Kusoge chap 4 (2) B. Indonesia

Chapter 4 (2)
Diterjemahkan oleh I-Fun Novel



Ruang debugging telah berubah menjadi sesuatu yang tampak seperti sebuah kuil Yunani kuno.

"Apa yang terjadi di sini?!"

Tengah ruangan ditutupi dengan dengan ubin marmer. Dari empat sudut alas pilar seperti yang kau akan temukan di tempat-tempat suci, mencapai sampai ke langit-langit. Di paling pusat, sambil di kelilingi pilar adalah singgasana. Sandarannya setinggi kira-kira dua meter.

Asap putih diam-diam naik dari lantai. Setelah memeriksa lebih dekat, kumpulan asap ini keluar dari ember kecil.

Tampaknya adalah es kering untuk teater.

"Kenapa bahkan kita memiliki hal-hal ini di dunia maya....?"

"Aku sudah menunggumu!!"

Suara seorang gadis yang dia kenal terdengar dari singgasana.

Sasaraki menatap tempat itu dengan mata ikan mati. Disana, tentu saja, terdapat Azrael. Namun, tidak dalam jubah yang biasa dikenakannya.

Empat sayap raksasa hitam legam telah tumbuh dari punggungnya. Mereka bergoyang dengan tahkta dibelakang dan mengendur sampai lebih dari dua meter. Seperti sayap yang kau akan saksikan pada malaikat dalam lukisan.

"Waktu penghakiman telah datang. Sekarang, Sasaraki, mari kita mainkan"

Azrael memukul sayap yang muncul di punggungnya dengan elegan.

Sambil menghunus pedang dan mengarahkan ujungnya pada Sasaraki, dia lalu berteriak.

"SEBAGAI GAMEMASTER, AYO KITA MULAI, RAGNAROK CONCERTO!!!!!!"


....


....


....Lima detik berlalu.

Sasaraki berpikir dengan linglung.

....Ini menjadi lebih buruk daripada yang kupikirkan.

"Sasaraki....apa gadis ini sedang membuat lelucon khusus? Di bagian mana aku harus tertawa?"

Alice bertanya dengan berbisik.

"Tidak....Aku tidak tahu juga, tapi aku tidak berpikir dia sedang membuat lelucon"

Sesuatu yang secara spesifik telah memburuk menjadi absolut buruk. Yakni, chuunibyou-nya.

Apa yang Fury telah tiupkan ke dalam otak gadis ini?

"Fufufu, aku tahu apa yang ingin kau katakan"

Azrael menyatakan senyum yang semakin membuktikan bahwa dia lebih tidak tahu.

"Kenapa kita harus melakukan sesuatu yang begitu tidak masuk akal. Itulah yang kau ingin tanyakan, kan?!"

"....Iya, itu benar dalam artian lain"

Ada apa dengan semua lantai, pilar, singgasana, dan sayap yang keterlaluan ini? Kenapa bisa begini? Apakah dia mengeluarkan segala hal di database dan menerapkannya hanya demi drama?.

"Sebaliknya, dengarkan aku dulu, Azrael. DEATH GAME yang dimaksud adalah---"

"Sekarang aku akan memberitahumu alasan mengapa diriku menerapkan patch"

Dia tidak mendengarkan.

"Aku melakukannya untuk membuat realisme dalam pertempuran fana terjadi di dunia yang serba kurang ini"

Azrael menyatakannya dengan jelas.

"Sasaraki, apakah kau tidak pernah mempertanyakan hal itu? Mengapa rekanmu muncul kembali dengan baik ketika mereka telah terpanggang oleh api naga? Mengapa mereka bisa kembali setelah binasa, mengapa mereka seolah-olah menjadi penguasa kematian bagaikan itu bukan apa-apa? Apakah ada makna dalam pertempuran dalam permainan di mana dirimu dapat hidup kembali?"

"Mungkin tidak, tapi hanya dengarkanlah untuk---"

"Dan begitulah, aku, Deathbringer Angel Azrael telah memutuskan!!!"

Bagaimanapun juga, dia tidak mendengarkan.

"Kekalahan akan secara harfiah menjadi kematian. Aku akan melihat ini sebagai penyempurna untuk dunia ciptaan kita!!"

Dia memukul sayap hitam legamnya dengan gaya megah.

Sebuah badai kencang meniup tubuh Azrael dan membuatnya melayang lembut di udara. Ketika Sasaraki menatapnya, ia bisa melihat senyum kesepian di wajah cantiknya.

"Sasaraki....dirimu terlihat seperti ingin mengatakan bahwa aku salah, kan?"

"Pada dasarnya kau suda salah!! Jadi, dengarkanlah aku untuk---"

"TAPI AKU TIDAK AKAN BIMBANG!!!"

Azrael yang tuli berteriak dengan suara muram.

"O Pedang Sihir Gram, pinjamkan kekuatanmu sekali lagi. {INVOKE}!!!"

Bersamaan dengan teriakannya, aura ungu buruk muncul dari pedang magis. Pedang itu memiliki efek meningkatkan kesempatan pukulan kritis sampai 50%.

"....Ah...."

Azrael menunjukkan keragu-raguan untuk beberapa alasan.

Setelah sebentar saat melayang, dia hinggap ke lantai dan sedikit melengkungkan mulutnya.

"A-Aku baik-baik saja, aku baik-baik saja!! Akulah Deathbringer Angel Azrael!!!"

Dia membujuk dirinya. Sambil menggeleng, gadis ini kembali melotot ke Sasaraki.

"Ngo-Ngomong-ngomong, Sasaraki, biarkan aku mengkonfirmasi....Kau sedang memakai Invincible Barrier, kan?"

"Hah?"

"Jawab aku! Ini penting!"

Dia tidak tahu kenapa itu penting, tapi Sasaraki hanya bisa mengangguk untuk saat ini.

Setelah Alice membunuhnya tadi, ia mengaktifkan barrier-nya lagi. Lagipula, jika dirinya meninggal, dia akan kembali ke titik spawn.

"Ke-Kemudian kita sudah mengaturnya, ya?!"

Dia berdeham dan kembali membuat wajah serius.

Lalu, sekali lagi mempersiapkan dirinya dengan Pedang Sihir Gram yang masih memancarkan aura menakutkan.

"Sekarang datanglah padaku, Sasaraki!! Jika kau ingin menghentikanku, lakukanlah dengan pertarungan!!!"

"Aku tidak benar-benar mengerti, tapi aku sedang memakai 'tak terkalahkan' sekarang. Jadi ini tidak akan banyak---UWAAAAHHH?!?!?!"

Dia mengepakkan keempat sayap hitamnya dengan sangat kuat. Meniupkan hembusan keras.

"DISINI AKU AKAN DATANG, DEATHBRINGER ANGEL AZRAEEELL!!!!!"

Tubuh Azrael terbang semakin tinggi. Dia menyilangkan 'Pedang Sihir Gram' dan 'Ragnarok' di atas kepala dan memutar tubuhnya secara maksimal.

Masih dalam pose itu, dia bersemangat naik ke langit-langit kamar debugging dan....kepalanya tertabrak pada tembok padat.

"KYAUU?!?!"

Dia jatuh dan menghantam lantai dengan kepalanya pertama di samping singgasana.

Kenyataannya, dia tidak mengaktifkan Barrier Invincible, membuat HP-nya turun sekitar setengah.

Alice dan Sasaraki hanya terdiam dengan tatapan serius pada wajah mereka.

Akhirnya, Azrael bangun kembali. Matanya menggenang dengan air mata dan tangannya gemetar.

"Aku....Aku baik-baik saja!"

Dia meletakkan tangan ke dadanya yang besar dan menghembuskan nafas dalam-dalam.

"Akulah Deathbringer Angel Azrael....aku ti-tidak takut mati!!"

Ketika akhirnya bisa berdiri tegak lagi, ia mengangkat pedang sihir dan mengarahkannya ke Sasaraki.

"Fufu! Kau disana berhasil melakukan hal barusan padaku!"

Tidak, aku tidak melakukan apapun.

"Harusnya ini merupakan sejenis lelucon baru, ya kan?"

Alice bergumam dengan ekspresi masih serius.

"Tidak, aku pikir dia sudah sungguh-sungguh tentang hal ini"

Dia mengatakan bahwa dirinya berharap untuk pertempuran fana realistis dan sebagainya. Jadi Azrael benar-benar berpikir dunia virtual ini akan menjadi game kematian setelah patch diterapkan? Menimbang dari pemikiran itu, ini akan menjadi tindakan bunuh diri yang tak dapat dimengerti. Hanya bunuh diri. Tidak peduli bagaimana kau melihatnya, dan dia ingin duel sungguhan?.

Aku tidak mengerti, tapi untuk sekarang lebih baik menghentikannya.

"Hmmm. Bukankah lebih baik untuk hanya membunuh seperti yang dirinya inginkan? Sasaraki, kau perlu ini?"

Alice bergumam dan menempatkan 'Dice of the Goddes' ke tangannya.

"HIIIIII?!?!?!"

Azrael melompat seperti hamster yang ketakutan.

"Ah, uuh...."

Dia meringkukkan seluruh tubuhnya dan menggeleng sambil menatap Alice.

Air mata berkumpul di sudut-sudut mata Azrael. Menyerupai burung kecil yang gemetar di hadapan musuh alaminya. Melihat gadis didepannya yang seperti itu, ekspresi Alice melengkung dengan, 'Uuhh'.

"Aku-aku tidak bisa membawa diriku untuk...!"

"Sepertinya dia benar-benar berpikir kalau dirinya akan mati, ya kan?"

Lalu ada apa dengan misi bunuh diri ini? Aku tidak mengerti. Bukan berarti aku biasanya mengerti dirinya juga.

Sasaraki sedang dalam kebingungan, ketika sebuah suara dari efek teleport bergema di belakang mereka. Lalu....

"Sasaraki-kun, Alice-san!!"

"....Lizna?!"

Ketika mereka berbalik, Lizna berdiri di atas tempat teleport dengan ekspresi yang tidak biasa di wajahnya.

"Aku-Aku mendengarnya dari Fury-chan! Kita tidak boleh mati!"

Tidak bagus, dia mendengarnya dari sumber itu.

"Apakah kita semua---Ah?!"

Dia melemparkan pandangan ke arah Azrael dan ekspresinya dengan cepat berubah.

"HP bar milikmu....?! A-A-Apa yang kau lakukan, Sasaraki-san?!"

Dia berlari dan memposisikan dirinya di antara Azrael dan Sasaraki.

"Tolong jangan bertarung!! Kau tidak boleh!!"

"Aku tidak melakukan apa-apa dari awal, kau tahu?! Ditambah, itu tidak terlalu penting jika kita---"

"Lalu kenapa HP nya jatuh jika kalian tidak bertarung?!"

"Karena dia pada dasarnya meniup dirinya saat---"

"Karena aku menantangnya untuk duel, Lizna"

Azrael menyela dengan nada berani.

Tanpa harapan. Keduanya tidak akan mendengarkan kata dariku!.

"Heh? Heh, kau bercanda, kan?! Jika kau mati sekarang, kau benar-benar akan mati untuk selamanya, kau tahu?!"

"Itulah sebabnya"

Dia mengayunkan kedua pedangnya.

"Yang diriku selalu cari. Sebuah duel sampai mati, cocok denganku sebagai Deathbringer Angel Azrael!!"

Beberapa detik keheningan kemudian.

Alice yang mengawasi tontonan dengan rasa takjub kosong. Sasaraki mencoba untuk memikirkan cara untuk menjelaskan keseluruhan situasi, tapi Lizna lebih cepat lagi.

"Azrael-san....kau berbohong"

Dia mengumumkan dengan tenang dan mengambil langkah ke arahnya. Azrael menggeleng.

"Aku serius. Aku tidak takut mati"

"Kau berbohong"

"Aku katakan, aku tidak bohong!!"

Sesaat keheningan berlalu. Akhirnya, Lizna melakukan sesuatu yang aneh.

Yah, semua yang dia telah lakukan sejak awal memang aneh, tapi mempertimbangkan bahwa dia melakukan sesuatu secara khususnya adalah sangat aneh.

"Lalu, kau tidak akan menangis jika aku melakukan ini?"

Lizna mencengkeram 'Immortal Pendant (imitasi)' miliknya dan bergumam, 'Barrier Invincible, off'.

"EEEEIIII!!!!"

(BAAMMM!!!!)

Mereka bisa mendengar suara dari dampak keras. Pada kenyataannya, suara puncak gada-nya memukul kepala Lizna sendiri.

Bar HP muncul di atas dirinya. Itu turun ke 80%.

"Tung---?! A-A-Apa yang kau lakukan, Lizna?!"

"Aku hanya melakukan hal yang sama denganmu!!!!"

Meskipun rasa sakit harusnya sudah teratasi oleh sistem, air mata muncul di sudut-sudut mata Lizna.

"Sama?!?! Tapi kau hanya mencoba membunuh dirimu sendiri!!!"

"Menonaktifkan Invicible Barrier lalu menantang seseorang bertarung adalah seperti membunuh diri sendiri!!!"

Pukulan lain. HP-nya turun sampai setengah. Bar berubah warna menjadi kuning, menunjukkan bahwa dia semakin dekat dengan kematian.

Selain itu, warna wajah Azrael juga berubah dan bahkan lebih cepat dari warna bar HP Lizna. Dia semakin ketakutan

"Apa kau baik-baik saja dengan ini, Azrael-san?!?!"

"Hentikaannn!!!"

"Ngomong-ngomong, aku takut sekarang!! Be-benar-benar takut!!!"

"Lizna, hentikan itu!!!"

"Tidak akan!!! Aku akan mati sungguhan!! Kita tidak akan pernah bisa ngobrol lagi!! Tidak akan pernah pergi untuk berpetualang lagi!! Tidak akam pernah bermain game ini bersama lagi!! Orang tua dan teman-temanku harus mengangkat dupa di kuburan saat pemakamanku!!! Ayah dan ibuku akan me-MENANGIIISSS!!!!!"

"LIZ---!!!!"

"ADA APA, AZRAEL-SAN?!?!  KAU AKAN MENANGIS KETIKA AKU MATI KAN?!?!"

"HE-HENTIKAN!!!"

"MESKIPUN SEORANG TEMAN BISA MATI, APA KAU MASIH BISA TERTAWA?!?!"

Lizna memegang gada besarnya lagi. Itulah batasnya

"HENTIIIIKKKAAAANNNNN!!!!!!"

Azrael menjerit dan membiarkan kedua pedangnya jatuh ke lantai. Dengan bunyi dentangan, 'Pedang Sihir Gram' dan 'Ragnarok' tergeletak di tanah.

"Berhenti.…!!"

Dia berlutut.

"Aku berbohong....aku-aku minta maaf, jadi....tolong, jangan lebih dari ini, berhenti!"

Dia mengatakan dengan suara tipis sambil berkaca-kaca.

"....Tolong jangan....Lizna....!"

Tenggelam ke lantai, Azrael menangis tanpa akhir.

Lizna menurunkan gada-nya dan bernapas berat.

"Sasaraki....apa artinya ini?"

"Kenapa bertanya kepadaku?!"

Sungguh. Kenapa bisa sampai begini?.


☆☆☆☆


"Awalnya....A-Aku memang mencoba bunuh diri...."

Azrael menjelaskan keadaan sambil menangis tak terkendali.

Meringkasnya, kira-kira seperti ini....

Dia telah mengacaukan dan menerapkan patch DEATH GAME. Tidak mengetahui kode pembatalan, semua orang akan mati jika hal itu dibiarkan tanpa berubah.

Tangisannya meminta Fury bagaimana cara menghentikan patch, yang lalu dijawab oleh peri kecil dengan....

'Ini baik-baik saja jika orang yang mengaktifkannya menghilang ☆'

Dengan kata lain.

"Jika....Jika aku mati....patch akan dibatalkan....dan takkan ada orang lain yang harus mati...."

Sasaraki mencoba mengatakan sesuatu tapi tidak bisa. Namun, ia berpikir bahwa mereka benar-benar harus menyegel peri itu.

"Ta....Tapi....Aku terlalu takut...."

Azrael memperketat cengkeraman di rok mini yang dikenakan. Dia melemparkan pandangan pada 'Pedang Sihir Gram' yang tergeletak dekat dengan lututnya.

"Lenganku tidak bergeming dan....aku-aku tidak bisa melakukannya, tidak peduli sekeras apa aku mencoba...."

"Jadi kau menciptakan situasi agar bisa dibunuh oleh Sasaraki?"

"....Iya....aku pikir dia akan membunuhku jika aku bertindak seperti bos akhir...."

Itu logika yang aneh, adalah apa yang Sasaraki tidak bisa balas.

Memang cara berpikir semata-mata berdasarkan kesalahpahaman, tetapi untuk orang-orang yang terlibat, itu adalah kebenarannya.

"....Tapi...."

Menggerakkan kepalan ke mulutnya. Tangan itu terlihat gemetar.

"....Aku minta maaf....i-itu seperti yang Lizna-san katakan...."

Dia bergumam dengan nada tegas. Suaranya semakin kuat.

"Tidak mungkin....Ini....gemetar....ini tidak akan berhenti gemetar...."

Air mata mengalir di pipinya.

"Maaf, maaf, jadi....Aku tidak akan berbohong lagi, jadi....ja-jadi tolong...."

Azrael bergumam sementara menutupi wajahnya dengan kedua tangan untuk menyembunyikan air mata yang jatuh.

"Tolong....seseorang.... selamatkan aku....!"

Rasanya seperti cengkraman elang telah merebut hatinya. Tetesan dari kedua mata gadis ini adalah kenyataan.

Dia benar-benar takut dan menangis.

Bahkan jika itu adalah hasil dari melompat ke kesimpulan di bawah kesalahpahaman dan kesan yang salah.

"De-Dengar, Azrael! Semuanya akan baik-baik saja!"

Sasaraki berkata tanpa dapat menahannya lagi. Azrael hanya berkedip terus-menerus.

"Kau tidak menerapkan patch game kematian!"

"....Eh?"

Kedipannya menandakan gadis ini sedang terkejut.

"Apa yang kau bicarakan, Sasaraki? Aku benar-benar sudah---"

"Codename-nya saja yang aneh. Itu benar-benar hanya menerapkan sistem romantis!"

"...."

"Hal-hal seperti menikah dengan berpegangan tangan! Jadi semua akan baik-baik saja!"

Dia mengatakan itu semua dalam satu kali tarikan dan kemudian mengambil napas dalam-dalam. Azrael menatapnya bingung. Akhirnya, dia mengungkapkan sedikit senyuman.

"....Terima kasih, Sasaraki. Aku agak tenang sekarang"

Bahunya turun tepat setelahnya.

"Tapi....kita tidak harus menyangkal realitas baru, kau tahu?"

"Kalau begitu kau masih tidak mengerti!!"

Dalam hal ini, semua yang Sasaraki mungkin bisa lakukan sebagai bukti adalah mati di hadapannya. Tapi titik respawn berada di kejauhan dan tidak ada waktu sampai patch akan aktif sepenuhnya. Jika ia membunuh Lizna atau Azrael, mereka mungkin hanya akan terkejut dari ketakutan yang berlebihan.

Dan bahkan jika tidak, mereka akan membencinya setelah itu.

"Azrael, Sasaraki ini mengatakan yang sebenarnya, kau tahu?"

Alice berkata dengan suara lembut, mengambil langkah maju. Azrael menatap Alice lalu menggeleng.

"Maaf, bahkan membuatmu merasa perlu untuk menghiburku....tapi ini adalah realitas kita sekarang...."

"Tidak, hanya dengarkanlah untuk---"

"Orang-orang akan benar-benar.... kehilangan nyawa mereka dalam game ini....!"

Azrael menunduk.

Air mata meluap dari matanya. Alice berbalik sambil terlihat bermasalah.

"Sasaraki. Kenapa anak ini tidak mendengarkan penjelasan kita?"

"Sudah kubilang, kenapa bertanya kepadaku?!"

Saat itu.

'Sepuluh menit sampai perubahan ditayangkan di semua wilayah'

Sistem suara bergema di keseluruhan ruang debugging.

Alice menghela napas.

"....Kalau begitu, apa boleh buat. Kita akan meninggalkan penjelasan untuk nanti, sekarang membatalkan patch adalah prioritas utama"

Si dewi menghadap Azrael lagi. Setelah itu, Lizna melesat. Dia menempatkan dirinya di antara Alice dan Azrael.

"Kau tidak harus melakukan ini! Jangan bunuh dia!!"

"Jangan khawatir. Tidak perlu membunuh siapa pun untuk membatalkan patch"

Lebih seperti, bahkan kalau kau membunuhnya, kau tidak akan bisa karena alasan lain. Tapi mereka tampaknya tidak punya waktu lagi untuk menjelaskan banyak hal.

Azrael menatap Sasaraki, wajahnya kebingungan.

"Tidak mungkin....kau tidak tahu kunci pembatalan juga, benarkan....?"

"Bukan itu. Maukah kau menyerahkan Immortal pendant-mu padaku?"

"....Untuk apa?"

"Sepertinya jika kita me-reset liontin, itu akan membatalkan patch"

"Karena hak istimewa dirimu terkait dengan liontinmu, yang adalah Immortal pendant"

"Aku mengerti! Ada cara seperti itu ya!"

Lizna mengatakan gembira.

Azrael masih tidak bergerak. Dia memukul tangannya ke lantai, membuka mulutnya lebar-lebar, dan menatap mata Alice.

"Tapi....Ta-Tapi Immortal Pendant-ku...."

"Liontinmu kenapa?"

Azrael menunjuk pada sudut ruang debugging.

Itu adalah tempat di mana mesin setinggi manusia terpasang. 'Electron Shredder' yang Fury telah gunakan untuk menghancurkan 'Key of the World'.

Item yang masuk ke dalamnya akan benar-benar hancur dan tidak bisa dipulihkan lagi.

---Tunggu sebentar.

"Eh....? Kau tidak mungkin, milikmu ada....di sana....?!"

Azrael menatap ke arah Sasaraki, matanya berkaca-kaca. Mulut gadis ini membentuk V terbalik, tampaknya sengsara.

Sasaraki menyadari tebakannya telah tepat sasaran. Singkatnya, 'Immortal Pendant (imitasi)' milik Azrael telah dihancurkan.

'Delapan menit lagi'

Bersamaan dengan itu, suara sistem menyebar dengan lancar ke seluruh ruangan debugging.

Alice dan Sasaraki berteriak.

""KENAPA KAU MELAKUKAN HAL BODOH SEPERTI ITUUUU?!?!?!?!""

"Ka-Karena aku tidak tahu kalau mereset-nya akan membatalkan patch!!!"

Azrael berteriak sambil menggeleng tegas.

"Ji-Jika aku melihat liontin itu, aku pasti akan tergoda untuk mengaktifkan Barrier Invincible....!"

"....Kau menghancurkannya untuk memotong garis hidupmu?"

"Uh...."

Azrael menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangan.

Mulut Sasaraki menganga seluas mungkin, terlihat seperti akan jatuh.

Tentu saja itu keputusan bunuh diri.

"Bagaimanapun, aku idiot tidak berguna....!"

"Yah, kau memang idiot tidak berguna! Apa yang akan kita lakukan sekarang, Alice?!"

Tak ada jawaban.

Alice tampak kaget juga, seperti yang kau bisa harapkan. Beberapa detik kemudian, dia akhirnya tersadar.

"Tunggu sebentar. Kita bisa menduplikasi hak istimewa didalam Immortal Pendant dan....Tidak, tak ada cukup waktu....Apa lagi yang kita bisa...."

Alice melipat tangannya dan mulai menggeram. Tidak terlihat seperti ide atau sesuatu akan datang ke kepalanya dalam waktu singkat.

Sasaraki menelan ludah. Situasi yang gawat! Dengan hal-hal seperti ini, dunia akan jatuh ke dalam keadaan yang mengerikan. Sebuah dunia di mana kau akan menikah hanya dengan berpegangan tangan. Di lain kata, tarian rakyat di mana setiap orang bergandengan menjadi tidak mungkin.

Hah? Kalau dipikir-pikir, apanya yang buruk dari keadaan ini---

"Tunggu, itu memang buruk!"

Dia menggeleng untuk menyingkirkan suara dalam hatinya. Jika fitur idiot semacam ini dilaksanakan, banyak pemain akan terkejut dan berhenti. Singkatnya, layanan akan berakhir. Itulah hal yang kami sudah berusaha untuk hindari. Kami telah mulai menjadi serius di sini. Tak ada waktu untuk di sia-siakan pada hal-hal bodoh.

'Lima menit lagi'

"....Gehk"

Itu suara Azrael.

Ketika Sasaraki berbalik untuk melihat gadis itu, ia sedang mencengkeram pedang sihirnya erat-erat.

"Aku....Aku memang harus mati!"

"Tidak boleh!!"

Lizna menyita lengannya dalam tangisan.

"Lepaskan, Lizna! Semua orang yang akan mati jika hal-hal tetap seperti ini! Tidak ada cara lain!"

Suara dan tubuh Azrael gemetar, dia mungkin takut. Namun dia menepis Lizna dan hendak menyodorkan pedang sihir ke tenggorokannya sendiri.

Dia serius. Serius tentang kematian. Bunuh diri tidak akan benar-benar membunuhnya atau memperbaiki apapun, tapi, ya, lagipula, dia serius.

Sasaraki ingin menyelamatkannya. Apa tak ada suatu cara? Lalu....

"Hmm. Apa boleh buat, ya?"

Alice berbalik. Dia menyatakan senyum menyegarkan.

"Sasaraki. Pinjaman aku 'Immortal Pendant?' milikmu"

Apakah dia memiliki suatu rencana?

"Aku akan mengurai program Patch dan menyimpulkan kode pembatalan. Aku membutuhkan hak debugging"

"Eh? Kau bisa melakukan itu? Kita hanya tersisa tiga menit"

"Kau pikir siapa diriku ini?"

Alice tersenyum lebar.

"Aku si jenius gamemaster Alice, kau tahu?"

Dia meletakkan tangannya ke pinggul dan membusungkan dadanya dalam kebanggaan, Alice penuh kepercayaan diri. Dia berperilaku seperti sangat bisa diandalkan.

Tapi, tunggu sebentar.

"Bukankah kau bilang sebelumnya bahwa kau tidak bisa menggunakan benda ini?"

Ketika ia mencoba untuk menyerahkan kepada Alice sebelumnya, ia mengatakan bahwa karena keadaan tertentu dia tidak bisa menggunakannya.

Keringat membasahi pipi Alice. Wajahnya menegang.

"....Itu bohong"

"Bohong?"

"Atau, keadaannya berubah"

"Keadaan apa yang berubah, dan kapan?"

Alice kehilangan kata-kata. Terus terang, itu benar-benar mencurigakan.

Mungkin memang benar bahwa dia bisa mengurai program Patch. Jika tidak, Alice tidak akan mengatakan hal ini dalam situasi yang seperti akan menekan mereka. Tapi kecurigaan itu adalah bahwa dia tidak bisa menggunakannya karena 'keadaan tertentu'.

Apa sebenarnya keadaan yang tidak akan membiarkan dirinya menggunakan Immortal Pendant? Mungkinkah itu---

"....---!"

Saat dia membayangkan alasan, rasa bergidik membasahi punggungnya.

"Hei, Sasaraki!"

Jika pemikirannya adalah benar, ia tidak bisa menyerahkan liontin ini untuk Alice dalam keadaan apapun.

Tapi apa yang harus dilakukan? Untuk membatalkan patch mereka memerlukan kode tiga digit.

Ada seribu kemungkinan kombinasi.

Ini tidak mungkin bagiku untuk menebak dengan membabi buta dalam suatu percobaan. Pikirkanlah, diriku! Alice mengatakan bahwa 'sebagai gamemaster, berpikir sendiri lebih dulu'. Jika aku tidak melakukan itu sekarang, lalu kapan lagi?.

Pertama-tama adalah kode pembatalan yang telah ditetapkan oleh Master Fury sebelumnya. Bukankah itu sudah menjadi petunjuk? Dia mencintai Fury, tetapi ia mencintainya terlalu banyak sampai-sampai tidak bisa meletakkan tangannya pada diri peri ini. Sehingga ia bahkan membuat bantal tubuh darinya di dunia virtual. Dia juga menyembah tiga ukuran Fury, '8 5 7', sebagai kombinasi suci.

Dalam sekejap. Sesuatu merangkak naik ke tulang punggungnya.

"....Tidak mungkin...."

Salah satu kemungkinan yang datang ke pikiran. Fury juga telah menetapkan tiga angka sebagai password sebelumnya.

'Satu menit lagi'

Sistem suara robot mengumumkan.

"Sasaraki, apa yang kau lakukan?! Cepat serahkan!"

Alice mendesak sambil melemparkan dadunya, tapi memantul karena terhalang Barrier Invincible.

"Ya, harusnya begitu"

"Sasaraki, cepatlah!!"

Dia mengungkapkan senyum kering untuk beberapa alasan, berpaling ke singgasana, dan berjalan ke arah sana.

Jendela di mana kau bisa memasukkan kode pembatalan melayang di depan mata Sasaraki. Ini mungkin---tidak, harus bisa.

Benar.

"Tidak apa-apa, Alice"

Sasaraki masih memiliki senyum di wajahnya.

Dunia ini adalah sebuah kusoge.

Passwordnya juga, sangatlah bodoh.

Orang-orang yang bisa mati dalam dunia kecil ini adalah mustahil.

Sementara mempercayai pemikirannya, Sasaraki memasukkan angka '8 5 7'.

'Patching telah dibatalkan. Memulai rollback'.

Sistem suara mennyuarakkannya ke penjuru ruangan debugging.

Ketika Sasaraki berbalik, semua orang menganga selebar mungkin. Mereka tampaknya tidak tahu apa yang baru saja terjadi.

Yang pertama untuk tersadar adalah Alice.

"....Sasaraki....bagaimana kau....?"

"Ini adalah tiga ukuran Fury"

"....Hah?"

"Lihatlah, password ini juga untuk dungeon akhir, kan?"

Tiga angka yang telah sangat sakral untuk mantan tuannya, programmer dari patch ini. Setelah Sasaraki selesai menjelaskan, Alice meletakkan tangannya ke kening dan menarik napas panjang.

"Konyol, ya....? Benar-benar...."

"Aku sependapat...."

Ini adalah dunia yang tanpa henti memunculkan kekonyolan.

Tapi, baiklah, dunia sejenis inilah yang kita tinggali.

"Eh....? A-Apa sekarang? Apa terjadi sesuatu?"

Azrael melihat ke sekeliling ruangan.

"Kau dengar, kan? Patch telah dibatalkan"

Alice yang menjawab pertanyaan Azrael.

"....Itu berarti...."

Azrael bergumam dalam keadaan linglung.

"Aku....tidak perlu....mati?"

"Tidak, kau tidak harus memul---"

"Dia menyelamatkanmu, Azrael-san!"

Lizna memotong. Dia mengepalkan kedua tangannya sambil tersenyum.

Bersamaan dengan suara temannya yang terdengar, Azrael menunjukkan perubahan. Tubuhnya bergetar naik dan turun dalam gerakan kecil. Gumpalan kecil air berkumpul di sudut-sudut mata gadis ini.

Saat berikutnya...

"Uu....Ueee...."

Sambil dengan erat mencengkeram rok, isakan bocor dari mulutnya.

"....Fueeehhhh"

"Azrael-san...."

"Aku....Aku begitu takut...."

"Tidak apa-apa, semua sudah baik-baik saja"

"Ueh....Ueehhhh...."

Lizna duduk di samping Azrael dan dengan lembut menepuk punggungnya.

Sasaraki menyadari sesuatu. Dia telah menyelamatkan mereka berdua dari perasaan takut. Mereka tidak perlu mengalami itu lagi.

Mereka tidak perlu takut dari awal.

TidakTidakTidak....Sasaraki menggeleng untuk menyingkirkan dorongan men-tsukkomi.

Memang bahwa mereka telah salah paham, benar-benar berpikir bahwa mereka akan mati dan ketakutan. Yah, baiklah, aku senang. Aku melakukan sesuatu yang benar-benar baik. Mungkin.

Dia memutuskan untuk pergi dengan pemikiran seperti itu.

Sasaraki memandang Azrael. Dia masih menangis.

"Mungkin kita harus memberinya saputangan?"

Kata Alice.

"Kita memiliki hal semacam itu?"

"Jika kita bahkan memiliki bantal tubuh, kita harusnya juga punya saputangan"

Itu detail yang tak ada gunanya lagi.

Alice mengeluarkan sapu tangan putih dari sakunya dan memberikan kepada Sasaraki.

Rupanya, dia ingin Sasaraki yang menyerahkannya.

Laki-laki ini hanya menerima patuh sapu tangan itu. Dia lalu mendekati Azrael.

"Azrael, kau baik-baik saja?"

Tanyanya sambil menawarkan saputangan.

"Eh?"

Azrael mengangkat kepalanya dan menatap Sasaraki. Matanya pergi bolak-balik antara saputangan dan dirinya.

Pada waktu ketika dia bertanya-tanya apakah gadis ini akan mulai menangis lagi---

---Azrael perlahan mengulurkan tangan.

Genggamannya tidak membungkus saputangan, namun melebihi itu, sekitar tangan Sasaraki sendiri.

Kehangatan kulit seorang gadis perlahan mengalir melalui punggung tangannya.

"....Um"

Azrael mengalihkan pandangannya. Ternyata dia ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak bisa. Sementara air mata bocor dan suaranya gemetar, dia sungguh-sungguh mencoba membuka mulut.

Sasaraki bisa menatap matanya yang basah dari dekat. Terasa seolah-olah perasaan intens Azrael secara langsung tersampaikan melalui tangan mereka yang menyatu.

"Umm...."

Azrael mengangkat kepalanya yang menunduk. Dia lalu berbicara pelan.

"....Terima kasih"

Hatinya melompat.

"A....ah-...."

Azrael baru saja secara terus terang mengatakan terima kasih.

Detakkan pada jantung Sasaraki dipercepat. Dia tidak bisa melepaskan pandangan dari dirinya.

Sambil berpikir, ini adalah buruk. Apanya yang buruk? Dia tidak melakukan apapun yang pantas untuk menerima semacam rasa syukur, itulah yang buruk.

Azrael berada di bawah kesan bahwa Sasaraki telah menyelamatkan hidupnya, tapi itu tidak pernah terjadi. Meskipun dia tidak menipunya dengan sengaja atau apa pun, dalam situasi ini, mungkin akan terlihat seperti dia telah menarik trik untuk membuatnya merasa berhutang budi.

Sasaraki bahkan mulai berpikir dirinya sebagai yang terburuk.


"A-Azrael! Aku punya sesuatu untuk diberitahukan untukmu!!"

"Eh....?"

Azrael memiringkan kepala sedikit.

"A....A-Apa itu?"

Dia terdengar gugup. Pipinya, masih menunjukkan jejak air mata sambil memerah.

Sementara wajahnya memikat laki-laki ini, untuk sebentar saja ia segera menggeleng. Sasaraki harus membuat jelas kesalahpahaman sesegera mungkin.

"Kau tahu, aku sudah mencoba mengatakan itu belasan kali, tapi patch itu...."

Sasaraki berdehem. Sekarang, dia harus memastikan bahwa Azrael mengerti. Dia pasti akan mendengarkan ceritanya sekarang karena dirinya sudah tenang.

"Itu bukanlah patch untuk game kematian---"

Dan di saat bersamaan.

'Berpegangan tangan antara pemain dikonfirmasi. Selamat atas pernikahan anda'

(Ding~!! Ding~!! Ding~~!!).

Sejumlah bunyi lonceng berdering harmonis dari speaker. Bersamaan dengan itu, sebuah jendela berbentuk hati muncul di atas kepala Azrael.

Di dalamnya hanya ada satu baris kalimat.

{Pernikahan Lengkap

Suami : Sasaraki}

""....Heh?""

Sasaraki dan Azrael mengeluarkan tanda tanya secara bersamaan. Setelah itu, gadis ini menatapnya bingung.

"Eh? A-Apa, ini?"

Sasaraki tidak bisa menjawab. Rasanya seperti tidak peduli apa yang dikatakan, dia takkan bisa membebaskan diri dari ini.

Hal-hal tidak tampak bagus untukku. Sebenarnya, memang tidak bagus, melainkan benar-benar buruk.

"Kita sudah membahas bahwa itu patch romantis, kan?"

Alice mengatakan, menghancurkan keragu-raguan Sasaraki di bawah kakinya.

Pada saat itu.

(PUFF!)

Asap putih tiba-tiba menutupi tangan kanan Sasaraki dan Azrael.

"WAHHH?!?!"

"KYAAA?!?!"

Kepulan membumbung. Apa yang telah berubah terutama adalah---tidak, hanya satu hal yang telah berubah.

Sebuah cincin perak polos telah muncul di jari manis kanan* mereka. Diperhatikan lebih dekat, keduanya memiliki 'Sasaraki & Azrael' terukir dalam model huruf yang bagus.
[Yap. Memang di jari tangan kanan]

"Sepertinya cincin kawin, ya?"

Alice bergumam dengan suara tenang.

Azrael menatap cincin di tangan kanannya dalam keadaan linglung.

"E-E-Eh....?"

Dia membiarkan matanya mengembara antara Sasaraki dan Alice.

"Tapi....Aku menerapkan patch game kematian sebelumnya...."

"Itu adalah lelucon yang mengerikan. Tidak ada yang namanya game kematian"

Alice menjawab datar.

"Aku hanya akan memberitahumu sekali lagi. Apa yang telah diterapkan adalah patch tentang romantisme. Itulah buktinya, cincin pernikahan"

"Eh? Tapi, tapi!!"

Azrael masih belum memahaminya.

'Patch rollback selesai. Tindakan lebih lanjut asmara dilarang'

Sistem suara mengumumkan. gerakan Azrael membeku di tempat. Dia akhirnya tampak telah memahami.

Beberapa saat berlalu. Rasanya seperti gerakan jarum jam sudah berhenti untuk Sasaraki. Pemikiran tentang jika memungkinkan, ia ingin dunia untuk berakhir sekarang. Menakutkan hanya dengan mengira apa yang akan terjadi selanjutnya.

Namun, tentu saja waktu tidak benar-benar berhenti. Dan kejadian selanjutnya pun datang tak lama.

(PUFF!)

"AA?!"

Pipi Azrael yang berwarna merah terlihat hampir meledak.

"A-A-A-A-A-AAAPPPPPAAAA?!"

Lengannya mulai bergoncang keras.

Dengan pipinya yang sudah serasa terbakar hingga maksimal, bibirnya menggeliat seperti ular. Dia jelas gemetar, tapi bukan disebabkan oleh ketakutan, melainkan karena malu.

Dan apa yang membuatnya malu, mungkin, adalah kesalahpahaman yang fatal.

Aahh~. Jadi dia akhirnya mengerti. Kalau saja dia sudah bisa paham tiga menit lebih cepat. Sasaraki berpikir, dan tepat setelah itu.

"APA INIIIIIIIIIIIIII?!?!??!?!?!"

Teriakannya tidak akan membatalkan apa yang sekarang berbunyi mengisi seluruh ruangan.



Status

Nama
Alice

Level
4294967296

Job
Dewi Penciptaan

Personality
Jenius

Skill
>Advent: Mampu tampil di mana pun Sasaraki berada. Meskipun telanjang.

>Blessing of the Goddess: Pemain yang dicium olehnya akan menyelesaikan game.

>?????: Entah bagaimana, tampaknya ada banyak misteri tentang dirinya.



☆☆☆Chapter 4 berakhir disini☆☆☆


Ke


Comments

Popular posts from this blog

108 Maidens chap 14 B. Indonesia

Kusoge Online (BETA) Bahasa Indonesia