World Teacher chap 43 B. Indonesia

Chapter 43 Sebagai seorang anggota keluarga kerajaan
Diterjemahkan oleh I-Fun Novel





Aku terus terbang di atas danau sambil menggendong Reese. Kamipun sampai di tepiannya tanpa masalah.

Sebuah sanatorium yang nampaknya milik Lifell-hime bisa terlihat bahkan dengan mata telanjang. Terdapat alun-alun sedikit didepannya, aku memutuskan untuk mendarat disana.

Mungkin karena sudah sangat jauh dari istana, {Search} tidak mendeteksi adanya pengejar. Ini melegakan tapi entah kenapa sesuatu terasa aneh dari gadis yang kuculik. Sejak topeng yang kupakai untuk penyamaran terlepas, matanya tak bergeming dan terus menatap wajahku.

"Kita sudah sampai, Reese"

"...."

Tidak ada reaksi darinya meski sudah kupanggil. Dia masih mencengkeram topengku, tapi lebih dari itu, wajahnya memerah dan panas saat disentuh.

Mungkinkah dirinya kelelahan? Ketika aku melepaskan {Scan}, detak jantungnya hanya sedikit lebih cepat, suhu tubuh juga agak tinggi dari rata-rata, tapi selain itu tidak ada kelainan yang terlihat.

"Ada apa, Reese? Apakah ada sesuatu di wajahku?"

"Fuee?! Bu-Bu-Bukan apa-apa!!"

"Mungkin karena aku tiba-tiba berlari di langit sampai membuatmu takut. Tapi tenanglah, kita sudah mendarat"

"Aku tidak takut! Malahan, ini sangat membahagiakan dan membuatku berpikir kita harus selamanya seperti ini!!"

Entah sudah sadar atau tidak, dia tampak cukup kebingungan dan mengalami kesulitan dalam berucap. Kepalanya menggeleng-geleng dengan mata yang tak fokus, namun akhirnya kembali menatapku dengan pandangan yang sama seperti sebelumnya.

Tatapannya terasa tak asing, kapan aku pernah melihatnya....ya, pasti di masa lalu. Sehari setelah mengobrol berdua dengan Emilia dan membuatnya mempercayaiku, pandangnya sama dengan gadis itu saat dia memberiku handuk.

"Aku akan menurunkanmu, apa kau baik-baik saja?"

"Se-Sebentar lagi! Aku kurang tidur kemarin dan masih lelah....jadi...."

Normalnya, dia akan memaksa untuk turun karena malu. Namun sekarang berbeda, dirinya ingin tetap seperti ini dengan memberi alasan sambil tampak bersemangat. Reaksinya mirip Emilia.

Itu berarti....

"Reese, mungkinkah kau---"

"Reese!!"

"Reese-sama!!"

Tepat disaat aku ingin bertanya, terdengar suara yang berasal dari sanatorium memanggil Reese. Menoleh kesana, terlihat Lifell-hime dan Senia yang sedang berlari ke arah kami. Akupun memilih untuk menunda pembahasan ini dan mengeraskan hati demi menempatkan Reese ke tanah.

Meski dia tampak kecewa saat aku melakukannya, Reese langsung berpaling dan berlari juga ke arah Lifell-hime. Reuni yang sangat menyentuh antara sepasang saudara pun....---

"Kau....adik bodoh!!"

---tidak terjadi.

Sekepal tinju Lifell-hime menghantam ubun-ubun adiknya dan seketika menghancurkan seluruh suasana. Reese hanya bisa menatap tercengang bercampur bingung sambil memegangi bagian atas kepalanya dengan kedua tangan.

"Kenapa kau tidak menolak hal ini?! Kenapa kau tidak bicara padaku dulu?! Dan siapa yang memintamu untuk menjadi penggantiku?! Dari awal aku sudah menganggap bahwa kejadian ini adalah hal yang bodoh, dan kau membuatnya lebih parah sampai-sampai aku tidak bisa tinggal diam!!"

"Ane-sama....tapi aku---!"

"Melakukannya demi diriku? Tidak, kau hanya menghindari masalah yang sebenarnya! Jujurlah pada perasaanmu!!"

"....Maafkan....aku...."

"Ya ampun. Tapi....aku lega kau aman"

Setelahnya, barulah Lifell-hime memeluk adik perempuannya. Ekspresi Reese pun runtuh dengan tangis yang meledak dimana wajahnya terbenam di dada sang kakak, tubuh rapuh dihadapanku itu tampak gemetar. Momen haru berlangsung untuk sementara, hingga Lifell-hime ingat bahwa dia memiliki hal yang ingin ditanyakan dan melepaskan pelukannya.

"Apa kau sudah menjaga bibirmu? Kau terlihat masih secantik dulu*"
[Yah, singkat kata dia cuma memastikan tak ada yang mencuri ciuman pertama adiknya, mungkin]

"Itu....ya. Berkat Sirius-san, tak ada yang terjadi padaku"

Aku menatap Reese saat dia mengatakan itu. Meski wajah gadis ini memerah, pandangannya tetap tak berpaling dariku. Sang kakak yang melihat kondisi adiknya, menaruh satu tangan dimulut dan mulai tertawa, kemudian memberi isyarat padaku.

"Permisi sebentar. Selain penculikan, apa yang Sirius-kun telah lakukan?"

"Tidak ada, aku hanya menggendongnya sampai kesini"

"Kau tidak bisa berkata 'tidak melakukan apapun' ketika seorang gadis sudah melihatmu seperti ini. Kau harus benar-benar bertanggung jawab"

Aku hanya jelata, dan meski secara teknis, dia adalah seorang bangsawan. Jika begitu, kenapa kau malah mencoba menyatukan kami? Apa ini menyenangkan bagimu? Apa kau hanya berusaha membantu adikmu? Mungkinkah, ini persiapan untuk merekrutku ke faksimu di masa depan? Atau bahkan semua alasan diatas?

Namun satu hal yang benar adalah perilaku Reese yang aneh....adalah karena diriku.

Kesannya seperti seorang pangeran yang cuma akan ada dalam kisah dongeng. Dengan gagah berani muncul di tengah upacara pernikahan lalu menculik sang putri yang tidak menginginkan hal itu, menggendongnya dan terbang di langit malam.

Akan bagus jika Reese menyukaiku hanya sebagai guru. Namun, karena terlihat sama dengan Emilia sekarang, bukankah itu artinya dia menyukaiku sebagai seorang lelaki? Gadis ini memang belum mengakuinya, tapi dengan kakaknya yang menyatakan semua hal, suatu hari nanti mungkin akan terjadi.

Yah, aku pernah memperkirakan situasi dimana Emilia mengakui perasaannya. Jawabanku untuk hal semacam ini masih sama.

"Jika dia benar-benar menginginkannya, aku berniat untuk bertanggung jawab"

"Oh?"

"Fuee?!"

Mungkin mereka tidak mengharapkanku untuk menjawab secepat ini. Lifell-hime membuka mulutnya lebar-lebar sementara Reese mengeluarkan suara aneh.

"Namun, ini akan menjadi pembahasan di lain waktu, jadi bagaimana kalau kita tunda dulu? Sekarang, keributan di istana masih belum reda"

"....Yah, seperti yang diduga dari Sirius-kun. Sampai kekacauannya menjadi tenang, kita akan menundanya"

Bahkan, Lifell-hime berubah serius karena situasi ini. Dia lalu menyerahkan Reese ke Senia, berpaling dariku dan mengawasi keadaan sekeliling dengan ketat.

"Ngomong-ngomong, kelihatannya Sirius-kun sendirian. Apa kau tidak membawa pengikutmu?"

"Mereka sedang berlari ke arah sini, kita seharusnya akan bertemu keduanya tidak lama lagi. Dengan begini, permintaanmu selesai, kan?"

"Ya, ini sudah sempurna. Aku sangat menghargaimu yang bersedia menerima permintaan tak masuk akalku, dan terimakasih karena sudah menyelamatkan Reese"

"Apa kau sudah memperkirakan bahwa aku takkan menolak?"

"Kita lupakan saja hal-hal tentang masa lalu. Bagaimanapun, sebagai gantinya, aku akan melindungimu dari segala hukuman kerajaan"

Dia mengepalkan tangan dan berkata dengan penuh keyakinan. Begitu ya, dia memiliki karisma sebagai seorang ratu yang bahkan akan membuat orang lain mempercayai ucapannya tanpa alasan.

"Aku telah membawa Reese kesini sesuai permintaanmu, tapi apa disini benar-benar aman?"

"Hanya ada kita dan beberapa pengikutku di tempat ini. Mereka adalah orang-orang yang kupilih dan terpercaya, disini lebih aman daripada di istana"

Walaupun hidupnya tidak ditargetkan, tapi memang akan jauh lebih baik daripada berada di istana dan dijadikan bahan politik.

"Ada berbagai persediaan, termasuk makanan yang disimpan dalam jumlah banyak, tempat ini juga bisa dibarikade dengan mudah jika para pengejar datang. Dan karena ada beberapa menara pengintai, kalaupun muncul keadaan darurat, kita bisa menggunakan jalan keluar rahasia"

"Selain itu, para petugas disini merupakan orang-orang yang telah berlatih untuk melindungi master-nya. Mudah bagi satu dari kami jika harus berurusan dengan beberapa tentara kerajaan"

"Aku adalah Penjaga keluarga kerajaan. Takkan kubiarkan ada yang menyentuh Hime-sama, bahkan tidak satu jaripun"

Dengan Senia yang menyatakannya sambil maju, Melt mendadak muncul entah darimana dan hanya diabaikan oleh Lifell-hime.

"Paling tidak di sini akan aman setidaknya sampai besok. Aku telah mengirim salah satu bawahanku ke istana, kita akan mendapatkan informasi tentang situasinya besok pagi"

"Baiklah. Setelah aku bertemu dengan kedua muridku, kami akan kembali ke asrama sekolah dan...."

"Tunggu!!"

Sebelum aku bahkan selesai bicara tentang kembali ke asrama, Reese berteriak keras. Tapi, seolah tak mengetahui alasan dibalik melakukan itu, kepalanya menunduk malu. Sang kakak yang terkekeh melihat adegan ini lalu meletakkan tangannya di bahu Reese.

"Kenapa kau sampai berteriak? Katakanlah dengan lebih jelas"

"....Hari ini, aku ingin Sirius-san....tidak, aku ingin semuanya....tinggal bersama disini"

"Singkatnya, kau tidak ingin dia kembali?"

Meski hanya sedikit, Reese mengangguk. Gadis itu menatap kakaknya. Lifel-hime kemudian mengedipkan satu mata dan berkata kepadaku.

"Karena ruang tamu sedang kosong, tiga orang bisa menempatinya. Aku juga ingin membalas perbuatanmu, jadi maukah kau tinggal sementara di sini?"

"....Baiklah. Aku dengan ramah menerima tawaran baik itu"

Meskipun memutuskannya tanpa berdiskusi dengan kedua bersaudara, mereka cenderung akan setuju bahkan jika aku tidak meminta.


Karena tidak ada pengabsenan sebelum tidur di asrama sekolah, kau dapat berpura-pura hadir sebanyak yang diperlukan asalkan teman sekamarmu setuju dan mau membantu, atau bahkan ikut pergi.

Teman sekamar Emilia ada di depan mataku. Teman sekamar Reus (anak buahnya) benar-benar patuh, karena dia adalah bawahan Reus. Sedangkan aku, karena tinggal sendiri di pondok berlian, metode kamuflase akan berjalan dengan lancar. Takkan ada masalah jika kami bertiga menginap diluar.

Mata Reese berbinar-binar saat mendengar kata-kataku, dia mengungkapkan kegembiraannya dengan memeluk Senia. Seandainya ini Emilia, dia mungkin akan mengayunkan kencang ekornya.

"Hime-sama, bagaimana kalau kita masuk segera? Meskipun kondisi fisik anda telah pulih, tolong jangan lupakan bahwa anda masih dalam tahap memulihkan diri"

"Itu benar. Semua orang, mari masuk dan beristirahat"

"Maaf, aku berniat menunggu kedua bersaudara di luar"

Aku mengkonfirmasi lokasi mereka menggunakan {Search}. Kakak beradik itu sedang menuju kesini dengan kecepatan tinggi. Kupikir, akan tiba sekitar 30 menit.

"Mereka berlari ke tempat ini sesuai dengan instruksiku. Daripada bersantai di dalam, aku ingin menyapa mereka di luar selayaknya seorang guru"

"A-Aku juga ingin menyambut mereka. Karena dirikulah Emilia dan Reus berlari"

"Kalau begitu, aku akan menemani kalian. Melt, bisakah kau membawa meja dan kursi? Senia, tolong siapkan teh. Kita semua akan menunggu diluar sambil melihat bulan purnama"

"Apa boleh buat. Aku akan mempersiapkannya, tapi tolong pakailah sesuatu yang hangat"

"Aku mengerti. Kebetulan, bagaimana kalau kita makan disini? Menurut koki, hidangan akan segera siap"

"Boleh juga. Ayo adakan pesta makan malam kecil"

Awalnya aku hanya berencana untuk menunggu keduanya tiba, tapi ketika tersadar ini sudah berubah menjadi pesta dadakan. Yah, kurasa akan bagus untuk menghibur Reese, sebut saja sebagai perayaan menyenangkan karena telah meninggalkan upacara menjijikan itu.

Begitulah, Reese kemudian pergi untuk mengganti gaun pengantinnya menjadi pakaian biasa, sementara meja dan kursi disiapkan. Kamipun menunggu kedua bersaudara sambil minum teh.

Senia dan Melt berbincang-bincang dengan membahas betapa leganya mereka atas keselamatan Reese. Disaat Lifell-hime membuat lelucon tentang perlunya tanggung jawab seorang pria, mataku menangkap kehadiran Emilia dan Reus di kejauhan.

Segera setelahnya, Senia dan Melt bereaksi dengan menoleh ke arah dimana keduanya mendekat. Jarang juga melihat telinga Senia berkedut, sangat mirip dengan kelinci.

"Dari suara yang bisa kudengar....ada dua orang? Jumlah itu terlalu kecil untuk para pengejar, kan?"

"Ini Emilia dan Reus, jadi tidak perlu waspada"

"Tapi bukankah mereka terlalu cepat? Aku hampir tidak menyangka ada orang yang bisa bergerak secepat itu melalui lebatnya hutan"

"Bagi keduanya, hutan bukanlah halangan. Lihat, mereka sudah tiba"

Saat aku menunjuk jari tanganku ke sebuah arah, Emilia melompat keluar dari balik tirai pepohonan diiringi hempasan angin kencang. Rambut peraknya melambai, mencerminkan cahaya bulan. Ini rahasia kecil dimana aku sempat terpesona pada muridku sendiri.

Dia mendarat dengan sangat indah, bersama tiupan angin yang semakin lembut, kemudian tersenyum padaku.

"Terima kasih sudah menunggu, Sirius-sama"

"Aah, kerja bagus"

Dia dengan riang memejamkan mata dan mengibaskan ekor saat aku menepuk kepalanya. Kelihatanya gadis ini berkeringat sedikit, tapi kalau dilihat, tidak ada luka maupun noda di penampilannya. Ya, melegakan.

Beberapa detik kemudian, Reus muncul dari hutan. Namun entah kenapa ketika melihat pemandangan disini, wajahnya menjadi kecewa.

"Sialan!! Nee-chan memang terlalu cepat!"

"Huhuhu....dalam hal kecepatan, aku takkan kalah dari Reus. Hak istimewa untuk ditepuk-tepuk oleh Sirius-sama adalah milikku"

Kalian ini, ternyata tentang pertandingan tentang siapa yang paling cepat ya. Tampaknya si pemenang akan memperoleh kesempatan ditepuk olehku, tapi aku sendiri bahkan tidak tahu kalau ada pertandingan. Reus lalu menggoyang-goyangkan ekornya saat kupanggil dan ditepuk dengan kasar.

"Uhyoo! Yeeey! Aku juga dapat!"

"Padahal aku yang menang...."

"Aku akan menyisir ekormu nanti"

"Ya!"

Selesai memberi penghargaan, aku membawa mereka ke depan Lifell-hime dan Reese. Meskipun apa yang keduanya kenakan sekarang adalah pakaian petualang compang-camping dan jauh dari kesan indah, Reese masih memeluk Emilia dan Reus dengan sayang.

"Terima kasih. Sungguh terima kasih, kalian berdua"

"Tunggu sebentar, Reese. Walaupun ini membahagiakan, tapi bajumu akan jadi kotor"

"Reese-ane, ini agak sakit"

"Bagus kan. Ini rasa syukurnya yang terbaik untuk kalian berdua*"
[Kayaknya yg ngucapin ini Putri Lifell]

Emilia dan Reus hanya bisa tersenyum masam sambil membiarkan dipeluk oleh Reese, yang terlihat masih tak ingin melepaskan keduanya. Lifell-hime juga ikut dan memeluk mereka dari belakang, dan merubahnya menjadi pemandangan yang kacau.

"Aku juga ingin mengucapkan rasa syukurku. Emilia, Reus, terima kasih. Berkat kalian, Reese bisa tiba disini dengan aman"

"Tidak seperti itu. Kami hanya mengikuti apa yang Sirius-sama katakan"

"Ya. Namun, bahkan tanpa dimintapun, kami akan bergerak untuk menyelamatkan Reese-ane!"

Di belakang keduanya yang tersenyum malu, persiapan makan malam sedang berlangsung dengan lancar. Perut Reus menggeram keras ketika mencium aroma lezat. Itu mengingatkanku, mereka belum makan apapun sejak operasi dimulai, tidak heran jika kakak adik ini lapar. Baik Emilia maupun Reese menelan ludah, memegangi perut masing-masing dengan wajah memerah.

"Untuk sekarang, bagaimana kalau kita makan? Kelihatannya semua orang sudah lapar"

"Apakah baik-baik saja untuk kami?"

"Tentu saja. Makanan yang disiapkan ini untuk Reese dan kalian, jadi jangan sungkan. Ah, karena disini bukan istana, kalian tidak perlu memikirkan tentang etika"

"Yahoooo!! Aniki, apa kau akan makan juga?"

"Yah, ayo. Aku juga lapar"

Setelah mendapat konfirmasi dariku, kedua bersaudara duduk di kursi dan mengulurkan tangan ke piring untuk meraih berbagai makanan. Aku juga duduk karena ingin mencicipi makanan yang biasanya ditujukan pada para bangsawan. Seperti yang di harapkan, makanan yang dibuat dengan alat dan bahan berkualitas akan menjadi lezat.

"Enak! Ini sangat enak, tapi aku masih lebih suka masakan Aniki!"

"Benar, hidangan Sirius-sama adalah yang terbaik"

Itu bukan sesuatu yang harus kalian katakan saat makan. Lihat, si koki sampai tersenyum pahit.

"Maaf. Mereka sudah terbiasa dengan masakanku, keduanya mungkin merasa bahwa makanan yang tak asing adalah yang terbaik"

"Tapi aku juga berpikir hidangan dari Sirius-san yang terbaik"

"Asal tahu saja, hidangan ini dibuat oleh seorang juru masak yang sangat terkenal di Elysion. Kalian sungguh memiliki selera yang menarik"

Terdapat adegan memalukan lainnya, tapi pesta kecil itu berakhir dengan damai.

☆☆☆

"Aniki, keluarga bangsawan memang luar biasa!"

"Kau benar"

Seusai makan, kami dibawa ke ruang tamu dimana kami akan bermalam lalu mandi. Meskipun dirancang sebagai fasilitas medis, ada juga hal-hal mewah seperti pemandian air panas. Terlebih lagi, itu dibuat terpisah untuk laki-laki dan perempuan dan tergolong sangat mewah.

Reus tampak bersemangat ketika masuk ke pemandian karena ukurannya yang cukup besar hingga mampu menampung sepuluh orang. Berbeda sekali dengan yang aku rancang di pondok berlian dimana hanya muat untuk satu orang.

"Apa kedua Nee-chan dan yang lainnya di pemandian yang sama?"

"Kupikir begitu. Meskipun ini bukan niatmu, tapi jangan sampai mengintip ya"

Melakukan itu memang mustahil, karena dindingnya membentang sampai ke langit-langit tanpa celah. Mendengar perkataanku, Reus pun menggeleng beberapa kali.

"Aku takkan melakukannya, Aniki! Nee-chan akan membunuhku!"

"Yah, mungkin itu yang akan terjadi. Aku saja bahkan mungkin dilempar ember jika mencobanya"

"Hmm, jika Aniki, kau mungkin akan diundang untuk bergabung. Reese-ane juga....mungkin"

"Apa maksudmu 'mungkin'?"

"Aku hanya berpikir kalau Reese-ane telah berubah setelah kita datang ke sini. Walau cuma sebentar, aku sempat melihat warna pink yang mirip dengan Nee-chan dan Noel-ane dari Reese-ane"

Instingnya masih tajam seperti yang dulu.

Apa yang akan Emilia lakukan jika dia tahu tentang perasaan Reese? Aku mengatakan ingin bepergian bersama semua orang, yang artinya Reese akan ikut. Mungkin mereka takkan akur.

Yah, kecemburuan perempuan itu menakutkan. Aku memiliki rekan kerja wanita di kehidupan sebelumnya, yang akhirnya ditikam pada bagian perut menggunakan pisau dapur karena dikelilingi oleh kecemburuan perempuan lain. Ngomong-ngomonng, dia beruntung karena tusukannya masih sempat dihalang oleh majalah yang dirinya bawa. Kupikir dia sudah terluka serius karena pihak lain begitu buruk.

Emilia dan Reese mungkin sedang membicarakannya di pemandian, namun aku masih takut jika sampai berakhir di adegan penuh huru-hara. Lebih baik jika mereka membahas itu setelah selesai mandi.

"Yah, dari sekarang mungkin ada banyak yang akan berubah"

"Itu benar. Entah itu nee-chan, Reese-ane maupun diriku menyukai aniki, jadi kupikir takkan ada masalah! Baiklah, sekarang saatnya untuk membersihkan aniki! Aku akan mulai dengan punggungmu"

"Ya, kuserahkan padamu"

Kami bergantian untuk membasuh punggung. Sewaktu aku membawanya untuk pertama kali dulu, lengan dan kakinya sangat rapuh seolah akan patah kapanpun. Tapi sekarang tubuhnya sehat dengan otot-otot yang menonjol karena latihan. Bagaimanapun, aku senang melihat pertumbuhan fisiknya, entah sebagai guru maupun orangtua.

Usia kami memang hampir sama, namun ini mengingatkanku pada murid-murid di di kehidupanku yang dulu. Mereka juga akan membasuh punggungku seperti adegan sekarang. Itu membuatku penasaran tentang bagaimana keadaan semuanya.

☆☆☆

Kami selesai membasuh satu sama lain tanpa butuh waktu lama. Tepat saat aku hendak kembali ke bak mandi, seseorang membuka pintu dan masuk ke dalam.

"Permisi"

Sejenak kupikir itu Emilia (yang benar saja), tapi ternyata si pengawal dari Lifell-hime, Melt.

Pertemuan pertama dengannya sempat diwarnai keributan, tapi itu juga karena dedikasi atas pekerjaannya. Dan sekarang, tanpa kehadiran Lifell-hime, suasana tegang berputar diantara kami.

"Ada apa? Tidak masalah kan jika aku masuk juga?"

"Ya, silakan"

Untuk saat ini, Melt berendam di sisi bak mandi tak jauh dari kami. Secara pribadi, ku pikir seseorang harusnya tidak memasuki pemandian sebelum mencuci tubuhnya dulu, tapi aku mengabaikannya karena ini bukan rumahku dan tidak memakai kebiasaan semacam itu.

Keheningan berlanjut, waktu di pemandian terlewat begitu saja. Reus awalnya hanya diam dan mengawasi Melt, tapi keingintahuannya memecahkan kesunyian.

"Emm, Melt....-san?"

"....Apa?"

"Melt-san, apa kau....membenci ras binatang?"

"Benar juga. Apa boleh buat jika kau sampai berpikir begitu karena perilaku kasarku yang dulu"

Saat Melt berbalik ke arah kami, senyuman masam muncul di wajah yang biasanya memasang ekspresi keras. Apa-apaan, kau ternyata bisa mengeluarkan ekspresi semacam itu.

"Aku adalah orang yang ada untuk melindungi Hime-sama. Ini memang alasan yang buruk, tapi ketika Hime-sama terjangkit penyakit aneh itu, aku merasa frustasi dan mulai menganggap semua orang sebagai musuh. Ketika pertama kali bertemu dengan kalian, aku seolah melihat musuh yang ingin kusingkirkan karena berpikir bahwa kalian akan membawa wabah lain untuknya"

"Aku mengerti. Jika ada seseorang yang akan menimbulkan ancaman terhadap aniki, kurasa perlakuanku takkan berbeda...."

"Tak perlu menggunakan bahasa formal. Aku yang sekarang hanyalah Melt, bukan penjaga keluarga kerajaan. Kupikir akan memalukan jika aku terus berasalan, kalian bukan saja menyelamatkan Hime-sama, tapi juga Felice-sama. Ada satu hal yang perlu kukatakan sebagai seorang pria"

Dan seseorang bernama Melt pun menundukkan kepalanya. Bagaikan tak peduli bahwa kami lebih muda darinya.

"....Maaf. juga, terimakasih"

Aku tidak begitu yakin....apa ini bisa disebut komunikasi secara telanjang*....tapi rasanya kami menjadi sedikit lebih dekat dengan si Penjaga keluarga kerajaan hari ini.
[裸の付き合い (Hadaka no Tsukiai) secara harfiah ya bersosialisai sambil telanjang. Ini istilah atau mungkin budaya(?)ketika di onsen/pemandian air panas di jepang]

☆☆☆

Keesokan harinya, aku terbangun diiringi sensasi yang aneh.

Ketika menoleh bergantian ke kedua sisi untuk mengkonfirmasi perasaan itu, aku bisa melihat warna perak di sebelah kanan, dan warna biru di sebelah kiri.

"Selamat pagi, Sirius-sama"

"....Se-Selamat pagi"



Atau dengan kata lain, ini Emilia dan Reese. Keduanya memakai suatu pakaian yang mirip daster, dimana sensasi aneh itu berasal dari sana. Sedangkan di dekat kakiku....

"Aniyukyii...."

....Ada Reus yang masih tidur. Meski ruang tamunya memiliki tempat tidur ukuran besar yang bahkan bisa dengan mudah menampung empat orang, tapi kenapa situasinya menjadi begini?

"....Selamat pagi. Sekarang, aku ingin penjelasan"

"Itu karena berada tepat di samping Sirius-sama adalah yang terbaik"

"A-Aku....diminta oleh Ane-sama kesini...."

"Kupi---*...."
[くぴー....kayaknya suara dengkuran Reus]

Meski mereka terlihat tidak melakukan apapun selain berbaring, apa yang terjadi setelah aku tidur kemarin?

Seusai keluar dari pemandian, aku yakin langsung jatuh di kasur. Terdapat kasur lain disebelah, jadi Emilia seharusnya tidur di sana*.
[Kamarnya punya dua kasur]

Aku sedang menunggu mereka bicara tapi, ada kemungkinan aku terlelap ditengah berendam dalam bak mandi begitu lama. Itu bisa saja terjadi karena kekurangan tidur selama beberapa hari terakhir. Memang tidak ada kewaspadaaan karena yang datang adalah mereka, tapi agak disesalkan karena aku tidak sadar sama sekali meski keduanya sudah mendekat sejauh ini.

Intinya, dari perkataan kedua gadis, mereka hanya berbaring dan memandangiku. Sedangkan Reus....tidakkah dia kesal karena ditinggalkan?

Tunggu sebentar. Situasi dimana aku terjepit diantara Emilia dan Reese di ranjang yang sama, itu berarti keduanya masih memiliki hubungan baik, kan?

"Kalian....sangat akrab"

"Iya! Aku menyukai Sirius-sama dan Reese"

"Aku juga, menyukai Emilia dan Si-....Sirius-san...."

Alih-alih bersikap baik, hubungan mereka tampaknya sudah semakin dalam.

Ini pasti tentang hal itu, kan? Tentang poligami yang wajar didunia ini? Jika memang begitu, kurasa diriku lah yang aneh karena terbiasa dengan standar kehidupan sebelumnya.

Yah....faktanya, mereka adalah muridku. Umur kami masih terlalu dini untuk memikirkan pernikahan. Selain itu, tak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Sekarang ini, aku lebih baik fokus berperan sebagai seorang guru.

Aku dari awal memang berniat untuk mendukung pertumbuhan mereka sampai masing-masingnya menjadi mandiri. Hanya saja, sebagai seorang pria, memiliki satu atau dua istri----....eh? Dipikir-pikir lagi, ini bukan 'dua', nyatanya ada seorang elf yang telah membuat reservasi terlebih dahulu....

"Sirius-sama? Apa kau ingin tidur kembali?"

"....Tidak, tidak apa-apa. Kita harus segera bangun"

Berhentilah memikirkan hal itu. Kurasa akan lebih baik untuk memutuskannya setelah bertemu dengan Fia lagi. Meski agak salah menundanya, ada kemungkinan mereka akan bertemu pria yang lebih baik daripada diriku.

"---Kue?!....Eh? Aniki, kemana kueku pergi?"

Keadaanmu benar-benar membuatku iri.

☆☆☆

Semua orang lalu bangun dan berkumpul untuk sarapan di ruang makan.

Seorang pelayan mendadak masuk dengan tergesa-gesa kemudian membisikkan sesuatu kepada Lifell-hime. Adegan itu mirip dengan situasi saat Reese dibawa ke istana.

Karena ini pasti berhubungan dengan Reese, aku menguping tanpa ragu dan terkejut dengan isinya.

"Begitukah....hanya ada dua, termasuk pengikutnya? Untuk sekarang, kami akan membahasnya dengan para tamu. Sedangkan kalian berjagalah sambil mengawasi jika ada orang yang bersembunyi"

Setelah memberi instruksi pada pelayan itu, Lifell-hime berdiri dan menatap kami dengan serius.

"Orang yang pergi untuk memeriksa situasi di istana telah kembali dan memberitahu bahwa ayah akan datang"

"Tou-sama?!"

"Benar. Namun, dia hanya bersama seorang pengikut yang tidak membawa apapun selain senjata untuk membela diri. Kupikir mereka tidak kemari dengan tujuan membuat keributan, tapi untuk berjaga-jaga, kalian tetaplah di sini"

"Ane-sama! Jika begitu, aku juga....!"

"Perasaanmu itu membuatku senang. Hanya saja, biarkan aku bicara dengannya terlebih dahulu. Sirius-kun, andaikan terjadi sesuatu, tolong bawa Reese dan kaburlah"

"Baiklah. Kurasa takkan sampai terjadi hal yang berbahaya, tapi tentu saja aku akan menjamin keselamatan Reese"

"Kuserahkan padamu"

Seusai mengucapkan itu sambil tertawa kecil, dia memberi isyarat kepada Senia dan Melt, ketiganya pun keluar dari ruangan. Sisa dari kami menunggu dengan tetap duduk dan meminum teh. Namun, seperti yang diharapkan, Reese tidak bisa tenang. Emilia lalu mendekat dan menggenggam tangannya.

"Tidak apa-apa Reese. Kakakmu pasti bisa membujuk ayahmu"

"Ya, aku memang percaya. Namun, karena Tou-sama sendiri yang datang, aku jadi khawatir bahwa sesuatu akan terjadi...."

"Tenanglah, Reese"

Ya, faktor terpenting di sini adalah bahwa raja datang dengan hampir tanpa membawa pengikutnya. Ini berarti sesuatu yang krusial seperti pertarungan tak mungkin terjadi. Kurasa dia menginginkan hal lain. Jika pemikiranku benar, raja tidak berniat menyakiti Reese maupun Lifell-hime.

"Pikirkanlah ini. Jika sungguh ingin menangkapmu, mereka takkan datang hanya dengan dua orang. Menurutku, dia sekedar ingin berbicara"

"Percakapan sepertinya bukan hal yang Tou-sama akan lakukan. Dia bahkan hanya berbicara padaku bila benar-benar perlu, kau tahu?"

"Itu murni intuisiku. Sekarang waktunya untuk melihat apa yang terjadi...."

☆☆☆

"Jangan bercanda!"

Mungkin mereka sedang saling berhadapan di kamar sebelah, tapi suara marah Lifell-hime bahkan bisa terdengar sampai ke ruang makan. Aku secara refleks melepaskan {Search}, hanya saja tidak merasakan adanya tanda-tanda pertarungan.

"Yang barusan itu, suara Lifell-ane....kan?"

"Ini tidak normal. Sirius-sama, apa yang harus kita lakukan?"

"Tidak masalah, tunggulah sebentar. Kelihatannya, situasi takkan mengarah menjadi lebih buruk"

"Ane-sama....apa yang terjadi?"

Ketika Reese dan kedua bersaudara merasa gelisah karena mendengar suara yang bergema keseluruh tempat, pintu ruang makan terbuka dimana Senia berjalan masuk dari sana. Tampaknya tak ada keadaan yang membuat dia terburu-buru, namun dirinya terlihat sangat kesal.

"Senia, kenapa Ane-sama sampai berteriak seperti itu?"

"Anda akan mengetahuinya begitu sampai di sana. Reese-sama, semuanya, mari kita pergi ke ruang tamu, tempat Lifell-sama berada"

"Kami juga?"

"Iya. Ada sesuatu yang perlu didengar semua orang di sini. Ou-sama* juga ada disana. Namun, dikarenakan ini adalah situasi ringan, sedikit ketidak-formalan akan dimaafkan"
[Baginda raja, Ou=Raja]

"Ayo, Reese. Kami akan ikut juga, jadi jangan takut untuk berbicara dengan ayahmu"

"....Ya. Terima kasih"

Bersama Reese yang telah bertekad, kamipun dipimpin oleh Senia menuju ruang tamu. Setelah Senia mengetuk pintu, semua orang masuk dengan izin dari Lifell-hime.

Dan akhirnya, kelompok ini bertemu bertemu dengan sang raja....Ayah Reese, Cardeas.

"....Kau datang ya"

Orang itu sedang duduk di salah satu sofa.

Dia memiliki rambut merah pendek bagaikan api dan mata tajam mengingatkanku pada burung pemangsa. Sesuai dengan rumor yang beredar di seluruh Elysion, seseorang dapat merasakan ambisi darinya bahkan saat dia sedang duduk. Mereka yang tak mengetahui apa-apa mungkin akan berlutut tanpa sadar.

Mengenyampingkan statusnya sebagai penguasa dari sebuah negeri, kesan pertama yang aku rasakan ketika bertemu adalah....dia setajam bilah pedang. Aku sekarang mengerti tekanan yang dialami oleh Reese.

Namun---

"Apakah kalian teman Reese?"

---ketika dia memalingkan wajah ke arah kami, garis indah dari sebuah tamparan yang tersisa di pipi kanan menghancurkan seluruh citranya. Mungkin terjadi ketika Lifell-hime berteriak, hingga bunyinya tidak terdengar.

"Kenapa baru sekarang kau mengatakannya? Kalian, duduklah di sampingku"

Dalam suasana yang lembut, kamipun duduk berdampingan dengan Lifell-hime. Disatu sisi, Emilia dan Reus sangat berusaha untuk menahan tawa ketika melihat bekas merah di wajah sang raja. Kalian....karena kau adalah raja, tolong maafkan suara mereka yang masih bocor.

"Aku memanggil kalian karena ingin memberitahukan kebenaran dari upacara pertunangan kemarin. Ini baru ku sadari bahwa seluruh prosesi yang kau jalani kemarin....itu palsu"

"... Ane-sama, tolong katakan sekali lagi"

"Upacara pertunangan itu palsu. Mungkin lebih tepat jika dikatakan kalau tujuan aslinya adalah sebagai jebakan untuk mengumpulkan para bangsawan yang korup dan kotor?"

Jadi begitu?.

Orang-orang yang terlihat dalam upacara kemarin hanyalah bangsawan yang baik dari segi penampilan namun busuk sampai ke inti. Jika upacara itu memang penting, mereka yang seperti Kepala Sekolah, Rodwell atau orang-orang berpengaruh akan diundang. Dengan kata lain, ketidakhadirannya justru menjadi bukti.

Kalau dipikirkan lagi, reaksi para penjaga istana juga sangat cepat. Mereka tidak gagal menangkap bangsawan yang mencoba lari dari aula, dan bergerak tanpa melewatkan satupun. Memikat semua orang serakah dengan madu hingga bisa ditangkap sekaligus. Ini sangat mirip tindakan polisi di kehidupanku sebelumnya. Memang tidak dapat digunakan secara luas, tapi cukup efektif untuk membersihkan kotoran yang tertinggal.

Masalah sebenarnya adalah dampak yang akan terjadi di masyarakat dan dendam dari tindakan tersebut.

"Kau sudah mengerti sekarang? Pria ini bukan saja merahasiakannya dariku, tapi juga darimu, Reese, yang digunakan sebagai umpan dalam rencananya! Apa yang kau pikirkan sampai mempermainkan putrimu dalam pernikahan palsu?!"

"Jika aku memberitahumu, bukankah kau akan menolaknya?"

"Tentu saja kan! Bagaimana bisa aku diam saja seandainya tahu adiknya yang manis menanggung beban seberat ini!"

"Karena itulah aku tidak mengatakannya! Aku sudah memikirkan berbagai persiapan dan terlanjur menghabiskan banyak tenaga untuk mengumpulkan dan menangkap orang-orang idiot di negeri ini!"

Bahkan ketika pertunangan Lifell-hime dihentikan karena dirinya sakit, upacara tetap berlanjut agar rencana itu tidak sia-sia dengan dialihkan ke Reese, yang harusnya disembunyikan karena situasi khusus. Raja Cardeas, orang ini sangat penghitungan sekaligus tak kenal takut.

Hanya saja, alasan semacam itu takkan mampu meredakan amarah sang kakak.

"Siapa yang peduli! Harusnya akulah yang berada disana karena diriku sudah sembuh!"

"Ingatlah bahwa kau masih di tahap pemulihan! Aku juga kesulitan saat mengambil pilihan ini!!"

"Kalau begitu, buatlah lebih banyak anak perempuan! Kakak tertua membosankan, kakak kedua kutu buku, ditambah lagi adik yang lemah! Kau pikir berapa banyak masalah yang kuhadapi dengan dikelilingi oleh pria?! Ketika akhirnya muncul seorang adik perempuan manis hingga aku terikat padanya, apa boleh buat kan!!

"Tujuanku bukanlah untuk memiliki lebih banyak anak!!"

....Pembicaraan ini mulai melenceng.

Sosok raja yang kudengar dari Reese adalah seseorang berkepribadian dingin dan akan berucap bila diperlukan saja. Namun, pria yang sedang berdebat di hadapan kami sekarang tak lain hanyalah seorang ayah dengan aspirasi berlimpah.

Dan orang yang paling terkejut diantara kami tentang 'perbedaan' ini tentunya adalah Reese. Dia terkaku dengan mata terbuka lebar.

"Anu....bisakah kalian sedikit lebih tenang?"

"Ya....kau benar. Kali ini aku agak kelewatan"

"Aku juga. Sudah lama aku tidak berteriak seperti sekarang"

Apa ini memang pertama kalinya kalian berbicara setelah sekian lama? Senia, Melt dan seorang pelayan yang menunggu di belakang raja masih bersikap tenang, seolah-olah sudah menyaksikan kejadian ini setiap hari.

"Jadi, inikah alasan kami dipanggil?"

"Tentu saja ada alasan lain. Sebagai permulaan, permintaanku untuk menculik Reese"

"Aku akan mengambil alih dari sini. Faktanya, kalian telah mengganggu upacara itu atas permintaan Lifell. Biasanya, aku akan tetap menjatuhkan semacam hukuman, namun karena ini upacara palsu, aku memilih melupakannya"

Dengan kata lain, dia membiarkan masalah ini hanya karena upacaranya sendiri palsu. Meskipun sebagai raja, bukankah otoritasnya terlalu kuat*?
[Maksudnya gini, sang raja melupakannya, tapi bagaimana dengan bangsawan lain (yang bukan target dari rencana itu)? Mereka pasti menyarankan agar 'mencari dan menghukum si penculik keluarga kerajaan'. Sirius cuma heran dengan bagaimana cara Cardeas menghilangkan 'masalah itu'.]

"Anda melakukan tindakan drastis seperti itu. Apakah karena keluhan dari segala arah kali ini?"

"Seperti katamu, keluhan datang layaknya longsor. Namun, sekarang aku bisa menyerahkan sisanya kepada orang-orang dibalik layar"

"Bahkan jika demi membersihkan negeri dari sampah, bukankah itu terlalu berlebihan?"

"Mereka yang menaruh Mana Stone di dalam dirimu juga terlibat dengan ini. Aku tidak bisa membiarkan masalah itu mengalir begitu saja. Lagi pula, jika dianggap remeh, mereka akan menyulitkanmu saat kau menjadi penerus tahta kelak, ya kan?"

Rencananya tidak hanya dirancang untuk menangkap para bangsawan korup, tapi juga berfungsi sebagai balas dendam untuk sang putri. Ini bahkan dapat dijadikan contoh bagi orang lain, setelah tahu apa yang akan terjadi pada orang-orang busuk itu, bangsawan lain akan jauh lebih kecil kemungkinannya bertindak melawan Lifell-hime, terutama setelah dia mengambil alih posisi diatas tahkta. Meski tergantung seberapa luas skala kebijakannya, takkan ada yang perlu dikhawatirkan karena dirinya bisa menyesuaikan keadaan sekitar dan menilai hal-hal dengan disiplin.

"Ini akan memberi tanda pada lingkungan bahwa seperti itulah akhir dari orang-orang busuk, aku berencana mengumumkan hasil penangkapan mereka semua secara langsung. Juga, tolong jangan khawatir, tindakan kalian akan tetap dirahasiakan"

"Otoritas raja, ya"

"Terserah padamu menyebutnya apa. Jika orang yang menyelamatkan putriku dihukum, maka aku akan menggunakan sebanyak mungkin otoritas kerajaan untuk mengubahnya"

Apa-apaan, bukankah pria ini tidak terlihat seperti sosok yang akan menatap Reese dengan mata dinginnya? Bagiku, dia hanyalah pria tua naif.

"Hei, Aniki. Apakah tindakan kita ini sebenarnya tidak berguna?"

"Tidak ada hal seperti itu. Reese bisa merasa lega karena bebas, dan kurasa sekarang mentalnya sudah agak berkembang*"
[Lebih berani karena mengetahui sifat asli ayahnya, lebih bisa mengambil keputusan karena kakaknya....atau mungkin, yg dimaksud disini adalah rasa cintanya pada Sirius hingga mengubah sedikit jalan pemikirannya. Ingat, cinta bisa merubah perilaku seorang gadis XD .]

"Sesuai perkataan Sirius-san. Meski tidak yakin apakah mentalku sudah berkembang atau tidak, tapi aku sangat senang ketika melihat kalian datang ke aula pertemuan"

Reese yang awalnya bingung dengan perbedaan antara citra ayahnya dan kenyataan, tersadar kembali lalu tersenyum pada kami. Di momen ketika wajah putrinya menoleh ke arah sini, aku melihat sang Raja menatapnya dengan lembut. Sikap dingin terhadap Reese memang ada, tapi sepertinya bukan karena perasaan tidak suka.

Saat aku memikirkan hal itu, Lifell-hime yang duduk di dekat kami mencondongkan tubuh ke depan, dan mulai membuka mulut dengan ekspresi serius.

"Sekarang aku tahu apa yang ayah ingin sampaikan, kau melakukan itu demi diriku. Namun, ada satu hal yang aku masih belum mengerti. Ini tentang Reese"

Wajah raja menjadi terkaku saat pembicaraan berlanjut membahas Reese, dia kemudian melihat ke sini dengan wajah murung. Walaupun sesaat yang lalu dia menjadi orang yang memiliki kesan akrab, perubahan mendadak macam apa ini?

"Awalnya, kupikir Reese dibenci dan dijauhi karena bukan secara utuh berasal dari keluarga kerajaan. Namun, aku sadar keadaanya lebih rumit disaat mendengar bahwa dia digunakan sebagai umpan di upacara itu. Biasanya, orang lain tidak diperbolehkan ikut mendengarnya, tapi sekarang aku ingin ini menjadi jelas. Ayah, apa pendapatmu tentang Reese?"

"...."

"Katakanlah jika kau menerima atau membencinya dengan jelas!! Apa kau tidak tahu kalau tindakan setengah hatimu itu akan menyakiti anak ini?!"

"Ane-sama, tou-sama jadi terganggu. Tolong jangan mengejar ini lebih jauh, aku sudah baik-baik saja"

"Tidak, aku ingin membuat semuanya jelas, disini dan sekarang. Jawablah, bagaimana perasaanmu terhadap Reese?!"

Kupikir kami harus pergi karena ini terdengar seperti percakapan untuk anggota keluarga saja. Namun, seolah tidak mengingingkannya, Reese meraih lengan bajuku sambil gemetar. Bahkan tak perlu kata-kata lain, kami akan berusaha tetap disini dan mendengarkan.

Setelah Lifell-hime menyatakanya dengan memukul meja di depan, tatapa sang raja beralih ke arah Reese diiringi senyuman pahit.

"Perasaanku....ya? Sejujurnya, aku juga tidak tahu"

"Tou-sama. Aku---....apa aku seharusnya tidak datang ke sini?"

"Tidak, Felice. Kau tidak salah. Itu aku, akulah yang bersalah pada ibumu, Laura"


Pemandangan dimana dia menyesap teh, lalu menatap langit dibalik jendela terasa melankolis. Intuisiku berkata kalau orang yang berbicara dihadapan kami sekarang bukanlah raja Elysion, melainkan hanya seorang pria bernama Cardeas.

"....Laura pasti selalu membenciku untuk ini"

Gumam Cardeas sedih.

☆☆☆Chapter 43 berakhir disini☆☆☆

Catatan Penulis : Awalnya aku berencana mengakhiri Arc di chapter ini, tapi ternyata masih akan berlanjut.

Ber-setting di keluarga kerajaan itu rumit, selain ada banyak kata-kata yang tidak berguna, ada banyak juga hal yang ingin kutulis, tapi malah bersambung di tengah jalan (lol).

Update selanjutnya akan muncul di tiga, empat hari lagi. Akan kuberikan jadwal kegiatanku seperti biasa.

Sebelumnya, Lifell-hime memiliki tiga kakak laki-laki. Tapi di tanggal 14 september, settingnya diubah menjadi dua kakak laki-laki dan satu adik laki-laki.

Cerita tambahan>>>

Pada aula pertemuan dimana Reese sedang linglung, dan waktu kue pengantinnya dihancurkan oleh sihir....

"HAAHH?! Baru saja, aku merasakan sesuatu yang berharga telah rusak!!!"

"Aku juga merasakannya, kepala sekolah!!"

Indra keenam kepala sekolah dan bawahannya yang bekerja lembur malam itu, mendadak aktif.

Ke Halaman utama World Teacher
Ke

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

108 Maidens chap 14 B. Indonesia

Kusoge Online (BETA) Bahasa Indonesia