karena tiba-tiba disentuh olehku, pipinya memerah.

"Emm....Sirius-san?"

"Aah, maaf. Aku memeriksa apakah kau memiliki luka atau tidak. Ya, syukurlah kalau kau aman"

"Tidak....aku tidak terlalu berguna, dan bahkan sekarang....aku tidak bisa berbuat apapun"

"Ada hal yang bisa kau lakukan. Dengar, luka Reus...."

Reese memiliki sifat serakah untuk menyembuhkan orang lain.

Karena itu, aku menanamkan pengetahuan medis dari duniaku sebelumnya sejauh yang dia bisa mengerti. Di dunia dimana sihir penyembuhan sangat diandalkan, diapun mengetahui tentang struktur tubuh yang tidak penting bagi orang lain seperti tulang dan otot. Bergantung pada sihir pemulihan, jika titiknya diketahui, perawatan dapat difokuskan pada tempat itu. Inilah yang paling sesuai untuknya karena dirinya ahli dalam sihir penyembuh.

Aku menjelaskan tempat di mana Reese harus sembuhkan dan menginstruksikan berbagai hal begitu dia selesai memulihkan Mana.

"Serahkan padaku!"

Reese menyesali ketidakmampuannya. Namun berkat sihir penyembuh gadis ini, luka keduanya tidak bertambah buruk. Aku sangat bersyukur. Dia bisa mendapatkan kembali kepercayaan diri jika aku menyerahkan Reus padanya.

Aku juga masih berhati-hati dengan orang-orang itu menggunakan {Search}, tapi karena entah kenapa mereka tidak melakukan apapun, aku melanjutkan tindakanku.

"Kau sudah menunggu ya, Emilia"

"....Sirius-sama"

Emilia sedang tergeletak di suatu tempat, responnya agak lemah ketika aku mengajukan pertanyaan. Mungkin ada semacam kelainan di otak, aku menyuruhnya agar tidak bergerak ketika mengaktifkan {Scan}.

"Sirius-sama....aku benar-benar....minta maaf"

"Untuk apa? Bukankah kau sudah melindungi Reese? Sama seperti Reus, kau sudah melakukan yang terbaik"

Saat aku dengan lembut membelai pipinya, dia tersenyum lembut dan tampak merasa nyaman.

Sedangkan untuk hasil diagnosis, dia mengalami memar hebat, tapi tidak sampai muncul kelainan pada tulang. Ini akan cukup dengan sihir penyembuhan Reese. Kesadarannya yang tampak bisa lenyap kapanpun ini mungkin disebabkan oleh gegar otak ringan, aku mencoba memeriksanya dengan hati-hati, tapi tidak menemukan titik yang memiliki semacam pembuluh darah rusak dan gejala prognosis* lainnya. Mungkin dia akan pulih jika terus beristirahat.
[Gejala prognosis setahuku gejala sakit/abnormal pada tubuh]

Rasanya buruk mengganggu Reese yang sedang memulihkan Mana, tapi aku harus memberitahunya keadaan Emilia.

"Benarkah?! Aku senang....aku, sangat senang...."

"Jangan menangis....semuanya baik, kan?"

"Tentu saja, aku akan menangis. Jika aku tidak melakukan apapun untuk melindungi Emilia, aku akan menyesalinya seumur hidupku!"

"Kau bisa menangis setelah ini, aku akan mempercayakan Reus padamu. Ada hal yang harus ku lakukan"

"Ya!"

Ketika Mana-nya sudah sedikit pulih, dia mulai merawat Reus menggunakan sihirnya.

Saat aku menoleh dan melihat wajah Emilia sekali lagi, tangannya yang gemetar bergerak....dan menangkap jemari ku.

"Hei, beristirahatlah"

"Tapi....lawanya ada empat....jika hanya Sirius-sama....sendiri...."

"Orang seperti mereka bukanlah masalah. Tunggulah sebentar, ini akan segera berakhir"

"....Ya"

Seusai menaruh tangan Emilia dengan lembut, aku melepaskan jubahku sendiri dan menyelimutkan itu pada dirinya. Aku sedang mengenakan pakaian tempur karena berencana memasuki labirin juga hari ini, kupikir ide ini adalah hal yang bagus. Satu-satunya senjataku adalah pisau Mythril yang kutaruh di dada, tapi ini sudah cukup untuk menangani mereka.

Aku berdiri, mengambil beberapa langkah maju dan menyatakannya kepada murid-muridku.


"Takkan kubiarkan orang-orang ini menyentuh kalian bahkan untuk sesaat pun. Lihat saja dari sana"

"Sirius-sama"

"Sirius-san!"

"....Aniki"

"Apa yang akan kalian lihat mulai sekarang....adalah diriku yang sesungguhnya. Pejamkan saja mata kalian jika kalian takut"

Tidak perlu mendengarkan jawaban mereka.

Aku memunggungi para muridku dan mulai berjalan ke depan.

☆☆☆☆

Bagian 2

Ketika aku maju ke tempat di mana diriku bisa melihat orang-orang itu dengan jelas, si serigala emas sedang di rawat oleh seorang pria dari ras manusia.

Seseorang yang sepertinya berasal dari ras naga melihatku, dia menoleh ke sini dan menyambutku dengan senyuman ramah.

"Oh, kau akhirnya selesai? Jujur saja, agak menyakitkan ketika hanya menjadi penonton. Aku harus menahan beberapa kali keinginan untuk menyerang, kau tahu? Tapi untungnya aku bisa bersabar, karena bagian terbaiknya adalah saat melihat ekspresi putus asa kalian"

"....Begitu kah?"

"Selain itu, lihat. Hidung Ash patah karena serangan tadi. Bagaimana kau melakukan itu?"

"....Entahlah"

"Begitu ya? Ngomong-ngomong, apa kau berbicara setelah menyadari siapa kami? Meski sudah memperkenalkan diri pada anak-anak itu, haruskah kami melakukannya lagi? Aku dipanggil Goraon---"

"Nama tidaklah penting. Kalian adalah 'Dragon of Fresh Blood' kan?

"Jadi, kau sudah tahu....agak disesalkan. Baiklah, kalau begitu---"

"Tapi aku punya satu pertanyaan"

Tak perlu mengocehkan hal yang tidak penting, aku hanya punya satu hal sederhana untuk ditanyakan.

Dia tampak tidak senang karena perkataannya disela, namun langsung tersenyum dan menunjuk ke arahku.

"Ayo kita dengarkan ucapannya sampai akhir. Biasanya aku tidak mengizinkan ini, tapi karena kita pria dewasa, tentu saja harus menjawab pertanyaannya kan? Apa yang ingin kau ketahui?"

"Murid-muridku....Anak-anak yang ada di belakang, apa kalian melakukan sesuatu terhadap mereka?"

Orang-orang itu saling pandang mendengar ini lalu tertawa, kecuali si ras serigala.

"Hmmm? Kami tidak melakukan apapun, kau tahu? Aku hanya berpikir akan sangat menyenangkan ketika mereka menangis sambil dicincang"

"Aku yang melakukannya!! Lenganku sudah digigit oleh bocah nakal itu dan robek. Bekas luka ini takkan mudah hilang, sialan!!"

"Jeritan anak-anak sungguh luar biasa. Jika aku tidak mendengarkannya sekali dalam sehari, aku takkan bisa tenang"

"Aku ingin mereka berteriak dengan suara yang bagus"

Sudah dipastikan.

Tak perlu ragu lagi.

Orang-orang ini sangat jelas....musuhku.

"Jadi, apa? Jangan katakan kalau kau berencana melawan kami sendirian? Tidak, aku malah ingin kau melakukannya. Aku ingin tahu suara seperti apa yang akan kau buat"

"Aah, aku akan bertarung sesuai keinginanmu dan melawan kalian semua...."

Saklar tempur sudah ditekan.

Aku mengambil satu langkah maju dan meningkatkan kekuatan sihirku.

"Akan kubuat kalian menyesal....karena telah hidup"

Dan saklar ketiga pun---....

 ☆☆☆☆

Bagian 3



--- ---*
[Dari sini, memang masih sudut pandang Sirius. Lebih tepatnya, ini adalah sudut pandang {Pemikiran saklar ketiga Sirius}]



....Aku terbangun karena gelombang riak.

Terbangun setelah sekian lama tak hadir.

Meski baru saja bangun, namun aku sudah mengerti situasinya karena Sirius dan aku adalah satu.

Ada empat musuh kali ini.

Bahkan dari sudut pandangku, orang-orang ini harus dihukum.

Akan kuberikan penghakiman tanpa belas kasih.

Baiklah....Jika seseorang bertanya siapa aku, diriku hanyalah sebuah eksistensi pemikiran.

Walaupun tanpa nama, aku yang tak pernah muncul ke permukaan pun dipanggil demi alasan kenyamanan.

Ini sedikit berbeda dengan kepribadian ganda.

Pengetahuan Sirius telah terbagi, aku hanyalah bagian pelengkap untuk dirinya.

Untuk menjelaskan ini, Sirius yang dulu....ini akan menjadi pembicaraan tentang kehidupan sebelumnya.

Ketika dia masih kecil, dirinya di ambil oleh suatu institusi yang membesarkannya lalu di angkat oleh Shishou.

Dia hanyalah seorang anak biasa pada saat itu, anak yang tampak sederhana namun kuat.

Sirius diangkat untuk dilatih oleh Shishou, dan sering bertarung dengannya.

Namun, tak peduli berapa kali mereka bertarung, meski sudah mencoba taktik pengecut, dia tak bisa menang. Bahkan tak mampu meraih kakinya.

Setelah mengalami kekalahan beruntun, Sirius yang benci kalah mencoba mati-matian mencari cara untuk menang.

Selain perbedaan kekuatan fisik, ada banyak pola yang bisa dibaca seolah sudah diramalkan. Seiring kekuatan fisik yang meningkat, Sirius lalu mencoba berfokus pada kecepatan berpikir.

Dan kemudian....kesimpulan yang konyol dan terlalu kekanak-kanakan pun keluar. Yaitu, memikirkan semuanya pada saat yang sama dengan sangat cepat.

Tentu saja hal itu tak bisa dilakukan. Namun, Sirius yang terus berusaha mengalahkan Shishou, mengulanginya dengan sungguh-sungguh, dan akhirnya bisa melakukannya setelah bertahun-tahun.

Sirius menyebut ini sebagai 'pemikiran paralel' (Multi Task).

Semuanya dipikirkan secara paralel dan ditangani bagaikan mesin. Untuk mengurus banyak lawan dengan cepat, bahkan jika ada banyak dari mereka pada saat bersamaan.

Hal itu mengejutkan Shishou, dimana dia tidak pernah terkejut sejauh itu sebelumnya.

Ngomong-ngomong, meski sudah mengembangkan itu, tapi yang kalah masih belum berubah*.
[Gurunya Sirius sebelum reinkarnasi ini sebenarnya sekuat apa?? Waduh, jadi kebayang demon lord....jangan-jangan....ups]

Setelah itu, Sirius tumbuh secara signifikan, kemampuan fisiknya telah dilatih dengan hati-hati oleh Shishou. Melewati banyak medan perang sambil menumpuk pengalaman dan mengembangkan intuisi, tanpa menyisakan musuh berkat 'pemikiran paralel' (Multi Task).

Itulah alasan Sirius pernah disebut Yang Terkuat.

Ada tiga 'saklar' pada dirinya.

Yang pertama adalah di waktu normal.

Sirius akan bertindak layaknya seorang ayah selama hari libur ketika berhubungan dengan murid-muridnya, tertawa riang dan menuruti rasa ingin tahunya seperti anak kecil.

Yang kedua adalah di waktu bertarung.

Sirius memanfaatkan sepenuhnya kemampuan pemikiran paralel (Multi Task)nya secara maksimal, termasuk ketika bertarung dengan musuh menggunakan cara yang dingin semasa masih menjadi agen.

Sedangkan yang ketiga mengacu pada keadaan sekarang.

Ini adalah keadaan yang diperoleh setelah dia marah. Hal itu pernah beberapa kali terjadi di dunia sebelumnya.

Saat itu, suatu organisasi menculik murid ketiga Sirius. Amukannya kemudian meluluh lantahkan organisasi tersebut, bahkan membunuh orang yang tidak terkait.

Sirius takut kalau hal itu terulang kembali. Karena itulah dia perlu tenang dan memastikan terlebih dahulu dari sudut pandang pihak netral.

Benar....diriku ini merupakan eksistensi yang diciptakan oleh 'pemikiran paralel' (Multi Task).

Saklar ketiga adalah dimana aku mengawasi keseluruhan situasi, dibantu pemikiran paralel (Multi Task), dan menyimpulkan semuanya berdasarkan pihak netral.

Aku tidak punya hak untuk memutuskan tindakan.

Aku melihat keseluruhan situasi, berpikir dan memberi nasehat....karena seperti itulah eksistensiku.

Sirius berdiri di hadapan para penjahat yang telah menyiksa murid-muridnya.

Berhadapan dengan si ras naga yang menyebut dirinya Goraon, serigala emas, kurcaci dan pria manusia. Aku mengerti bahwa mereka memiliki keterampilan yang cukup berdasarkan kesan dan peralatan mereka. Oleh sebab itu dia tak boleh lengah.

"Hee....membuat kami menyesal karena telah hidup, ya? Jika kau pikir bisa melakukannya, maka lakukanlah"

"Anak dengan pakaian aneh ini, dialah yang akan menyesal"

"Datang saja kesini. Atau apakah mulutmu itu cuma hiasan?"

"Keh, jangan berpikir kalau kebetulan akan terjadi lagi!!"

Si serigala emas langsung melesat karena provokasi Sirius. Si kurcaci mengikutinya dan si pria manusia mulai melantunkan mantra dari barisan belakang. Sedangkan orang dari ras naga itu....dia hanya melihat ini sambil tersenyum.

"Disini, bodoh!!"

Dengan tenang melihatnya yang marah....tidak, mungkin sifat serigala ini memang busuk?

Serigala emas itu berlarian menghindari Sirius dan malah menargetkan murid-murid yang berada di belakangnya. Jika dia dengan gegabah mengejar, Sirius akan terperangkap dalam keadaan gawat dan terkena sihir.

Oleh karena itu, aku memilih mengabaikannya dan beralih untuk tetap mengawasi si kurcaci yang mendekat dari depan.

"Apa kau mau meninggalkan mereka meskipun sudah tampil keren tadi?! Orang yang menyedihkan!!"

"Kalau begitu, apa boleh buat! Biarkan aku mendengar jerit kematian mereka yang menggemaskan!!"

Kurang beberapa langkah lagi, serigala emas itu memanjangkan kukunya. Murid-murid yang tidak bisa bertarung lagi hanya akan menjadi mangsa.

"Hiii?!"

"Tidak apa-apa....Reese"

....Apa dia berpikir bahwa Sirius tidak memprediksi hal seperti itu?

"Oraaaa---Uguoooh?!?!"

Sayangnya, terdapat {Impact} yang telah tertanam dilantai sebagai ranjau darat pada arah dimana dia berlari. Serigala emas itu kemudian terlempar ke atas sebagai respon untuk dampak yang telah dilepaskan dari kakinya.

Selain itu, ada banyak sekali {Impact} yang juga telah terpasang di udara. Diapun memantul berkali-kali seperti pinball karena ledakan jarak jauh yang dihubungkan dengan {String}*.
[Kalian tau bom yg dihubungkan dengan tali yg panjang, dimana pemicunya ada di ujung yg lain?? Seperti itulah prinsip sihirnya. {String} itu juga sudah teraliri {Impact}]

Dengan adegan itu sebagai latar belakang, Sirius berlari menuju si kurcaci sambil menghindari kapak yang diayunkan ke bawah dan memanfaatkan perisainya sebagai titik buta untuk menyelinap ke belakang. Begitu selesai memutarinya, dia segera menggenggam rambut orang itu lalu menariknya, diikuti dengan menendang bagian belakang lutut dan membantingnya di punggung. Sebagai hasil dari itu, hantaman berat yang mengenai bagian belakang kepala si kurcaci membuat gerakannya berhenti sesaat.

"Menyingkirlah dari Ed! Kerikil batu yang hanya untuk menusuk....{Rock Bullet}!!"

Karena rekannya sedang dalam krisis, pria manusia yang telah selesai merapal di belakang menembakkan sihirnya. Ada sepuluh batu yang terbang kemari, tapi tanpa berbalik ke arah sana, dia menunjuk satu tangan dan mencegat semuanya dengan {Impact}. Bersamaan dengan itu, ia meletakkan tangan satunya pada perut si kurcaci dan mulai meningkatkan Mana.

"Kuh, bocah nakal ini...."

"Pertama, satu tembakan. {Impact}"

{Impact} yang ditembakkan dari jarak nol menembus tubuh kurcaci dan mengguncang lantai. Dampat itu cukup untuk meretakkan permukaan yang keras. Kesadarannya hendak lenyap diiringi busa yang keluar dari mulut.

"Gah....hu....bocah....nakal...."

"Masih belum"

Serentetan {Impact} membuat tubuhnya melonjak berulang kali. Dengan banyaknya pembunuhan kejam yang telah di lakukan, dia bisa merasa lega, karena Sirius mengerti itu dan tidak membiarkannya mati dulu.

Setelah itu, lagi....berkali-kali....bahkan jika suara patah tulang terdengar, bahkan jika darah bermuncratan dari mulutnya, dia takkan berhenti. Takkan pernah berhenti.

"Agaah!!! Guhaa!!! Sudah....!!! Berhen---...ti!!!"

"Oguhh!!! Maaf....gahaa!!! Ampuni---....ogoooh!!!"

"Kau!! Kerikil batu yang hanya untuk menusuk....{Rock Bullet}!!"

Siapa yang bisa membayangkan ini.

Hanya seorang lelaki yang mengatur {Impact} di udara sebagai senjata jarak jauh untuk mementalkan si serigala emas, membuat {Impact}nya menerkam si kurcaci yang terbaring pada jarak nol, dan mencegat semua sihir yang datang dengan {Impact}.

Tanpa merapal mantra, bahkan tanpa menyebutkan nama sihirnya. Ini adalah hal rumit yang hanya mampu dilakukan karena adanya 'pemikiran paralel' (Multi Task).

Aku menasihatinya agar segera berhenti ketika mendapatkan waktu. Dan akhirnya diriku inipun berhenti. Kedua orang yang telah babak belur parah mendadak menjadi diam.

Mata kurcaci itu putih dengan darah mengalir dari hidung dan mulutnya. Sedangkan si serigala emas yang jatuh tidak jauh dari sana telah terluka di sekujur tubuh, bahkan beberapa tulangnya membengkok ke arah yang aneh.

Sirius belum memeriksa apakah mereka sudah meninggal atau belum. Yang manapun tidak masalah.

Daripada itu, rasanya terlalu awal untuk memohon pengampunan mengingat beberapa saat yang lalu, orang-orang ini bersenang-senang ketika membunuh orang. Mereka dibutakan oleh kemampuan masing-masing. Apa itu karena mereka tidak pernah bertemu orang yang lebih kuat atau mencicipi kekalahan?

Dan dilain sisi, pria yang terus menembakkan sihir dari tadi....

"Hahhh....hahh....Kerikil batu yang hanya untuk menusuk, {Rock Bullet}"

Sekarang, bukannya dia telah menembakan {Rock Bullet} yang ke 58 kalinya? Walaupun hanya sihir kelas pemula, tanda kelelahan Mana bisa dilihat karena dia terus-terusan menembakkannya dengan cepat.

"Kau juga belum paham, ya. Hentikan, itu takkan berguna"

"Kenapa? Kenapa?!....Kenapa kau tidak kehabisan Mana?!?!"

Bongkahan batu yang terbang hancur akibat {Impact}.

Tak seperti {Rock Bullet} yang merupakan bentuk dari batu yang dikeraskan, {Impact} adalah konsentrasi Mana murni dan merupakan sihir dengan konsumsi Mana lebih tinggi. Jika seseorang berpikir normal, Sirius harusnya sudah kehabisan Mana lebih dulu, tapi dia telah melakukan pemulihan dari kekeringan Mana puluhan ribu kali selama hampir delapan tahun. Anggap saja bahwa jumlah Mananya beberapa kali lebih tinggi dari orang itu.

"Sudah selesai? Kau harusnya menggunakan berbagai jenis sihir, bukan hanya sihir tingkat pemula"

"Kuh, bagaimanapun, ini belum berakhir!! Kerikil batu yang hanya untuk menusuk, {Rock Bullet}!!!"

Dia mengulangi sihir yang sama tanpa lelah. Tapi kali ini, dia tidak melepaskan itu ke arah sini. Mengikuti lintasannya, ada sosok bangsawan yang tergeletak di sana. Bongkahan batu itu hancur dan menabrak lantai tepat di sampingnya.

"Fufu, kau paham? Aku takkan meleset lain kali"

"Sandera....ya?"

"Benar sekali. Kau memang kuat tapi juga naif karena melindungi anak-anak di belakangmu. Bisakah kau membiarkan anak yang tidak berhubungan mati?"

Kurasa diriku ini takkan peduli pada bangsawan itu.

Mungkin dia hanya ingin tahu apa yang akan Sirius lakukan....

"Bisa saja"

"Hah?"

Pria itu sedang mengapungkan sebongkah batu dan bersiap menembakkannya, namun Sirius maju tanpa peduli.

"Aku hanya ingin melindungi murid-muridku. Kedua bangsawan itu terbaring di sana karena kesalahan mereka sendiri, kenapa aku harus melindungi mereka?"

"Muu, kuh....kalau begitu, lihatlah!!"

"Lagipula...."

Apa dia sudah tidak punya pilihan lain? Batu itu ditembakkan pada si bangsawan.

Massa padat yang menuju kepala bangsawan itu pasti akan membawa nyawanya melayang. Tapi, Sirius menjatuhkannya dengan {Impact}, lalu menembakkan {Magnum} ke lengan kanan si pria manusia. Peluru itu mengenainya dan meledakan lengannya.

"GYYAAAAAAAHHHHHH!!!!!"

"Apa yang akan kau lakukan mudah diprediksi. Hentikan, dan sadarilah perbedaan kekuatan kita"

"AAAHHHHH!!!! Lenganku!!! A-Air yang mampu menyebuhkan--- ... "

"Apa kau mendengarkan? Oi, sisi lain akan menjadi seperti itu jika kau tidak menjawab pertanyaanku"

"Hiii?! Y-Ya!!"

Dia duduk dan mulai melantunkan mantra pemulihan tapi Sirius berdiri di hadapannya dan menempelkan jari telunjuk ke dahi pria itu. Dia yang tahu kekuatan penghancur dari jari ini hanya bisa mendongak dengan tatapan berisi ketakutan.

"Murid yang ada di belakangku....apa kau yang menembakkan sihir pada anak laki-laki di sana?"

"Bu-Bukan!!! Serigala itulah yang telah melakukannya!!!"

"Bongkahan batu yang kau lepaskan tadi sangat mirip dengan pecahan kerikil yang kutemukan di dada anak itu....benar kan? Jika kau berbohong...."

"....Me-Memang aku yang melakukannya"

"Bagus. Aku akan berhenti menembak"

Dia mengaku segera ketika diancam dengan jari yang sarat akan sedikit Mana. Begitu Sirius melepaskan jari dari dahinya seperti yang dijanjikan....

"Sebagai gantinya, akan kuberikan rasa sakit yang sama dengan yang dialami anak itu"

Dia langsung mengarahkan tangannya ke dada pria itu dan menembakkan {Impact} pada jarak nol. Tubuhnya terhempas sebelum sempat mengatakan sesuatu, menabrak dinding lalu pingsan.

Sisa satu orang, sama sekali tidak bergerak dari posisi semula. Dia terus-menerus terlihat bahagia, kemudian bertepuk tangan saat tatapan keduanya bertemu.

"Bagus! Bagus!! Teman-temanku sama sekali bukan tandinganmu ya? Siapa kau sebenarnya?"

"Guru dari anak-anak ini. Tak ada yang lain"

"Hmmm. Asal kau kuat, bahkan identitasmu bukanlah masalah. Daripada itu, sudah lama aku tidak menunjukkan keseriusanku"

"Entah mau serius atau tidak, datanglah. Dalam pertempuran, obrolan dengan orang sepertimu sama sekali tidak perlu"

"Kalau begitu....kita mulai*!!!"
[Sore ja....Ohiromeda yo!]

Diiringi ketika dia membuang pedangnya, tubuh Goraon mulai membesar dan terisi dengan kekuatan. Warna tubuhnya berubah menjadi merah gelap. Selain itu, kuku-kukunya memanjang. Bahkan tanduk pun juga tumbuh. Terakhir, wajah yang awalnya berbentuk manusia berubah menjadi naga.

Apakah ini karakteristik khusus yang mirip dengan Reus? Beberapa saat kemudian, walaupun tidak memiliki sayap, tapi Goraon telah selesai berubah menjadi naga merah humanoid.

"Sampai sekarang, aku telah memasuki sepuluh medan perang. Singkatnya, bukankah ini bukti bahwa diriku kuat?"

"Kebetulan sekali. Aku juga pernah memasuki medan perang"

"Jangan berbohong hanya karena kau ingin bersaing. Baiklah....AYOOO!!!!!"

Jika diingat-ingat, Sirius sudah merasakan sekitar lima puluh medan perang, tapi....tidak ada gunanya menjelaskan hal itu padanya.

Pria ini memiliki tubuh yang beberapa kali lebih besar darinya dengan pergerakan yang lebih cepat dari si serigala emas. Ketika dirinya menerjang kehadapan mata Sirius dalam waktu singkat, sebelum kuku-kukunya sampai, diriku menghindar dengan sebuah lompatan kebelakang.

"Aku sering menghadapi orang-orang kuat sepertimu di medan perang!! Namun, akhirnya dirikulah yang menang!! Apa kau ingin tahu apa penyebabnya???"

Serangan cakar yang dilepaskan terus menerus semuanya sudah diprediksi oleh 'pemikiran paralel' (Multi Task) dan bisa dihindari dengan aman. Sirius kemudian menghindari ayunan lebarnya lalu memotong lengan si naga menggunakan Pisau Mithril.

Hanya saja, lengan yang tertebas langsung sembuh dan menyerang lagi.

"Itu karena kemampuan regenerasi tubuhku!! Bahkan jika dipotong berapa kalipun, aku akan segera sembuh jika masih memiliki Mana!!! Tak ada lawan yang bisa menandingiku karena penyembuhan tanpa batas ini!!!! DIRIKU TAK TERKALAHKAAANNN!!!!!!"

Dengan memanfaatkan kemampuan itu, dia tak perlu bertahan ya.

Diriku menembakkan {Magnum} beberapa kali sambil menghindari serangannya. Tapi daripada menghindar, dia sengaja menerimanya. Lubang peluru yang tak terhitung tercipta di tubuh, namun langsung tertutup. Sirius juga mencoba menembaki kepalanya dan itu juga segera sembuh.

Begitu ya, aku bisa mengerti kenapa dia mengatakan bahwa dirinya tak terkalahkan.

"Itu sia-sia saja!! Ayo ayo, berapa lama lagi kau bisa menghindari seranganku?! Diriku yang bisa pulih tanpa henti dan kau yang bisa menghindarinya tanpa henti, ini sangat bagus!!!!"

Seperti yang dia katakan. Jika terus begini, keadaan akan perlahan menjadi lebih buruk.

Sirius kemudian mengambil jarak dengan melompat ke belakang untuk mengganti taktik.

"Apa kau ingin melarikan diri??"

"Tidak, aku hanya ingin mengganti tempat"

Sirius menoleh ke belakang dan memasuki salah satu lorong di aula.

"Itu adalah lorong, kau tahu?? Dengan pergi ke tempat kecil, akan lebih sulit menghindari seranganku. Apa kau bodoh???"

"Aku akan memberitahumu lebih awal....kau akan berakhir jika mengejarku. Pikirkan baik-baik dan putuskanlah"

"Apa? Apa kau mencoba memprovokasi?? Baiklah, aku akan menikmati apapun yang kau akan lakukan!!!"

Goraon memiliki kepercayaan diri mutlak pada kemampuannya, wajar saja jika dia mudah dipengaruhi. Diriku  ini kemudian berlari ke lorong setelah memastikan para murid tidak diserang dan tentu saja sambil dikejar oleh Goraon.

Ketika memutuskan untuk berhenti di tengah lorong panjang, Sirius mengambil tindakan tertentu. Hanya berlangsung dalam hitungan detik, tapi begitu prosesnya selesai, Goraon tiba sambil tertawa

"Lihat, aku berhasil menyusulmu!"

Naga humanoid ini menggerakkan lengannya, namun gerakannya berhenti seolah-olah tersangkut pada sesuatu. Dia mencoba menggerakkan lengan satunya, tapi itu juga berhenti dengan cara yang sama.

"Apa? Apa ada sesuatu yang melilitku disini?"

Dia sudah terjebak.

Jika orang ini bisa melihat Mana, maka dia akan tahu bahwa tubuhnya sudah terlilit {String} yang tak terhitung di lorong ini.

Sirius kemudian berlari mengelilingi Goraon dan mengaitkan lebih banyak {String}.

"Aku tidak tahu apa yang kau lakukan, tapi aku akan melepaskan ini!!"

"Takkan kubiarkan!"

{String} digulung di sekitar sendi-sendinya sebelum dia bisa mengerahkan lebih banyak kekuatan. Postur tubuhnya berubah, ke postur dimana dia menjadi sulit bergerak.

Sirius menangkapnya seperti mangsa laba-laba dengan membungkuskan {String} berkali-kali. Tubuh Goraon pun tergantung dalam keadaan di mana dia tidak bisa berkutik.

"A-Apa-apaan ini?! Kenapa aku tidak bisa menggerakkan tubuhku sama sekali?! Sial!!! Aku tidak bisa....menggunakan kekuatanku!!!"

"Bahkan jika kau dapat beregenerasi tanpa batas....tak ada gunanya jika tidak mampu bergerak"

Berdiri di belakang Goraon yang tergantung, Sirius lalu menyentuh bagian belakang kepalanya dan mengaktifkan {Scan}.

Informasi tentang tubuh si naga mengalir melalui sihir ini....suatu unsur bisa terasa sedang melepaskan reaksi yang kuat. Unsur misterius itu beredar di sekujur tubuh dan membersihkan seluruh beban pada dirinya.

"....Begitu ya, bukan hanya sebagai naga, tapi kau juga memiliki unsur regenerasi diri yang kuat. Jadi ini alasan kecepatan regenerasi yang menakjubkan itu"

"Apa yang sedang kau lakukan?! Sialan, jangan sentuh aku, lepaskan ini!!!"

"....Sekarang waktu yang tepat untuk bereksperimen"

"A-Apa yang akan kau----....Gaaaaahhh....---AAARRRRGGGGGHH?!?!?!"

Di saat Sirius menuangkan sejumlah besar Mana ke titik-titik yang disentuh, Goraon menjerit.

Tidak seperti aktivitas regenerasi, ketika dia meresapkan Mana secara agresif, itu hanya akan merangsang rasa sakit luar biasa dan menjalar ke seluruh tubuh. Sederhananya, ini seperti menembaki stun-gun* pada orang biasa.
[Kalo gak ngerti. Nama lainnya Taser]

Situasi itu berlanjut untuk beberapa saat. Ketika selesai, Sirius melepaskan tangan darinya dan mengeluarkan Pisau Mithril.

"....Ha....haha, sayang sekali. Tak peduli seberapa banyak kerusakan yang kau berikan kepadaku, itu percuma. Semua rasa sakit akan lenyap sepenuhnya setelah beberapa saat"

"Oh, aku sudah selesai memeriksa dirimu. Jangankan rasa sakit karena dipotong atau disebabkan oleh benturan, kau memiliki kecenderungan untuk membuatnya hilang pada saat itu juga. Sungguh merepotkan sampai-sampai bisa menyingkirkan rasa sakit. Seperti kutukan saja"

"Memang, persis dengan apa yang kau katakan. Karena tubuh ini hampir bisa dikatakan abadi, bukankah tidak ada gunanya menyiksa ataupun membunuhku?"

"Sayangnya....itu hanya 'tadi'"



Ketika Pisau Mithril ditusukkan perlahan ke tubuh Goraon. Tentu saja, darah mulai mengalir namun....tak berhenti. Ekspresi wajahnya membeku pada kenyataan ini.

"A....pa? Darahnya tidak berhenti! Rasa sakitnya tidak hilang!! Kenapa?! Apa maksudnya ini?!?!"

"Ini karena unsur regenerasimu telah hancur"

"Apa yang kau bicarakan itu tak bisa kumengerti!!! Kembalikan!!!! KEMBALIKAN KEKUATANKU!!!!!!"

Seperti yang mungkin sudah dia ketahui, alasan kenapa Sirius menuangkan Mana bukan untuk menyiksanya....melainkan untuk menghancurkan unsur regenerasinya. Tubuhnya mungkin bisa sembuh jika ada satu saja yang tersisa, jadi itu membutuhkan waktu dan banyak Mana untuk menyusup kedalam tubuh. Hanya saja, tampaknya eksperimen ini sukses.

Ini adalah metoda membunuh secara pasti jika dilakukan pada orang biasa, tapi cukup tepat untuk orang ini. Selain itu, karena unsur regenerasinya hancur total, akan mustahil bahkan jika dia menginginkannya kembali.

"Ini sudah tidak mungkin lagi. Baiklah....aku takkan memberitahumu alasannya, tapi biar ku katakan satu hal"

Dia memukul wajah Goraon yang sedang berteriak. Kulitnya menjadi keras karena perubahan wujud, tapi itu bukan masalah jika terkena tinju yang telah diperkuat oleh {Boost}. Sambil menderita rasa sakit yang takkan lenyap, Sirius meraih kepalanya yang terus memuntahkan darah.

"Kau yang sekarang bukan Tak Terkalahkan lagi. Baiklah....apa kau siap?"

"....Untuk....apa?"

Ada berbagai hal yang harus ditanyakan pada orang ini.

Tentang hubungan mereka dengan Gregory yang sudah Vile-sensei ceritakan, lokasi para korban, pengakuan kejahatan dan sebagainya.

Di tempat yang jauh dari aula ini, diriku tak perlu khawatir akan dilihat oleh para murid dan bisa mengiterogasinya dengan lancar.

Namun, ada hal lebih penting yang harus Sirius lakukan.

Itu adalah sesuatu yang lebih diprioritaskan daripada interogasi.

Diriku tidak melihat kejadian 'itu' dengan mata, melainkan menggunakan {Search}.

Orang ini....telah menyiksa Emilia.

Sirius tak bisa memaafkan orang yang telah melukai Emilia-nya yang manis.

Karena aku takkan bisa menghentikannya, aku mempercayakan apa yang akan terjadi pada nalurinya sendiri.

"Ini untuk bagian Emilia....Jangan mudah hancur, ya"

Sirius pun melayangkan tinjunya.


☆☆☆Chapter 35 berakhir disini☆☆☆

>Catatan penulis = Ada hal-hal yang perlu dijelaskan dan membuatmu berurai air mata.

Dia bukanlah pahlawan, melainkan agen pembunuh. Aku meminta maaf pada kalian yang sangat mengharapkan hal seperti 'Keadilan akan menghancurkan kejahatan'.

Aku jadi ingin membuat jadwal malam ketika memposting chapter ini.


>Catatan penerjemah = Apa ini artinya Sirius termasuk anti-hero??....Selain itu, kok aku ngerasa dia makin mirip sama Tatsuya di serial Mahouka Koukou, ya....hmmmm.


Ke Halaman utama World Teacher
Ke Chapter selanjutnya

Comments

  1. ho'o min gw juga langsung kebayang tatsuya

    ReplyDelete
  2. horeeeee.... Gregory matiiiiiiii :v

    ReplyDelete
    Replies
    1. Belom oi. Belom. Yg mati itu guru yg ditugasin ngawasin gregory. Wadoooo

      Delete
    2. kapan ?? emang mati om ? bukannya cuman guru yg ngawasi gregory yg mati ?

      Delete
    3. Gregory ngilang. Dia jadi buronan, entar muncul lagi dan tarung ama Reus dkk (Sirius cuman ambil bagian terakhir dan bertindak di belakang layar)

      Delete
    4. Weleh.... Kayaknya anenya yg tralu ngarepin si Gregory mokad sampe2 salah mbaca kalimatnya... Te-hee 😂😂😂

      Delete
    5. Lah ntar si Gregory emang mokad kok ama Sirius, ntar kalo gak salah dia mokad bareng satu orang mercenary, tuh mercenary kalo gak salah make obat yang sama ama yg dipake erina sebelum erina meninggal, trs tuh org (mercenarynya) mati di penggal sirius, kalo Gregory mati ditusuk

      Delete
  3. sama min,,, bedanya emilia bukan adeknya,, jd kagak bisa dibilang siscon,,, :v
    btw, lanjutkan min..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo Emilia gak pantes jadi adiknya karena setahun lebih tua dari Sirius.

      Delete
    2. ho'oh,, makanya gx bisa dibilang siscon.. :v

      Delete
  4. Hebat saklar ketiganya, mc nya jd dingin ,btw saat marah beneran emang mirip ama tatsuya

    ReplyDelete
  5. btw, bodo amat dng sifat keadilan.... klo sirius kbanyakan sifat naif ini itu kayak mc d novel lain, bisa eneg dah :v

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sangat SETUJU!!! Naif sih gapapa, asal jgn terlalu berlebihan aja. Sirius memiliki sifat yg lembut pada anak-anak karena pernah menemukan seorang gadis kecil yg sedang tertangkap di suatu organisasi perdagangan manusia. Dia jadi kasihan, lalu ingin merawatnya. Tapi kalo udah serius....aku jadi ngoceh XD

      Delete
  6. Awkwkwkwkwkwkwkwk Sirus tidak bisa memaafkan orang yang melukai Emilianya yang manis "Pembunuh Terhebat" R.I.P Goraon semoga Kulit mu bida jadi karpetnya Sirus buat kenang kenangan :v

    ReplyDelete
    Replies
    1. Si goraon matinya pas diinterogasi, palanya tiba tiba meledak

      Delete
  7. gak min, kami gak pernah mengharapkan adegan palawan yang dilakukan oleh Sirius di chapter ini. Yang kami harapkan adalah penyiksaan atau amarah dari Sirius dalam mode serius :D

    ReplyDelete

  8. Beraninya dia melukai Emilia..
    Siksaannya ke Goraon masih kurang sadis itu....

    ReplyDelete
  9. malah lebih bagus sirius sifatnya seperti itu

    ReplyDelete
  10. Masih menunggu sirius pake kekuatan asli nya di depan umum dan orng" yg menghina dia tidak kompeten cuma bisa menelan air liur saa :v

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ntar si kepala sekolah pun kalah ngelawan siriu :v

      Delete
  11. Gue justru lebih ngerasa dia lebih mirip ama rio dari seirei gensouki

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

108 Maidens chap 14 B. Indonesia

Kusoge Online (BETA) Bahasa Indonesia