Baka to Test soal ketiga vol 1 B. Indonesia

Diterjemahkan oleh I-Fun Novel
Soal Ketiga



Terjemahkan kalimat berikut dalam bahasa Jepang :
"Ini adalah rak buku yang sering nenek saya gunakan"


Jawaban Himeji Mizuki :
"これは私の祖母が愛用していた本棚です"(Ini adalah rak buku yang sering nenek saya gunakan)

Komentar Guru :
Benar. Kau pasti sudah belajar sangat giat!  


Jawaban Tsuchiya Kouta:
"これは" (Ini)

Komentar Guru :
Kamu hanya bisa menerjemahkan "Ini"?


Jawaban Yoshii Akihisa :
"☆●◆∇┐♪*×"

Komentar Guru:
Tolong gunakan bahasa manusia untuk menjawab soalnya.

 
syokanju Sakamoto Yuuji


☆☆☆☆

Mendeklarasikan perang melawan Kelas A.

Usulan ini terdengar sangat tidak nyata bagi Kelas F.

"Mustahil bagi kita untuk menang!"

"Aku tidak mau mendapat peralatan yang lebih buruk dari ini"

"Selama ada Himeji di sini, aku sudah puas"

Seruan seperti itu memenuhi seluruh kelas.

Bahkan orang buta bisa melihat perbedaan kemampuan bertarung antara Kelas A dan Kelas F.

Sudah empat tahun berlangsung semenjak Akademi Fumitzuki mengadopsi sistem ujian dengan nilai tertinggi yang tidak dibatasi hingga 100. Berdasarkan sistem ini, siswa bisa menjawab sebanyak-banyaknya pertanyaan yang bisa mereka jawab dalam waktu satu jam. Makanya, tidak ada batasan nilai yang seorang siswa dapat raih. Nilai bisa meningkat tanpa batas, yang membatasi hanyalah pada kecerdasan para siswa.

Selain itu, ada 'Sistem Pemanggilan Syokanju' yang diciptakan dengan menggabungkan ilmu pengetahuan dan kekuatan supernatural. Di bawah pengawasan guru, siswa dapat memanggil ‘Syokanju’ dengan nilai kekuatan setara dengan nilai ujian si pemanggil, dan bertarung satu sama lain.

Keseluruhan nilai rata-rata sekarang cukup rendah, dan ini adalah sistem terbaru yang diciptakan untuk mendorong para siswa belajar. Dengan sistem ini sebagai intinya, siswa diperbolehkan berperang antar kelas, yang disebut 'Perang Ujian Syokanju', dan memerintahkan Syokanju siswa untuk bertarung satu sama lain.

Hasil ujian sangatlah penting dalam perang, sedangkan perbedaan nilai antara Kelas A dan Kelas F terlalu besar. Jika kami menyerang langsung, satu siswa Kelas A mungkin bisa mengalahkan tiga siswa Kelas F. Jika siswa tersebut sangat pintar, mungkin orang itu bahkan bisa mengalahkan empat atau lima dari kami secara bersamaan.

"Kita pasti akan menang....Tidak, akan kutunjukkan pada kalian bahwa kita bisa menang!"

Meski tahu ada perbedaan yang besar pada kemampuan bertarung, Yuuji masih dengan yakin mengatakan kami akan menang.

"Kau pasti bercanda"

"Itu tidak mungkin, kan?"

"Apa yang membuatmu begitu yakin?"

Protes datang dari setiap sudut ruangan.

Yah, bagaimanapun kau melihatnya, ini tidak bisa lagi disebut perang. Aku sendiri tidak menyangkalnya, meski diriku ini sudah berjanji pada Yuuji untuk memulai Perang bersama-sama. Sekali pun mustahil, aku tidak akan menyerah!

"Tentu saja, aku punya alasan. Kita memiliki beberapa faktor yang akan membantu kita menang"

Seluruh kelas kembali ribut setelah Yuuji mengatakan itu.

Apa masih mungkin bagi kami untuk menang? Meski sebagai Kelas F, kelas terburuk di tahun ke-2?

"Biar kujelaskan"

Teman burukku itu berdiri di balik podium, menunjukkan senyuman berani di wajahnya sambil menatap kami dari atas.

"Kouta, berhentilah tiduran di tatami dan mengintip celana dalam Himeji! Cepat Kemari!!"

"!!" (Menggelengkan kepala)

"Apa?!"

Tsuchiya Kouta menggelengkan kepala dan melambaikan kedua tangan, mencoba menunjukkan bahwa dia tidak melakukan kejahatan itu. Setelah Himeji menekan ke bawah rok untuk menyembunyikannya, Tsuchiya Kouta menutupi tanda tatami yang tercetak di wajahnya sendiri dan berjalan menuju podium.

Orang yang menakjubkan. Hanya dia satu-satunya orang yang berani melakukan itu tanpa malu, dan menggunakan pose-pose yang sulit untuk mengintip pakaian dalam para gadis. Dia jauh lebih berani dibandingkan orang sepertiku, yang hanya bisa berpikir untuk menggunakan cermin kecil untuk mengintip.

"Tsuchiya Kouta. Orang ini adalah 'Muttsurini'* yang terkenal itu"
[Dari kata Muttsuri (Si Mesum Pendiam) lalu diplesetkan menjadi Mussolini]

"!!" (Menggeleng lebih keras)

Nama Tsuchiya Kouta mungkin tidak terkenal, tapi julukan "Muttsurini" berbeda. Julukan ini dihormati sekaligus ditakuti oleh para siswa,  dibenci sekaligus direndahkan oleh para siswi.

"Dia Muttsurini...."

"Bagaimana mungkin. Muttsurini ternyata seperti ini ya?"

"Tapi ada buktinya. Dia tadi mengintip dengan berani!"

"Yah, sesuai namanya!"

Dengan tampang sedih, dia menyembunyikan tanda tatami yang tersisa di wajahnya dengan tangan. Aku dengar dia tidak akan pernah mengakui apa yang dilakukannya dalam keadaan apapun. Yah, satu saksi mata lebih baik daripada sepuluh rumor.

"????"

Himeji tampak seperti punya banyak tanda tanya di atas kepalanya.

Mungkinkah dia tidak tahu dari mana asal julukan 'Muttsurini'? Haruskah aku menjelaskannya padanya?

"Himeji tidak boleh dilupakan. Semua orang tahu betapa hebatnya dia"

"Ya? Apa kau sedang membicarakan aku?"

"Benar, kau adalah kekuatan utama. Aku mengharapkan yang tebaik darimu!"

Jika kami benar-benar akan memulai Perang Ujian Syokanju, aku pikir takkan ada seorang pun yang dapat lebih dipercaya selain dia.

"Kau benar, Himeji ada di pihak kita!"

"Kalau dia di sini, kita tidak akan kalah dari para kutu buku kelas A"

"Tidak ada masalah selama dia di sini"

Siapa itu? Siapa orang yang terus mengirim pesan cinta ke Himeji?

"Kita juga memiliki Kinoshita Hideyoshi"

Kinoshita Hideyoshi, meskipun nilainya tidak menonjol, dia masih terkenal sebagai bintang dari klub drama, memiliki saudari kembar, dll.

“Ooooh...."

“Dia saudaranya Kinoshita Yuuko...."

"Tentu saja aku akan berusaha yang terbaik"

"Aku tahu kau seorang pria yang memegang kata-katanya"

"Bukannya Sakamoto dulu dipanggil 'Si Bocah Jenius' ketika di SD?"

"Apa artinya dia sakit juga selama ujian pembagian kelas, seperti Himeji?"

"Kalau begitu, kita memiliki dua orang yang kemampuannya setara dengan Kelas A di kelas kita"

Kita mungkin bisa menang! Terutama dengan suasana seperti ini! Benar sekali. Entah bagaimana, moral juang kelas telah melambung tinggi.

"Juga, kita punya Yoshii Akihisa!"

S e m u a   t e r d i a m....

Kemudian, secara dramatis moral juangpun jatuh.

Apa?! Seburuk itukah namaku?! Kenapa dia menyebutnya sekarang?!

"Tunggu, Yuuji! Kenapa kau menyebut namaku sekarang? Itu tidak perlu dibawa-bawa, kan?!"

"Yoshii Akihisa? Siapa?"

"Belum pernah dengar"

"Lihat! Semangat mereka tiba-tiba lenyap. Aku tidak seperti Yuuji dan yang lain, aku hanya orang biasa. Perlakukan diriku biasa saja---Tunggu, apa-apaan tatapanmu itu? Bukan salahku moral juang kelas ini jatuh!"

Haaaaaaah

Bahkan jika seseorang di kelas pernah mendengar tentangku, itu mungkin bukanlah hal baik. Karena memang tak ada yang mengetahui diriku, aku tidak perlu membuat segalanya semakin kacau.

"Jika kalian belum paham, maka akan kuberitahu kalian! Julukannya adalah 'Kansatsu Shobunsha'*!"
[Siswa yang dihukum dan berada di bawah pengawasan]

Oh tidak, dia telah mengatakannya.

"Bukannya itu istilah lain untuk Idiot?"

Seseorang di kelas baru saja melontarkan pendapat yang fatal.

"Ti-Tidak! Itu hanya julukan untuk remaja 16 tahun yang nakal"

"Ya, dengan kata lain Idiot"

"Bisakah kalian tidaj setuju begitu saja!! Yuuji, kau Idiot!!"

'Kansatsu Shobunsha' adalah hukuman yang diberikan kepada siswa yang memiliki masalah dalam belajar. Aku adalah salah satu dari mereka. Tapi itu hanya karena diriku tidak pandai!.

"Permisi. Boleh aku mengetahui arti sebenarnya?"

Himeji memiringkan kepalanya ke satu sisi, tampak kebingungan. Sebagai seorang siswi yang selalu berada di puncak piramida, wajar saja jika dia asing dengan julukan itu.

"Sederhananya, siswa yang melakukan pekerjaan kasar untuk guru. Syokanju mereka memiliki kemampuan istimewa untuk dapat menyentuh benda fisik, dan dapat membantu dengan bekerja"

Itu benar. Biasanya syokanju tidak bisa menyentuh benda nyata. Mereka hanya bisa menyentuh atau berinteraksi dengan sesama syokanju lain. Seperti hantu. Lantai di sekolah dibuat khusus sehingga Syokanju bisa berdiri di atasnya.

Tapi syokanju milikku berbeda. Sama seperti yang Yuuji katakan, ini adalah syokanju khusus yang bisa menyentuh benda-benda fisik.

"Oh aku mengerti, itu luar biasa! Aku dengar bahwa Syokanju tidak hanya imut, tapi juga punya kekuatan yang menakjubkam. Mampu menyentuh hal-hal nyata itu cukup praktis"

Himeji menatapku dengan mata berbinar dipenuhi kekaguman dan rasa hormat. Jujur saja, itu membuatku gatal dan tidak nyaman.

"Ha ha, tidak seistimewa itu!"

Aku hanya bisa melambaikan tangan.

Sebenarnya, tak ada yang istimewa tentang ini. Jika aku bisa memerintahkan syokanju milikku dengan bebas, itu pastinya akan sangat berguna. Bahkan jika syokanju yang lemah dipanggil oleh seseorang dengan nilai rendah seperti diriku, itu akan memiliki kekuatan yang lebih besar dari pada manusia biasa. Menghancurkan batu semudah mengeja ABC.

Sayangnya, aku tidak pernah bisa memanfaatkannya. Seandainya bisa, itu menimbulkan hasil yang berlawan.

Para syokanju hanya bisa digunakan di bawah pengawasan para guru. Mereka baru akan memperbolehkanku untuk memanggil ketika dibutuhkan untuk melaksanakan pekerjaan berat. Itulah kenyataannya. Dan bagiku, ini sama sekali tidak bermanfaat. Karena itulah, aku hampir tidak pernah mendapat kesempatan untuk menggunakannya demi keuntunganku sendiri.

Selain itu, kondisi fisik dan tenaga Syokanju secara langsung terhubung padaku. Misalnya, jika Syokanju milikku membawa beban berat dan berlarian di sekitar sekolah, aku akan merasa lelah. Jika benda berat jatuh ke kaki Syokanju saat bekerja, aku akan merasa sakit. Bukan hanya tidak diperbolehkan menggunakannya untuk keuntungan pribadi, efek dari pekerjaan juga dikirim ke tubuhku. Itulah yang dimaksud sebagai hukumannya.

Singkatnya, menjadi 'Kansatsu Shobunsha' bukanlah hal yang bisa dibanggakan dan tak ada bagus-bagusnya. Ini hanya hukuman bagi siswa yang memiliki prestasi buruk dan tak berkemauan untuk belajar. Itulah kenapa ini identik dengan 'Idiot'...

"Tunggu sebentar. Karena dia adalah 'Kansatsu Shobunsha', kalau Syokanju-nya dipukuli ketika perang, dia akan menderita juga kan?"

"Itu benar! Kita akan segera kehilangan satu orang!"

Mereka akhirnya sadar. Inilah alasan aku ingin sebisa mungkin menghindari pertarungan. Jika syokanju-ku dihajar, aku juga akan merasa kesakitan!

"Jangan khawatir. Seorang prajurit tidak berguna seperti dia tidak lebih dari sebuah aset saja"

"Yuuji, itu sama sekali tidak membantu"

"Lagipula, untuk menunjukkan kekuatan kita, aku berencana untuk menaklukkan Kelas D terlebih dahulu"

“Apa?! Kau tidak bisa mengacuhkanku begitu saja!"

Kami berdiri begitu dekat, tapi kebencianku tak mampu mencapainya!

"Semua orang tidak puas dengan kondisi saat ini, kan?"

"Apa yang kami inginkan adalah meja dan kursi dari Kelas A, bukan malah chabudai!!"

"Tentu saja!!"

"Kalau begitu semuanya ambil pena di tangan kalian, kita akan bersiap untuk berperang!"

"Uuuuooooooo!!!"

"U-uoo~...."

Terpengaruh oleh suasana panas di kelas, Himeji juga mengangkat tinju kecilnya. Aku merasa perlu melindungi gadis ini, meski akhirnya mungkin dia yang akan melindungiku.

"Akihisa, nyatakan perang pada Kelas D. Kau harus berhasil, bahkan jika nyawa taruhannya"

Dia begitu bertekad! Jika ini memang begitu penting, kenapa dia tidak melakukannya sendiri?

"Bukankah mereka akan memukuli pembawa pesan dari kelas yang lebih rendah?"

"Jangan khawatir, mereka  sama sekali tidak akan menyakitimu. Bertingkah saja seperti kau dipaksa untuk pergi"

"Sungguh?"

"Tentu saja! Kau pikir siapa aku?"

Sebuah respon tegas yang tidak dapat di bantah.

Itu pasti benar. Meski Yuuji suka bercanda, dia bukan seorang pembohong.

"Jangan khawatir. Percayalah, aku takkan pernah berbohong pada seorang teman"

Pernyataan mendorong ini....

Aku berpikir dia masih merahasiakan sesuatu, tapi aku harus melakukannya. Tak ada pilihan lain.

"Oke, serahkan padaku!"

"Aku mengandalkanmu!"

Kepergianku diiringi sorak-sorai dan tepuk tangan dari seisi kelas. Akupun keluar dan menuju Kelas D dengan perasaan mantap dan berdebar.

☆☆☆☆

"AKU DITIPUUUU!!!!"

Aku tengah melarikan diri di koridor untuk menyelamatkan kehidupanku. Pada akhirnya terjatuh, berguling, lalu merangkak untuk kembali ke dalam kelas. A-Aku hampir tewas! Para bajingan Kelas D!! Jika sampai tertangkap, mereka akan menghabisiku! Diriku ambruk di lantai, kehabisan napas dan memelototi Yuuji.

"Oh, seperti yang kuduga"

Enaknya loe bisa ngomong dengan santai. Brengsek, gue cincang-cincang loe!

"Apa maksudnya 'Oh, seperti yang kuduga', HAH?! Kau tau ini akan terjadi, kan?"

"Tentu saja. Menurutmu kenapa aku jadi ketua kelas?"

"SETIDAKNYA, KAU HARUS SEDIKIT MERASA BERSALAH!!!!!"

Meski sudah mengenalnya sejak musim semi tahun lalu, ada beberapa hal tentang dirinya yang belum kumengerti.

"Yoshii, kau baik-baik saja?"

Himeji berlari ke arahku ketika melihat bajuku yang sudah compang-camping.

"Ya, hanya ada beberapa goresan dan memar"

Shimada juga menghampiri. Perhatian teman sekelas membantuku mengatasi rasa sakit ini.

"Jadi begitu, baguslah….Masih ada tempat yang bisa kupukuli"

"Ahhh!!! Biarkan aku istirahat!!! Aku sekarat!!!"

Aku menaruh tanganku di dada dan berguling-guling dalam penderitaan. Bahkan jika merupakan seorang gadis, Shimada tidak bisa dianggap remeh.

"Jangan pedulikan dia, kita akan rapat sekarang"

Yuuji membuka pintu dan berjalan keluar kelas, dia pasti sedang mencari ruangan untuk rapat. Bukankah sebaiknya kau menunjukkan sedikit simpati untuk temanmu ini? Dipikir-pikir, apa Yuuji benar-benar temanku? Ini bukan pertama kalinya aku bertanya-tanya tentang itu, mungkin setiap sehari sekali.

"Beritahu aku jika nanti masih sakit"

Kata Himeji dan segera berjalan di belakang Yuuji.

"Masih sakit?"

Laki-laki bertubuh mungil layaknya seorang gadis muda, Hideyoshi, menyentuh bahuku dan berjalan keluar.

"...." ( Suara berjalan)

Si Muttsurini mengusap wajahnya dan berjalan ke arahku.

"Hei, Ninja Mesum, tanda bekas tatami tadi sudah hilang?"

"...." (Menggelengkan kepala)

"Jangan bohong, aku tahu itu kau"

"...." ( Menggeleng lagi)

"Di satu sisi, cukup mengesankan kau masih tidak mengakuinya"

"....” ( Menggeleng lagi)

"Apa warnanya?"

"Biru muda"

Dia langsung menjawabnya.

"Muttsurini, kau sesuai dengan julukanmu"

"...." ( Menggeleng lagi)

Tepat ketika aku sedang mengobrol dengan si mesum,

"Yoshii, kau juga harus ikut"

Shimada dengan kuat menarik pergelangan tanganku dan menyeretku keluar.

Dan di sini kupikir akan punya kesempatan untuk bermalas-malasan....

"Ya, ya, ya"

"Sekali saja sudah cukup"

"Ya, Bu!"

"Suatu hari nanti akan ku-Das Brechen dirimu. Hmmm, bagaimana mengatakannya dalam bahasa Jepang...?"

Suara Shimada tiba-tiba menjadi pelan.

Apa itu Das Brechen? Bahasa Jerman?



"....'Patah'"

Kata Muttsurini dari belakang.

“Itu benar. Akan ku patahkan dirimu”

"Mematahkanku? Bukankah seharusnya kau menggunakan kata seperti 'mengajar' dan 'melatih'?"

"Kalau begitu aku pilih intinya saja, yaitu Züchtigung"

"….Aku tidak tahu artinya"

"Dalam bahasa Jepang, kupikir berarti….'penyiksaan'?"

"Bahkan itu lebih buruk"

"Benarkah?"

Kenapa dia hanya tahu kata-kata seperti itu, dan bukan yang normal?

"Ngomong-ngomong, Muttsurini. Bagaimana kau bisa tahu kata 'patah' dalam bahasa Jerman?"

"....Belajar dari kehidupan biasa dengan prinsip moral"

Prinsip moral macam apa yang kau jalani? Prinsip mana yang membuatmu mempelajari kata-kata seperti 'penyiksaan'?.

"Muttsurini, kau tidak pernah berubah! Otakmu dipenuhi pengetahuan dewasa, tapi kurang dalam hal lainnya"

"...." (tetap menggelengkan kepala)

Obrolan tak berguna kami berlanjut sambil berjalan. Yuuji yang ada di depan, sudah mencapai atap sekolah. Dia membuka pintu dan keluar ke ruangan terbuka.

Matahari menyilaukan mata, bersinar cerah di langit tanpa awan.

Sinar menyilaukan sang mentari dan angin musim semi membuat semua orang (kecuali Muttsurini) menutup mata. Dia tidak perlu melakukan itu karena terlalu sibuk memandangi rok Himeji yang sedang tertiup angin.

"Akihisa, kau sudah mendeklarasikan perang, kan?"

Yuuji duduk di depan pagar besi.

"Sudah kukatakan pada mereka kalau kita akan menyerang siang ini"

"Jadi, bagaimana kalau kita makan siang dulu?"

“Itu benar. Akihisa, bisakah kau makan sesuatu yang normal siang ini?

“Kalau kamu memang begitu peduli, traktir aku roti!”

Aku adalah seseorang yang tidak pernah bisa mengisi perutku dengan apapun. Kecuali perasaan, tentu saja.

"Hah? Yoshii tidak pernah makan siang?"

Himeji menatapku tidak percaya. Hidupnya pasti normal dan teratur. Sepertinya dia tumbuh dengan baik karena itu.

"Tentu saja aku makan siang!"

"Apa itu bisa dibilang makan sesuatu?"

Yuuji memotong pembicaraan.

"Apa maksudmu?"

"Yah, bukannya makananmu itu....cuma garam dan air?"

Yuuji terdengar begitu sedih dan simpatik.

Kasar sekali! Aku tidak bisa menerima hinaan ini!

"Aku juga makan gula!!"

"Yoshii. 'Makan' tidak bisa dikaitkan dengan air dan gula"

"Benar. Kau harusnya menyebut itu 'menjilat'"

Semua orang menatapku dengan rasa kasihan yang aneh, tapi itu tidak membuatku merasa lebih baik.

"Kau harusnya mengatur jadwal kesehariamu dan menabung untuk beli makanan. Dasar!"

"I-Itu karena aku tidak punya uang yang cukup untuk kebutuhan sehari-hari!"

Sebenarnya, orangtuaku bekerja di luar negeri, jadi aku tinggal sendirian. Mereka memang mengirimkan uang setiap bulannya....Tapi aku justru menghabiskan itu untuk game dan manga. Hobi memang mahal!*. [IDIOT!]

"Um, kalau kau tidak keberatan, aku bisa membuatkan bekal untukmu"

"Eh?"

Suara yang lembut datang tiba-tiba, membuatku mengira bahwa kupingku telah salah dengar.

Bekal? Dari seorang gadis? Buatan sendiri?

"Benarkah? Aku tidak pernah makan sesuatu kecuali garam dan gula selama ini"

"Tentu. Jika kau tidak keberatan, akan kubuatkan besok"

"Itu hebat, Akihisa. Bekal makan siang yang dibuat dengan cinta, ya?"

"Ya!"

Dalam situasi seperti ini, aku perlu menunjukkan padanya betapa bahagianya diriku. Sekalipun sindiran Yuuji tidak menyenangkan.

"....Haha, Mizuki, kamu terlalu baik, membuatkan bekal HANYA untuk Akihisa"

Aku tidak terlalu mengerti kenapa Shimada mengatakannya dengan nada bosan dan terkesan menusuk seperti itu. Bagaimana kalau Himeji berkata, 'Kalau begitu, aku tidak jadi', atau sesuatu seperti itu. Bagaimana kau akan bertanggung jawab?

"Ah, tidak! Sebenarnya, aku bisa membuatkannya untuk kalian semua...."

"Kami juga dapat? Benarkah?"

"Ya, jika kalian tidak keberatan"

Ohhh, bahkan Yuuji juga mendapatkannya. Himeji terlalu baik. Entah bagaimana, aku merasa sedikit kecewa karena tidak bisa menikmatinya sendirian.

"...." (mengangguk)

"....Akan kulihat seberapa enaknya masakanmu!"

Sekarang, termasuk Himeji sendiri, dia harus membuatkan bekal untuk enam orang. Itu pasti akan melelahkan.

"Baiklah, kalau begitu aku akan membawakan bekal semua orang ke sekolah besok"

Bahkan di situasi seperti ini, dia tidak pernah menunjukkan sedikit pun keberatan di wajahnya.

"Himeji, kau begitu baik"

Ucapan itu datangnya dari lubuk hatiku. Benar-benar sulit untuk membuat dan membawa enam bekal ke sekolah. Aku tidak bisa memahaminya.

Dia adalah orang yang menarik dan baik!

"Bukan, bukan seperti itu...."

"Perkataanku ini mungkin agak telat, tapi ketika melihatmu pertama kali di kelas, aku merasa---"

"Hei, Akihisa. Kalau kau ditolak sekarang, kau takkan dapat bekal besok"

"---pernah mengenalmu sebelumnya"

Aku sukses menghindari penolakan. Untungnya aku masih sempat mengubah 'jatuh cinta kepadamu' sebelum diucapkan. Keputusanku ini benar-benar mengagumkan.

"Mengakui isi hati secara terang terangan adalah kebiasaan orang mesum, Akihisa"

Sekarang, aku membenci keputusanku.

"Kadang-kadang Akihisa dapat melakukan hal yang cuma bisa kubayangkan"

"Tapi....bekal makan siang dengan cinta...."

Tindakanku tadi hanya untuk menyelamatkan diri dari mati kelaparan. Ini semua karena kemiskinan!

"Cukup ngobrolnya, ayo kita lanjutkan diskusi tentang perang!"

Oh, benar. Aku nyaris lupa alasan kami kemari.

"Yuuji, aku punya pertanyaan. Kenapa melawan Kelas D? Berdasarkan urutan perang, target pertama kita harusnya Kelas E. Dan jika mau bertarung mati-matian, kenapa tidak langsung saja memilih Kelas A?"

"Oh iya, benar sekali!"

"Memang benar, tapi aku memiliki rencana yang berbeda"

Yuuji dengan percaya diri menganggukkan kepala.

"Rencana apa?"

"Rencanaku sebenarnya lebih dalam, alasan tidak perlu menyerang Kelas E itu simpel. Mereka tidak berharga untuk kita lawan"

"Hah? Tapi peringkat mereka lebih tinggi dari kita, kan?"

Karena pembagian kelas berdasarkan hasil ujian, seharusnya Kelas E lebih baik daripada Kelas F, kan? Kenapa dia bilang mereka tidak berharga untuk ditantang?

"Ha! Itu memang benar jika menurut hasil ujian pembagian kelas, tapi situasinya berbeda. Coba lihat, siapa yang ada di sampingmu?"

"Hmm...."

Aku melakukan yang Yuuji katakan dan melihat orang-orang di sekitarku. Err, siapa yang ada disini….?

"Dua gadis cantik, dua idiot, dan satu orang mesum pendiam"

"Siapa gadis cantik yang kau maksud?"

“Apa? Yuuji, kau hanya bereaksi saat aku menyebutkan itu?”

"...." (wajah memerah)

"Muttsurini, kau malu? Apa yang harus kulakukan? Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan"

"Semuanya, tenanglah! Biarkan Muttsurini menahannya"

"I-Itu benar"

"Tunggu sebentar. Sebelum kita lanjutkan rapatnya, aku ingin komplain tentang gadis cantik tadi yang mengusik pikiran kita semua"

"Daripada itu...."

Yuuji berdehem lalu melanjutkan penjelasannya. Apa dia berusaha mengabaikan keberadaanku?

"Jika Himeji bisa bertarung bersama kita, Kelas E bukanlah tandingan lagi, sekalipun hanya mengandalkan kekuatan. Karena target utama adalah Kelas A, tak ada gunanya membuang-buang waktu untuk mengurusi kelas E"

"Jadi, bagaimana kalau melawan Kelas D langsung?"

"Kita tidak punya kesempatan menang 100%"

"Kalau begitu, seharusnya kita incar Kelas A dari awal"

Targetku adalah Kelas A, bukan Kelas D. Alasanku berperang tidak sama dengan Yuuji.

"Alasannya adalah, karena ini merupakan perang pertama kita. Kalian ingin mendapatkan pertarungan yang hebat dan menarik perhatian semua orang, kan? Makanya, inilah yang kita butuhkan untuk mengalahkan kelas A"

Ini adalah rencana untuk menang melawan Kelas A? Tapi Yuuji masih menyembunyikan rinciannya dari kami.

"Ma-Maaf!"

Tidak biasanya Himeji bicara dengan keras. Apa yang terjadi?

"Himeji? Ada apa?"

"Emm....Apa yang kau bicarakan barusan adalah tentang Perang Ujian Syokanju, yang Yoshii dan Sakamoto diskusikan sebelumnya, kan?"

"Oh, itu yang kau maksud. Tadi Akihisa mengajakku mengobrol tentang bagaimana kau---"

"Ohhh, Jadi itu maksudnya!!"

Untuk menghentikan Yuuji melanjutkan pembicaraan tidak penting, aku dengan sengaja menaikkan suaraku.

"Jika kita tidak bisa mengalahkan Kelas D, semua yang kita bicarakan tadi tidak akan berarti"

Mendengar keraguanku, Yuuji tertawa keras.

"Dengan bantuan kalian semua, kita pasti bisa mengalahkan mereka"

Menang melawan Kelas D? Dengan bantuan kami? Dalam Perang Ujian Syokanju?

Ini merupakan perasaan yang aneh.

Kata-kata itu memberikan kami keberanian untuk bertindak. Walaupun situasinya terlihat tak memiliki harapan, kami merasa semangat lagi dan percaya diri.

Ucapan Yuuji seakan mempunyai semacam kekuatan sihir.

"Luar biasa. Kelihatannya ini akan menjadi sangat menarik!"

"Ayo kita jatuhkan para kutu buku Kelas A itu!"

"...." (Memuji)

"A-Aku akan berusaha yang terbaik!"

Kalahkan Kelas A.

Mungkin terdengar gila. Mungkin juga sekedar mimpi yang takkan menjadi nyata.

Tapi, jika kami tidak melakukan apapun, mimpi hanya akan menjadi mimpi.

Karena kami semua berada di satu kelas, tidak terlalu buruk untuk berusaha dan bekerja untuk meraih tujuan yang sama.

"Baiklah, biar kujelaskan strategi pertarungannya!"

Kami tetap di atap, menikmati semilir angin sambil mendengarkan strategi, yang akan membawa kami pada kemenangan.

☆☆☆Soal ketiga berakhir disini☆☆☆

Popular posts from this blog

Kusoge Online (BETA) Bahasa Indonesia

108 Maidens chap 14 B. Indonesia