World Teacher chap 39 B. Indonesia

Chapter 39 Kakak perempuan yang disebut Putri Lifell
Diterjemahkan oleh I-Fun Novel




Bagian 1


"Kakakku....Putri Lifell....aku ingin kau bertemu dengannya"

Reese memohon padaku.

"Bertemu dengannya....Apa kakakmu ini, Lifell-hime sakit atau semacamnya?"

"Aku tidak begitu paham juga. Tiga hari yang lalu kondisi fisiknya mulai memburuk secara tiba-tiba, dan gejalanya semakin parah hari demi hari...."

"Bagaimana dengan pengobatannya?"

"Sihir penyembuhku efektif. Gejalanya memang meringankan, tapi begitu aku berhenti, dia langsung menderita lagi...."

"Setiap kali kau berhenti menggunakan sihir penyembuh, kau melihatnya menderita lagi, ya....?"

Dia tampak kewalahan, inikah efek dari menggunakan sihir penyembuh terus-terusan? Sangat mencengangkan, dia mungkin sudah berusaha keras sampai batas maksimal. Namun, apa karena kondisi saudaranya yang tidak membaik sama sekali, dia sampai datang dan berkonsultasi padaku bahkan jika hal itu biasa membuatku terlibat dalam masalah keluarga kerajaan?

"Setelah Haha-sama meninggal, aku diberitahu oleh seorang utusan bahwa diriku berasal dari keluarga kerajaan dan dipindahkan dari tempat tinggalku dulu ke istana. Begitu aku cemas tentang apa yang akan terjadi padaku....Ane-sama menyelamatkanku"

Reese mulai menceritakan situasinya saat itu. Dia diperlakukan dingin ketika bertemu dengan ayahnya, sang Raja, hingga membuat gadis ini ingin menangis. Lifell-hime tampaknya telah memintanya untuk tetap tinggal dan membantunya beradaptasi.

Menurut sang putri, Reese merupakan orang yang tidak beruntung. Sebagai bekas rakyat biasa malah terlibat dengan kewajiban keluarga kerajaan. Kakaknya pun menyarankan agar gadis ini menyembunyikan status sosialnya bahkan saat pergi ke sekolah.

"Berkat Ane-sama, aku bisa pergi ke sekolah, bertemu Emilia....sekaligus Sirius-san dan Reus. Tapi aku tak mampu melakukan apapun meski penyalamatku sedang menderita. Tolong! Bagaimanapun juga....tolonglah Ane-sama"

Reese frustrasi dengan ketidakberdayaannya. Dia terisak sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Emilia mendekat dan memeluk gadis ini, sementara dengan lembut menepuk punggung untuk menenangkannya.

"Aku jadi ingin segera bertemu kakakmu itu. Tolong perkenalkan kami nanti"

"Aku juga!"

"Emilia, Reus....Iya, aku akan mengenalkan teman-temanku"

"Tentunya, aku juga harus mengenalkan diri sebagai Shishou dari Reese....Yah. Meski aku ragu dia akan mempercayainya atau tidak"

Itu karena aku lebih muda dan masih tampak seperti seorang anak. Mereka hanya akan menganggap diriku yang adalah Shisou-nya sebagai topik yang tidak masuk akal. Reese sedikit tertawa, mungkin dia juga memikirkannya.

"Reese, aku tidak tahu situasi kakakmu. Karena itulah, bisakah kau memberi beberapa informasi sekarang? Kau bisa merasa sedih nanti, kan?"

"Ya....benar juga. Itu memang harus. Jadi, dari mana aku harus bicara?"

"Pertama, sebutkan gejala-gejaoa penyakitnya. Rincian hari dan waktu ketika sakitnya muncul. Dan juga, apa dia pernah menderita penyakit parah di masa lalu?"

Jujur saja, aku ingin membantu, tapi tidak tahu bagaimana dia bisa jatuh sakit. Informasi dasar bisa di dapatkan selagi kami dalam perjalanan menuju tempat Lifell-hime, ini juga berguna untuk menghemat waktu saat tiba disana. Adapun rinciannya, itu bisa di dapatkan setelah aku memeriksa orang yang bersangkutan.

∆∆∆

Beberapa menit kemudian, kami tiba di tempat yang agak terpisah dari distrik dimana para bangsawan tinggal.

Di ujung taman luas indah nan rapi, berdiri sebuah bangunan besar yang bisa terlihat ditinggali puluhan orang dengan nyaman. Meski rumah bangsawan lainnya juga mewah, Mansion ini jelas berada di peringkat yang berbeda.

"Keluargaku biasanya berada di istana, tapi sejak dia sakit, Ane-sama memilih beristirahat di sini"

"Hal ini tidak diketahui oleh publik, apakah ada perintah untuk mencegah penyebaran informasi?"

"Ya. Karena pembicaraan tentang pertunangan telah muncul, berita buruk ini ditutup-tutupi"

Saat turun dari kereta kuda sambil mendengarkan penjelasan Reese, terlihat beberapa laki-laki dan perempuan keluar dari Mansion dan menuju ke arah kami. Mereka mengenakan sesuatu yang menyerupai pakaian pelayan dan butler. Kau bisa mengerti kalau mereka adalah petugas rumah ini.

"Selamat datang kembali, Reese-sama. Boleh aku tahu siapakah orang-orang ini?"

Setelah membungkuk ke Reese, wanita cantik berpakaian pelayan yang mungkin pemimpin dari seluruh petugas, menatap kami. Kupikir dia berasal dari ras kelinci. Ada telinga panjang tegak di kepala dan ekor bulat di pantatnya.

Hanya saja, tatapan tajam itu membuat dirinya tidak tampak seperti pelayan normal. Ada kesan kalau dia merupakan individu yang memiliki pengalaman bertarung. Mungkin jika aku mencoba menyakiti Reese, dia akan langsung mengambil hidupku.

Karena dia melihat kesini tampak berhati-hati, Reese pun bergegas mengenalkan kami.

"Aku pulang, Senia. Orang-orang ini adalah temanku----"

"Felice-sama! Kemana saja anda?!"

....Namun, satu orang memotongnya.

Dia adalah pemuda yang mengenakan armor ringan didominasi warna biru dengan pedang terhiaskan banyak ornamen indah. Bisa dibayangkan kalau dia adalah ksatria penjaga yang melayani langsung atas perintah raja.

Pemuda energik, tapi pandangannya yang diarahkan kesini terisi kejijikan. Tidak....dilihat dari pergerakan bola matanya, dia sedang melihat Emilia dan Reus?

"Lagi pula, kenapa malah membawa dua ras binatang kesini? Meski anda yang paling tahu situasi sang putri"

"Diamlah, Melt"

"Apa katamu?!"

"Reese-sama tidak bisa menjelaskan apapun jika kau terus bicara! Selain itu, akulah atasan di sini. Apa hak yang kau punya sampai mengganggu ucapan dari adik perempuan Lifell-sama?!"

"Kuhh...."

Si ras kelinci, Senia rupanya adalah bos nya. Pria yang dipanggil Melt pun mundur sambil tampak menyesal. Disaat suasana suram mereda, Senia menjulurkan tangannya agar Reese melanjutkan.

"Emm....Ini teman-temanku, Emilia dan Reus. Juga master mereka berdua, Sirius-san"

"Senang bertemu denganmu, namaku Sirius"

"Namaku Emilia"

"Aku Reus"

Para petugas, termasuk Senia terkejut saat kami menyapa dengan bungkukan yang diajarkan Kaa-san. Penampilan sopan santun sepertinya berpengaruh, kehati-hatian mereka menjadi sedikit berkurang. Seperti yang diharapkan dari teknik Kaa-san.

"Itu sangat sopan. Namaku Senia, aku merupakan petugas pribadi Lifell-sama. Jika benar yang disini adalah teman Reese-sama, kami akan menyambut kalian semua

Ketika Senia memberi salam dengan bungkukan yang tidak kalah dari ibu, beberapa petugas juga ikut menirunya. Mungkin ada faksi di antara mereka karena tidak semua orang melakukannya. Tapi, ayo kesampingkan masalah itu sekarang.

"Maaf, Senia. Meskipun aku ingin lebih mengenalkan mereka, prioritasku adalah agar ketiganya bertemu Ane-sama sesegera mungkin"

"Tapi, Reese-sama, Lifell-sama----"

"Apa yang anda bicarakan?!"

Sekali lagi, pria bernama Melt menyela. Dia melotot ke arah kami tanpa menyembunyikan niat membunuhnya. Tampak seolah dirinya siap menarik pedang.

"Apa yang Anda pikirkan dengan membiarkan orang biasa untuk melihat sang putri? Bahkan jika dia tidak sakit, sebagai Pengawal Kekaisaran, aku takkan pernah mengizinkan ini!"

"Jangan katakan hal seperti itu! Ada kemungkinan tinggi Ane-sama bisa sembuh. Tolonglah!"

"Tidak mungkin!!"

Pria ini sepertinya bertipe keras kepala, tapi apa yang dia ucapkan ada benarnya. Meski telah diperkenalkan oleh Reese, adalah hal yang mustahil untuk membiarkan orang-orang mencurigakan bertemu langsung putri sebuah kerajaan. Namun tetap saja Reese tidak berhenti, dia masih memegang tangan Senia sambil memohon.

"Tolong, Senia. Jika kita menyerahkan ini pada Sirius-san, pasti....ya, dia pasti bisa melakukan sesuatu untuk Ane-sama"

"Reese-sama...."

Sementara Melt membuat keributan, Senia memejamkan mata untuk mempertimbangkannya. Beberapa saat kemudian, dia perlahan membuka mata dan memberi jalan ke arah mansion.

"Selamat datang, semuanya. Lifell-sama sedang beristirahat di dalam"

"Bajingaaan!! Berani-beraninya kau mengabaikan pendapatku sebagai Pengawal Kerajaan?!"

"Perintahku lebih diutamakan di mansion ini. Lagi pula, kau juga harus ikut. Jika mereka mengambil tindakan bermusuhan, bergeraklah tanpa ragu selayaknya Penjaga Kekaisaran"

"Tentu saja. Aku akan langsung menebas, jika mereka menunjukkan perilaku mencurigakan"

"Senia...."

"Maafkan aku. Apa yang dikatakan Melt memang masuk akal. Karena itulah, aku akan membawanya"

"Tidak. Terima kasih, Senia!"

Saat Reese memeluknya, Senia memasang wajah di penuh kasih sayang. Ekspresi itu mirip dengan Erina, membuat Emilia dan Reus menyipitkan mata.

Reese yang tak pernah memiliki pemikiran buruk terhadap ras binatang mungkin berkat Senia, karena itulah dia bisa berteman dengan Emilia.

"Sirius-san, ayo pergi"

"Ya"

"Silakan, kearah sini"

∆∆∆

Reese, kami dan si Penjaga Kerajaan, Melt, dibimbing ke dalam mansion oleh Senia.

Bagian dalam bangunan ini sungguh megah, dilengkapi patung-patung dan sofa mewah. Sementara berjalan sambil melihat interiornya, Emilia dan Reus berkali-kali menoleh kebelakang untuk mengintip sosok Melt. Ini wajar karena pemuda itu terus melepaskan niat membunuh sejak beberapa waktu yang lalu. Hanya saja, kenapa dia terlalu bersikap hati-hati terhadap kami yang bahkan tidak membawa senjata?

"Kendalikan niat membunuhmu, Melt. Untuk apa kau menjadikan anak-anak sebagai musuh?"

"Aku hanya memastikan mereka tidak melakukan hal-hal yang tidak perlu"

"Apa pun, tolong tenangkan dirimu. Kita akan segera sampai di ruangan Lifell-sama. Apakah pantas untuk seorang Pengawal Kerajaan seperti itu di dekat tuannya?"

"....Apa boleh buat"

Begitu Melt tenang, kamipun tiba di depan pintu ganda yang megah. Mungkin kakak perempuan Reese, Lifell-hime, ada di baliknya.

Senia mengetuk sambil bertanya, yang kemudian diikuti sebuah suara dari dalam.

"Lifell-sama, Reese-sama baru saja kembali. Dia meminta Anda untuk bertemu teman-temannya, apakah anda mengizinkan?"

"Teman Reese?! Dia akhirnya mengundang mereka ya. Bawa mereka masuk"

"Silakan, semuanya"

Ketika Senia membuka pintu dan memperbolehkan setiap orang masuk, Reese lah yang bergegas kesana pertama, diikuti oleh kami.

Tempat ini tampak seperti perpustakaan kecil karena banyaknya rak yang berjejer terisi buku. Di ujung kamar, terdapat kasur lengkap dengan kanopinya. Disana, seorang peremuan dengan rambut merah lurus panjang sampai ke pinggang mengangkat bagian atas tubuh dan menolehkan wajahnya ke arah kami.

"Aku pulang, Ane-sama"

"Selamat datang kembali, Reese. Aku sempat bingung karena kau pergi dengan tergesa-gesa, tapi ternyata itu untuk mengundang teman-temanmu"

Sesuai dengan gelarnya sebagai putri, Lifell-hime benar-benar cantik. Dia mungkin kehilangan sedikit berat badan karena sakit, tapi mata merahnya yang cerah membuatku ragu apa dia benar-benar sakit atau tidak.

"Ya, Ane-sama. Namun, bagaimana dengan kondisi fisikmu? Karena Mana-ku sudah agak pulih, haruskah aku merawatmu lagi dengan sihir penyembuh?"

"Jangan memaksakan diri. Bukankah kau tadi runtuh karena kewalahan?"

"Dibandingkan dengan Ane-sama, ini bukan apa-apa"

"Lagipula, walaupun sembuh, rasa sakitnya akan kembali. Kesampingkan itu, bagaimana kalau memperkenalkan anak-anak di belakangmu? Aku harus menyapa mereka, yang terus kau ceritakan dengan bangga, kan"

"Bangga....apa maksudnya, Reese?"

"Ha-Hanya pembicaraan normal! Ane-sama juga, jangan katakan hal yang aneh!"

Reese sempat panik, tapi segera kembali normal. Gadis ini menunjukkan penampilan yang sama seperti saat bersama kami. Dengan kata lain, Lifell-hime adalah teman yang Reese percayai.

"Bagaimanapun, izinkan aku mengenalkan mereka. Anak ini adalah Emilia. Dia teman pertamaku di sekolah"

"Senang bertemu dengan Anda, namaku Emilia. Aku sering dibantu oleh Reese"

"Anak yang sangat sopan dan santun, seperti yang pernah kudengar. Hmm, dia memang mirip Senia"

"Ane-sama?!"

"Tahukah kau, Emilia? Sejak tinggal di sini, anak ini selalu dimanjakan oleh Senia. Mungkin itu sebabnya dia menjadi sangat baik hati kepada ras binatang, hingga bisa berteman denganmu. Aku hanya merasa senang ketika tahu bahwa dirinya memiliki hubungan sedekat itu dengan orang yang mirip Senia

"Ane-sama....tolong hentikan"

Seorang putri yang cara bicaranya terlalu berterus terang, ya. Dia mungkin seperti ini hanya ketika dengan adiknya, tapi aku tidak membenci sifat itu. Wajah Reese memerah sambil terus melambaikan tangan pada Lifell-hime.



"Kau begitu imut saat tersipu. Oh ya, mungkin kalian sudah tahu ini, tapi namaku adalah Lifell. Ngomong-ngomong....Rambut perak Emilia terlihat benar-benar indah. Boleh aku menyentuhnya?"

"Jika Anda tidak keberatan dengan rambutku, silakan"

"Hime-sama! Ingatlah kalau Anda sedang sakit, kenapa malah ingin menyentuh ras binatang?!"

"Jangan khawatir. Aku juga peduli pada kondisiku sendiri, tapi aku tetap ingin menyentuh rambutnya. Jadi, biarkan aku melakukan ini!"

Meskipun Melt berteriak dari sudut ruangan, Lifell-hime bahkan sama sekali tidak menatapnya dan hanya berfokus menyentuh rambut Emilia.

"Menakjubkan....sangat halus dan tak kusut sedikitpun ketika jariku menyisirnya. Bagaimana kau bisa secantik ini?"

"Berkat masterku....Sirius-sama. Selain diberi makanan bernutrisi seimbang setiap hari, kami juga diajari cara menjaga tubuh. Jadi, bukan hanya rambut, kami sendiri sangat sehat"

"Begitu ya. Jadi itu sebabnya Reese tampak cantik akhir-akhir ini. Hei, aku juga ingin kau mengajariku berbagai hal"

Sifat berterus terang Princess Lifell tidak berhenti bahkan setelah Senia memanggilnya berkali-kali. Reese agak malu akan adegan itu, tapi karena pengenalan diri belum selesai, dia secara paksa menghentikannya.

"Ane-sama, tolong hentikan. Daripada itu, anak yang dsini adalah Reus. Dia adik Emilia"

"Senang bertemu dengan anda. Namaku Reus, teman yang juga Reese-ane anggap sebagai adik"

"Hmmm....kau terlihat lebih tangguh dari apa yang kudengar. Jika Reese menganggapmu sebagai adik, aku juga akan memperlakukanmu secara sama. Tidak perlu menggunakan sebutan kehormatan untukku. Bagaimana kalau bicara seperti biasa?"

"Hime-sama! Menggunakan sebutan kehormatan adalah kewajiban bagi kaum jelata!"

"Melt, akulah yang memintanya, jadi itu tidak masalah. Aku tak melarangmu bersikap profesional akan pekerjaan, tapi memahami keputusan tuanmu juga merupakan bagian dari tugas, kau tahu"

"Kuh....mengerti"

Melt pun diam dengan enggan. Terlalu loyal terhadap tugas juga merepotkan. Pemuda ini tampaknya sangat tidak cocok melayani Lifell-hime. Tapi sayang sekali, aku tidak bisa bersimpati untuknya. Tatapan dingin yang dia tunjukkan untuk ras binatang cukup membuatku tidak suka.

"Kalau begitu, Lifell-ane....apa seperti itu boleh? Aku Reus, senang bertemu denganmu"

"Kau masih agak kaku, tapi....yah, tidak apa-apa. Senang bertemu denganmu, Reus. Kudengar kau telah melindungi Reese dari kelompok pembunuh yang mengerikan, jadi aku ingin mengungkapkan rasa syukur ku setidaknya satu kali"

"Aku tidak melakukannya agar bisa menerima ucapan terima kasih. Lagi pula, meski sudah berjuang, aku masih tidak bisa melindungi Nee-chan dan Reese-ane sampai akhir"

"Bukankah Reese ada di sini sekarang berkat perjuanganmu? Ucapan terima kasihku tidaklah salah, menerimanya juga merupakan bentuk kesopanan"

"Apakah begitu? Lalu, aku akan menerimanya"

"Anak baik"

Ketika kepalanya selesai ditepuk dengan lembut, Reus menggaruk pipinya malu-malu. Bagus, Reus. Ditepuk oleh putri sebuah kerajaan adalah hal yang langka, kau tahu.

"Lalu, anak yang itu?"

"Ya, Ane-sama. Dia adalah Shishou-ku, yang telah mengajarikan berbagai hal padaku sampai sekarang. Dialah Sirius-san"

"Senang bertemu dengan Anda, Lifell-hime"

"Jadi....ini Sirius-san, orang yang dikagumi Reese ya. Kudengar kau lebih muda, tapi boleh aku tahu berapa usiamu?"

Sambil melihatku dari kepala hingga ujung kaki, dia melontarkan pertanyaan. Jika tidak salah, dirinya berusia 17 tahun, tapi itu akan sulit dipercaya ketika tahu bahwa dia memiliki wawasan yang sangat luas. Ditatap oleh perempuan yang pantas disebut jenius begitu lekatnya membuatku mulai takut.

"Aku akan berusia dua belas di tahun ini....Sesuai dugaan, akan aneh jika aku membimbing Reese ya?"

"Yah. Dia menjadi sangat hebat setelah bertemu denganmu. Dari awal, gadis ini memang sudah luar biasa. Tapi, sekarang akan wajar jika sihir penyembuhan Reese disebut sebagai yang terbaik di kerajaan. Selain itu, suasana yang terasa darimu tidak seperti anak kecil biasa. Benar juga....lebih seperti Otou-sama"

Langsung mampu memahami diriku ketika bertemu untuk pertama kalinya, sama seperti kepala sekolah....dia bukan orang biasa. Seperti yang bisa diduga dari calon Ratu berikutnya.

"Anak sepertiku mirip dengan sang Raja? Anda pasti bercanda"

"Yah, aku tidak terlalu peduli tentang itu. Poin paling penting adalah, berkatmu Reese menjadi lebih kuat. Biarkan aku berterima kasih bukan sebagai putri Lifell, tapi sebagai saudara perempuan Reese"

"Aku pasti menerimanya. Namun, Reese yang sekarang merupakan hasil dari usahanya sendiri. Aku hanya sedikit membantu. Selain itu, wajar saja  karena aku Shisou nya"

"Apakah kau sungguh berusia 11 tahun? Aku jadi mulai mengerti kenapa Reese ingin merangkul punggungmu"

"Ane-sama!"

"Aah maaf. Itu rahasia ya. Ngomong-ngomong, aku sempat khawatir karena Reese tidak ada di sampingku setelah dia masuk sekolah. Aku benar-benar lega begitu tahu ternyata kalian berteman meski sudah mengetahui identitas aslinya"

"Maaf jika pertanyaan ini cukup kasar, tapi kenapa keberadaan Reese disembunyikan?"

Masyarakat hanya tahu kalau kerajaan ini hanya memiliki seorang putri, yaitu Lifell-hime. Namun, kenyataanya adalah, terdapat satu perempuan lagi yang diakui sebagai putri selain dirinya. Lalu kenapa keluarga kerajaan menyembunyikan fakta itu?

Ini bisa menjadi titik balik untuk putri negeri ini. Karena sudah terlanjur terlibat walaupun hanya sedikit, aku jadi ingin lebih memahaminya.

"Jangan lancang, jelata! Jika kau membuka mulutmu lebih dari itu, aku akan menebasmu!"

"...."

Karena terkait dengan rahasia keluarga kerajaan, wajar jika Melt mengambil ancang-ancang dari belakang. Aku juga bisa merasakan niat membunuh dari Senia yang berdiri di samping Lifell-hime dan menggenggam tangannya. Reus melindungi punggungku, sedangkan Emilia melangkah agak maju. Sambil waspada, aku melihat Reese yang mengawasi adegan ini dengan tatapan bermasalah.

Situasi bagaikan benang yang terus diregangkan itupun berlanjut untuk sebentar, hingga akhirnya teputus oleh Lifell-hime.

"Senia, Melt. Tolong berhenti"

"Mengert"

"Tapi---!"

"Reese sangat mempercayai anak-anak ini. Aku juga berpikir hal itu perlu dibicarakan karena mereka berhak untuk tahu"

"Ane-sama....Ya. Aku tidak ingin lagi menyembunyikan sesuatu dari teman-temanku"

"Benar kan? Yah, alasan sesederhana itu tidaklah aneh. Asalkan mereka tidak memberitahu orang lain, aku takkan keberatan menjelaskannya"

"Aku berjanji untuk tidak menyebarkan informasi ini ke siapapun. Aku hanya ingin tahu lebih banyak tentang Reese"

Jujur saja, aku tidak ingin memiliki keterkaitan apapun dengan keluarga kerajaan, tapi berbeda lagi jika Reese terlibat didalamnya. Setelah lulus, kami ingin dia untuk ikut dalam perjalanan walau akan sulit jika keluarga kerajaan terlibat.

Andaikan kami pergi nantinya, aku jadi tidak perlu memikirkan menu latihan dan dia bisa hidup dengan aman. Tak peduli bagaimana aku memandangnya, dia tidak memiliki karakteristik seseorang yang berhubungan dengan keluarga kerajaan, dirinya lebih cocok diajarkan sihir ofensif dan cara mengintimidasi.

"Alasan keberadaan Reese yang tidak diumumkan adalah karena dia merupakan anak haram, namun masalah utamanya bertumpu pada gangguan dari banyak pihak. Bila jumlah anak perempuan meningkat, tentu saja akan ada banyak bangsawan yang ingin masuk ke keluarga kerajaan dengan berebut anak ini untuk dijadikan istri. Aku bisa saja menyingkirkan orang-orang itu, tapi Reese akan mudah tertipu. Yah, apa boleh buat karena dia sebelumnya adalah rakyat jelata yang baik dan lembut"

"Rasanya aku mulai mengerti. Jadi tujuanya agar dia tidak dipandang sebagai 'hidangan lezat' oleh orang lain, ya*"
[Ini diucapkan oleh Emilia]

"Ane-sama, Emilia juga....Aku merasa buruk jika kalian mengatakannya sejelas itu"

Keceriaan dimana dia akhirnya bisa mengenalkan teman-temannya sendiri ke kakaknya pun perlahan tersingkir. Reese terlalu naif seperti biasanya, tapi itu juga merupakan daya tarik yang gadis ini miliki.

"Itulah sebabnya aku memberi tahu Tou-san untuk menyembunyikan informasi. Jadi orangnya sendiri bisa memilih apa yang dia inginkan setelah dewasa"

Hidup sebagai putri kedua keluarga kerajaan atau menemukan cara baru untuk hidup sebagai rakyat jelata....semuanya terserah dia.

"Aniki, aniki. Jika kita bisa meyakinkan Reese-ane, bukankah kita bisa bepergian bersama?"

"Yah, mungkin saja"

Dia memiliki kakak perempuan yang bisa diandalkan di sini. Bahkan jika kami mengajaknya untuk ikut, itu tidak akan bisa diputuskan dengan cepat.

Lebih baik beralih untuk menanyakan hal penting lainnya.

"Apa dia memiliki hak untuk naik takhta?"

"Kau cukup tegas, Sirius-kun. Dia memang memilikinya, tapi di urutan paling bawah karena masih ada saudara-saudaranya yang lain termasuk diriku. Itu mustahil, kecuali semua orang di keluarga kerajaan meninggal karena kastil terkena hantaman sihir yang dahsyat"

"Lifell-sama, tolong berhenti mengatakan hal tidak bijaksana seperti itu"

"Kau paham sekarang, bajingan?! Jika Felice-sama diambil sebagai istri, orang itu bisa naik dalam keluarga kerajaan!"

Melt mulai melontarkan ejekan sambil menunjukku. Dia menyebutkan kelemahan dari masalah ini, mungkin apa boleh buat jika orang bersangkutan tidak mengetahui apapun tentang itu*.
[Yg disinggung disini adalah Reese yg tak mengetahui kalau dirinya bisa naik takhta]

"Ada apa? Sepertinya kau memiliki hal untuk dikatakan"

"Kesampingkan Reese, aku sama sekali tidak tertarik dengan urusan keluarga kerajaan. Sebaliknya, aku lega ketika Anda menjelaskan bahwa dia tidak mungkin bisa naik takhta"

Reese panik dengan wajah memerah saat mendengar jawabanku. Bergantung pada siapa yang mendengarkan, ini bisa saja ditafsirkan seperti 'Jadi tidak masalah kalau aku menikahi Reese'.

Gadis itu sepertinya tidak tertarik dengan urusan keluarga kerajaan. Kurasa posisinya yang sekarang adalah yang terbaik.

"Fufu....mampu memahami hal-hal tentang Reese dengan sangat cepat, apa kau punya pertanyaan lain?"

"Tidak, tidak ada"

"Kalau begitu, haruskah kita mengobrol sedikit lagi? Aku ingin tahu apa yang dilihat Reese pada kalian"

"Tentu saja---....itulah yang ingin aku balas, tapi pertama, aku ingin menyelesaikan permintaan Reese"

"Permintaan? Permintaan macam apa itu, Reese"

"Benar juga, Ane-sama! Ini tentang penyakitmu!"

Dia sepertinya lupa karena depresi saat rahasianya terbongkar. Sisi Reese yang malu juga menggemaskan.

Ekspresinya memang imut, tapi kata-katanya masih jelas dan serius. Kupikir aku harus menyerahkan ini padanya daripada mencoba memeriksa Lifell-hime dengan tergesa-gesa. Hanya saja, ketika berpikir kalau orang yang membawa kami kesini malah melupakan tujuannya sendiri....

"Tidak apa-apa Reese. Tubuhku memang terasa lemas, tapi sepertinya obat baru akan tiba disini besok. Aku pasti bisa sembuh jika meminumnya"

"Tak ada jaminan seperti itu! Bukankah kakak mengatakan bahwa sihir penyembuhku merupakan yang hampir  terbaik di kerajaan ini? Lalu kenapa tanda-tanda kesembuhanmu tidak muncul?!"

"Mungkin penyakitnya memang tidak mampu dilenyapkan dengan kekuatan sihir. Selain itu, kau tak perlu sekhawatir itu karena aku berencana memanggil dokter dari tempat jauh jika obatnya tidak manjur"

"Kalau begitu....bagaimana dengan meminta Sirius-san untuk memeriksamu?"

"Sirius-kun?"

"Ya. Sirius-san mengenal tubuh manusia dengan baik, sihir penyembuhku berada di tingkat ini karena diajari olehnya. Itulah kenapa aku berpikir untuk membawanya dan memeriksa penyebab penyakit Ane-sama"

"Jadi....Apa dia akan menyentuhku?"

"Benar. Sirius-san, maukah kau melakukannya?"

"Tolong tunggu"

Ekspresi Lifell-hime berubah saat Reese mendorong diriku ke hadapannya.

Itu bukan lagi wajah lembut seorang kakak perempuan, melainkan sang putri kerajaan, Lifell Bardfeld. Dia melihat ke sini dengan tatapan tajam.

"Reese, meski kau adalah adik perempuanku, apa kau tidak mengerti posisi kakakmu ini? Tak peduli seberapa inginnya kau, aku takkan membiarkan perilaku egois semacam itu"

"Tapi....tapi aku khawatir dengan Ane-sama!"

"Ya, aku mengerti akan kebaikanmu itu. Tapi, diriku tetaplah seorang putri. Ini adalah sesuatu yang tidak bisa aku abaikan jika merupakan permintaan dari adikku sendiri. Dan untuk Sirius-kun"

"Apa itu?"

"Untuk menyentuhku yang merupakan putri sebuah kerajaan sebelum pernikahannya. Apa kau siap dengan resikonya?"

Aku beranggapan kalau hal ini bukanlah suatu masalah karena Lifell-hime sendiri menepuk kepala Reus. Masalahnya mungkin pada Menyentuh tanpa izin, tapi....bagiku itu tidak relevan.

"Tidak masalah. Aku ingin membantu karena Reese yang meminta. Lagipula, Anda merupakan kakaknya. Hanya saja, aku memiliki syarat sebelum bertindak"

"Heehh....setelah aku menyatakan bahwa menyentuhku itu tidak diizinkan, kau memunculkan syarat ya. Boleh aku mendengarnya?"

"Aku akan menggunakan sihir khusus yang tidak boleh diketahui oleh orang lain. Aku ingin Anda berjanji untuk tidak menyebarkan informasi tentang itu"

"Bajingan! Beraninya kau menunjukkan sikap lancang kepada sang Putri! Tak bisa diampuni!"

"Diamlah, Melt. Akulah yang berbicara dengannya.....Apa yang akan terjadi jika aku tidak mampu merahasiakannya?"

"Jika informasinya sampai bocor, aku akan membawa Reese kabur dari Elysion"

"Heeehh?!"

Sebuah pelarian yang sempurna. Kedua bersaudara pasti akan ikut. Aku tidak memiliki alasan untuk tetap tinggal jika murid-murid juga bersamaku. Aku bisa membawa Reese pergi dengan bebas dan melarikan diri.

Wajah orang yang bersangkutan memucat, sedangkan kakaknya melihat ke sini dengan niat membunuh.

"....Apa menurutmu aku akan membiarkan itu? Kelompok pengejar akan dikerahkan untuk segera menangkapmu"

"Kalau begitu, aku mungkin harus menyeberang ke benua Adrod? Seperti yang diharapkan, mengganggu sampai ke benua lain akan sulit bahkan untuk Elysion. Kami juga bisa berkemah di luar, membangun rumah di daerah pegunungan pada benua lain dan menunggu keadaan menjadi tenang"

"Kau pikir bisa melakukannya?"

"Bisa. Karena aku memiliki kekuatan untuk mewujudkan itu"

Diriku pernah pergi jauh dari rumah tempatku dilahirkan. Aku bisa saja membawa mereka sendirian melintasi langit seperti saat mengunjungi rumah Lior. Kami takkan tertangkap oleh jaring di pelabuhan karena tidak menggunakan kapal. Aku cukup yakin mampu melarikan diri.

Reese mulai bermasalah dengan wajah memerah, tapi aku mengacuhkannya karena merasa hal itu takkan berakhir.

"Kenapa kau ingin membawa Reese?"

"Itu karena dia merupakan muridku. Gadis ini pasti akan menjadi lebih kuat saat bersama kami daripada menerima perlindungan Anda"

"Begitukah....kau lulus!"

Lifell-hime kembali ke dirinya yang normal dan menunjukkan ekspresi menyegarkan. Dia sangat bersemangat sambil menatap Senia.

"Kau dengar itu, Senia? Tanpa mengalihkan tatapannya dari mataku, dia langsung menyatakan rencana pelarian diri bersama Reese!"

"Ya. Seperti seorang pangeran dari negeri dongeng"

"Menakjubkan. Aku mungkin telah jatuh cinta padamu jika kau sedikit lebih tua. Paling tidak Reese tidak keberatan, kan?"

"Eh?! Emm....Bukankah Ane-sama harusnya marah?"

"Reese, kakakmu tidak marah. Dia hanya sedang menguji"

Karena adik berharganya akan dipercayakan kepada seorang pria, sebagai kakak dia perlu menguji pihak yang bersangkutan. Hanya saja, aku bisa mengerti kalau yang melakukan itu adalah kepala sekolah, tapi apa memang masuk akal untuk menguji orang lain dengan niat membunuh di dunia ini? Bagaikan berkata, 'Jangan pernah membalas jika kau tidak memiliki keberanian'.

Setelah tertawa bersama Senia sambil menatap Reese yang memerah, Lifell-hime yang puas mengulurkan tangannya padaku.

"Aku akan mengusirmu jika kau benar-benar menyentuhku tanpa izin. Tapi karena sudah lulus, aku akan memberimu izin. Bagaimana dengan tangan? Aah, dadaku secara mutlak tidak boleh meskipun kau masih kecil"

"....Tangan anda saja sudah cukup"

Sayang sekali karena dada Lifell-hime hampir rata....tidak, hentikan pemikiran itu. Intuisinya yang bagus mungkin bisa menebak isi kepalaku.

Rasanya nyaman memegang tangan mulus Lifell-hime, walaupun suhu tingginya bisa terasa karena kondisi fisik yang buruk. Aku mengaktifkan {Scan} ke tangannya untuk mencari kelainan yang ada.

"....Tidak terjadi apapun. Apa yang sedang dia lakukan?"

"Sirius-sama sedang memeriksa kelainan di tubuh menggunakan sihir aslinya. Hampir tak ada yang bisa dirasakan. Kami mengetahui itu karena sudah sering mendapat perlakuan serupa"

"Sihir untuk memeriksa kelainan di tubuh....ya. Hal ini memang tidak boleh diceritakan sembarang pada orang lain"

"Ane-sama, kenapa kau bilang begitu? Aku pikir ini mungkin bisa menyelamatkan banyak orang"

"Tentu saja bisa, tapi akan ada berbagai pihak yang menargetkannya untuk menganalisa sihir ini. Jadi, kita harus mencegah penyebaran informasi. Senia, Melt, seperti yang kalian baru saja dengar, aku perintahkan kalian untuk memastikan tak ada sedikitpun kabar yang bocor. Ini mutlak dariku sebagai putri kerajaan"

"Mengerti"

"....Ya!"

Senia menundukkan kepala dengan anggun, Melt juga sama tapi dengan wajah yang masam.

Sejak aku memegang tangan Lifell-hime, pemuda ini belum sekalipun melonggarkan genggaman dari pedangnya. Seolah siap untuk menebas kapanpun, aku pasti sudah diserang jika Reus dan Senia tidak disini.

Adapun kakak perempuan Reese, hasil pemeriksaan {Scan} secara menyeluruh....telah dikonfirmasi.

Ini bukan masalah seperti penyakit. Sederhananya, penyebab utama adalah faktor fisik.

Aku melepaskan tangannya dan kemudian mengumumkan hasilnya dengan suara yang bisa didengar oleh semua orang.

"Lifell-hime, ada benda asing di dalam tubuhmu"

Chapter 39 berakhir disini

>Catatan penulis : Benar juga. Aku akan menulis satu chapter dimana benda asing itu dikeluarkan dan membuat si putri sembuh. Awalnya, chapter ini terlalu panjang karena berbagai hal yang kutulis, tapi aku memilih untuk memotongnya disini.

>Catatan penerjemah : ....Aku tidak suka bagian dimana ceritanya dipenuhi bumbu politik, dsb....membuat kepala pusing saja....

Ke Halaman utama World Teacher
Ke Chapter selanjutnya

Comments

  1. Ya...

    Setelah bertapa bertahun- t tahun akhirnya rilis juga... :v

    Dan endingnya selalu bikin penasaran....

    ReplyDelete
  2. Next,min ga sabar nunggu Chapter berikutnya :v

    ReplyDelete
  3. KEapa kenapa selalu berahir nanggung begini padahal lagi seru"nya

    ReplyDelete
  4. wowow langsung keluar lagi lanjutannya. ayo min lagi, nanggung bgt endingnya.

    ReplyDelete
  5. Lanjut min btw maksih dah di translate

    ReplyDelete
  6. cih... ane baru nyadar klo dah up.... well... semangat deh min

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Kusoge Online (BETA) Bahasa Indonesia

108 Maidens chap 14 B. Indonesia